Setelah Hujan

Setelah Hujan
Harapan Yandri


__ADS_3

Sejak menikah, kehidupan Daniar sedikit demi sedikit mulai berubah. Ditambah lagi, Yandri adalah sosok pria yang begitu lekat dengan agama. Pada akhirnya, Daniar mulai mengimbangi cara dia berpakaian agar tidak mempermalukan suaminya.


"Wow, ini elu Ni?" tanya Deni yang heran melihat cara berpakaian Daniar.


"Lah emang lu pikir siapa?" Daniar balik bertanya.


"Hahaha, pangling gue, Ni. Elu kayak ibu-ibu mau pengajian dengan dandanan seperti itu," ledek Deni.


"Ish, lu jahat banget sih Den," gerutu Daniar seraya menonyor pelan bahu Deni.


"Hehehe, Maaf Ni, maaf. Tapi gue seriusan nih, apa sih motivasi lu berubah kayak gini? Apa karena lu abis merit ma si Yandri, ampe lu merubah gaya berpakaian lu? Saran gue sih nih, Ni ... sebaiknya lu berubah atas dasar keinginan lu sendiri, bukan karena desakan orang lain." Nasihat Deni kepada Daniar.


"Ish, lu ngomong apa sih, Den? Gue enggak sedang berubah atas permintaan laki gue. Tapi atas inisiatif gua sendiri," elak Daniar.


"Hmm, ya syukur deh. Kalau gitu, gue temuin dulu pak Bekti, ya," pungkas Deni seraya berpamitan kepada Daniar.


Setelah Deni pergi, tiba-tiba Nida menyikut lengan Daniar.


"Ish, apaan sih Nid?" tukas Daniar.


"Elu yang apa-apaan? Semenjak nikah, lu tuh dah banyak berubah gitu, Ni. Kayaknya bukan Daniar yang pernah gue kenal deh," celetuk Nida.


"Yeay, itu mah cuma perasaan lu aja kali," sangkal Daniar.


"Yaelah, perasaan gue dari mana? Orang jelas-jelas tadi si Deni juga bilang lu berubah. Emang, lu nggak pernah nyadar apa, sama perubahan diri lu sendiri?" lanjut Nida.


"Sudah ah, enggak usah bahas tentang gue lagi. Sebaiknya kita masuk kelas. Dosen terakhir bentar lagi datang," pungkas Daniar yang tidak ingin temannya berkepanjangan mengomentari perubahan dirinya.


.


.


Hari demi hari terus berlalu. Beban yang Yandri rasakan pun semakin berat. Terlebih lagi, dia juga harus membiayai adiknya yang masih duduk di bangku SMP. Atas saran rekan kerjanya, Yandri kemudian memutuskan untuk membawa istrinya ke rumah orang tuanya.


"Gimana, Yar? Tugas akhir kamu sudah selesai, kan?" tanya Yandri saat dia mengunjungi Daniar di rumah mertuanya.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Kang. Tinggal nunggu acc dari dosen kedua," jawab Daniar.


"Ah, syukurlah kalau begitu."


Yandri hendak mengungkapkan keinginannya. Namun, entah kenapa lidahnya menjadi kelu saat berhadapan langsung dengan Daniar. Dia sadar jika istrinya itu orang yang sangat aktif dan tidak mungkin bisa berdiam diri saja di rumah. Jika sampai dia mengajaknya untuk tinggal di tempatnya. Lantas, pekerjaan seperti apa yang bisa Daniar lakukan di tempatnya.


Tiba-tiba, "Kang, Niar mau resign dari SMP. Apa Akang tidak keberatan?" tanya Daniar yang sontak membuyarkan lamunan Yandri.


"Maksud kamu, Yar?" Yandri bertanya seraya mengerutkan keningnya.


"Jujur saja, Niar capek ngehonor di sana. Apalagi, gajinya pun habis buat ongkos ojeg. Jadi, kayak nggak ada hasilnya gitu. Lebih baik Niar fokus saja di satu sekolah," jawabnya.


"Kalau kamu sudah resign di SMP, mau enggak kamu tinggal sama Akang di sana?" Keluhan Daniar tentang berhenti bekerja seakan menjadi angin segar bagi Yandri


"Maksud Akang?" Kini, Daniar yang menautkan kedua alisnya karena tidak paham dengan maksud omongan sang suami.


"Kalau boleh jujur, Akang sebenarnya sudah cukup lelah untuk bolak-balik terus, Yar. Harapan Akang, setelah kuliah kamu selesai. Kamu bisa ikut Akang dan tinggal di sana," jawab Yandri.


"Iya sih, Kang. Niar paham keinginan Akang. Sebagai seorang istri, Niar juga harus turut sama keinginan dan perintah suami. Tapi Kang, jujur saja ... Niar tidak bisa kalau harus berpangku tangan menunggu suami pulang kerja. Mungkin, kalau seandainya ada sekolah yang mau nerima Niar kerja, insya Allah Niar nggak keberatan ikut Akang," jawab Daniar panjang lebar.


"Iya, Akang benar. Tapi Niar nggak mau pindah dulu kalo belum dapat kepastian ya, Kang?" tukas Daniar.


"Iya, nanti Akang coba bilang ke kepala sekolahnya ya, Yar. Mudah-mudahan masih ada lowongan. Karena setahu Akang, di sana belum ada guru bahasa inggris," pungkas Yandri.


.


.


Takdir memang tidak pernah bisa diduga. Setelah beberapa hari dari percakapan tentang ajakan pindah. Tiba-tiba Bu Salma memutuskan untuk merenovasi rumahnya.


"Jadi, bagaimana? Apa kamu sudah memutuskan akan tinggal di mana, Niar?" tanya Bu Salma.


"Iya, Bu. Niar ikut kang Yandri saja," jawab Daniar.


"Kamu yakin?" tanya Bu Salma, "kamu nggak mau ikut Ibu ke rumah Wak Hajjah Minah?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Enggak, Bu. Kalau Niar ikut Ibu tinggal di Wak Hajjah Minah, Niar takut kang Yandri bakalan ngerasa kagok, Bu," jawab Daniar.


"Kamu sudah membicarakan semua ini dengan suami kamu?" tanya Bu Salma lagi.


"Sudah, Bu," jawab Daniar.


"Lalu, pekerjaan kamu?" Bu Salma kembali bertanya.


"Sepertinya Daniar akan resign, Bu," jawab Daniar.


"Dari TK juga?" tukas Bu Salma.


"Iya, Bu."


"Sudah dipikirkan baik-baik, Niat? Takutnya, setelah kamu pindah, kamu nggak bakalan betah di sana. Nanti, kamu sendiri yang repot, Nak. Harus cari kerja lagi," tutur Bu Salma.


"Insya Allah enggak, Bu. Niar harus bisa betah di mana pun suami Daniar mengajak tinggal," jawab Daniar.


"Ya sudah, Ibu terserah kamu saja, Niar. Apa pun yang menjadi keputusan kamu, Ibu akan selalu mendukungnya. Pesan Ibu, pandai-pandailah kamu membawa diri di rumah mertuamu. Sejatinya, jadi menantu itu akan tetap dibicarakan. Berbuat baik kita akan menjadi pembicaraan, apalagi berbuat buruk." Bu Salma memberikan wejangan kepada putri sulungnya.


"Baik, Bu," jawab Daniar.


.


.


Keesokan harinya, Daniar mengajukan surat pengunduran diri di tempat dia bekerja. Meskipun sangat menyayangkan, tapi Bu Elly tidak mau mencegah apa yang menjadi niat Daniar. Terlebih lagi, tujuan Daniar sangat mulia, yaitu ingin berbakti kepada suami.


"Jujur saja, Niar. Saya sangat menyayangkan keputusan kamu untuk resign dari sekolah ini. Tapi, saya sendiri tidak bisa menahan kamu di sini. Saya hanya bisa berharap, semoga di sana karir kamu akan jauh lebih baik lagi," tutur Bu Elly.


"Saya mengerti, Bu. Saya sendiri sebenarnya merasa berat hati harus meninggalkan sekolah dan anak-anak. Namun, saya juga tidak bisa menolak keinginan suami. Sebagai seorang istri, saya harus patuh dan mengikuti di mana pun beliau mengajak saya tinggal pergi," jawab Daniar.


Bu Elly menghela napasnya. Sejurus kemudian, dia menandatangani surat pengunduran diri dari Daniar.


"Semoga kamu betah di sana," ulang Bu Elly.

__ADS_1


Daniar tersenyum. "Aamiin. Terima kasih atas do'anya, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu. Assalamu'alaikum!"


__ADS_2