
Setelah selesai sarapan, Daniar segera mengemasi barang-barangnya yang berada di kamar. Tirai pintu yang tersingkap, membuat Yandri bisa melihat dengan jelas, apa yang sedang gadis itu lakukan. Yandri kemudian bangkit dan menghampiri Daniar.
"Apa kamu mau pulang sekarang?" tanya Yandri.
"Iya. Ibu pasti menungguku di rumah. Lagi pula, aku tidak mungkin bolos bekerja untuk hari ini . Aku sudah berjanji mengajak anak-anak jalan-jalan ke taman," jawab Daniar.
"Anak-anak?" Yandri mengulang kata-kata Daniar seraya menautkan kedua alisnya.
"Iya, peserta didikku. Kebetulan aku bekerja di Taman Kanak-kanak," jawab Daniar.
"Oh." Hanya itu yang terucap dari bibir Yandri.
Setelah selesai berkemas, Daniar kemudian pergi ke dapur untuk mencari Aminah.
"Kak, Daniar pamit pulang. Terima kasih karena sudah mengizinkan Niar nginep di sini," ucap Daniar begitu bertemu Aminah.
"Iya, sama-sama Dek. Jangan kapok main ke gubuk Kakak, ya," gurau Aminah.
Daniar tersenyum. Nggak kok, Kak."
"Kalau ada waktu, jangan sungkan-sungkan main kemari. Pintu rumah ini selalu terbuka untuk kamu, Dek," timpal Rahmat yang sudah berdiri di ambang pintu dapur.
Seketika Daniar menoleh. Dia kemudian menjawab, "Insya Allah, kalau Yandri ngajak Daniar lagi, Daniar pasti berkunjung lagi, kang."
"Tuh dengar, Yan. Kamu harus sering-sering ngajak Daniar main kemari. Lah wong Daniar saja sudah setuju," goda Rahmat kepada adik iparnya.
Yandri hanya tersenyum tipis mendengar godaan sang kakak ipar. "Ya sudah, Kang, Kak Minah ... kalau gitu Iyan pamit dulu," ucap Yandri.
"Iya, Yan. Hati-hati di jalan."
Setelah berpamitan, Yandri mengajak Daniar pergi dari rumah kakaknya. Tiba di pematang sawah, Daniar tampak tertegun. Sejenak dia berhenti untuk menikmati keindahan hamparan sawah bak permadani raksasa berwarna hijau. Namun, kediaman Daniar disalahartikan oleh Yandri. Pria tegap itu pun langsung berjongkok di hadapan Daniar.
"Ayo!" ucap Yandri.
Daniar menautkan kedua alisnya. "Ayo, apa?" tanya Daniar.
"Bukankah kamu tidak terbiasa jalan di pematang sawah seperti ini? Ayo, aku gendong lagi," jawab Yandri.
"Hahahaha,..." Daniar tertawa lepas saat mendengar anggapan Yandri tentang dirinya, "Siapa bilang aku tidak biasa. Jujur, memang sih, aku tidak terbiasa, tapi bukan berarti aku tidak bisa berjalan di pematang sawah. Kalau siang hari begini, tentu saja aku tidak terlalu kesulitan melewatinya. Beda dengan kondisi di malam hari yang gelap gulita," jawab Daniar panjang lebar.
__ADS_1
Akhirnya Yandri kembali berdiri. Ya sudah, aku gandeng saja biar tidak jatuh," ucap Yandri yang tanpa permisi, langsung menggenggam tangan Daniar.
.
.
Dering ponsel terus berbunyi di atas nakas. Seno menggeliat seraya menarik bantal untuk menutupi wajahnya. Entah untuk yang ke berapa kalinya ponsel itu berdering pertanda ada panggilan masuk. Namun, sedikit pun Seno tak berniat untuk mengangkat panggilan tersebut.
Aldi yang sedang berada di kamar mandi, buru-buru mengguyur tubuhnya dengan air. Dering ponsel itu sangat menggangu telinganya. Hingga mau tidak mau, Aldi pun menyudahi acara mandinya.
"Sen, ponsel lu bunyi tuh," tegur Aldi begitu keluar dari kamar mandi.
"Biarin aja, Bang," jawab serak Seno.
"Ish, berisik sen. Kalau nggak mau diganggu, kenapa dari awal nggak lu silent aja, sih," Protes Aldi.
"Lupa, Bang."
"Ish, kebiasaan lu!" gerutu Aldi seraya menyampirkan handuk di tempatnya.
Tak berapa lama kemudian, dering ponsel pun berhenti. Aldi meraih benda pipih tersebut untuk melihat siapa yang terus menerus menghubungi adiknya.
"Udah Bang, biarin aja," sahut Seno.
Aldi kembali menaruh ponsel Seno di atas nakas. Sedetik kemudian, dia meraih kemeja yang tergantung di samping lemari pakaiannya. Seno mengintip Aldi dari balik selimut.
"Abang ngantor?" tanya Seno.
"Hem-eh," jawab Aldi.
"Seno boleh ikut nggak, Bang?" Seno kembali bertanya.
"Lu pikir itu kantor mbah lu," jawab Aldi.
Seno hanya terkekeh mendengar jawaban Aldi. "Ya kali gitu, Bang. Ada lowongan di tempat kerja Abang," tukas Seno.
"Emang lu mau sampai kapan tinggal di sini? Udah deh, Sen ... kalau menurut Abang, lu stop ngikutin Daniar terus. Lu udah tahu kan, kalau dia sudah punya suami. Lagian, bini lu di kota lagi hamil tuh. Lu nggak kasian apa, sama dia?" ucap Aldi, mencoba menasihati Seno.
Seno bangun dan duduk bersandar pada dashboard ranjang. Mungkin, apa yang dikatakan Aldi memang benar. Namun, Seno tidak bisa menyangkal perasaannya yang masih begitu mencintai Daniar. Harus Seno akui, jika hidupnya tidak pernah berwarna tanpa gadis itu. Meskipun, telah hadir seorang wanita yang begitu tergila-gila padanya.
__ADS_1
"Gua masih cinta Daniar, Bang," gumam Seno.
"Ish, makan tuh cinta!" Aldi mendengus kesal mendengar ucapan Seno. "Cinta kok selingkuh, ampe bunting lagi," ucap Aldi seraya berlalu keluar kamar.
.
.
"Kamu nggak nyeberang?" tanya Daniar yang merasa heran saat Yandri masih setia mendampinginya. "Bus-nya lewat, tuh!" Daniar menunjuk sebuah bus jurusan Jatiwaras yang tengah melintas di hadapan mereka.
"Nggak pa-pa, jam segini pasti masih banyak bus yang lewat," jawab Yandri. "Omong-omong, kamu nggak dicariin orang rumah, semalam nggak pulang?" tanya Yandri.
"Nggak, kok. Semalam aku sudah kasih tahu mama kalau aku nginep di rumah temen," jawab Daniar.
Yandri tersenyum. "Ya sudah, sebaiknya aku antar kamu pulang saja," ucap Yandri.
"Ish, nggak perlu!" cegah Daniar.
"Kenapa?"
"Bisa-bisa orang rumah salah paham kalau aku diantar pulang laki-laki."
"Hahaha,..."
Yandri hanya tertawa lepas sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ya sudah, nyeberang gih. Tuh, busnya jalan terus karena nggak kamu berhentiin." Daniar kembali menunjuk bus yang lewat begitu saja.
"Sudah, nggak usah mikirin aku. Busnya masih banyak kok. Nanti setelah kamu naik angkot baru, aku nyeberang," jawab Yandri.
Daniar hanya tersenyum mendengar ucapan Yandri. Hmm, mungkin ucapan itu tidak pernah berarti dan memiliki maksud apa-apa. Namun, entah kenapa Daniar merasa tersanjung saat kalimat itu dikatakan oleh teman barunya.
"Hmm, kamu bisa aja," ucap Daniar dengan tersipu malu.
Yandri hanya tersenyum tipis. Setelah menunggu hampir 20 menit, angkot yang hendak dinaiki Daniar pun lewat. Yandri segera melambaikan tangan untuk menghentikan angkot tersebut.
"Naiklah!" perintah Yandri begitu angkot berhenti di hadapan mereka.
Daniar mrngangguk. Sejurus kemudian, dia pun menaiki angkot tersebut. Daniar melambaikan tangannya saat angkot kembali melaju. Senyum tipis tak pernah lepas dari bibirnya saat mengingat pertemuannya dengan Yandri. Ya, Yandri ... sosok laki-laki yang membuat Daniar merasa penasaran karena memiliki raut wajah dingin dan terkesan Judes. Namun, pertemuan semalam telah merubah anggapan Daniar tentang laki-laki itu.
__ADS_1
"Hmm, ternyata dia tidak sedingin yang aku kira,"