
Kring-kring!
Dering ponsel Seno terus berbunyi di kamar mewahnya. Seno yang sedang berada di kamar mandi, buru-buru membersihkan sisa busa di tubuhnya. Setelah bersih, bergegas Seno keluar untuk menerima panggilan di ponselnya.
"Huft, untung tidak ada Shakila di sini." Monolog Seno seraya membuang napasnya dengan kasar.
Sejurus kemudian, Seno mengangkat panggilan dari orang yang bernama Robert. Seorang detektif swasta yang dia sewa untuk menyelidiki dan mengawasi kehidupan Daniar.
Seno : "Halo! Apa ada berita terbaru yang layak gue denger, sampai lo harus telepon gue sepagi ini?"
Robert : "Hmm, tentu saja, Tuan."
Seno : "Katakan! Tapi ingat, harus jelas dan terperinci. Dan yang utama, berita itu harus bisa menyenangkan pagi gue. Awas saja kalau enggak!"
Seno mengancam detektif itu. Sedetik kemudian, terdengar suara tawa di ujung telepon.
Robert : "Hahaha, tenang saja Tuan, saya yakin berita ini bisa menjadi energi positif untuk Anda dalam menyambut hari ini."
Seno : "Ish, dasar tukang jilat!"
Seno mendengus kesal. Lagi-lagi, orang di ujung telepon kembali tergelak.
Seno : "Cepat bilang! Waktu gue nggak banyak untuk mendengar tawa lu yang nggak jelas itu."
Terdengar tarikan napas yang cukup panjang di seberang telepon.
Robert : "Jadi begini, Tuan. Nona Daniar itu sebenarnya belum menikah. Dan saya bisa menjamin keakuratan kabar ini seribu persen!"
Seno menautkan kedua alisnya.
Seno : "Maksud lu?"
Robert : "Iya, seperti yang saya bilang barusan. Nona Daniar belum menikah. Setelah pertunangan kalian putus, Nona Daniar memutuskan untuk hidup sendiri. Dia tidak pernah ingin menjalin hubungan lagi dengan laki-laki. Hmm, mungkin nona Daniar merasa trauma dengan pertunangannya yang kandas."
Wajah Seno memerah mendengar ucapan Robert yang seperti tengah menyindirnya.
Seno : "Jangan sok tahu lu! Memangnya lu denger dari mana berita itu, sampai segitu yakinnya?"
Robert : " Hmm, tentunya dari orang yang bisa dipercaya seribu persen juga, Tuan."
Robert tersenyum simpul saat dia membayangkan kembali pertemuannya dengan wanita paruh baya yang tak lain adalah Bu Salma.
Seno : "Baiklah, anggap saja aku percaya padamu. Jika berita yang kamu sampaikan ini benar adanya, lantas siapa laki-laki yang mengaku sebagai suaminya?"
Seno semakin penasaran dengan apa yang telah disampaikan oleh detektif tersebut.
"Robert : " Namanya Yandri Gunawan. Dia seorang mahasiswa tingkat akhir yang berkuliah di kampus yang sama dengan mantan tunangan An–"
Seno : "Dia masih tunangan saya! Lancang sekali kamu mengatakan jika dia mantan saya!"
__ADS_1
Seno memotong ucapan sang detektif. Dia terlihat begitu kesal saat mendengar kata mantan untuk Daniar. Meski pada kenyataannya, gadis itu memang mantan tunangannya.
Robert : "Baiklah-baiklah. Terserah Anda saja, Tuan!"
Raut wajah detektif Robert terlihat jengah mendengar keegoisan Seno.
Seno : "Lanjut!"
Robert : "Dia mahasiswa fakultas PG-PAI tingkat akhir. Dan sekarang sedang menyusun laporan akhirnya. Dia seorang pemuda desa dari keluarga se–"
Lagi-lagi, Seno memotong kalimat sang detektif.
Seno : "Gua nggak butuh berita detail tentang tuh cowok. Katakan saja, apa hubungan tuh cowok sama Daniar?"
Ish, bener-bener nggak sabaran, keluh Robert dalam hatinya. Sejenak, pria berusia 30 tahun itu menghela napasnya mendapati kembali keegoisan sang klien.
Robert : "Pemuda itu tidak memiliki hubungan apa pun dengan nona Daniar. Saya bisa memastikan untuk hal tersebut."
" Seno : "Lu yakin?"
Robert : "Sangat yakin."
Seno : "Oke. Gue pegang laporan lu hari ini. Awas saja kalau laporan lu ini palsu. Gue nggak akan pernah sudi bayar tenaga lu!"
Klik!
Tanpa menunggu jawaban, Seno kemudian menutup teleponnya. Sementara itu di ujung telepon, Robert hanya bisa mendengus kesal mendapatkan klien bawel, ruwet dan sangat arogan.
.
.
"Assalamu'alaikum!" sapa Daniar begitu tiba di teras rumahnya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Pak Fandi dari arah belakang Daniar.
Sontak Daniar membalikkan badan.
"Ayah!" pekik Daniar, menghambur ke dalam pelukan Pak Fandi.
Laki-laki paruh baya itu hanya mengulum senyum saat melihat sikap manja putri sulungnya.
"Hehehe, manja sekali putri kecil Ayah ini," ucap Pak Fandi seraya mencium pucuk kepala Daniar.
"Ish, Ayah. Niar bukan anak kecil lagi. Niar udah gede, ya," rengek Daniar.
"Iya-iya." Pak Fandi mengalah. "Yuk, masuk!" ajak Pak Fandi.
Daniar mengangguk. Akhirnya, ayah dan anak itu berjalan beriringan memasuki rumah.
__ADS_1
.
.
Saat mengetahui tentang status Daniar yang sebenarnya, Seno memutuskan untuk kembali menemui Daniar. Terlebih lagi, saat ini dia punya alasan yang kuat untuk bertemu dengan wanita itu.
Pukul 12 siang, Seno mengunjungi kantor sang kakak angkat. Tujuannya tak lain untuk meminta bantuan aldi mempertemukan dirinya dengan Daniar. Seno yakin, jika dia menemui Daniar sendirian, Daniar pasti akan menolak mentah-mentah kedatangannya.
"Lu yakin dengan rencana lu?" tanya Aldi saat Seno mengutarakan idenya.
"Iya, Bang. Gue yakin banget," jawab Seno, pasti.
"Jangan gegabah, Sen. Daniar bisa kecewa dan semakin membenci lu, jika sampai lu lanjutkan ide gila lu itu." Aldi mengingatkan adik angkatnya.
"Tenang, Bang. Gue cuma mau gertak Daniar saja. Gue nggak sekejam itu, Bang. Lagi pula, gue yakin jika tawaran kesepakatan ini bisa menguntungkan kedua belah pihak."
"Huh, terserah lu saja, Sen. Tapi ingat ya, tugas gue hanya sebatas membawa Daniar ke kafe saja. Selanjutnya, gue nggak mau ikut campur lagi urusan kalian. Ngerti!" tegas Aldi.
"Iya, Bang. Iya...."
.
.
Selepas pulang kantor, Aldi melajukan kendaraannya menuju kampus Daniar. Hari ini, atas permintaan Seno, Aldi akan membawa Daniar ke suatu tempat untuk mempertemukannya dengan Seno.
Sepuluh menit Aldi menunggu. Akhirnya, wanita yang ditunggunya muncul juga.
"Niar!" panggil Aldi
Daniar menoleh. Dia begitu terkejut melihat abang angkat mantan tunangannya. Sedetik kemudian, Daniar menghampiri Aldi.
"Kak Aldi? Ngapain Kak Aldi di sini?" tanya Daniar.
"Kakak mau bicara sama kamu. Apa kamu punya waktu?" Aldi balik bertanya.
Daniar menghela napas. "Kalau ini tentang Seno lagi, maaf Kak, Niar nggak mau," tegas Daniar.
"Ini tidak ada sangkut pautnya dengan Seno, Ni. Ini tentang Mbah," jawab Aldi.
"Mbah?" ulang Daniar. "Ada apa dengan Mbah, Kak? Apa terjadi sesuatu kepada Mbah? Apa beliau baik-baik saja?" tanya Daniar lagi.
"Sebaiknya kita cari tempat untuk bicara, Ni. Di sini terlalu bising," saran Aldi.
Daniar mengangguk. Sejurus kemudian, dia memasuki mobil Aldi. Tanpa mereka sadari, sepasang mata tengah mengawasi mereka dari balik pintu gerbang.
Yandri tampak tertegun melihat Daniar memasuki mobil sedan berwarna hitam itu.
"Ish, siapa laki-laki yang membawa Daniar? Kenapa aku merasa jika Daniar berada dalam bahaya?" gumam Yandri.
__ADS_1
Gurat kecemasan tergambar jelas di raut wajah pemuda itu. Sejurus kemudian, Yandri menghentikan ojol yang sedang melintas di hadapannya.
"Ikuti mobil itu, Bang!"