
Siska menjalankan motornya dengan perlahan. Hati dan pikirannya terasa kosong. Apalagi setelah mendengar lamaran Bu Maryam kepada Enna. Astaga ... benar-benar beruntung janda itu, batin Siska menghela napas.
"Eh, awas Sis!" teriak Habibah yang tiba-tiba melihat sebuah angkot berhenti di depan motor Siska.
Ciiii!
Untung Siska segera tersadar dan langsung menarik rem hingga berbunyi.
"Ya Tuhan ... nyaris saja," gumam Siska seraya menurunkan kedua kakinya untuk menahan motor supaya tidak jatuh.
"Udah deh, menepi dulu, yuk! Kita cari minum, kamu pasti kaget, 'kan?" kata Habibah seraya turun dari boncengan.
Siska mengangguk. Dia pun ikut turun dan mendorong kendaraan roda dua itu untuk menepi.
Tiba di sebuah warung pinggir jalan, Siska memarkirkan motornya. Dia kemudian duduk di bangku yang disediakan untuk pengunjung. Sesaat kemudian, Siska menerima sebotol air mineral dari tangan Habibah.
"Terima kasih, Kak," ucap Siska.
"Hmm, sama-sama," balas Habibah.
Kedua perempuan itu pun menenggak botol minumannya masing-masing.
"Kamu ngelamunin apa sih, Sis? Kok sampai enggak fokus gitu," tanya Habibah, sedikit kesal.
"Maaf, Kak," jawab Siska.
"Ish, pasti gara-gara omongan ibu ke janda itu, ya?" tebak Habibah.
Siska hanya menundukkan wajahnya.
"Udah deh, Sis. Enggak usah terlalu dipikirin. Entar kita cari cara untuk menggagalkan rencana ibu. Yang penting, kamu fokus dulu nyari ide buat ngambil hatinya ibu," tukas Habibah.
"Iya, Kak," jawab Siska, singkat.
"Ya udah, abisin minumannya ... habis itu kita pulang. Jangan sampai ibu sama suami Kakak tahu kalau Kakak kelayapan saat mereka tidak ada di rumah," lanjut Habibah.
Lagi-lagi Siska tidak banyak bicara. Dia hanya menganggukkan kepalanya dan segera beranjak dari bangku panjang itu.
.
.
Sepanjang perjalanan pulang, Bu Maryam menggerutu kesal. Dia sangat marah karena merasa dibohongi oleh wanita yang selalu dia anggap sempurna.
Tutur kata Enna yang sopan, sikapnya yang ramah, selalu membawa buah tangan jika berkunjung, dan penampilan Enna yang santun. Membuat dia menjadi menantu idaman para mertua.
Namun, dalam sekejap pandangan kesempurnaan itu lenyap. Kini, bagi Bu Maryam ... Enna tidak lebih dari seorang wanita bermulut manis yang lain di mulut, lain di hati.
"Kalau sudah punya pasangan, harusnya dia bisa bilang, 'kan di telepon kemarin. Tahu gitu, aku enggak bakalan bela-belain menghamburkan uang untuk pergi ke restoran mewah itu. Pemborosan saja!" gerutu Bu Maryam.
Untuk sejenak, Bu Maryam menarik napas cukup panjang.
"Dasar wanita tidak tahu diri. Huh, pantas saja dia sampai menjanda dua kali. Rupanya, kelakuan dia gatal seperti itu. Mau saja dicium pria di tempat umum," sungut Bu Maryam, geram.
__ADS_1
"Mereka enggak salah, Bu. Toh mereka itu pasangan yang sudah bertunangan," timpal Bahar.
"Diam kamu! Tidak ada yang sedang meminta pendapat kamu. paham!" bentak Bu Maryam semakin geram.
Bahar pun diam. Mengusik ibu mertuanya yang sedang kesal, itu sama saja membangunkan singa yang lagi tidur.
.
.
"Gimana ujiannya, Sayang," tanya Yandri di ujung telepon.
"Alhamdulillah, lancar Yah," jawab Bintang.
"Alhamdulillah. Dua minggu lagi Ayah pulang. Bibin mau main ke mana? Biar Ayah siapin biayanya dari sekarang," tanya Yandri yang memang sudah lama tidak pulang.
"Apa tesis Ayah sudah selesai?" Bukannya menjawab, Bintang malah menanyakan tugas ayahnya.
"Kok malah nanyain tesis Ayah, apa hubungannya dengan Q-time kita Nak?" tanya Yandri heran.
"Enggak ada sih. Bibin cuma takut mengganggu tugas Ayah saja," jawab Bintang.
"Hehehe, tidak usah khawatir, Nak. Alhamdulillah tesis Ayah sudah selesai," jawab Yandri.
"Alhamdulillah. Selamat ya Ayah," kata Bintang.
"Terima kasih, Nak. Ya sudah, kamu mau main ke mana nanti?" Yandri kembali bertanya.
"Emh, Ayah ... bisakah kita pergi ke mall?" cicit Bintang.
"Iya, Yah. Sebentar lagi Bibin masuk SMP. Bibin ingin membeli peralatan sekolah yang baru untuk keperluan sekolah di SMP nanti," jawab Bintang.
"Tentu saja boleh, Nak. Ya sudah, nanti kalau Ayah pulang, kita pergi ke mall," janji Yandri.
"Yeayyy ... makasih Ayah," seru Bintang begitu gembira.
"Sama-sama, Nak," pungkas Yandri.
.
.
Sementara itu. Bu Maryam masih terlihat kesal begitu sampai di rumah. Sumpah serapahnya tak pernah berhenti dari mulut Bu Maryam yang semakin maju beberapa senti. Masih dengan perasaan dongkol, Bu Maryam membuka pintu dengan kasar.
Brak!
Habibah yang baru saja duduk di kursi jahitnya, sontak terkejut. Dia kembali berdiri dan mengayunkan langkah menuju rumah ibunya. Tiba di rumah Bu Maryam, Habibah terkejut melihat wajah masam sang ibu.
"Ibu sudah pulang?" tanya Habibah berbasa-basi.
"Kalau Ibu sudah duduk di sini, ya artinya sudah pulang. Buta kamu?!" ketus Bu Maryam.
Habibah sangat terkejut mendengar jawaban ketus ibunya. Sejenak, dia menatap suaminya yang baru masuk. Namun, Bahar pun tidak mengatakan apa-apa. Ia malah ngeloyor begitu saja memasuki pintu pembatas antara rumah mertuanya dengan rumah Habibah.
__ADS_1
"Ibu kenapa sih, Bibah, 'kan cuma nanya," cicit Habibah. "Ngomong-ngomong, gimana pertemuannya dengan Enna, Bu? Apa dia baik-baik saja. Hmm, gimana kabarnya dia saat ini? Sudah lama juga Bibah enggak ketemu Enna," lanjut Habibah mencoba memancing pembicaraan.
Jujur saja, Habibah merasa penasaran akan jawaban yang diberikan Enna pada ibunya. Tadi, karena merasa iba kepada Siska, Habibah memutuskan untuk segera pulang tanpa mendengar jawaban Enna atas lamaran yang dilayangkan ibunya.
"Jangan bicarakan wanita hina itu lagi! Ibu tidak sudi namanya disebutkan di rumah ini. Ngerti kamu!" bentak Bu Maryam.
Sesaat kemudian, Bu Maryam beranjak dari sofa. Dia pun mengayunkan langkahnya menuju kamar. Lagi-lagi, Bu Maryam menarik kasar pintu kamar. Bahkan dia menutup pintu dengan cara membantingnya. Membuat Habibah terperanjat.
Astaghfirullah ... kenapa Ibu tuh, pulang kok marah-marah. Dan itu tadi ... dia menyebut Enna wanita hina. Ish, apa yang sebenarnya terjadi tadi, batin Habibah menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Karena merasa penasaran. Habibah pun kembali ke rumahnya. Dia ingin segera menemui suaminya untuk menanyakan apa yang terjadi pada pertemuan Bu Maryam dan Enna.
"Oh, jadi seperti itu ceritanya, Kang," kata Habibah saat dia mengetahui alasan di balik kekesalan ibunya.
"Iya, Bah. Lagian salah ibu juga sih. Seharusnya ibu tuh basa-basi dulu. Tanya dulu keadaannya gimana? Kalau bisa, selidiki dulu kehidupannya. Jangan ujug-ujug ngelamar gitu aja. Kecewa, 'kan jadinya," lanjut Bahar.
"Begitulah ibu, Kang. Selalu dembrono dan tidak pernah berpikir panjang," timpal Habibah.
"Ya sudah, Bah. Akang gerah, Akang mau mandi dulu."
Habibah mengangguk. Setelah suaminya pergi, Habibah segera menelepon Siska. Dia sudah tak sabar untuk memberitahukan kabar baik tersebut kepada temannya
.
.
Di kamar Siska.
Wanita berhijab itu segera meletakkan ponselnya di atas meja rias. Sungguh, hatinya sedang dipenuhi bunga yang bermekaran saat ini. Kabar yang baru saja dia dengar dari Habibah, telah membawa semangat baru dalam hidupnya.
"Baiklah. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini," gumam Siska.
Keesokan harinya.
Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya. Siska bersiap-siap hendak pergi ke suatu tempat yang kemarin sore dikatakan Habibah. Rencananya, hari ini mereka akan membuat sandiwara yang seolah bertemu tanpa sengaja. Habibah bilang, dia akan membawa ibunya ke pasar induk untuk membeli buah-buahan.
Setelah selesai mengenakan baju terbaiknya, Siska segera mengeluarkan mobil milik ayah angkatnya. Sejak kecil, Siska diangkat anak oleh adik dari pihak ibu, yang tak lain pamannya sendiri.
Siska melirik jam tangannya. "Hmm, sudah waktunya," gumam Siska.
Sesaat kemudian, Siska pun melajukan kendaraannya. Tiba di sebuah kios buah yang diceritakan Habibah lewat telepon, Siska mengedarkan pandangannya. Namun, keberadaan Bu Maryam dan Habibah belum terlihat. Tanggung mendekati kios, akhirnya Siska memilih buah-buahan segar untuk dibuat parcel buah.
"Apelnya berapa sekilo, Bang?" ucap seseorang yang dikenali suaranya oleh Siska.
Seulas senyum tipis tersungging di bibir Siska. Hmm, sudah waktunya beraksi, gumam Siska dalam hati.
Ujung mata Siska menangkap bayangan Habibah dan Bu Maryam. Perlahan, Siska berjalan mendekati Bu Maryam. Lantas, dia berpura-pura menyenggol Bu Maryam hingga keranjang apel yang sedang dipegang Bu Maryam pun jatuh.
"Eh!" teriak Bu Maryam.
"Aduh, maaf-maaf Bu, saya tidak sengaja," ucap Siska berpura-pura tak mengenali Bu Maryam.
Sejurus kemudian, Siska berjongkok, dia memunguti apel yang berserakan untuk dikembalikan ke tempatnya.
__ADS_1
Kedua bola mata Bu Maryam membulat sempurna melihat sesuatu berkilauan di jari manis perempuan yang sedang memunguti apelnya. Seolah terhipnotis oleh cahayanya, mata bu Maryam tak pernah lepas dari benda itu.
"Berlian."