
Tiba-tiba saja Yandri menendang pintu mobil sedan berwarna hitam tersebut.
"Lepaskan Dia!" teriak Yandri.
Laki-laki yang tadi menyeret Daniar, begitu terkejut mendapati seorang laki-laki tengah berdiri di hadapannya. "Jangan ikut campur!" dengusnya kesal.
"Bagaimana mungkin aku tidak ikut campur melihat seorang pria pengecut seperti kamu. Cih, beraninya sama wanita saja. Dasar banci!" ejek Yandri.
"Bedebah! Berani lo ngehina gua, hah!"
Laki-laki itu mendorong kasar tubuh Daniar hingga kening Daniar membentur tepi pintu mobil. Sejurus kemudian, dia menghampiri Yandri dan mulai melayangkan pukulan.
Yandri berkelit untuk menghindari pukulan membabi buta dari laki-laki itu. Namun, saat dia melihat Daniar meringis seraya memegang keningnya yang berdarah, fokus Yandri pun mulai hilang
Bugh!
Sebuah pukulan keras mendarat di rahang kanan Yandri hingga dia limbung. Daniar terhenyak mendengar pukulan itu. Dia kemudian mendongak. Tampak laki-laki itu kembali melayangkan tinjunya.
"Hentikan Seno!" teriak Daniar.
Sungguh, wanita itu sangat terkejut melihat sudut bibir kanan Yandri mengeluarkan darah segar. Seketika dia bangkit dan berlari ke arah laki-laki itu.
"Ka-kamu tidak apa-apa?" tanya Daniar seraya menyeka darah di sudut bibir Yandri.
Melihat sikap Daniar yang lembut terhadap laki-laki lain, membuat darah Seno mendidih. Dia tidak Terima jika Daniar bersikap baik hati kepada laki-laki lain.
"Apa-apaan kamu, Niar?" tanya Seno menarik bahu Daniar hingga berbalik menghadapnya.
Daniar menghempaskan tangan Seno dari pundaknya. Dia kemudian berteriak kepada Seno. "Kamu yang apa-apaan, Seno? Kenapa kamu memukul orang yang tidak bersalah, hah?"
"Tidak bersalah katamu? Hei Niar, dia telah berani ikut campur urusanku. Bahkan dia berani mengejekku, mengatakan aku banci. Apa bersikap seperti itu tidak bersalah menurutmu, hah?" Seno tak kalah berteriak keras menjawab pertanyaan Daniar.
"Cukup, Bung! Jangan pernah berteriak lagi kepadanya," ucap Yandri.
Seno mendorong tubuh Yandri. "Apa lo bilang? Gua nggak boleh berteriak kepada wanita itu, hah? Memangnya siapa elo? Apa hak lo melarang gua berteriak padanya, hah? Asal lo tahu, dia cewek gua. Tunangan Gua! Lo tahu itu!" teriak Seno.
__ADS_1
"Mantan tunangan, Seno! Hubungan kita sudah berakhir sejak kamu berkhianat. Apa kamu melupakan itu Seno?" ucap Daniar dingin.
"Tidak Niar! Aku tidak akan pernah melepaskan kamu. Sekarang juga kamu harus ikut denganku!" ucap Seno seraya meraih pergelangan tangan Daniar dan hendak menyeretnya kembali.
"Hentikan, Bung! Dia tidak akan pernah pergi denganmu," timpal Yandri seraya mencekal pergelangan tangan Seno dan menekannya dengan kuat.
"Shitt! Lepaskan tangan gua! Gua berhak membawa wanita gua pergi ke mana pun gua suka. Ngerti lo! " ucap Seno, geram.
Yandri semakin menekan pergelangan tangan Seno hingga laki-laki itu melepaskan tangan Daniar. Setelah tangan Daniar terlepas, Yandri menarik tangan Seno dengan kuat. Kini, wajah kedua pria tampan berbeda karakter itu begitu dekat satu sama lain.
"Dia istriku! Jadi, jangan pernah macam-macam dengannya, atau kau akan berurusan denganku. Paham!" ucap Yandri penuh penekanan.
Baik Seno ataupun Daniar, mereka sangat terkejut mendengar perkataan Yandri. Sejurus kemudian, Yandri menghempaskan tangan Seno. Kini tangannya beralih menggenggam tangan Daniar. Dengan langkah penuh wibawa, Yandri membawa Daniar pergi dari tempat itu.
Beruntungnya, sebuah mobil angkot melintas di hadapan Yandri dan Daniar. Yandri segera menghentikan angkot tersebut. Setelah angkot berhenti, dia memasuki angkot itu tanpa melepaskan tangan Daniar.
Angkot kembali melaju, sesaat setelah penumpangnya duduk. Di dalam angkot, hanya kebisuan yang terjadi di antara Yandri dan Daniar. Entah apa yang ada dalam pemikiran sepasang insan itu.
Setelah beberapa menit, mereka akhirnya tiba di terminal perbatasan. Yandri kembali mengeluarkan uang dan membayar ongkos angkot tersebut. Setelah mereka turun, Yandri melepaskan tangan Daniar.
Daniar diam. Dia tahu jika diri dan perasaannya sedang kacau saat ini. Rasanya dia enggan untuk pulang. Namun, dia sendiri tidak tahu harus pergi ke mana.
"Nona, apa kamu mendengarku?" Yandri kembali bertanya.
Daniar terperanjat mendapati pertanyaan Yandri.
"Eh, aku ... a-aku ..." ucap Daniar menggantungkan kalimatnya.
"Ikut aku!" ucap Yandri kembali menggenggam tangan Daniar.
Yandri menyeberangi jalan dan menaiki sebuah angkot yang sedang berhenti di tepi jalan. Sesaat setelah mereka naik, angkot pun melaju.
"Ki-kita mau ke mana?" tanya Daniar gugup.
Jujur, Daniar takut jika laki-laki ini akan melakukan sesuatu yang buruk. Namun, dilihat dari sikapnya yang telah membela Daniar di depan Seno, Daniar mencoba meyakinkan diri jika laki-laki yang tengah duduk di sampingnya, adalah pria baik-baik.
__ADS_1
"Stop, Bang!" seru Yandri kepada sopir angkot itu.
Angkot berhenti. Yandri kembali merogoh saku celananya dan mengeluarkan uang recehan. Sedetik kemudian, dia membayar ongkos angkot tersebut.
"Berdua, Bang," ucap Yandri.
"Makasih, Mas," jawab sopir angkot tersebut.
Yandri mengajak Daniar turun. Dia melangkahkan kakinya menuju kampus Administrasi tanpa melepaskan tangan Daniar.
Kening Daniar berkerut saat Yandri memasuki komplek kampus. Terlebih lagi saat mereka telah tiba di belakang kampus. Hanya hamparan sawah yang tampak hitam karena malam sudah semakin gelap.
"Ki-kita mau ke mana?" tanya Daniar, terbata.
Daniar semakin cemas karena laki-laki itu mengajak dirinya ke tempat sepi seperti ini. Area persawahan lagi. Sedetik kemudian, dia pun merutuki dirinya yang mau dibawa begitu saja oleh laki-laki yang kini sedang berjalan di depannya
Rasanya Daniar ingin menolak. Namun, entah kenapa kakinya terus melangkah mengikuti laki-laki itu. Dia hanya bisa menatap nanar pada punggung yang berbalut jas almamater berwarna navy.
Berkali-kali Kaki Daniar tersandung dan hampir jatuh karena berjalan di pematang sawah. Jujur saja, sejak kecil dia memang tidak pernah pandai untuk berjalan di tempat seperti ini. Jangankan di malam hari, di siang hari pun dia harus berjalan menunduk untuk menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak jatuh terguling ke sawah.
Melihat itu, tiba-tiba Yandri menghentikan langkahnya. Dia melepaskan tangan Daniar. Lepas itu, Yandri berjongkok seraya berkata, "Naiklah, aku tidak ingin kamu jatuh dan pakaian kamu kotor. Karena di rumah kakakku, tidak ada pakaian yang pas untuk dirimu."
Daniar cukup terkejut mendengar perkataan Yandri. Ish, bagaimana mungkin gua harus naik di punggungnya, batin Daniar.
"Ayo naiklah, atau kita akan semakin kemalaman di tengah sawah," kata Yandri.
"Ta-tapi tubuhku berat," jawab Daniar.
"Tidak usah khawatir, Nona. Aku sudah terbiasa mengangkat beban yang cukup berat. Bahkan mungkin melebihi berat badan kamu," jawab Yandri begitu percaya diri.
"Ish, ambigu sekali, Tuan," gumam Daniar yang masih bisa didengar oleh Yandri.
Senyum tipis terukir di bibir Yandri. Tak lama kemudian, dia kembali berkata, "Naiklah, kalau tidak ... aku akan meninggalkan kamu di sini."
"Haish, yang benar saja. Dasar laki-laki tidak bertanggung jawab," gerutu Daniar, kesal.
__ADS_1
Mau tidak mau, Daniar menjatuhkan dirinya di punggung laki-laki tegap itu. Sejurus kemudian, Yandri bangkit dan mulai berjalan menyusuri pematang sawah.