Setelah Hujan

Setelah Hujan
Mengenalkan Daniar


__ADS_3

Sedikit berlari, Daniar menuju taman kampus. Hari ini dia memiliki janji temu dengan calon suaminya. Daniar ingin memberikan uang tabungannya kepada Yandri sebagai tambahan untuk biaya pernikahan mereka.


Tiba di taman, dia melihat Yandri sudah duduk di tempat yang biasa mereka tempati. Dengan tergesa-gesa, Daniar menghampiri pemuda itu.


"Maaf terlambat, Yan," ucap Daniar begitu tiba di hadapan Yandri.


"Tidak apa-apa, Yar. Aku juga baru sampai," jawab Yandri.


Daniar tersenyum, dia kemudian duduk di samping Yandri. Daniar membuka tas ranselnya dan mengeluarkan sebuah amplop panjang berwarna putih kepada Yandri.


"Apa ini, Yar?" tanya Yandri menautkan kedua alisnya.


"Terima saja, Yan," jawab Daniar.


Yandri menerima amplop tersebut. Dia tercengang saat melihat tulisan di amplop itu.


"Apa maksudnya, Yar?" Yandri kembali bertanya.


"Itu tabungan aku, Yan. Jumlahnya memang sedikit, tapi Insya Allah bisa buat tambah-tambah daftar ke KUA," jawab Daniar.


"Ish, tidak bisa begini, Daniar Rahmawati!" tekan Yandri. "Sudahlah, tidak usah kamu cemaskan. Bagaimanapun juga, biaya untuk menikah, itu sepenuhnya tanggung jawab aku," tegas Yandri.


"Aku mohon, Yan ... terimalah. Kita sudah sepakat jika akan saling membantu dalam hal apa pun, " tutur Daniar mencoba mengingatkan kesepakatan mereka dalam membangun pondasi sebuah hubungan.


"Enggak, Yar. Simpanlah! Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkan pernikahan kita. Hanya saja, aku minta maaf jika aku tidak bisa memberikan resepsi yang mewah padamu. Bahkan untuk resepsi sederhana pun, aku tidak yakin, Yar," ucap Yandri dengan nada sendu.


Daniar menatap laki-laki yang tengah memandang kosong lapang kampus. Sejenak, dia merasa iba dengan laki-laki itu. Daniar tahu jika Yandri berjuang sendiri. Bahkan, rencana pernikahannya pun belum dia sampaikan kepada keluarganya.


"Tidak apa-apa, Yan. Apalah artinya sebuah pesta jika kita tidak bisa mempertahankan sebuah ikatan. Bagiku, menikah dengan dihadiri kedua orang tua saja, itu sudah cukup," jawab Daniar.


Yandri tersenyum. Dia pun mengucapkan terima kasih kepada Daniar atas semua pengertiannya.


"Eh, Yar. Aku mau ajak kamu ketemu ibu sama saudaraku. Kira-kira, kamu mau nggak?" tanya Yandri.


"Ya mau lah ... aku, 'kan belum ketemu keluarga kamu," jawab Daniar terlihat senang sekaligus deg-degan.


"Ya sudah, nanti sepulang kuliah, aku ajak kamu untuk ketemu mereka. Jangan lupa kabari ibu kamu," ucap Yandri mengingatkan.


.


.


Di tempat lain, Shakila benar-benar merasa bersyukur dengan perubahan sikap Seno. Meskipun dalam beberapa hal, Seno tanpa sengaja menggumamkan nama Daniar. Namun, tabiatnya tidak sekasar dulu.


Bahkan kini Seno juga sudah mulai melamar-lamar pekerjaan. Seno berubah menjadi sosok yang bertanggung jawab. Tidak hanya terhadap anaknya, tapi juga terhadap diri Shakila.

__ADS_1


Ya, Shakila memang heran. Entah apa dan siapa yang telah merubah Seno menjadi seorang laki-laki yang bisa bersikap dewasa. Namun, apa dan siapa pun itu, Shakila sangat berterima kasih untuk hal tersebut.


.


.


Jarum jam terus berputar. Pukul 15.30, perkuliahan selesai juga. Daniar segera berlari menuju pintu gerbang. Dia tahu jika Yandri tengah menunggunya di sana.


"Yuk!" ajak Daniar saat bertemu Yandri di depan pintu gerbang.


"Tumben jam segini sudah bubar, Yar," ucap Yandri begitu melihat Daniar menghampiri.


"Hari ini cuma dua mata kuliah saja Yan," jawab Daniar.


"Oh, begitu ya. Kita makan dulu atau gimana?" tanya Yandri lagi.


"Aku masih kenyang, Yan. Sebaiknya kita langsung ke tempat kamu saja. Bukankah kamu bilang jika rumah kamu itu jauh?"


"Hmm, benar juga, sih. Ya sudah kalau gitu, entar kalau ada angkot lewat, kita naik," jawab Yandri.


Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya angkot yang akan melewati terminal pun tiba. Yandri menghentikannya dan mengajak Daniar menaiki angkot tersebut.


Setengah jam mereka lalui dengan menggunakan angkot. Lepas itu, mereka sambung perjalanan dengan menggunakan bus.


"Apa masih jauh, Yan?" tanya Daniar


"Kenapa? Kamu tidak terbiasa melakukan perjalanan jauh, ya?" Yandri malah balik bertanya.


"Hahaha, kamu ini ngomong apa sih, Yan? Emh ... sebenarnya bukan tidak terbiasa. Hanya saja belokannya itu loh, bikin perut aku terasa mual," jawab Daniar jujur.


Yandri tersenyum. Sedetik kemudian, dia meraih kepala daniar dan menyandarkan di bahunya. "Tidurlah!"


Setelah melewati perjalanan selama 1,5 jam. Akhirnya Yandri meminta sopir untuk menghentikan bus.


"Sudah sampai, Yar," ucap Yandri membangunkan Daniar, "ayo!" ajaknya.


Yandri memegang tangan Daniar. Setelah itu, mereka turun dari mobil. Daniar cukup terkesima saat melihat jalanan terjal berbatu. Tanjakannya terlihat begitu jauh.


Uuh, gimana bisa gua naik ojek dengan tanjakan seperti ini. Ngeri sekali, batin Daniar.


"Sebentar, ya. Aku panggilkan ojek dulu."


"Eh, enggak usah Yan," cegah Daniar


"Loh, kenapa?" tanya Yandri, heran.

__ADS_1


"Jujur aku ngeri lihat jalannya seperti itu. Gimana kalau entar jatuh, hm aku nggak mau ambil resiko, Yan. Apa bisa kita berjalan kaki saja?" pinta Daniar.


Yandri terkejut. "Tapi ini jauh loh, nanjak lagi?"


"Hmm, jangan remehin Daniar Rahmawati. Gini-gini juga, mantan anak Mapala. Urusan tanjakan mah, hmm ... cetek!" gurau Daniar sedikit menyombongkan diri sambil berjalan mendahului Yandri.


Yandri hanya tersenyum melihat calon istrinya. Dia semakin yakin jika wanita itu memang wanita yang dipilihkan Tuhan untuknya.


"Deuh, kok malah bengong. Ayo!" teriak Daniar yang sudah berada di jalanan menanjak.


Yandri melebarkan senyumnya. Di detik selanjutnya, dia berlari menyusul Daniar. Bercanda dan bercengkerama mereka lakukan sepanjang jalan. Hingga tanpa terasa, mereka tiba di sebuah rumah bercat biru muda.


Yandri kemudian melangkahjan kaki menapaki tangga yang terbuat dari bebatuan. Tangannya meraih tangan Daniar dan menggenggamnya dengan erat. Seolah takut jika Daniar mengurungkan niatnya untuk menemui keluarga Yandri, setelah mengetahui keadaan rumahnya.


"Ini rumah kamu, Yan?" tanya Daniar.


"I-iya, kenapa?" Yandri balik bertanya dengan sedikit gugup. Pasalnya, Enna pun pernah bertanya seperti itu. Dan sejak dia mengetahui rumahnya, sikap Enna berubah. Seakan menjauhi Yandri.


"Tidak apa-apa. Asri banget ya, banyak pohon rindangnya," jawab Daniar.


"Hhh ..." Yandri menghela napasnya. Dia sedikit merasa lega mendengar ucapan Daniar. Namun, dia tidak boleh merasa senang dulu. Daniar belum bertemu dengan ibu dan saudaranya.


Hmm, semoga saja mereka bisa saling menerima satu sama lain, batin Yandri.


"Assalamu'alaikum!" sapa Yandri seraya membuka daun pintu.


"Kok sepi, Yan?" tanya Daniar sedikit heran melihat keadaan rumah Yandri yang seolah tanpa penghuni.


"Biasanya kalau jam segini ibu sedang berada di Cinyusu," jawab Yandri.


"Cinyusu?" ulang Daniar seraya mengernyitkan keningnya.


"Itu ... semacam mata air yang dijadikan tempat pemandian umum," jawab Yandri.


"Oh."


"Ya sudah, duduklah dulu. Aku ke belakang untuk mengambil minuman."


Daniar mengangguk. Dia kemudian duduk di sofa yang sudah terlihat usang. Sedangkan Yandri, pemuda jangkung itu pergi ke belakang untuk mengambil minuman.


Beberapa menit berlalu. Tiba-tiba, ada seorang wanita tua renta memasuki rumah Yandri.


"Assalamu'alaikum! Yam! Maryam!" Wanita itu memanggil nama seseorang. Sejenak, dia terpaku saat melihat Daniar.


"Eh, siapa anak cantik ini?"

__ADS_1


__ADS_2