Setelah Hujan

Setelah Hujan
Mulai Lebih Baik


__ADS_3

Tak berapa lama, suara Pak Adit yang tengah mengumpulkan para guru mulai terdengar. Sontak Yandri dan Pak Alam menoleh ke arah sumber suara. Terlihat para guru mulai menaiki bus kembali untuk melanjutkan perjalanan.


"Sepertinya perjalanan akan kembali dilanjutkan, Wak. Kalau begitu, Yandri permisi dulu." Yandri berpamitan kepada Pak Alam.


"Abang pindah ke mobil kita aja. Biar barengan," sahut Ihsan.


"Enggak, San. Abang di bus saja, enggak enak juga sama guru yang lainnya. Takut menimbulkan kecemburuan sosial, hehehe,..." gurau Yandri.


Pak Alam dah Ihsan tersenyum. "Ya sudah, terserah kamu saja," ucap Pak Alam.


Yandri mengangguk. Setelah berjabat tangan lagi dengan kerabatnya, Yandri pun kembali bergabung bersama rekan-rekan guru yang lainnya.


Pak Alam tersenyum karena telah berhasil meyakinkan Yandri. Untuk itu, dia merogoh ponsel dan mengabari keberhasilannya kepada Tania. Pak Alam berharap, berita yang akan disampaikannya ini bisa Tania sampaikan kembali kepada Daniar. Sehingga mereka bisa tidur dengan tenang.


.


.


Daniar bisa bernapas dengan lega saat mendapatkan pesan dari kerabatnya. Tania mengabarkan jika suaminya berhasil membujuk Yandri untuk kembali melakukan perjalanan.


"Ah, syukurlah Tuhan," gumam Daniar.


Tanpa Daniar sadari, ibunya sudah berdiri di belakang Daniar. Sejurus kemudian, Bu salma menepuk pelan bahu Daniar hingga ia terperanjat.


"Astaghfirullahaladzim, Bu!" pekik Daniar, "ngapain Ibu di sini?" sambungnya.


Bu Salma mengerutkan dahi. "Harusnya pertanyaan itu untuk kamu, Kak," balas Bu Salma, "ngapain tengah malam kamu berada di halaman belakang?" lanjutnya.


Daniar meraih tangan Bu Salma dan mengajaknya duduk di kursi teras belakang. Dia kemudian menceritakan apa yang terjadi beberapa jam yang lalu.


"Masya Allah ... hhh, Niar, Ibu tidak habis pikir dengan keluarga suami kamu. Kenapa mereka hanya bisa mengingat Yandri di saat sedang menghadapi masalah saja?" kata Bu Salma seraya menghela napasnya.


"Sudahlah, Bu. Tidak usah terlalu dipikirkan, nanti Ibu bisa sakit. Sekarang Niar cuma bisa berdo'a saja, semoga lambat laun kang Yandri bisa melihat seperti apa orang-orang yang selalu dia bela mati-matian olehnya. Niar yakin, Bu. Tuhan tidak pernah tidur," jawab Daniar.


"Iya, Niar. Ibu hanya merasa kasihan saja sama kamu dan Bintang. Semoga Yandri bisa berubah dan tidak terlalu mementingkan kepentingan orang-orang yang tidak tulus menyayanginya," balas Bu Salma.


"Aamiin," jawab Daniar.


"Ya sudah, ayo kita masuk. Takut Bintang terjaga juga. Lagi pula, udara malam sudah tidak baik untuk kesehatan kita." Bu Salma mengajak putrinya untuk masuk ke rumah.


.

__ADS_1


.


Pukul 12 malam, bus rombongan guru baru memasuki wilayah sekolah asrama. Tiba di pelataran parkir, bus berhenti untuk menurunkan penumpangnya. Setelah semua penumpang turun, bus pun melaju ke garasi setempat yang memang khusus untuk menyimpan berbagai kendaraan milik sekolah.


Pak Adit membawa rombongan untuk memasuki ruang majelis guru. Di sana, sudah tertera nama-nama yang akan memasuki berbagai asrama di sekolah tersebut. Yandri menempati asrama putra dengan gedung asrama bernama Al Wustho. Setelah mendapatkan tempat, para guru baru pun dipersilakan menuju asrama masing-masing agar bisa beristirahat.


"Alhamdulillah, kita bisa sekamar ya, Tadz," ucap Pak Danny, teman ngobrol Yandri selama dalam perjalanan.


"Iya, Ustadz. Alhamdulillah," timpal Yandri.


"Oh iya, Tadz. Saya dengar, besok kita akan dibawa berkeliling sekolah untuk memperkenalkan lingkungan sekolah di sini," lanjut Pak Danny.


"Kabarnya sih, Begitu," balas Yandri.


"Saya dengar juga, peraturan di sini cukup ketat, Tadz. Hmm, saya enggak tahu apa saya bisa mentaati nya atau tidak," kata Pak Danny lagi.


Yandri tersenyum. "Ustadz telah menjadi orang-orang pilihan sehingga bisa sampai di sini. Saya yakin Ustadz bisa melakukan aturan di sini sebaik mungkin," jawab Yandri mencoba membesarkan hati temannya itu.


"Iya, Tadz. Mudah-mudahan saja," sahut Pak Danny.


"Ya sudah, istirahatlah, Tadz. Besok kita akan menghadapi hari baru di tempat baru," lanjut Yandri.


Pak Danny hanya mengacungkan kedua ibu jarinya menanggapi ucapan Yandri.


.


.


Keesokan harinya, para guru baru sudah berkumpul di selasar sebuah asrama. Hari ini, mereka akan dikenalkan pada lingkungan sekolah dan beberapa kegiatan yang ada di sekolah. Dengan menggunakan sebuah minibus milik yayasan, para guru itu pun mulai berkeliling untuk mengenal lingkungan sekolah.


Yandri yang notabene seorang guru dari kampung, berdecak kagum melihat hamparan sawah milik sekolah. Kebun buah-buahan yang luas, dan juga berbagai peternakan hewan. Semuanya diperuntukkan bagi para warga sekolah dan yayasan yang berada di sana.


Selain diperkenalkan pada wilayah yang menjadi penghasilan sekolah, para guru baru itu pun diperkenalkan pada berbagai macam kegiatan yang ada di sekolah. Baik kegiatan pendidikan formal dan juga ekstrakurikuler.


Mereka juga diperkenalkan pada seluruh fasilitas yang ada di sekolah. Dimulai dari gedung sekolah, gedung asrama sebagai tempat beristirahat guru, karyawan dan para santri, gedung olahraga, gedung kesenian dan berbagai macam gedung yang menjadi sarana prasarana di sekolah bertaraf internasional.


Decak kagum Yandri pun semakin bertambah. Dia bersyukur telah menjadi bagian dari tempat ini. Tidak bisa dipungkiri jika Yandri berharap, akan ada perubahan pada tingkat ekonomi keluarganya nanti.


.


.

__ADS_1


Seminggu setelah menjalani masa perkenalan lingkungan sekolah. Akhirnya para guru baru memulai tugasnya masing-masing sebagai tenaga pengajar di sekolah tersebut.


Di minggu kedua, banyak guru baru yang mulai mengeluh dengan berbagai macam administrasi kelas yang harus mereka buat. Pasalnya, beberapa sarjana yang diterima menjadi guru, bukan berasal dari fakultas pendidikan. Karena itu mereka merasa asing dengan yang namanya perangkat pembelajaran seperti silabus, jurnal harian ataupun RPP.


Namun, tidak dengan yandri. Terbiasa mengerjakan berbagai macam tugas keguruan, membuat Yandri mudah beradaptasi dengan lingkungan pendidikan di sana. Melihat hal tersebut, kepala sekolah pun memberikan tugas kepada Yandri untuk membimbing rekan-rekannya. Hmm, dalam kurun waktu dua minggu, Yandri sudah diangkat menjadi ketua MGMP di mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.


"Benarkah?" tanya Daniar saat dikabari tentang pengangkatan Yandri sebagai ketua MGMP.


"Iya, Bun. Ayah sendiri enggak ngerti. Kenapa kepala sekolah bisa mengusulkan nama Ayah kepada ketua Majelis Guru," sahut Yandri di ujung teleponnya.


"Hmm, mungkin karena beliau tahu kemampuan Ayah," timpal Daniar.


"Entahlah," balas Yandri.


"Tapi Ayah betah, 'kan, kerja di sana?" tanya Daniar.


"Harus betah Bun, karena butuh juga, hehehe ..." kelakar Yandri seraya terkekeh.


Daniar tersenyum. "Kapan pulang?" tanyanya.


"Kenapa? Kangen ya?" tebak Yandri, "baru juga sebulan, Bun," lanjutnya.


"Hehehe, iya-ya, belum gajian juga. Kemaren, 'kan masuknya nanggung," timpal Daniar.


"Tapi gajinya tetap dibayar loh, Bun," sahut Yandri.


"Serius?" kata Daniar tak percaya.


"Iya, serius," jawab Yandri.


"Berapa?" Daniar kembali bertanya. Hmm, dasar perempuan, selalu antusias kalau urusan duit, hehehe, batinnya.


"Sekitar dua juta," kata Yandri.


"Masya Allah, dua minggu Ayah sudah dapat segitu? Empat kali lipat dari penghasilan Ayah di sini selama sebulan, dong!" tukas Daniar.


"Hehehe, iya Bun. Alhamdulillah, ada perubahan. Semoga untuk ke depannya, keadaan ekonomi kita mulai membaik. Sehingga kita bisa menabung dan memiliki rumah sendiri," balas Yandri.


"Aamiin."


"Ya sudah Bun, Ayah tutup teleponnya, ya. Sekarang Ayah mau ngajar anak-anak mengaji di selasar asrama. Assalamu'alaikum!" pungkas Yandri.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam," jawab Daniar. "Alhamdulillah ya Allah, semoga berkah," gumam Daniar sesaat setelah suaminya memutuskan sambungan telepon.


__ADS_2