Setelah Hujan

Setelah Hujan
Kembali Diuji


__ADS_3

Kepulangan Daniar yang mendadak, tentu saja membuat kedua orang tua Daniar merasa heran. Pak Fandi mencoba bertanya kepada menantunya. Namun, Yandri tidak memberikan jawaban apa-apa selain merasa khawatir akan perkembangan janin yang ada dalam kandungan Daniar.


"Maklumlah Yah, di sana itu kampung. Untuk kontrol ke bidan desa saja, kami harus melewati puluhan kilo dengan menggunakan kendaraan beroda dua. Kondisi jalannya juga terjal, jadi Yandri mengkhawatirkan keadaan Daniar. Terlebih lagi, Daniar sama sekali tidak mau makan. Tak ada satu pun makanan yang bisa masuk ke perutnya. Kalaupun ada, pasti di pagi harinya selalu dia muntahkan kembali. Karena itu, Yandri khawatir jika sesuatu terjadi di malam hari," ujar Yandri saat ayah mertuanya menanyakan alasan Daniar ingin kembali.


"Jika kondisinya memang seperti itu, ya lebih baik Niar tinggal di sini saja, Nak Yandri. Ibu juga pernah merasakan apa yang Niar rasakan saat ini. Untuk sementara waktu, biar Ibu sama Ayah saja yang akan mengurus Daniar. Nak Yandri tidak usah cemas, Daniar pasti akan baik-baik saja bersama kami," timpal Bu Salma seraya merangkul putrinya.


Daniar memeluk erat ibunya. Ah, entah sudah berapa lama dia tidak merasakan kehangatan pelukan seorang ibu. Saat ini, dia benar-benar merasa nyaman dalam pelukan Bu Salma.


"Iya, Bu. Sekali lagi Yandri minta maaf karena sudah merepotkan Ibu sama Ayah," kata Yandri.


"Ish, tidak merepotkan atuh, Nak. Daniar, 'kan anak kami juga. Sudah sewajarnya kami ikut mengurusnya," tukas Pak Fandi.


Yandri tersenyum. Setelah berbincang-bincang sejenak dengan kedua mertuanya, Yandri akhirnya pamit dan mengajak Daniar untuk beristirahat di kamar. Wajah Daniar terlihat pucat, mungkin karena pengaruh kehamilannya juga, karena itu Daniar cepat merasa lelah.


Jujur saja, Yandri merasa tidak tega melihat keadaan Daniar yang setiap paginya mengalami morning sickness. Karena itu, Yandri meminta izin kepada atasan dan rekan-rekan kerjanya untuk menemani Daniar hingga akhir pekan.


.


.


Di tempat lain, Bu Maryam menghela napas tatkala mengingat kembali kejadian beberapa hari yang lalu. Ya, kejadian saat menantunya berpamitan untuk pulang. Jujur, Bu Maryam merasa bersalah saat mengatakan kekesalannya tempo hari. Namun, rasa egonya membuat dia bertahan untuk tidak meminta maaf. Ya, apa yang dikatakannya kepada Daniar, itu memang unek-uneknya selama ini. Tidak bisa dipungkiri jika dirinya memang kecewa saat sang putra memutuskan untuk menikah tanpa meminta pendapatnya terlebih dahulu.


"Jadi, Kak Niar memutuskan untuk pulang, Bu?" tanya Puri saat sedang berkunjung ke rumah ibu mertuanya.


"Iya, dua hari yang lalu mereka pulang. Bahkan, sampai sekarang Yandri juga belum kembali," jawab Bu Maryam.


"Tapi kenapa, Bu?" Puri kembali bertanya dengan rasa penasaran yang kian menggunung.


"entahlah," jawab Bu Salma.

__ADS_1


"Mungkin dia tidak kerasan tinggal di sini, karena itu dia memilih balik lagi ke rumahnya," timpal Habibah.


"Ah, masak sih? Selama ini Puri lihat, kak Niar cukup nyaman kok, tinggal di sini," tukas Puri.


"Halah, kamu, 'kan cuma sekali-sekali datang kemari, jadi mana tahu yang sebenarnya. Sudah jelas-jelas si Niar itu enggak kerasan tinggal di sini. Buktinya, apa-apa yang ngerjain Yandri. Sampai urusan makan pun, Yandri yang masak," balas Habibah.


"Sudah aku bilang, 'kan Bu, orang kota mana mau diajak hidup susah. Lagian, kenapa dulu Ibu mengizinkan bang Yandri untuk menikahi wanita kota itu, gini, 'kan jadinya?" dengus Yoga merasa kesal.


"Benar, padahal kurang baik apa si Siska mantan pacarnya itu. Udah solehah, tutur katanya lembut, selalu siap memberikan apa pun yang Yandri inginkan. Bahkan dia bersusah payah untuk mengerjakan kebiasaan kita di sini. Tapi entah kenapa, kok Yandri malah kepincut sama wanita itu. Apa hebatnya sih dia?" timpal Habibah.


"Ish, Abang sama Kak Bibah kok jahat banget ngomongnya. Ya kalau jodohnya bang Yandri adalah kak Niar, kita mau bilang apa lagi? Toh urusan jodoh itu, Tuhan yang atur," tukas Puri mengingatkan suami dan kakak iparnya.


"Sudah-sudah, kalian ini enggak ada habis-habisnya mengeluh tentang Yandri. Apa kalian tidak sadar kalau orang yang kalian keluhkan itu saudara kalian sendiri? Sebenarnya, apalagi yang kalian inginkan? Bukankah kalian bisa hidup tenang karena Daniar sudah pergi dari sini?" ucap Bu Maryam kepada kedua anaknya.


"Tahu, nih," timpal Puri.


"Iya, dia memang sudah pergi. Tapi, belum tentu dia mau membayar uang bekas kuliah bang Yandri. Harusnya, dulu Ibu menahan keinginan bang Yandri buat nikah. Suruh dia berbakti dulu sama Ibu. Setelah itu, baru dia memikirkan wanita lain." Yoga kembali mendengus kesal.


Tak ingin memperkeruh suasana hati mertuanya, Puri akhirnya mengajak suaminya untuk pulang.


.


.


"Besok Akang kembali kerja, Yar. Kamu enggak apa-apa, 'kan ditinggal sama ibu dan ayah?" tanya Yandri seraya memeluk Daniar.


Daniar yang sedang menyandarkan Tubuhnya di dada bidang Yandri, hanya bisa menganggukkan kepala.


"Kapan Akang pulang lagi ke sini?" tanya Daniar.

__ADS_1


"Insya Allah, Akang usahakan pulang seminggu sekali," jawab Yandri.


Daniar sedikit kecewa mendengar jawaban Yandri. Jika boleh jujur, Daniar berharap Yandri bisa pulang setiap hari. Namun, itu sangat tidak mungkin. Di samping jarak yang cukup jauh, ongkos pula begitu berpengaruh. Mereka harus bisa berhemat untuk menyambut kehadiran sang buah hati.


"Kok diam, Yar? Kamu kecewa ya, Akang pulang seminggu sekali? Hmm, do'akan saja supaya Akang punya rezeki lebih, biar bisa sering-sering tengokin kamu di sini. Akang juga enggak mau kehilangan momen perkembangan anak kita, Sayang," tutur Yandri seraya mengelus perut Daniar.


"Iya, Kang. Niar enggak pa-pa Akang pulang seminggu sekali, yang penting Akang sehat," jawab Daniar.


Yandri tersenyum. Dia semakin mengeratkan pelukannya kepada sang istri.


.


.


Keesokan harinya.


"Yandri pamit dulu, Bu. Tolong titip Daniar. Insya Allah, seminggu sekali Yandri pulang," ucap Yandri saat berpamitan kepada ibu mertuanya.


"Tentu saja, Ibu pasti jagain istri kamu, Nak Yandri. Kamu yang tenang kerja di sana. Enggak usah banyak pikiran juga. Insya Allah, istri kamu pasti baik-baik saja," jawab Bu Salma.


Yandri tersenyum. "Terima kasih, Bu," ucapnya. Sesaat kemudian, Yandri mengalihkan pandangannya kepada Daniar. Dia kembali tersenyum saat melihat istrinya mulai mengeluarkan air mata. "Hei, kok nangis ... tenang saja, minggu depan Akang pasti pulang. Jaga diri baik-baik, ya. Jangan lupa, vitaminnya diminum, biar kamu ada tenaga meskipun harus mengalami morning sickness. Paksain juga buat makan, ya. Sekarang, bukan hanya kamu yang butuh asupan makanan bergizi, tapi anak yang ada dalam kandungan kamu juga butuh makanan yang bergizi," ucap Yandri memberikan wejangan yang cukup panjang lebar untuk sang istri.


"Iya, Kang," jawab Daniar, serak.


"Ya sudah, percayakan saja Daniar sama Ibu. Ini sudah sangat sore, berangkatlah, Nak! Ibu takut nanti kamu tidak kebagian bus," ucap Bu Salma memungkas pembicaraan anak dan menantunya itu.


Yandri tersenyum seraya mengangguk. Setelah mencium kening Daniar dan juga punggung tangan ibu mertuanya, Yandri kemudian keluar dari halaman rumah Daniar.


Tiba di tepi jalan, tak berapa lama mobil angkot berhenti tepat di depannya. Yandri naik dan duduk di kursi panjang yang masih terlihat kosong. Yandri menyandarkan tubuhnya seraya memejamkan mata. Dia tidak menyangka jika pernikahannya akan kembali diuji oleh sebuah perpisahan.

__ADS_1


Ya Tuhan, apa selamanya hamba akan terpisah jauh dari anak dan istri hamba? batin Yandri seraya menghela napasnya.


__ADS_2