Setelah Hujan

Setelah Hujan
Permintaan Yandri


__ADS_3

Tak lama kemudian, azan magrib mulai terdengar dari masjid di depan rumah Daniar.


"Bibin tunggu sama Enin dulu, ya. Bunda mau mandi. Badan Bunda lengket. Nih, Bibin lihat," ucap Daniar seraya menunjukkan lengannya yang merasa tak nyaman karena berkeringat.


"Iya, Bun," sahut Bintang yang langsung menghampiri Bu Salma.


"Jangan lama-lama mandinya, Bun. Entar kita salat magrib bareng," kata Yandri sebelum melihat istrinya pergi.


Meskipun sudah berdamai, tapi Daniar tidak berniat untuk menyahuti ucapan Yandri. Dia hanya pergi begitu saja dari ruang keluarga.


Setelah istrinya memasuki kamar mandi, Yandri berpamitan kepada ibu mertuanya. Dia hendak berwudhu di kamar paviliun. Untuk beberapa menit Yandri menunggu, hingga akhirnya Daniar datang juga. Mereka kemudian melakukan salat berjamaah bersama di kamar paviliun.


"Bunda minta maaf, Yah. Karena terlalu dikuasai emosi, Bunda meninggalkan Ayah dan Bintang begitu saja," kata Daniar, sesaat setelah mereka selesai salat berjamaah.


"Iya, Bun. Ayah juga minta maaf. Selama ini Ayah selalu mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan perasaan Bunda. Ayah selalu menganggap sepele hal tersebut. Ayah sendiri tidak tahu jika itu sangat melukai hati Bunda," papar Yandri panjang lebar.


Daniar hanya tersenyum tipis. "Sudahlah Yah, yang lalu biarlah berlalu. Kita lupakan semuanya. Kita mulai dari awal lagi. Bunda harap, kita bisa mengambil hikmah dari kejadian tadi. Mungkin sudah saatnya kita berbenah diri agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi," tutur Daniar.


Yandri merentangkan kedua tangannya. "Kemarilah, Ayah sangat merindukan Bunda. Rasanya sakit sekali melihat Bunda pergi tanpa menoleh ke belakang," ucap Yandri, lirih.


"Hmm, modus," tukas Daniar seraya menjatuhkan diri ke dalam pelukan suaminya.


.


.


Malam semakin beranjak. Setelah ditinggal pergi untuk beberapa jam, rupanya Bintang sedikit trauma.


"Malam ini Bibin mau tidur di sini. Boleh, 'kan, Yah?" pinta Bintang seraya menyembulkan kepalanya di balik pintu kamar paviliun.


"Tentu saja boleh, Sayang. Ayo, masuklah!" sahut Yandri sambil melambaikan tangan sebagai isyarat supaya Bintang masuk.


Gadis kecil itu segera menghambur ke arah ayahnya.


"Ditutup dong, pintunya, Nak," tegur Daniar saat melihat pintu kamar paviliun masih terbuka.


"Ups!" Bintang menghentikan langkahnya. "Maaf, Bunda ... Bintang lupa," sahutnya seraya membalikkan badan untuk menutup pintu.


Tangan kecilnya kembali meraih handle pintu dan mendorongnya. Setelah pintu tertutup, Bintang pun menghampiri kedua orang tuanya. Dia segera naik ke atas ranjang. Sedetik kemudian, Bintang menyelinap masuk ke dalam selimut yang digunakan Daniar dan Yandri untuk menutup tubuh mereka. Bintang berbaring tepat di antara kedua orang tuanya.


Daniar dan Yandri tersenyum dengan ulah Bintang. Melihat sikap Bintang seperti itu, mereka menyadari jika pertengkaran, pasti akan sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anaknya.


"Oh iya, Yah. Lusa Bunda mau kemah. Ayah mengizinkan, 'kan?" tanya Daniar sambil menepuk-nepuk bokong anaknya yang sudah tertidur.

__ADS_1


Yandri tersenyum. "Silakan, Bun. Hitung-hitung refreshing juga," jawab Yandri


"Hehehehe, Ayah benar. Setelah sekian lama terkurung dalam dunia medis, akhirnya Bunda bisa juga healing. Walaupun cuma setitik," gurau Daniar seraya terkekeh.


"Ya sudah, ayo kita tidur. Biar besok bisa fit lagi," ajak Yandri.


"Yuk!" sahut Daniar.


pasangan itu akhirnya membaringkan tubuh lelahnya. Berharap kantuk segera menghampiri.


.


.


Di lain tempat.


Aji hanya bisa menatap sendu sang istri yang berbaring tak berdaya. Sesekali tangannya mengusap air mata yang menggenang di kedua sudut mata Khodijah.


"Kamu yang sabar, ya, Bu. Insya Allah, Ibu pasti bisa sembuh seperti sediakala," ucap Aji mencoba menenangkan hati istrinya.


Tiga bulan yang lalu, Khodijah terkena stroke ringan. Berbagai upaya, Aji lakukan untuk kesembuhan istrinya. Hingga akhirnya, Khodijah pun bisa sembuh, meski tidak pulih total seperti sediakala.


Namun, entah kenapa Khodijah kembali mendapatkan serangan lagi. Bahkan kali ini bertambah parah. Kedua kakinya tidak bisa dia gerakan. Semuanya terasa kaku hingga sampai ke pinggang. Sejak serangan kemarin, Khodijah kemudian dibawa ke puskesmas setempat.


"Pasti, Bu. Bapak yakin Ibu pasti sembuh, asalkan Ibu memiliki keyakinan untuk bisa kembali sembuh. Bapak sudah berjuang semampu Bapak untuk memberikan pengobatan yang terbaik buat Ibu. Namun, perjuangan Bapak tidak akan ada hasilnya jika Ibu tidak memiliki semangat untuk sembuh. Karena itu, Ibu harus berjuang. Ibu harus ingat jika di rumah masih ada yang membutuhkan Ibu, yaitu Bapak dan anak-anak," tutur Aji, berusaha menyemangati istrinya.


Mendengar perkataan suaminya, air mata Khodijah pun mengalir semakin deras.


.


.


Malam pun kian larut. Namun, baik Yandri ataupun Daniar, mereka sama-sama tidak bisa memejamkan matanya.


"Bun," panggil lirih Yandri.


"Iya, Yah," jawab Daniar.


"Ayah enggak bisa tidur," lanjut Yandri.


Daniar membuka matanya. Sejenak, dia menatap Yandri yang sedari tadi memang sedang memandangi wajahnya. Seulas senyum terbit di bibir pasangan itu.


"Ayah kenapa?" tanya Daniar.

__ADS_1


"Kita program anak lagi yuk, Bun!" kata Yandri, spontan.


Daniar cukup terkejut mendengar perkataan suaminya. Keningnya sedikit berkerut. Daniar menatap intens suaminya, mencoba menelisik keseriusan sang suami.


"Kok Ayah bicara seperti itu?" tanya Daniar.


"Kalau Bunda enggak siap, Ayah enggak bakal maksa, kok," tukas Yandri.


Daniar menarik napasnya panjang. "Bunda bukannya enggak siap, Yah. Cuma kaget aja, tiba-tiba Ayah ngomong soal program hamil," jawab Daniar.


"Ada banyak alasan kenapa Ayah pingin punya anak lagi, Bun. Yang pertama, Ayah ngerasa kasihan melihat Bintang. Dia tidak memiliki teman berbagi kalau harus menjadi anak tunggal. Jika dia memiliki saudara, setidaknya mereka bisa saling menjaga satu sama lain, Bun," tutur Yandri.


"Alasan yang lainnya?" tanya Daniar, menyelidik.


"Alasan yang kedua, biar Ayah tambah semangat dalam bekerja. Dan alasan yang ketiga, biar lebih merekatkan lagi hubungan kita," papar Yandri.


"Hmm, lem kali ... rekat," gurau Daniar.


"Haish, Bunda ... Ayah serius ... Bunda mau, 'kan hamil lagi?" lanjut Yandri.


"Iya, Yah. Nanti Bunda coba diskusikan terlebih dahulu sama ibu. Bunda, 'kan kerja, entar pasti ibu juga yang bakal ngurus anak-anak," tukas Daniar.


"Jangan ibu yang ngurus, Bun. Kasihan," kata Yandri.


"Lantas, siapa yang akan ngurusin? Apa Bunda resign saja, Yah, biar bisa fokus ngurus anak-anak," ucap Daniar.


"Hmm, bagaimana kalau kita cari pengasuh saja, Bun," usul Yandri.


"Oalah, Yah ... kok udah jauh banget sih, mikirnya. Ya udah, tidur ah!" kata Daniar.


"Tapi, Bun. Mau, 'kan?" pinta Yandri.


"Insya Allah, Yah. Berdo'a saja semoga kita diberikan kepercayaan lagi. Bunda tidak ingin terlalu banyak berharap, Yah. Ya ... Ayah sendiri tahu, 'kan, gimana sulitnya kita mendapatkan Bintang," sahut Daniar.


Yandri mengangguk. Apa yang dikatakan istrinya memang sangat benar. Mereka membutuhkan waktu hampir setahun untuk mendapatkan momongan.


"Ya sudah, kalau gitu kita ikhtiar dari sekarang. Yuk!" ajak Yandri memasang aksi genitnya.


"Huuu, itu mah modus," timpal Daniar. "Percuma ikhtiar, orang Bunda masih pakai KB," lanjutnya.


"Hehehehe, enggak pa-pa, Bun. Kali aja si adik bisa menjebolnya, hahaha," canda Yandri.


Daniar hanya membulatkan kedua bola matanya saat mendapatkan serangan dari sang suami.

__ADS_1


__ADS_2