Setelah Hujan

Setelah Hujan
Penyesalan Daniar


__ADS_3

Sepanjang jalan, hanya keheningan yang mengiringi perjalanan mereka. Hingga akhirnya, si kecil Bintang memecah keheningan tersebut.


"Bun, Bibin lapar. Apa kita boleh berhenti dulu? Bintang mau makan mie ayam," rengek Bintang kepada Daniar.


"Sebentar ya, Sayang. Kita tunggu Ayah berhenti dulu," jawab Daniar yang tidak ingin mengganggu konsentrasi suaminya dalam mengendarai motor.


"Tapi Bibin lapar, Bun." Bintang kembali merengek.


"Ssst!" Daniar menyahuti rengekan anaknya dengan menempelkan telunjuk di bibirnya.


Mendengar percakapan dua orang yang amat berarti dalam hidupnya, Yandri kemudian menepikan motor di sebuah kedai mie ayam yang selalu dia singgahi saat sedang bekerja di tempat lama.


"Kok berhenti, Yah?" tanya Daniar, menatap heran suaminya.


"Kita makan dulu, Bun. Kasihan Bintang, sepertinya dia sudah sangat lapar," jawab Yandri seraya meraih Bintang ke dalam pangkuannya.


"Yeaaay, makan mie ayam!" seru Bintang kegirangan.


Yandri melempar senyum kepada Daniar saat melihat anaknya berjingkrak-jingkrak. Melihat si kecil merasa senang, sakit hati Yandri sedikit terobati. Hmm, setidaknya anakku begitu gembira saat aku ajak makan di tempat biasa seperti ini, Bu, batinnya.


"Mie ayamnya tiga ya, Pak," pesan Yandri kepada abang penjual mie ayam.


"Siap, Pak. Silakan duduk dulu," jawab si penjual mie ayam seraya membenahi kursi tempat para pembelinya duduk untuk menikmati makanan hasil kreasinya.


Yandri dan Daniar duduk saling berhadapan. Sedangkan Bintang duduk di samping ibunya. Sepanjang menunggu makanannya datang, Yandri terlihat menatap kosong jalan raya yang ada di hadapannya. Ocehan Daniar dan Bintang tentang cerita perjalanan yang dilalui pun tidak mampu membuat Yandri ikut bergabung. Sepertinya, Yandri sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Tidak Yandri pungkiri. Kalimat sang ibu begitu tajam menusuk di relung hatinya. Yandri merasa sakit akan hal itu. Namun, dia bisa apa? Melawan perkataan ibunya, sungguh tidak akan membuat dia sanggup. Yandri hanya bisa menghindar agar dia tidak lebih terpuruk lagi. Sedih. Ya, hanya kesedihan yang dia rasakan untuk saat ini.


Daniar merasa tidak tega melihat kebisuan sang suami. Dia tahu jika hati suaminya sedang terluka. Daniar pun mencoba mengalihkan perhatian Yandri.


"Ada apa, Yah? Kenapa Ayah diam saja?" tanya Daniar seraya menyentuh punggung tangan suaminya.


Mendapatkan sentuhan di tangannya, sontak Yandri terhenyak. Terlihat sekali jika dia sedang melamun. "Eh, Bunda? Iya ... kenapa, Bun?" tanyanya.

__ADS_1


"Bunda hanya bertanya, kenapa Ayah diam saja? Seperti sedang memikirkan sesuatu?" Daniar memperjelas perkataannya.


"Hhh ..." Yandri menghela napasnya. "Mungkin Ayah hanya kelelahan saja, Bun. Rasanya badan Ayah lemes banget," jawab Yandri menutupi keadaan yang sebenarnya.


Ya Tuhan, Yah. Bunda tahu Ayah sedang kecewa saat ini. Ayah pasti sudah mendengar semua perkataan ibu tadi. Tapi Ayah berusaha untuk menutupi semua kesedihan Ayah, batin Daniar.


Daniar kembali mengusap punggung tangan suaminya. "Jangan khawatir, Yah. Setelah sampai di rumah, istirahatlah!" ucap Daniar.


Yandri tersenyum tipis mendengar ucapan istrinya.


Tak lama berselang, penjual mie ayam datang untuk mengantarkan pesanan mereka."Silakan dinikmati Pak, Bu," ucapnya seraya menaruh tiga mangkuk mie ayam di hadapan mereka.


"Asyik, mie ayamnya sudah datang," seru Bintang seraya meraih mangkuknya. Gadis kecil itu pun mulai melahap makanannya.


Daniar dan Yandri tersenyum melihat tingkah anaknya.


Terima kasih Tuhan karena telah menitipkan bidadari yang begitu cantik kepada hamba. Dialah penawar semua kesedihan hamba. Ayah janji, Nak. Ayah akan melakukan yang terbaik untuk masa depan kamu, batin Yandri seraya menatap Bintang yang tengah asyik menyantap mie ayam.


.


.


Bu Maryam menatap kosong pada lembaran uang berwarna merah di hadapannya. Pikirannya benar-benar kacau setelah anaknya pergi. Ada rasa bersalah bersemayam di hati Bu Maryam. Terlebih lagi setelah dia mengetahui isi amplop yang diberikan anaknya. Seketika jantung Bu Maryam berdetak tak karuan saat mengingat ekspresi Yandri saat hendak pulang.


Ya Tuhan ... apa anak itu mendengar semua omonganku kepada Daniar? Ish, bagaimana jika dia memang mendengarnya? Hatinya pasti akan hancur? Astaga, apa yang telah aku lakukan? Aku menyakiti perasaan anakku sendiri. Darah dagingku sendiri. Tapi aku tidak sengaja melakukan itu. Aku hanya ingin menunjukkan kepada Daniar jika apa yang telah dilakukannya salah besar. Memisahkan Yandri ataupun tidak, keadaannya tetap sama. Mereka hidup seperti itu-itu saja. Aku hanya ingin menyadarkan Daniar jika apa yang telah dia lakukan itu salah. Memisahkan Yandri dari aku, itu sangat salah! batin Bu Maryam.


"Disimpan atuh Bu, uang pemberian dari anakmu itu! Toh dilihatin juga, enggak bakalan beranak ini," gurau Pak Ahmad kepada istrinya.


Bu Maryam terhenyak. Dengan tersenyum kecut. Bu Maryam merapikan lembaran uang berwarna merah yang berjumlah 2,5 juta.


.


.

__ADS_1


"Suami kamu kenapa lagi, Kak? Ibu lihat, dari tadi dia murung terus," tanya Bu Salma.


Daniar hanya tersenyum tipis. "Kang Yandri hanya kelelahan saja, Bu. Maklum lah, semalam pulang larut. Paginya sudah pergi lagi ke rumah ibu," jawab Daniar.


"Oh iya, ngomong-ngomong, bagaimana keadaan mertua kamu? Apa beliau sehat?" tanya Bu Salma yang teringat jika anaknya baru menjenguk besannya tadi siang.


"Alhamdulillah sehat, Bu," jawab Daniar.


"Ah, syukurlah kalau begitu. Hmm, mereka pasti saling melepas rindu ya, Kak. Sudah lama juga, 'kan mereka enggak ketemu?" lanjut Bu Salma.


Daniar kembali tersenyum tipis mendengar ucapan ibunya. "Ya begitulah, Bu," sahut Daniar.


"Jangan lupa, bilang sama suami kamu, Kak. Mumpung masih ada kesempatan, tengoklah ibunya setiap kali dia pulang. Ingatkan dia tentang satu hal, Nak. Restu ibu itu hal yang paling utama. Kamu sendiri tahu, 'kan kalau surga itu ada di telapak Kaki ibu," kata Bu Salma.


"Iya, Bu," jawab Daniar. "Ya sudah Bu, Niar masuk kamar dulu," pamitnya.


"Iya, sana ... Istirahatlah!" jawab Bu Salma.


Daniar membuka pintu kamarnya. Tampak Yandri sedang tidur seraya memeluk Bintang. Daniar pun mendekati suaminya. Mengelus rahang tegas milik suaminya. Wajah letih Yandri terlihat sangat jelas. Air mata Daniar mulai menggenang saat mengingat kembali perkataan ibu mertuanya.


Astagfirullahaladzim, bu ... dengan susah payah aku bujuk kang Yandri untuk menemuimu. Meski kadang terjadi pertengkaran-pertengkaran kecil saat aku membujuknya, karena aku tahu dia masih terluka. AKu pikir setelah sekian lama tak bertemu, kalian akan saling melepas rindu. Tapi kenapa, bu? Kenapa harus ada luka lagi dari setiap pertemuan? Kenapa dia harus terluka lagi ibu? Dia suamiku, dia imamku. Tidak pernah sedikit pun dia mengeluh atas setiap bebannya.


Tidak pernah sedikit pun dia murung atas setiap deritanya. Dia tetap tegar, bu. Dia tetap teguh melangkah. Namun, aku tau dia sakit, bu ... dia terluka, dan sekarang ... aku seperti terlempar ke titik yang paling jauh. Aku tak mampu berkata dan berbuat apa pun lagi. Ya! Memang kewajibanku untuk mengingatkan kang Yandri tentangmu. Tentang cintamu, tentang kasih sayangmu, dan tentang semua pengorbananmu. Tentang apa yang telah engkau lakukan untuk dirinya. Namun, jika setiap pertemuan menorehkan satu luka lagi untuknya, salahkah jika aku membiarkan dia berpikir dan bertindak atas kemauannya sendiri?


Maafkan aku ibu, untuk saat ini ... aku pun sudah menyerah dengan keadaan. aku tidak ingin dia terluka lagi, batin Daniar seraya menatap suaminya.


Sejenak, Daniar berbaring menyamping di belakang suaminya.


Ya Tuhan ... seandainya aku tahu kang Yandri akan mendapatkan penghinaan dari ibunya, mungkin dulu aku tidak akan membujuk dia untuk menemui ibu. Maafkan Bunda, Yah. Bunda tidak pernah menyangka jika pertemuannya akan berakhir seperti ini, sesal Daniar seraya memeluk erat suaminya.


Tubuh Daniar mulai berguncang menahan isak tangisnya. Cairan hangat pun mulai merembes memasuki serat ksin paksain yandri.


Bunda?"

__ADS_1


__ADS_2