Setelah Hujan

Setelah Hujan
Bersaing


__ADS_3

Yandri menggumam pelan setelah mengetahui keinginan ibunya. Jujur saja, dia merasa heran, entah apa yang menjadi alasan ibunya meminta mobil seperti itu. Satu hal yang Yandri ketahui, semakin Yandri memenuhi keinginan ibunya, maka semakin aneh-aneh juga permintaannya.


.


.


Beberapa hari telah berlalu. Namun, Siska masih belum bisa melupakan perkataan adik tirinya. Empat tahun berpisah? Ya Tuhan, bukankah itu waktu yang sudah cukup lama, tapi kenapa aku sama sekali tidak pernah mendengar kabar perpisahan Yandri? batin Siska.


Gadis bertubuh semampai itu kembali melihat pigura duduk yang berada di atas meja rias. Jemari lentiknya mengusap wajah tampan yang berada dalam pigura.


"Hai, apa kabar Yan? Apa kamu masih mengingatku?" gumam Siska tersenyum tipis.


Satu per satu, kenangan manis kembali berkelebat dalam benak Siska. Tidak dia pungkiri, jika dia masih sangat mencintai pria itu. Pria yang sempat dia permainkan hatinya karena sebuah taruhan.


Ya Tuhan ... seandainya waktu bisa aku putar kembali, aku tidak akan pernah menyia-nyiakan ketulusan pemuda lugu itu dalam mencintai aku, batin Siska yang sudah berlinang air mata.


Siska meraih pigura itu. Sejurus kemudian, dia memeluk erat benda tersebut. Kedua bahunya mulai bergerak naik turun. Rasa sesak di hatinya hanya bisa dia tumpahkan lewat tangisan.


Astaghfirullah ... kenapa selalu seperti ini saat mengingat pria itu, batin Siska, yang merasa sekujur tubuhnya teramat lemas.


.


.


Bu Maryam tidak kehabisan cara. Dengan bantuan pak Agus, Bu Maryam pun berhasil mendapat nomor kontak Enna, mantan kekasih Yandri.


Bu Maryam tersenyum lebar ketika mengetahui status Enna saat ini. Hmm kebetulan sekali, Yandri duda, dan Enna janda. Semoga saja, gagalnya pengalaman mereka berumah tangga, akan membuat mereka cocok satu sama lain, batin Bu Maryam.


Sejurus kemudian, Bu Maryam mengusap layar ponselnya. Setelah memasukkan nomor telepon Enna, dia pun menekan nama Enna untuk menghubunginya.


"Assalamu'alaikum, apa benar ini nomor telepon Enna?" tanya Bu Maryam.


"Wa'alaikumsalam. Iya, benar. Saya sendiri Enna. Maaf, ini dengan siapa, ya?" tanya Enna di ujung telepon.


"Ini Maryam, En. Ibu Maryam, ibunya Yandri," sahut Bu Maryam.


"Eh, Ibu. Masya Allah ... maaf, Bu ... Enna enggak mengenali suara Ibu," jawab Enna, merasa tidak enak hati.


"Iya, En. Enggak pa-pa, kok. Oh iya, ngomong-ngomong, kapan kamu punya waktu luang, Nak. Ibu kangen pengen ketemu. Sepertinya sudah sangat lama kita tidak pernah bertemu," tutur Bu Maryam.


"Iya, Bu. Sudah lama juga kita tidak bertemu. Mungkin sekitar delapan atau sembilan tahunan ya, Bu," timpal Enna.


"Hmm, entahlah En. Ibu tidak pandai menghitung, hehehe," balas Bu Maryam, terkekeh. "Lalu, kapan kita bisa ketemuan," lanjutnya.


"Kapan saja Ibu ada waktu senggang, Bu. Insya Allah, Enna bisa meluangkan waktu untuk Ibu," sahut Enna di ujung telepon.


"Ish, enggak bisa gitu atuh, En. Kamu, 'kan pegawai pemerintah, sedangkan Ibu mah cuma orang rumahan saja. Tentunya jadwal kamu lebih padat ketimbang Ibu. Jadi, Ibu yang harus menyesuaikan waktu luang kamu, bukan malah sebaliknya," tukas Bu Maryam.


"Ah Ibu, bisa saja," jawab Enna. "Ya sudah, gimana kalau hari Sabtu besok. Kebetulan, Enna enggak ada kelas kalau hari Sabtu," lanjutnya.


"Hmm, boleh tuh. Di mana?" tanya Bu Maryam.


"Ibu tahu rumah makan Danau Reymonda?" tanya Enna.

__ADS_1


"Ya, Ibu tahu tempat itu. Kebetulan Ibu pernah ikut pengajian di tempat tersebut," jawab Bu Maryam.


"Kita ketemuan di sana saja, Bu," lanjut Enna.


"Jam berapa, En?" Bu Maryam kembali bertanya.


"Sekitar pukul 10 saja, Bu," jawab Enna.


"Baiklah, hari Sabtu di Danau Reymonda, jam 10," ulang Bu Maryam.


"Benar, Bu," sahut Enna.


"Ya sudah, En. Kalau begitu, Ibu tutup teleponnya, ya. Maaf kalau sudah mengganggu waktu kamu. Assalamu'alaikum," pamit Bu Maryam.


"Wa'alaikumsalam."


Bu Maryam senyam-senyum sendiri membayangkan rencana pertemuannya dengan Enna. Namun, tanpa dia sadari, Habibah yang sudah menguping pembicaraannya dari balik pintu, menyeringai penuh kelicikan.


.


.


Hampir setiap hari Bu Maryam menelepon Yandri untuk menanyakan perihal mobil. Hingga akhirnya, Yandri sendiri merasa frustasi dengan keinginan ibunya. Tanpa berpikir panjang lagi, Yandri pun menyetujui keinginan ibunya.


"Iya, Bu. Insya Allah bulan depan Yandri pulang," jawab Yandri.


"Janji ya, mobilnya jangan dibawa lagi," tekan Bu Maryam.


"Iya, Bu ... Iya," jawab Yandri.


"Hmm, Ibu bisa saja," sahut Yandri.


"Terima kasih ya, Nak. Semoga Tuhan mempermudah rezeki kamu." Do'a Bu Maryam.


"Aamiin."


Yandri mengakhiri pembicaraannya di telepon. Setelah itu, dia menyimpan kembali teleponnya di atas meja kerja. Pria jangkung itu tersenyum tipis, mendengar nada gembira sang bunda. "Hmm, seharusnya ibu berterima kasih sama Daniar," gumam Yandri.


Sesaat, berkelebat bayangan video call yang dilakukan Yandri sehari sebelumnya.


"Kok kusut?" tanya Daniar ketika melihat wajah Yandri di layar ponselnya. "Tesisnya lancar?" tanya Daniar lagi.


"Alhamdulillah, lancar Bun," jawab Yandri.


"Syukurlah. Terus, kenapa wajahnya ditekuk begitu?" Daniar kembali bertanya.


"Ibu minta dikirim mobil," ucap Yandri, lirih.


"Oh."


Hanya satu kata singkat yang terucap dari bibir mungil milik Daniar. Kata yang membuat Yandri sontak mengernyitkan kening.


"Kok, oh sih, Bun," tukas Yandri.

__ADS_1


"Ya Niar bingung harus bicara apa, Kang, buat nanggepinnya," balas Daniar.


"Hhh ...."


Terdengar helaan napas yang cukup berat dari Yandri. Dia sendiri bingung harus berbuat. Disetujui atau tidak disetujui.


"Kalau kamu jadi Akang, apa yang akan kamu lakukan, Bun?" tanya Yandri.


"Berbakti, mumpung Tuhan masih memberikan kita masa untuk berbakti kepada orang tua," jawab Daniar.


"Apa itu artinya, kamu menyuruh Akang untuk memberikan mobil kepada ibu?" tanya Yandri kepada Daniar.


"Pilihan ada di tangan Anda, hehehe," jawab Daniar terkekeh.


Hmm, renyah sekali tawa wanita itu. Tawa yang seketika menggelitik kerinduan Yandri terhadap wanitanya.


"Aku merindukanmu, Bun," ucap Yandri spontan.


"Hmm, sudah deh Tuan ... jangan mulai lagi," sahut Daniar. "Eh, Kang ... Niar pamit dulu, ya. Mau ke warung. Jaga kondisi tubuh baik-baik, jangan terlalu kecapean juga. Assalamu'alaikum!"


Tanpa menunggu jawaban, wajah ayu Daniar menghilang dari layar ponsel. Yandri hanya tersenyum tipis. Selalu seperti itu sikap wanitanya. Menghindar jika Yandri menbahas kerinduan dan perasaan.


.


.


"Benarkah?" tanya Siska tak percaya.


Habibah yang sedang asyik makan bakso di kedai Siska, hanya mengangguk. Mulutnya masih penuh mengunyah bakso.


"Jadi, mereka bercerai karena Daniar tidak bisa memberikan keturunan lagi?" ulang Siska.


"Hem-eh," jawab Habibah sesaat setelah mereguk air teh. "Jadi, apa kamu masih punya minat memperbaiki hubungan kamu dengan Yandri?" tanya Habibah tanpa basa-basi.


"Ma-maksud Kak Bibah?" Dengan wajah merona, Siska malah balik melontarkan pertanyaan.


"Ayolah, Sis ... jangan terus menerus membohongi perasaan kamu sendiri. Aku tahu, sampai detik ini kamu masih sangat mencintai Yandri. Buktinya, kamu selalu menolak lamaran setiap laki-laki. Dan sekarang, kamu punya kesempatan untuk mendapatkan Yandri kembali. Apa kamu ingin menyia-nyiakan kesempatan itu?" ucap Habibah.


"Aku tidak tahu, Kakak. Kesalahanku kepada Yandri begitu besar. Karena itu dia selalu menjaga jarak denganku," tutur Siska.


"Kemarilah, akan aku beri tahu kunci untuk mendapatkan Yandri," lanjut Habibah, meminta Siska bergeser dan duduk di sampingnya.


Siska mengikuti perintah Habibah. Dia menggeser kursi untuk duduk berdampingan dengan wanita itu.


"Apa yang harus Siska lakukan?" tanyanya.


"Kamu ambil hati ibu. Selama ini, Yandri selalu menurut pada perintah ibu. Jika kamu bisa menyenangkan hati ibu, Kakak yakin, ibu akan membantu kamu untuk meraih cinta Yandri kembali," papar Habibah.


"Ta-tapi, bu-bukankah i-bu juga sudah punya pilihan untuk Yandri?" tanya Siska gugup.


"Hhh ... itu memang benar, Sis. Tapi, 'kan enggak ada salahnya kamu mencoba terlebih dahulu. Kamu harus bisa bersaing dengan Enna dalam mengambil hati Ibu. Kakak yakin, kok, kamu bisa mengalahkan Enna," jawab Habibah.


Siska diam. Masih mencoba mencerna jawaban Habibah yang selalu mendukung cintanya untuk Yandri.

__ADS_1


Bersaing dengan Enna tentu bukanlah hal yang mudah. Mengingat Yandri pernah memiliki perasaan pada wanita itu. Namun, apa yang dikatakan Mia benar, dia cinta pertamanya Yandri. Dan tidak akan mudah melupakan cinta pertama.


Jika aku sedikit berusaha lebih keras, mungkin kali ini cinta itu akan berpihak padaku.


__ADS_2