Setelah Hujan

Setelah Hujan
Bungkam


__ADS_3

Tiba di kamar, Bu Maryam disambut oleh gerutuan putrinya, yaitu Habibah. Wanita berusia 42 tahun itu, sama sekali tidak menyangka jika sang ibu akan lepas kendali saat melihat Daniar.


"Ibu kenapa harus sekasar itu sama Daniar?" tegur Habibah.


"Lah, kenapa? Dia memang pantas mendapatkan perlakukan seperti itu," tukas Bu Maryam, mengerucutkan bibirnya.


"Ish, Bu ... tapi enggak harus mengusir dia seperti itu? Di hadapan semua orang lagi," gerutu Habibah.


"Ya bagus dong. Biar orang-orang pada tahu kelakuan si Niar yang sebenarnya," balas Bu Maryam. "Sekali-kali, anak itu memang harus dikasih pelajaran. Dia sudah merebut Yandri dari Ibu. Sekarang, dia juga sudah menyebabkan Khodijah meninggal. Sampai kapan pun, Ibu tidak akan pernah memaafkan dia. Tidak akan!" tegas Bu Maryam penuh kemarahan.


"Cukup, Nenek! Apa pun yang Nenek tuduhkan kepada bibi Niar, semua itu tidak benar!" bentak Farhan yang sudah berdiri di ambang pintu kamar adiknya.


Bu Maryam dan Habibah sontak menoleh. Sedikit kaget melihat keberadaan Farhan yang tentu saja sudah mendengar percakapan ibu dan anak itu.


"Maaf, Farhan. Nenek kamu tidak bermaksud se–"


Farhan mengangkat tangan kanannya, sebagai isyarat agar bibinya tidak melanjutkan perkataan lagi. Selanjutnya, Farhan mendekati Bu Maryam.


"Farhan minta maaf jika Farhan sudah bersikap lancang kepada Nenek, tapi apa yang Nenek lakukan kepada bi Niar, itu sudah keterlaluan. Farhan tidak pernah tahu ada persoalan apa antara Nenek dan bi Niar. Namun, jika Nenek mengaitkan kematian ibu dengan bi Niar, itu salah besar. Kepergian ibu itu sudah qadarullah, bukan karena bi Niar!" Sekali lagi, Farhan memberikan ketegasan dalam setiap ucapannya.


"Halah, kamu itu anak kemarin sore, Farhan. Jadi enggak usah sok ceramahi Nenek," sewot Bu Maryam.


"Ish, Nenek muslim, 'kan? Tentunya Nenek tahu rukun iman kelima, 'kan? Bahwa sebagai seorang muslim, kita harus beriman dan percaya pada qada dan qadar, pada takdir Allah, ketepatan dari Tuhan!" tegas Farhan.


"Sudah-sudah-sudah ... Nenek itu bukan santri kamu, jadi enggak usah ceramah di depan Nenek," kata Bu Maryam, emosi. "Cepat bereskan pakaian kita, Bah. Kita pulang!" perintah Bu Maryam kepada anaknya.


Entah apa yang telah menutupi mata hati wanita itu. Sepertinya, dia sudah tidak pernah ingin menerima pendapat dari orang lain. Terlebih lagi, sebuah kebenaran.


.


.


Setengah jam kemudian, Danita tiba di rumah Bu Salma. Dia segera memasuki pintu yang memang tidak terkunci.


"Ibu! Astaghfirullahaladzim ... Enin kenapa, Bin?" tanya Danita, segera merebahkan Bu Salma di atas sofa.


"Tadi, saat Enin menerima telepon dari Bibi, tiba-tiba Enin pingsan," lapor Bintang.

__ADS_1


Ya Tuhan, mungkin Ibu belum tahu keadaan kak Niar yang sebenarnya, karena itu dia pingsan, batin Danita.


"Bin, bisa tolong ambilkan kayu putih!" perintah Danita.


"Baik, Bi," ucap Bintang.


Gadis kecil itu kemudian pergi ke kamarnya untuk mengambil kayu putih. Tak lama, dia kembali ke ruang keluarga dan langsung menyerahkan benda yang diminta Danita.


"Ini, Bi." Bintang menyerahkan minyak kayu putih kepada bibinya.


"Terima kasih, Sayang," sahut Danita.


Danita membuka tutup kayu putih. Sedikit mengoleskan ke ujung jari telunjuk. Dia kemudian mendekatkan ujung jari telunjuknya ke lobang hidung Bu Salma. Berharap sang ibu bisa menghirup aromanya agar segera sadar.


Beberapa menit kemudian.


"Emh...."


Bu Salma bergumam. Perlahan, dia membuka kedua mata. Untuk sejenak, Bu Salma hanya bisa menatap kosong kepada Danita yang tengah menyangga kepalanya di atas kedua paha milik Danita.


"Ibu ... apa Ibu bisa mendengar suara Nita?" tanya Danita, perlahan.


"Ni-niar? A-apa yang terjadi sama kakak kamu, Dek? Apa maksud kamu keguguran? Apa?! Katakan pada Ibu?" seru bu Salma, menggoyang-goyangkan kedua bahu putri keduanya.


"Ma-maaf, Bu!" Lirih Danita.


Bu Salma mendorong kedua bahu Danita hingga anaknya itu terjengkang ke belakang.


"Ibu tidak butuh maaf kamu, Ibu butuh penjelasan dari kamu. Katakan, Nita! Katakan, apa yang terjadi dengan kakak kamu?!" Bu Salma semakin berteriak. Dia sudah tidak bisa membendung emosinya.


"Tapi Nita benar-benar tidak tahu, Bu," jawab Danita.


"Lalu, kenapa kamu bisa bilang kalau kakak kamu keguguran? Dari mana kamu tahu jika Daniar keguguran? Katakan, Nita!" Kini Bu Salma mulai membentak anaknya.


"Nita ... Nita tahu dari status whatsapp Danisa, Bu. Coba, Ibu lihat sendiri," jawab Danita yang tak mampu mengelak ataupun menutupi apa yang sedang terjadi pada diri kakaknya.


Bu Salma segera menyambar ponsel yang tergeletak di atas meja. Dia kemudian mengusap layar benda pipih itu dan mencari aplikasi yang dimaksud Danita.

__ADS_1


Kedua bola mata Bu Salma membulat sempurna ketika melihat status whatsapp yang dibagikan putri bungsunya beberapa jam yang lalu. Dalam foto yang di-posting anaknya, terlihat Daniar sedang terbaring di sebuah ruangan yang dipenuhi peralatan medis. Caption dibawahnya tertulis. Ternyata Tuhan lebih sayang dedek bayi. Tetap semangat, Kak. Selalu ada pelangi selepas hujan.


"Astaghfirullah!" Bu Salma memekik keras. Sejurus kemudian, dia menatap cucunya. "Apa yang terjadi pada bunda kamu, Bin?" tanyanya.


Bungkam. Bintang hanya diam mendengar pertanyaan neneknya.


"Sudahlah, Bu. Lebih baik kita tunggu kabar dari Danisa saja. Lagi pula, Bintang itu hanya anak kecil. Dia belum mengerti apa-apa," tukas Danita.


"Mana bisa Ibu nunggu, Dek! Tolong kamu pesankan Ibu taksi online. Sekarang juga, Ibu mau ke rumah sakit," pinta Bu Salma.


"Ish, Ibu. Tidak usah terburu-buru seperti itu. Lagi pula, emang Ibu tahu kak Niar ada di rumah sakit mana?" tanya Danita.


Bu Salma kembali menatap cucunya. Dia berpendapat jika Bintang pasti mengetahui di mana ibunya berada.


"Bintang, Sayang. Apa kamu tahu di mana bunda kamu dirawat?" tanya Bu Salma lagi.


Sekali lagi Bintang diam. Mulutnya seolah tertutup rapat. Sesuai dengan janji yang telah diucapkannya, Bintang benar-benar bungkam. Sepatah kata pun, tidak keluar dari mulutnya.


"Jawab, Bin. Enin bertanya sama kamu," tukas Danisa, lembut.


Bintang masih tidak menjawab. Dia hanya berlari ke kamarnya. Membuat Bu Salma dan Danita saling melempar pandang.


"Ada apa dengan anak itu?" gumam Bu Salma.


"Entahlah, Bu. Mungkin Bintang juga merasa shock atas apa yang telah terjadi kepada ibunya," jawab Danita.


"Ya sudah, cepat kamu hubungi Yandri. Kabari dia supaya dia cepat pulang. Ibu yakin, di saat seperti ini, kehadiran Yandri pasti sangat diperlukan."


.


.


Tanpa pamit tanpa permisi, Bu Maryam berlalu pergi lewat pintu belakang. Dia sudah enggan tinggal di rumah menantunya. Niat untuk mengikuti tahlilan almarhumah hingga hari ketujuh, sirna seketika setelah tragedi tadi pagi.


Di dalam bus yang membawanya pergi, Bu Maryam memejamkan mata. Darahnya kembali mendidih saat mengingat wajah polos Daniar. Entah kenapa, Bu Maryam semakin membenci wajah itu. Wajah tanpa dosa meskipun menurut Bu Maryam, wanita itu telah berbuat dosa karena telah menjauhkan Yandri dari dirinya.


Namun, jauh di lubuk hatinya. Bu Maryam merasa bersalah karena tidak mampu menerima Daniar sebagai menantu.

__ADS_1


Seandainya kamu bisa bersabar terlebih dahulu, Yan. Mungkin Ibu bisa menerima Daniar dengan lapang dada. Ibu bukannya membenci Daniar, Ibu hanya membenci waktu yang membuat kamu terburu-buru menikah dengannya. Seandainya kamu bisa menunggu satu atau dua tahun setelah lulus kuliah, mungkin Ibu bisa menerima pernikahan kamu, batin Bu Maryam seraya menatap foto putranya yang selalu berada di dalam dompet


__ADS_2