
Hanya kalimat itu yang mampu keluar dari bibir Khodijah dengan susah payah. Jujur saja, dia sudah tidak tahan lagi tinggal di rumah ibunya. Terlebih lagi saat melihat roman wajah Habibah yang selalu kecut ketika mengurusnya.
Bu Maryam melongo, seakan tidak mempercayai apa yang baru saja dia dengar. Begitu juga dengan Habibah. Kepalanya terasa pening. Ribuan kupu-kupu bersayapkan rupiah, seolah terbang menjauh. Ish, ini tidak bisa dibiarkan, batin Habibah.
"Kok pulang sih, Kak! Bukannya Kak Dijah pengen tetirah di sini ya? Kak Dijah, 'kan belum sembuh benar. Sudahlah ... Kakak di sini saja dulu. Nanti, Bibah coba cari uang untuk biaya Kakak berobat ke rumah sakit," bujuk Habibah.
Khodijah menggelengkan kepala. Dia tahu kalau adiknya sedang berpura-pura baik. Khodijah kembali menatap suaminya. "Di-jah ... mau pu-lang," katanya.
.
.
Daniar membuka mata saat dia mendengar teleponnya berbunyi. Sesaat, dia menatap jendela kamar yang tirainya sudah tertutup. Apa ini sudah malam? batin Daniar.
Bunyi ponsel kembali berdering. Daniar meraihnya dari atas nakas. Dia tersenyum tipis ketika mengetahui nama si pemanggil. Dia pun menjawab panggilan suaminya.
"Assalamu'alaikum, Yah!" sapa Daniar.
"Wa'alaikumsalam. Apa kabar, Bun? Maaf, Ayah baru bisa menghubungi Bunda sekarang. Seharian tadi, Ayah sibuk ngurusin eskul anak-anak," papar Yandri di seberang telepon.
"Iya, enggak apa-apa Yah," sahut Daniar.
"Oh iya, Bun. Ngomong-ngomong, hal penting apa yang ingin Bunda bicarakan? Bikin jantung Ayah deg-degan aja, hehehe,..." ucap Yandri sambil terkekeh.
"Kak Bibah minta uang sebesar sepuluh juta," kata Daniar tanpa berbasa-basi.
"Apa?!" Tawa Yandri terhenti seketika saat mendengar jawaban Daniar. "Kok bisa? Buat apa?" lanjut Yandri.
"Katanya untuk biaya pengobatan kak Dijah ke rumah sakit. Kak Bibah bilang, Ayah sudah menyetujuinya dan menyuruh kak Bibah untuk meminta uangnya sama Bunda," tutur Daniar.
"Apa?!" Yandri kembali terkejut, "mana ada? Ayah sama sekali enggak pernah menyuruh kak Bibah untuk minta uang ke Bunda," ucapnya.
"Ish, ini yang benar yang mana sih?" gerutu Daniar.
__ADS_1
"Tunggu Bun! Ayah pikir, ini cuma salah paham saja," balas Yandri.
"Maksud Ayah?" Daniar bertanya seraya menautkan kedua alisnya.
"Tadi siang, kak Bibah menelepon. Dia bilang, dia minta bantuan Ayah untuk pengobatan kak Dijah. Jujur saja, tadi Ayah enggak begitu fokus mendengarkan apa yang kak Bibah katakan, karena Ayah harus mengerjakan EMIS. Ayah bilang supaya kak Bibah menelepon Bunda untuk membicarakannya. Ayah pikir, kak Bibah cuma mau pinjam mobil saja untuk membawa kak Dijah ke rumah sakit. Karena itu Ayah suruh kak Bibah berembuk sama kamu, Bun," papar Yandri.
Daniar menghela napas. "Lalu, kenapa kak Bibah malah meminta uang?"
"Entahlah, Ayah sendiri tidak tahu. Mungkin mereka enggak punya uang untuk memeriksakan kak Dijah ke dokter," tebak Yandri.
"Kalau memang enggak ada uang, kenapa harus memaksakan diri? Bukankah Ayah juga tahu, kalau kita pun sama sekali tidak memiliki uang. Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Daniar.
"Sudah, Bunda tidak usah banyak pikiran. Biar nanti Ayah telepon kak Bibah. Sekarang Bunda istirahat, ya. Kasihan Rayyan, dia pasti gelisah jika bundanya terlalu banyak pikiran," tutur Yandri.
Mendengar nama Rayyan, Daniar tersenyum seraya mengusap perutnya yang masih rata.
"Ya sudah, Yah ... Bunda tutup teleponnya, ya. Assalamu'alaikum!" kata Daniar.
"Wa'alaikumsalam," balas Yandri.
.
.
Ada banyak drama sebelum akhirnya Aji berhasil membawa istrinya pulang. Dia menatap sendu ke arah Khodijah yang sedang tertidur di pangkuannya.
Maafkan Akang, Dek! Akang benar-benar tidak tahu kalau semuanya akan terjadi seperti ini. Maafkan Akang, batin Aji sambil mengusap pucuk kepala Khodijah.
Kedua mata Aji berkaca-kaca. Tak sanggup melihat kondisi istrinya. Kini, Aji harus kembali berjuang dari awal lagi untuk menyembuhkan Khodijah. Usahanya yang hampir setahun, tak berbekas sama sekali. Bahkan, kedua kaki Khodijah yang dulu sudah bisa menumpu, kini terasa kaku kembali dan sulit untuk digerakkan.
Astaghfirullahaladzim!
Aji hanya mampu beristighfar dalam hatinya. Semua rasa bercampur aduk. Sakit, miris, dan penuh penyesalan kini Aji rasakan di hatinya.
__ADS_1
"Sudah, Pak. Jangan menangis lagi. Kita pasti bisa membuat ibu sembuh," bisik Hana seraya melingkarkan kedua tangannya di leher Aji.
Aji mendongak. Anak itu, meskipun baru berumur 15 tahun, tapi sudah cukup dewasa untuk memahami kesulitan orang tuanya.
"Kamu benar, Nak. Kita pasti bisa membuat ibu sembuh. Bantu Bapak ya, Sayang. Jadilah sumber kekuatan Bapak, supaya Bapak bisa menjaga dan melindungi kalian dengan baik," balas Aji.
"Aamiin."
.
.
Setelah mengetahui kesalahpahaman yang terjadi, Yandri segera menghubungi kakaknya. Dia tidak ingin Habibah salah menanggapi ucapannya tadi siang.
"Hmm, jika tidak diluruskan sekarang juga, takutnya mereka akan terus berharap. Kasihan juga kak Dijah. Dia pasti bakal beranggapan jika aku hanya memberikan harapan palsu saja," gumam Yandri.
Yandri mengeluarkan ponselnya. Dia pun menghubungi Habibah
"Halo, Yan!" sapa Habibah di ujung telepon.
"Assalamu'alaikum, Kak!" balas Yandri.
"Wa'alaikumsalam," sahut Habibah. "Hmm, bagus juga kamu menelepon, Yan. Ada yang mau kakak omongin sama kamu."
"Oh, Ya. Tentang apa, Kak?" tanya Yandri.
"Ini tentang istri kamu, Yan. Sepertinya, dia enggan memenuhi perintah kamu. Buktinya, tadi dia enggak nyahut apa-apa saat Kakak omongin tentang permintaan Kakak," jawab Habibah berapi-api.
"Hhh ..." Yandri menghela napasnya. Tentu saja Daniar enggak akan menjawab permintaan kamu, Kak. Lah yang kamu minta itu sudah sangat keterlaluan, batin Yandri.
"Yan, istri kamu tuh makin lama makin ngelunjak, ya sama kamu. Masa dia tega mengabaikan perintah kamu, Yan. Padahal, ini perintah kebaikan, loh. Pahalanya besar," cerocos Habibah, masih mencoba memojokkan adik iparnya di mata sang adik.
"Maaf, Kak. Sepertinya Kakak salah paham dengan ucapan Yandri tadi siang. Yandri pikir, Kakak mau minta bantuan buat mengantarkan kak Dijah ke rumah sakit. Karena itu Yandri menyuruh Kakak menghubungi Daniar untuk berembuk kapan Daniar bisa mengantarkannya. Karena mobil memang ada di rumah. Tapi kalau untuk biaya pengobatan seperti apa yang sudah kakak minta sama Daniar, sebesar sepuluh juta, terus terang saja, kami memang tidak punya, Kak. Jadi mohon maaf, Yandri tidak bisa membantu membiayai pengobatan kak Dijah. Yandri harap, kak Dijah sama yang lainnya bisa mengerti. Sekali lagi, Yandri minta maaf. Assalamu'alaikum!" pungkas Yandri mengakhiri pembicaraannya.
__ADS_1
Sejenak, Yandri memejamkan mata. Sudah bertahun-tahun. Namun, entah kenapa saudaranya itu masih tidak bisa menerima Daniar sebagai iparnya.
Astaghfirullah ... apa salah Daniar, kak? Kenapa kakak selalu berbicara buruk tentangnya? keluh Yandri dalam hati.