Setelah Hujan

Setelah Hujan
Marhaban Yaa Ramadhan


__ADS_3

Setelah perhiasan putrinya terkumpul, Daniar mengeluarkan kotak perhiasan yang berbentuk jantung hati berwarna merah dari dalam laci lemarinya. Setelah itu, dia menyimpan semua perhiasan tersebut untuk dijual besok. Apa pun yang terjadi, semarah apa pun dirinya terhadap sang suami, tapi dia tidak akan pernah tega membiarkan suaminya harus menanggung rasa malu.


Hmm, bismillah saja. Semoga suatu hari nanti, akan ada gantinya yang lebih daripada ini, batin Daniar sambil menutup laci lemarinya.


Keesokan harinya.


Saat sedang istirahat sekolah, Daniar menghampiri Yandri yang sedang melaksanakan salat dhuha di mushola. Tiba di mushola, dia pun duduk dan menunggu suaminya selesai salat. Setelah melihat Yandri mengucapkan salam, Daniar mendekatinya.


"Yah, Boleh Bunda bicara?" izin Daniar kepada suaminya.


Yandri tersenyum, dia kemudian menjawab, "Bicara saja, Bun. Kok pake minta izin segala."


"Besok pagi, Bunda mau pulang dulu ke rumah ibu. Apa Ayah mengizinkan?" tanya Daniar.


Yandri mengerutkan keningnya. Dia merasa heran mendengar keinginan Daniar. Untuk apa dia hendak pulang? Bukankah besok masih masih hari efektif sekolah? Terlebih lagi, minggu depan ujian dimulai, tapi kenapa istrinya ingin pulang?


"Kok tumben Bunda ingin pulang? Apa ada yang terjadi sama ibu?" tanya Yandri.


"Tidak, Yah. Ibu baik-baik saja," jawab Daniar.


"Lalu, kenapa Bunda ingin pulang?" tanya Yandri lagi.


Daniar mengeluarkan kotak perhiasan yang berisi perhiasan anaknya.


"Bunda mau jual ini, Yah," jawab Daniar, memperlihatkan kotak perhiasan tersebut kepada suaminya.


"Apa ini, Bun?" tanya Yandri seraya mengambil kotak perhiasan tersebut.


"Bukalah!" perintah Daniar.


Yandri membuka kotak perhiasan tersebut. Dia terkejut saat mengetahui isi dari kotak perhiasan itu. "Bukankah ini perhiasan Bintang, Bun?" tanya Yandri.


Daniar mengangguk.


"Mau Bunda apakan perhiasan Bintang?" tanya Yandri lagi.


"Mau Bunda jual, Yah," jawab Daniar lirih.


"Dijual? Untuk apa, Bun?" tanya Yandri semakin terkejut mendengar jawaban istrinya.


"Untuk mengembalikan uang tabungan anak-anak yang ibu kamu pinjam," jawab Daniar.


Yandri diam. Rasa bersalah mulai bergelayut di hati. Sedikit pun Yandri tidak pernah menyangka jika niat baiknya, harus berujung dengan pengorbanan putrinya sendiri.


"Maafkan Ayah, Bun." Hanya itu yang terucap dari bibir Yandri.


Daniar tersenyum sinis. "Seharusnya, Ayah meminta maaf kepada Bintang, bukan pada Bunda!" tegas Daniar seraya berlalu pergi.


Jika boleh jujur, Daniar merasa kesal oleh sikap suaminya yang selalu kalah di depan keluarganya. Ini bukan kali pertama Daniar kecewa akan sikap Yandri. Namun, Daniar masih bertahan. Terlebih sudah ada Bintang di antara mereka.


.

__ADS_1


.


Ujian telah berakhir. Dengan uang hasil penjualan perhiasan putrinya, akhirnya Daniar bisa menutupi uang tabungan yang dipinjam mertuanya.


Alhamdulillah, akhirnya aku bisa mengajak mereka piknik juga, batin Daniar seraya menatap anak-anak yang sedang bersuka cita bermain air di kolam renang.


Saat tengah asyik mengawasi anak-anak berenang, tiba-tiba telepon Daniar berdering. Daniar merogoh tasnya dan mengambil benda itu. Senyumnya mengembang tatkala dia melihat nama si pemanggil. Daniar segera mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum, Bu!" sapa Daniar.


"Wa'alaikumsalam. Ni, kamu di mana? Ini Ibu udah nyampe di tempat, loh," jawab Bu Salma di ujung telepon.


"Oh, iya sebentar, Bu. Niar keluar sekarang," balas Daniar.


"Ya sudah, Ibu tunggu di pintu masuk ya, Ni," kata Bu Salma.


"Iya, Bu," pungkas Daniar.


Setelah menutup sambungan teleponnya, Daniar memanggil Yandri.


"Tolong titip Bintang sebentar, Yah. Bunda mau jemput ibu dulu di depan," kata Daniar begitu Yandri menghampirinya.


"Ibu sudah datang, Bun?" tanya Yandri.


"Iya, Yah. Katanya ibu sudah sampai di depan pintu masuk," jawab Daniar.


"Ya sudah, cepat jemput Ibu, Bun. Kasihan kalau terlalu lama menunggu," lanjut Yandri. "Ayo Bintang, ikut Ayah. Kita main air di sana," ajak Yandri seraya mengambil alih Bintang dari gendongan ibunya.


"Niar, Ibu di sini!" teriak Bu Salma begitu melihat Daniar celingak-celinguk mencari keberadaannya.


Daniar tersenyum. Sejurus kemudian, dia pun menghampiri ibunya.


"Ibu datang sendiri?" tanya Daniar setelah mencium punggung tangan ibunya sebagai bentuk rasa hormat.


"Tadi sih, Ibu diantarkan Danisa, tapi anak itu langsung pulang karena mau main futsal," jawab Bu Salma.


"Hmm, Nisa masih aktif main futsal, Bu? Niar kira udah pensiun, hehehe," ucap Daniar terkekeh.


"Hmm, adik kamu itu, Ni. Susah diatur," tukas Bu Salma.


"Ya udah, masuk yuk, Bu. Daniar udah beli tiketnya buat Ibu," ajak Daniar seraya menggandeng tangan ibunya.


"Ayo, Ni! Ibu udah lama nih, enggak piknik. Semenjak ayah kamu meninggal, rasanya jadi aneh kalau pergi-pergi sendirian," jawab Bu Salma terlihat sedih.


Daniar merangkul ibunya. "Sudah, Bu. Jangan diingat lagi. Ayah sudah tenang di sana. Yuk ah!" pungkas Daniar seraya mengajak masuk ibunya ke tempat piknik.


.


.


Beberapa minggu telah berlalu, Yandri dan Daniar masih belum juga menghentikan pengajian yang diadakan. Mereka masih belum memiliki alasan yang tepat untuk menghentikannya. Terlebih lagi, mereka masih belum bisa menemukan rumah kontrakan untuk pindah.

__ADS_1


"Bagaimana ini, Pak Yandri? Ustadz Harun sudah menanyakan kembali tentang penutupan pengajian di sekolah. Mau sampai kapan Pak Yandri mengulur waktu?" tanya Bu Aisyah.


"Maaf, Bu. Bukannya saya bermaksud mengulur waktu. Namun, saya sendiri tidak punya alasan yang tepat. Bukankah Ibu dan bapak komite melarang saya untuk mengatakan alasan yang sebenarnya kepada orang tua murid?" jawab Yandri.


Bu Aisyah menghela napas. Apa yang dikatakan Yandri memang benar. Tidak mungkin mereka mengatakan pengajian ini dihentikan karena memang ustadz setempat melarangnya. Huh, itu sangat tidak etis sekali, pikir Bu Aisyah.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Pak?" tanya Bu Aisyah.


"Begini saja, Bu. Sebentar lagi, 'kan bulan puasa. Saya akan menyuruh anak-anak untuk melakukan tadarus di masjid setelah salat tarawih. Setelah itu, saya tidak akan membuka pengajian lagi, dengan catatan ... ke depannya Ustadz Harun harus bisa melanjutkan pengajian di masjid tersebut. Karena kalau tidak, anak-anak pasti akan kembali ke tempat saya," tutur Yandri. "Mudah-mudahan setelah lebaran, saya dan Daniar bisa mendapat kontrakan, supaya bisa segera pindah," lanjut Yandri.


"Ya sudah, semoga saja rencana kamu berjalan lancar," pungkas Bu Aisyah.


.


.


Daniar melipat sajadahnya setelah melaksanakan salat tarawih. Tak terasa, setahun telah berlalu. Ini adalah Ramadan pertama Daniar di tempat perantauan. Daniar terpaksa salat tarawih di rumah, mengingat dia memiliki Bintang yang usianya masih terlalu kecil untuk dibawa ke masjid. Terlebih lagi, Bintang bukan anak yang terbiasa memakai pampers. Karena itu, Daniar memutuskan untuk beribadah di kamar saja.


"Assalamu'alaikum!" sapa Yandri selepas pulang dari masjid.


"Wa'alaikumsalam," jawab Daniar seraya membuka pintu kamar.


"Sudah salat, Bun?" tanya Yandri saat melihat istrinya masih mengenakan mukena.


"Iya, Yah. Ini baru selesai," jawab Daniar.


Yandri tersenyum. Sejenak, dia mencium pucuk kepala istrinya. Lepas itu, dia memasuki kamar dan berganti pakaian. Begitu juga dengan Daniar yang segera membuka mukena dan melipatnya. Sedetik kemudian, Daniar menaruh mukena dan sajadah di tempatnya.


"Sahur nanti mau dimasakin apa, Yah?" tanya Daniar.


"Hmm, apa aja deh, Bun," jawab Yandri.


Daniar membuka stok bahan makanan yang dia simpan di kotak plastik.


"Bahan yang ada sih, cuma mie instan, telur, sama sawi, Yah," jawab Daniar.


"Ya sudah, bikin mie goreng saja, Bun," jawab Yandri.


"Hmm, boleh. Pasang alarmnya di jam dua, Yah. takut kesiangan," ucap Daniar.


"Siap, Bu Bos," jawab Yandri.


Daniar tersenyum. Setelah merapikan kotak bahan makanan ke tempatnya, Daniar ikut merebahkan diri di samping suaminya. Kedua tangannya memeluk erat tubuh sang suami. Begitu juga dengan Yandri.


"Tidak terasa ya, Bun. Sudah memasuki bulan suci lagi," ucay Yandri.


"Iya, Yah. Marhaban yaa Ramadan. Semoga tahun ini, Bintang bisa diajak puasa," jawab Daniar.


"Pelan-pelan saja, Bun. Kasihan juga Bintang, dia, 'kan masih ASI. Kalau kamu puasa, Asi-nya nanti enggak enak rasanya," ungkap Yandri


"Iya, Yah."

__ADS_1


__ADS_2