
Setelah melewati perjalanan selama 45 menit, akhirnya Daniar tiba di rumah. Daniar membuka sepatu dan menyimpannya di rak sepatu yang berada di luar. Sejenak, dia menarik napas panjang sebelum akhirnya mengucapkan salam.
“Assalamu’alaikum!” sapa Daniar seraya membuka pintu.
Waktu memang sudah melebihi magrib, mungkin kerena itu rumah terlihat sepi. Rupanya semua orang tengah melaksanakan ibadah salat magrib. Daniar pergi ke kamar untuk menyimpan semua peralatan kampus. Lepas itu, dia menyambar handuk yang tergantung di hanger pintu, kemudian pergi ke kamar mandi.
“Sudah pulang, Neng?” tanya Hajjah Maryam yang sedang menginap di rumah Daniar.
“Eh, iya Mih,” jawab Daniar, “bentar ya, Mih. Niat mandi dulu,” pamit Daniar.
Hajjah Maryam mengangguk. “Ya sudah, nanti setelah salat, kamu segera makan, biar nggak masuk angin,” kata Hajjah Maryam
“Iya, Mih,” jawab Daniar.
Daniar pergi ke kamar mandi. Tiba di kamar mandi, dia segera melucuti pakaian yang menempel di tubuhnya. Sedetik kemudian, Daniar mengguyur sekujur tubuhnya yang terasa lengket dengan air dingin.
“Uuuh, segerr …” ungkap Daniar seraya bersenandung kecil.
.
.
Beberapa hari berlalu. Namun, permasalahan Daniar masih tetap sama. Desakan sang adik untuk segera menikah, membuat kepala Daniar seakan mau pecah.
Semenjak putusnya pertunangan Daniar dengan sang calon suami, sikap Daniar menjadi dingin terhadap lawan jenis. Daniar sudah tidak memikirkan sebuah hubungan yang cukup serius dengan pria. Satu-satunya yang dia inginkan adalah membahagiakan keluarganya. Karena rasa trauma yang terus menggelayut dalam hatinya, Daniar sempat mengatakan kepada sang ibu, jika dia tidak pernah ingin menikah.
Sekarang, usia Daniar telah memasuki 25 tahun. Di mana pada usia itu, teman-teman sekolah Daniar, sudah pada menikah. Bahkan ada juga yang sudah memiliki anak bujang. Tapi selama beberapa bulan terakhir ini, Daniar masih betah hidup melajang. Perjodohan yang direncanakan sang ibu pun, gagal total.
Hati ibu mana yang tidak merasa khawatir melihat anaknya seolah mati rasa terhadap lawan jenis. Hari-hari Bu Salma selalu dipenuhi kecemasan. Terlebih lagi, saat ini putri keduanya telah memiliki calon pendamping. Jika boleh jujur, Bu Salma sendiri tidak rela jika putri sulungnya harus dilangkahi oleh putri keduanya. Hanya saja, Bu Salma tidak mampu merubah nasib jika jodoh putri sulungnya memang belum terlihat. Bu Salma hanya bisa berserah diri dan terus berdo’a agar Tuhan segera mempertemukan jodoh putri sulungnya.
“Bagaimana, Kak? Apa Kakak sudah bicara dengan Danita?" tanya Bu Salma kepada putri sulungnya.
Daniar yang sedang mengkaji materi untuk mengajar besok, segera menutup bukunya. Dia mendongak menatap sang ibu. Helaan napasnya terdengar sangat berat
“Kakak ikhlas dilangkahi, jika Nita memang ingin segera menikah,” jawab Daniar.
“Sebenarnya, adik kamu masih bisa menunggu kamu untuk menikah. Akan tetapi, nak Roni ingin pernikahannya disegerakan,” jawab Bu Salma.
“Ya makanya, sedari awal Kakak sudah bilang. Silakan saja jika memang mereka ingin segera menikah. Kakak rela kok, dilangkahi. Toh di dunia ini, bukan hanya Kakak saja yang memiliki nasib dilangkahi menikah. Tapi, mereka baik-baik saja, tuh,” tukas Daniar.
__ADS_1
“Entahlah, Kak. Ibu sendiri bingung. Di satu sisi, Ibu senang jika Nita sudah menemukan jodohnya. Namun, di sisi lain, Ibu terluka saat mengetahui kamu harus dilangkahi oleh adikmu sendiri,” tutur Bu Salma terlihat pilu.
Daniar merangkul ibunya. “Sudah, Bu. Jangan terlalu dipikirkan. Nanti Ibu bisa sakit," pungkas Daniar.
Bu Salma mulai terisak dalam pelukan putri sulungnya. Hingga untuk sejenak, mereka saling memeluk erat untuk menguatkan satu sama lain.
.
.
Dua minggu telah berlalu. Namun, Daniar masih belum bisa menemukan solusi yang baik untuk kedua belah pihak. Hingga akhirnya, Daniar terjebak pada perasaan dirinya dan diri adiknya. Atas permintaan Roni, Danita masih terus saja mendesak Daniar untuk menikah. Padahal, Danita sangat tahu jika posisi Daniar saat ini masih sendirian.
Entah apa yang ada dalam benak anak itu? Apa dia pikir, mencari pasangan itu semudah membalikkan telapak tangan? gerutu Daniar dalam hatinya
Tak ingin memikirkan nasibnya terlalu jauh, akhirnya Daniar segera berkemas untuk memulai hari esok. Daniar berharap, akan ada pelangi selepas hujan.
.
.
Jadwal kuliah Daniar adalah hari Senin hingga Kamis, sedangkan jadwal kuliah Yandri di mulai hari Rabu hingga Sabtu. Sejak Daniar protes jika Yandri seolah tak mengenal dirinya, akhirnya setiap hari Rabu atau Kamis, Yandri selalu menyempatkan diri menemui Daniar jika jam istirahat tiba. Seperti Rabu ini, selepas bimbingan tugas akhirnya, Yandri menemui Daniar di kelasnya.
“Pasti mau ketemu Daniar, ya?” goda Nida yang sudah mengetahui jika dua minggu terakhir ini, Yandri begitu dekat dengan Daniar.
“Niiii! Cowok lu datang buat ngapel, nih!” teriak Nida menggoda sahabatnya dari arah pintu kelas.
Daniar hanya mendelik menanggapi candaan sang sahabat. Sejurus kemudian, Daniar beranjak dari kursinya dan berjalan ke pintu untuk menemui Yandri.
“Ada apa, Yan?” tanya Daniar begitu berhadapan dengan Yandri.
“Kita duduk dulu, Yar," ajak Yandri seraya mendaratkan bokongnya di kursi panjang depan kelas Daniar.
Daniar mengikuti Yandri dan duduk di sampingnya.
“Bagaimana? Sudah kelar permasalahan kamu?” tanya Yandri begitu melihat Daniar duduk di sampingnya.
Daniar hanya menggelengkan kepalanya, lemah. “Malah semakin menjadi, Yan,” jawab Daniar.
“Maksud kamu?” tanya Yandri yang mulai penasaran.
__ADS_1
“Sekarang ibu semakin gencar berusaha untuk menjodohkan aku dengan laki-laki pilihannya. Ibu merasa khawatir, jika aku sampai dilangkahi, maka selamanya aku tidak akan mendapatkan jodoh,” tutur Daniar panjang lebar.
Yandri kembali terkekeh mendengar penuturan Daniar. “Apa kamu tahu, jika sekarang bukan zaman Siti Nurbaya?"ucap Yandri.
“Ish, ya aku tahu lah," jawab Daniar.
“Lalu kenapa harus pakai dijodohkan segala," timpal Yandri.
“Tentunya, alasannya cuma satu,” gumam Daniar seraya mengerucutkan bibirnya.
“Apa?” tanya Yandri, heran.
“Ya karena mereka nggak mau melangkahi aku," jawab Daniar.
"Hmm, apa ayah kamu sudah pulang?" Yandri malah mengalihkan pertanyaan.
Untuk sejenak, Daniar menatap Yandri sambil mengerutkan kening. "Mau apa kamu menanyakan ayahku?" Daniar kembali bertanya.
"Main catur," jawab Yandri, asal.
"Ish, kirain mau ngapain. Nggak lucu ah," gerutu Daniar, terlihat kesal.
"Ada atau enggak?" desak Yandri.
"Hhh." Daniar menghela napasnya. "Ibu bilang, besok ayah bakalan pulang. Soalnya, minggu depan, kita bakalan kedatangan tamu spesial ibu," jawab Daniar yang wajahnya berubah masam.
"Calon kamu?" tanya Yandri, penuh selidik.
Daniar hanya menggedikkan kedua bahunya menjawab pertanyaan Yandri.
"Ya sudah, aku masuk kelas dulu ya. Ingat, jangan terlalu dipikirkan lagi. Semua pasti ada solusinya. Dan kabari aku jika ayah kamu pulang," pesan Yandri seraya berlalu dari hadapan Daniar.
.
.
Sementara itu, di lain tempat. Seno terlihat senyam senyum sendiri seraya menatap map berwarna kuning di tangannya. Ya, map itu berisi surat-surat penting atas dua unit kontrakan yang sudah dihibahkan kepada Daniar. Dalam surat - surat itu, tertulis dengan jelas jika unit kontrakan B5 dan B6 adalah sah atas nama Daniar Rahmawati. Senyum Seno pun semakin mengembang saat dia mengingat saran dari sahabatnya.
Jadikan surat ini sebagai sebuah tawaran kesepakatan agar lo bisa memiliki Daniar lagi. Lo ngerti, 'kan, maksud gua?
__ADS_1
Kalimat itu menggaung begitu jelas di telinga Seno.
Hmm, tentu saja aku mengerti. Dengan surat ini, akan aku susun sebuah rencana yang tak mungkin dia elak. Aku yakin, cepat atau lambat, Daniar pasti akan menjadi milikku, batin Seno yang sedang membayangkan ide gilanya.