
Ketukan di pintu kamar Daniar, seketika membuyarkan lamunannya. Daniar menyeka sudut matanya yang telah berair. Dia sedikit memoles tipis wajahnya dengan bedak, supaya tidak terlihat habis menangis. Sedetik kemudian, Daniar beranjak untuk membuka pintu.
"Ibu ganggu enggak, Ni?" tanya Bu Salma begitu pintu terbuka.
"Enggak kok, Bu. Yuk, masuk!" ajak Daniar.
Bu Salma memasuki kamar Daniar, diikuti oleh daniar dari belakang. Sesaat kemudian, Bu Salma duduk di tepi ranjang.
"Apa Yandri sudah cerita jika dia tidak bisa mencium aroma apa pun?" tanya Bu Salma.
"Iya, Bu. Kang Yandri sudah menceritakan semuanya," jawab Daniar, sendu.
"Oh iya, Ni. Besok hari Senin, apa tidak sebaiknya kamu bawa suami kamu ke rumah sakit umum?" tanya Bu Salma.
Daniar diam. Bukannya dia tidak mau membawa Yandri berobat. Namun, kondisi keuangan Daniar tidak memungkinkan untuk membawa Yandri ke rumah sakit. Jangankan untuk periksa ke poli THT, kontrol ketiga pun harus Daniar cancel karena tidak memiliki uang.
"Niar, kok diam? Kamu enggak khawatir sama suami kamu?" tanya Bu Salma membuyarkan lamunan putrinya.
"Ish, Ibu ... istri mana yang tidak mengkhawatirkan suaminya. Sebenarnya, Niar bukan tidak mau membawa kang Yandri ke poli THT. Namun, jujur saja saat ini Daniar belum punya uang, Bu," jawab Daniar seraya menundukkan wajahnya.
Tangan Bu Salma terulur untuk meraih dagu Daniar. "Bawalah suami kamu ke rumah sakit, Nak. Tidak usah pikirkan biayanya. Ibu masih punya simpanan, kok. Kamu pakai saja itu," papar Bu Salma, tulus.
"Tapi Bu, utang Niar udah banyak sama Ibu. Yang kemarin aja Niar belum kepikiran mau bayar dari mana. Kang Yandri, 'kan belum bisa kerja lagi," jawab Daniar.
"Haish, kamu enggak usah pikirin hal itu, Ni. Buat siapa Ibu punya uang kalau bukan buat anak-anak Ibu. Uang, 'kan bisa dicari, tapi kesehatan? Kesehatan itu yang utama, Ni. Gimana mungkin kita bisa cari uang kalau badan kita enggak sehat," tutur Bu Salma.
Daniar tersenyum. Apa yang dikatakan ibunya memang benar. Kesehatan itu jauh lebih penting.
"Jika memang Ibu tidak keberatan uangnya Niar pinjam, Insya Allah besok Daniar bawa kang Yandri ke THT, Bu," pungkas Daniar.
Di balik pintu, Yandri hanya bisa tertegun. Sungguh, dia merasa sangat beruntung memiliki ibu mertua seperti Bu Salma. Wanita tua berusia 55 tahun itu tidak pernah membeda-bedakan antara anak dan menantunya. Mungkin, bagi Bu Salma, tidak ada kata menantu dalam hidupnya. Semuanya sama, anak! Hanya anak.
.
.
Prang!
Tanpa sengaja, Bu Maryam yang tengah mencuci piring, menjatuhkan sebuah gelas hingga pecah.
__ADS_1
"Ada apa, Bu?" tanya Pak Ahmad, suaminya.
"Mungkin tangan Ibu licin, Pak," jawab Bu Maryam.
"Ya sudah, hentikan saja. Biar nanti, Isah yang melanjutkan pekerjaannya," ucap Pak Ahmad.
"Isah? Huh, mana berani Isah mengerjakan pekerjaan rumah tangga kita, Pak," gumam Bu Maryam yang masih bisa didengar oleh suaminya.
"Loh, kenapa Bu? Bukankah Isah itu menantu kita? Masak iya, dia tidak mau membantu pekerjaan orang tuanya," tukas Pak Ahmad.
Kembali Bu Maryam mendengus kesal. "Udah deh, sebaiknya Bapak masuk aja. Lagi pula, cuciannya tinggal sedikit lagi kok. Habis itu, nanti Ibu bereskan pecahan belingnya," usir Bu Maryam yang merasa jengah karena selalu dikomentari suaminya.
Pak Ahmad hanya bisa menghela napas. Detik selanjutnya, dia pun pergi meninggalkan Bu Maryam.
Ya Tuhan ... kenapa perasaan aku tidak enak, ya? Kenapa tiba-tiba aku ingat sama Khodijah? Ah apa kabar anak itu? Sudah lama juga aku tidak ketemu dia, batin Bu Maryam.
.
.
Selepas salat magrib, Daniar sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Mungkin karena kurang tidur selama kemah, akhirnya Daniar sudah terbuai ke alam mimpi meskipun malam baru menghampiri.
"Bunda sudah tidur di kamarnya, Sayang," jawab Yandri.
"Loh, Daniar sudah tidur toh, kok tumben, Yan," tukas Bu Salma.
"Iya, Bu. Mungkin karena kelelahan juga," balas Yandri
"Hmm, iya juga sih. Anak itu dari SD memang tidak pernah lepas sama yang namanya pramuka. Tiap ada kemah, pasti selalu ikut. Bahkan dulu, setiap malam tahun baru dia nginap di puncak Galunggung bersama teman-temannya. Dianya sih hepi, tapi hati Ibu ketar-ketir," tutur Bu Salma menceritakan kecintaan Daniar kepada pramuka.
Yandri hanya tersenyum lebar membayangkan kisah remaja sang istri.
"Oh iya, Yan. Apa Daniar sudah bercerita sama kamu?" tanya Bu Salma yang teringat perbincangannya dengan sang anak tadi siang.
"Cerita apa, Bu?" Yandri balik bertanya.
"Itu, yang soal periksa kamu ke THT," jawab Bu Salma.
"Tidak apa-apa, Bu. Yandri sendiri belum ada rezeki untuk berobat. Lagi pula, Yandri baik-baik saja, Bu," tukas Yandri.
__ADS_1
"Ish, jangan menyepelekan kesehatan, Yan. Ibu enggak mau tahu. Pokoknya besok kamu harus periksa ke THT!" tegas Bu Salma. "Ayo, Bin kita salat Isya dulu. Abis itu kita tidur," pungkas Bu Salma seraya mengajak cucunya ke kamar.
"Ayah, Bibin tidur duluan ya. Ayah jangan malam-malam tidurnya. Entar kepalanya bisa pusing lagi. Daah, Ayah. Mmmuaaah," ucap Bintang mencium kening ayahnya.
"Iya sayang. Selamat tidur ... mimpi yang indah ya, putrinya Ayah. Mmuah," Yandri balas mencium kedua pipi anaknya.
.
.
Seorang dokter muda terus mengamati hasil rontgen Yandri saat mengalami kecelakaan dulu. Setelah itu, dokter tersebut meminta Yandri untuk duduk dan menengadah. Dengan sigap, dia mulai memeriksa rongga hidung Yandri.
Dengan telaten, dokter muda itu memberikan beberapa benda yang memiliki tingkatan aroma mulai dari yang terendah hingga aroma menyengat. Namun, dari keseluruhan benda tersebut, Yandri sama sekali tidak bisa menciumnya. Hingga reaksi Yandri membuat dokter muda itu menghela napasnya dengan berat.
Selesai memeriksa pasiennya, dokter muda itu mempersilakan Yandri kembali duduk di samping Daniar.
"Jadi begini, Bu. Jika melihat hasil ctscan Bapak pasca kecelakaan, tulang atas hidung Bapak bukan hanya patah, tapi juga remuk. Kuat dugaan, remukan itu menyebabkan beberapa saraf indera penciuman Bapak putus dan akibatnya Bapak kehilangan indera penciumannya," tutur dokter muda itu.
Tubuh Daniar seakan tak bertulang ketika mendengar vonis dokter tentang suaminya. Astaghfirullahaladzim, rasa pusing akibat retakan di tulang tengkorak depannya saja belum reda, tiba-tiba saja imamnya ini diterpa lagi ujian dengan kehilangan indera penciumannya.
Tabahkan hati hamba dan suami hamba dalam menghadapi ujian ini Ya Rabb.
.
.
Selesai menebus obat dan membayar administrasi rumah sakit. Daniar memesan taksi online untuk pulang. Tak berapa lama, jemputan pun tiba. Daniar dan Yandri segera menaiki taksi online.
Di dalam taksi, Daniar hanya bisa diam. Pikirannya benar-benar kosong setelah mengetahui vonis efek dari kecelakaan yang dialami suami. "Ya Tuhan ... Ada-ada saja," gumam Daniar.
Yandri yang mendengar istrinya bergumam, segera menoleh. Dia melihat Daniar yang sedang melamun. Yandri tahu jika saat ini Daniar sedang bersedih.
"Sudah Bun, enggak usah terlalu dipikirkan. Bukannya bagus ya, jadi kalau kita mau making love, Bunda enggak harus mandi dulu, 'kan enggak kecium ini sama Ayah, hehehe, ..." gurau Yandri, mencoba mencairkan suasana.
"Astaghfirullah, Yah. Lagi kena musibah juga masih aja, becanda. Sabar banget sih, kamu, Yah," ucap Daniar yang meskipun tersenyum tapi hatinya luar biasa sakit mendengar gurauan Yandri.
Subhanallah ... selama hamba hidup, baru kali ini hamba bertemu seorang lelaki yang begitu sabar. Mungkin di antara lelaki yang pernah hamba kenal, hanya dialah lelaki yang paling sabar dalam menghadapi beban hidupnya. Masya Allah ....
Batin Daniar terus bermonolog memuji kesabaran suaminya. Daniar menyandarkan kepalanya di bahu Yandri. Tekadnya untuk mempertahankan rumah tangganya pun semakin kuat. Memang benar. Selalu ada hikmah dibalik setiap cobaan.
__ADS_1
Ingatlah Niar, tidak selamanya hujan mengguyur bumi, batin Daniar pada dirinya sendiri.