Setelah Hujan

Setelah Hujan
Raihan Berulah


__ADS_3

Keputusan Bu Maryam memang sudah tidak dapat diganggu gugat lagi. Pada akhirnya, Yandri hanya bisa mengikhlaskan ibunya bekerja di ibu kota. Tanpa terasa, sudah hampir satu bulan Bu Maryam bekerja di kota metropolitan.


Semenjak Bu Maryam memutuskan untuk bekerja, Habibah dan Bahar pun memutuskan untuk pindah. Merasa tidak pernah mendapatkan pekerjaan yang cocok, akhirnya Bahar memboyong sang istri ke kampung halamannya.


Padatnya pekerjaan di sekolah, membuat Yandri semakin jarang berkunjung ke rumah ibunya. Terlebih lagi, tidak ada yang bisa dikunjungi di rumah itu. Kini rumah itu pun kosong, karena Raihan, adik bungsu Yandri juga telah memiliki pekerjaan di kota. Rumah itu hanya dititipkan kepada Bik Wanti, tetangga dekat yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Bu Maryam.


.


.


Suatu hari, Bik Wanti mengunjungi Yandri dan Daniar di sekolah. Niatnya, selain bersilaturahmi, Bik Wanti juga hendak mengabari jika dia sudah tidak memegang lagi kunci rumah Bu Maryam.


"Assalamu'alaikum, Niar!" sapa Bik Wanti saat tiba di sekolah dan melihat Daniar sedang mengajak main Bintang di lapang sekolah.


"Wa'alaikumsalam. Eh, Bik Wanti," jawab Daniar yang sedikit terkejut dengan kedatangan kerabat suaminya di sore hari.


"Lagi sibuk ya, Niar?" tanya Bik Wanti setelah tiba di hadapan Daniar.


"Ah, enggak juga. Ini, Bintang lagi pengen main di luar," balas Daniar.


"Ngomong-ngomong, suami kamu mana, Ni?" tanya Bik Wanti seraya mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Yandri, "Bibik ada perlu sama suami kamu," lanjut Bik Wanti.


"Oh, Kang Yandri sedang pergi ke rumah pak Ustadz, Bik. Sebentar lagi, mungkin dia pulang. Soalnya, sudah dari tadi sih, perginya," jawab Daniar.


"Oh, gitu ya. Hmm ya sudah, Bibik tunggu saja, deh. Ada hal penting yang harus Bibik bicarakan sama suami kamu," lanjut Bik Wanti.


"Ya sudah, Bibik tunggu di kamar saja, yuk!" ajak Daniar.


"Bintang gimana, Ni? Kelihatannya dia masih asyik main di luar," tukas Bik Wanti yang tidak tega harus mengusik keasyikan gadis kecil itu dalam berlari ke sana kemari di lapang sekolah.


"Tidak apa-apa, Bi. Banyak anak-anak di sini. Mereka pasti bisa jagain bintang," jawab Daniar.

__ADS_1


"Hmm, boleh deh kalau begitu, yuk!" Bik Wanti menyambut ajakan Daniar.


"Din, Ibu titip Bintang dulu sebentar ya," pinta Daniar kepada Dino.


"Baik, Bu," jawab Dino.


Setelah menitipkan putrinya, Daniar kemudian mengajak Bik Wanti masuk ke kamarnya.


"Silakan duduk, Bik!" ucap Daniar mempersilakan tamunya untuk duduk. "Sebentar, Niar ambilkan air minum dulu," lanjutnya.


Daniar kemudian menuangkan air ke dalam gelas dan meraih toples yang berisi keripik kentang. Setelah itu, dia menyuguhkannya di atas meja.


"Mohon maaf, Bik. Adanya cuma air putih dan camilan keripik saja," ucap Daniar sesaat setelah meletakkan kedua barang itu di atas meja.


"Tidak apa-apa, Niar. Tidak perlu merepotkan seperti ini. Lagi pula, Bibik, 'kan bukan tamu," tukas Bik Wanti.


Daniar hanya tersenyum mendengar perkataan Bik Wanti. Sejujurnya, Daniar penasaran dengan maksud kedatangan Bik Wanti yang ingin menemui suaminya. Namun, sebagai seorang istri yang baik, Daniar paham betul jika dia tidak boleh terlalu ikut campur tentang urusan suaminya. Jika sang suami memang belum mau terbuka kepadanya, Daniar tidak akan memaksa. Toh, Daniar sendiri bukan tipe istri penuntut.


"Eh, Niar ... apa kamu sudah tahu jika Raihan pulang?" tanya Bik Wanti membuka obrolan.


"Ish, bukan cuti atuh, Ni. Tapi sudah tidak bekerja lagi di kota," jawab Bik Wanti memperjelas ucapannya.


"Loh, kenapa?" tanya Daniar.


"Hmm, Bibik sendiri kurang begitu jelas apa alasannya. Namun, akhir-akhir ini adik ipar kamu sedang menjadi perbincangan hangat para warga," jawab Bik Wanti.


Daniar mengerutkan alisnya. Dia benar-benar tidak mengerti maksud ucapan Bik Wanti.


"Memangnya, kenapa Raihan bisa jadi obrolan warga, Bik? Bukankah sesuatu hal yang lumrah, jika seseorang keluar dari pekerjaannya? Mungkin saja Raihan merasa tidak cocok dengan pekerjaan yang dia jalani, Bik."


Daniar mencoba membela adik iparnya. Saat menikah dengan Yandri, Daniar tahu jika Raihan seorang anak yang baik. Dia percaya jika hidup Raihan tidak pernah neko-neko.

__ADS_1


"Lumrah sih, Ni ... kalau emang dia enggak ngerasa cocok dengan pekerjaannya. Tapi kalau dia keluar kerja karena dipecat, hmm ... Bibik rasa, itu sudah bukan hal yang lumrah lagi. Tidak wajar malah, kalau menurut bibik," jawab Bik Wanti.


Ah, Daniar semakin tidak mengerti dengan ucapan Bik Wanti yang terkesan berbelit-belit. "Hmm, memangnya Bibik tahu dari mana jika Raihan dipecat dari pekerjaannya?" Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari bibir Daniar.


Sebenarnya, Daniar tidak ingin bersikap lancang kepada Bik Wanti. Hanya saja, kalau dibiarkan ... omongan Bik Wanti bisa melebar ke mana-mana. Dan Daniar paling tidak suka dengan obrolan-obrolan yang tidak bermanfaat.


"Tetangga di sana, 'kan ada yang satu tempat kerja sama si Raihan. Kabarnya, si Raihan itu suka bawa cewek ke tempat kerjanya. Suatu hari, dia pernah kepergok berduaan sama ceweknya di kamar mes. Karena itu bos dia memecatnya," papar Bik anti.


"Astaghfirullah, jangan ngaco deh Bik!" tukas Daniar seraya menatap ke arah pintu, takut jika suaminya tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu


"Ih, Bibik enggak ngaco, Niar. Bahkan, sekarang si Raihan mulai berulah dengan sering membawa cewek nginap di rumah. Hal itu pula yang saat ini menjadi gunjingan tetangga," tukas Bik Wanti.


"Ya Allah ... sudah-sudah, Bik. Tidak usah dilanjutkan lagi, nanti kang Yandri bisa mendengar semuanya," ucap Daniar mencoba mengingatkan Bik Wanti.


"Mendengarkan apa, Bun?"


Tiba-tiba suara bariton Yandri membuat kedua perempuan berbeda generasi itu terlonjak kaget. Daniar mulai gugup, sedangkan Bik Wanti terlihat salah tingkah


"Eh, Ayah sudah pulang," kata Daniar seraya berdiri untuk menyambut suaminya.


"Iya, Bun. Eh, ada tamu," ucap Yandr.


Bik Wanti hanya menganggukkan kepalanya.


"Bun, Itu, kenapa Bintang dibiarkan bermain sama anak-anak? Ini sudah sore loh, Bun," kata Yandri seraya melihat putrinya yang sedang tergelak duduk di lapang di keliling anak-anak pengajian.


"Maaf Yah, tadi Bunda temani Bik Wanti dulu," jawab Daniar. "Katanya Bik Wanti ada keperluan sama Ayah,"lanjutnya.


"I-iya, Yan. Bibik ada yang mau diomongin sama kamu," timpal Bik Wanti.


Deg!

__ADS_1


Daniar tersentak kaget mendengar ucapan Bik Wanti. Ya Tuhan ... Apa Bik wanti datang ke sini untuk membicarakan ulah Raihan kepada kang Yandri? Batin Daniar dengan jantung berdetak tak karuan.


Tak ingin menghadapi situasi yang tak nyaman, akhirnya Daniar memutuskan untuk menghampiri anaknya. Meskipun dia merasa penasaran dengan apa yang akan Bik Wanti utarakan kepada sang suami. Namun, Daniar tidak ingin mengambil resiko jika memang yang hendak Bik Wanti katakan adalah berita miring tentang adik iparnya. Sungguh, Daniar tidak akan sanggup melihat kekecewaan di wajah suaminya. Dia pun pergi, memberikan waktu dan ruang kepada suaminya dan bik wanti untuk mengobrol.


__ADS_2