
"Sebenarnya, apa yang mau dibicarakan teman kamu sama ayah?" tanya Bu Salma saat Daniar ikut bergabung di ruang keluarga.
"Entahlah, Niar sendiri enggak tahu, Bu," jawab Daniar seraya mengangkat kedua bahunya.
"Ish, kok Kakak enggak tahu sih," protes Danita, "harusnya, sebagai seorang teman yang baik, Kakak itu mengetahui semua hal tentang teman Kakak," cerocosnya lagi.
"Sudah ah, Dek! Kakak pusing. Kakak mau nyiapin makanan dulu buat temen Kakak. Dia pasti kelaparan, karena sepulang kampus belum makan," tukas Daniar.
"Oh, jadi laki-laki itu temen kampus Kakak?" tanya Danita lagi.
"Iya, cuma beda jurusan saja," sahut Daniar.
"Ya sudah, enggak usah ngobrol lagi. Cepat sajikan makanannya!" perintah Bu Salma.
Tak berapa lama, Daniar pergi ke ruang makan untuk menata makan malam dirinya dan Yandri.
.
.
"Assalamu'alaikum!" Seno mengucapkan salam seraya membuka pintu kamar rawat istrinya.
"Hmm, akhirnya kamu pulang juga. Baru ingat kalau kamu punya istri?" Bu Renata menyambut menantunya dengan sindiran yang cukup menohok.
Bu Frida mendelik, dia merasa kesal dengan ucapan besannya. Namun, Bu Frida juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan teguran sang besan. Karen sudah jelas jika posisi anaknya memang salah.
"Maaa," rengek Shakila, mencoba menghentikan sikap ibunya yang terkesan judes sama sang suami.
"Apa sih, Kila?" tukas Bu Renata, "emang bener, 'kan, kalau suami kamu itu enggak pernah inget istri? Keluyuran ke sana kemari. Seolah-olah masih bujangan saja." Bu Renata semakin ngedumel karena merasa kesal dengan sikap menantunya.
"Sudah Ma, sudah. Kamu tidak lihat apa, Seno kecapean seperti itu? Seharusnya kamu bersyukur, karena Seno masih mengingat Shakila di tengah-tengah kesibukannya," timpal Pak Hardi.
Hmm, entah pembelaan atau sindiran. Namun, apa yang diucapkan Pak Hardi, membuat Bu Frida kembali mendengus kesal.
Uh, suami sama istri, nggak ada bedanya. Bisanya cuma nyinyir saja, batin Bu Frida.
"Bener apa kata Papa, Ma. Enggak masalah Mas Seno pergi ke mana, yang penting, dia tetap pulang dan inget sama Kila juga anaknya," sahut Shakila.
Seno tersenyum kecut. Enggak anak, enggak emak, enggak bapak ... semuanya sebelas dua belas, gerutu Seno dalam hatinya.
__ADS_1
Tak ingin memberikan kesempatan untuk saling sahut kepada ketiga orang itu, Seno mendekati istrinya.
"Maafkan aku, Kil," ucap Seno seraya duduk di tepi ranjang.
Shakila melepaskan pelukannya dari sang ibu. Sedetik kemudian, dia merentangkan kedua tangannya sebagai isyarat meminta pelukan dari sang suami.
Seno mendekati Shakila. Dia kemudian meraih Shakila ke dalam pelukannya. Sepersekian detik kemudian, Seno mengecup pucuk kepala Shakila.
Wanita yang tengah berbadan dua itu merasa bahagia dengan sikap suaminya. Entah mendapatkan hidayah dari mana, sehingga Seno berubah 180°.
Semenjak menikah, Seno berubah menjadi emosional dan terkesan masa bodoh dengan kehadiran Shakila di rumahnya. Tapi sekarang, tiba-tiba saja Seno menyentuh dan memperlakukan Shakila layaknya seorang istri.
Apa mungkin Seno sudah bisa menerima kehadiranku, batin Shakila.
.
.
Malam semakin larut. Perbincangan yang mulai melebar menjadi beberapa topik pun, terpaksa harus diakhiri. Karena tubuh perlu istirahat.
Pak Fandi menyuruh kedua putrinya untuk tidur. Begitu juga dengan Yandri. Setelah berpamitan, Yandri kemudian memasuki kamar yang telah disediakan untuknya.
"Ayo kita tidur, Bu!" ajak Pak Fandi sesaat setelah seluruh anggota keluarganya masuk ke kamar masing-masing.
"Tidak usah, Bu. Tadi Ayah sudah menguncinya, kok," cegah Pak Fandi.
"Oh ya sudah kalau begitu. Ayo!"
Pak Fandi dan Bu Salma berjalan beriringan menuju kamar mereka. Tiba di kamar, Pak Fandi pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Bu Salma langsung berbenah dan bersiap-siap untuk tidur.
Beberapa menit berlalu. Pak Fandi dan Bu Salma tengah berbaring. Namun, Bu Salma masih belum bisa memejamkan mata. Tiba-tiba, dia teringat akan pembicaraan empat mata suaminya dan teman Daniar. Rasa penasaran, mulai mengusik pikiran Bu Salma.
"Yah, Ibu nggak bisa tidur," rengek Bu Salma memulai aksinya.
"Pejamkan saja matanya, Bu. Nanti juga tidur sendiri," jawab Pak Fandi yang matanya sudah terkantuk-kantuk.
"Nggak bisa, Yah ..." Rengekan Bu Salma semakin menjadi. Hmm, itu adalah senjata yang ampuh untuk membuat mata suaminya kembali terbuka.
Benar saja, kedua mata Pak Fandi yang mulai tertutup akhirnya terbuka kembali. Dia memiringkan badannya dan meraih sang istri ke dalam pelukan.
__ADS_1
"Tidurlah, biar Ayah peluk supaya cepat tidur," ucap Pak Fandi memeluk istrinya dari belakang.
"Ish Ayah, sudah dibilang Ibu susah tidur. Ayo ... Ayah jangan tidur dulu. Temenin Ibu ..." Kini Bu Salma mulai merajuk.
"Hhh, Ibu bukan tidak bisa tidur, tapi Ibu penasaran, 'kan, mau tahu apa yang tadi Ayah bicarakan dengan temannya Daniar," terka Pak Fandi.
Seketika, Bu Salma membalikkan badannya. "Hehehe, Ayah hebat, ya. Bisa tahu kata hati Ibu," gurau Bu Salma.
"Hmm, kita ini hidup bersama sudah puluhan tahun, Bu. kalau Ibu merajuk, sudah pasti ada maunya," sahut Pak Fandi.
"Iya, Yah. Sebenarnya Ibu sangat penasaran. Memangnya, apa yang Ayah bicarakan dengan pemuda tadi?" tanya Bu Salma.
Pak Fandi menelentangkan tubuhnya. Kedua tangannya dia lipat ke belakang untuk menyangga kepala.
"Yandri meminta Ayah untuk menjaga Daniar, sebelum dia datang mengambil alih tanggung jawab tersebut, Bu," ucap Pak Fandi.
"Tunggu Yah, Ibu tidak paham maksud ucapan Ayah."
Pak Fandi menatap istrinya. "Sepertinya, pemuda itu tertarik pada putri kita, Bu. Dia meminta Ayah untuk menjaga Daniar, sampai dia datang dan membawa Daniar untuk menjadi istrinya."
Deg!
Jantung Bu Salma seakan berhenti berdetak mendengar penuturan suaminya. Bu Salma merasa tak habis pikir dengan niat Yandri. Bagaimana mungkin pemuda yang baru pertama kali bertandang, tiba-tiba melamar putrinya.
"Ish, anak zaman sekarang benar-benar aneh," gumam Bu Salma.
"Aneh kenapa, Bu?" tanya Pak Fandi yang mendengar gumaman istrinya.
"Ya aneh saja, Yah. Dia baru pertama kali berkunjung ke rumah kita. Pertama kali bertemu kita, tapi kok, bisa-bisanya dia berbicara begitu sama Ayah. Bukankah pembicaraan tersebut bisa disamakan dengan lamaran, 'kan?"
"Itu bukan pemuda aneh namanya, Bu. Tapi pemuda gentleman. Pemuda baik-baik dan bertanggung jawab, adalah pemuda yang sanggup meminta tanggung jawab seorang ayah atas diri putrinya. Ibu paham, 'kan maksud Ayah?"
"Hmm, Ayah benar juga. Tapi Yah, apa Daniar tahu tentang obrolan kalian? Emm, maksud Ibu, tentang rencana Yandri meminangnya?" tanya Bu Salma.
"Hmm ... sepertinya, Daniar tidak tahu apa-apa, Bu," jawab Pak Fandi.
"Lalu, apa yang akan Ayah katakan nanti?" Bu Salma kembali bertanya.
"Sudah malam. Kita bahas besok saja ya, Bu. Sekalian kita panggil Daniar untuk mengutarakan maksud kedatangan nak Yandri tadi. Sekarang, tidurlah! Ayah sudah benar-benar ngantuk, Bu."
__ADS_1
Bu Salma hanya tersenyum menanggapi ucapan suaminya. Sejurus kemudian, Bu Salma menyusupkan wajahnya di dada sang suami yang masih terlihat bidang.
"Selamat malam, Ayah!"