Setelah Hujan

Setelah Hujan
Perdebatan Habibah dan Bu Maryam


__ADS_3

Tahun demi tahun terus berlalu. Tanpa terasa, saat ini Bintang sudah duduk di kelas akhir tingkat sekolah dasar. Daya tangkapnya yang cepat, serta kemampuannya dalam hafalan dan ilmu pasti, membuat Daniar mengikutsertakan Bintang pada program percobaan akselerasi yang diadakan sekolahnya.


IQ Bintang yang di atas rata-rata, membuat Bintang berhasil lulus. Pada akhirnya, Bintang pun melompat satu tingkat hingga sekarang dia duduk bersama kakak kelasnya di bangku kelas 6. Kemampuan Bintang dalam memahami pelajaran serta kebaikan Bintang dalam membantu kakak kelasnya tentang materi yang dianggap susah, akhirnya membuat Bintang sangat disenangi oleh kawan-kawannya.


Daniar bersyukur, meskipun Bintang tumbuh dalam keluarga yang tidak utuh, tapi dia bisa membuktikan diri menjadi pribadi yang lebih baik. Bahkan, Daniar melihat jika Bintang yang sekarang, jauh lebih ekspresif dan ceria dibandingkan dengan Bintang yang dulu.


"Gimana Bu Niar? Bintang jadi, 'kan ikut ujian?" tanya Bu Etty, wali kelas Bintang.


"Entahlah, Bu. Saya enggak yakin apa dia bisa mengerjakan soal-soalnya," jawab Daniar, ragu.


"Tidak usah pesimis seperti itu, Bu. Bintang anak yang cerdas. Ibu harus yakin kalau Bintang mampu," kata Bu Etty, memberikan motivasi.


"Saya percaya, Bu. Tapi masalahnya, sudah dua bulan Bintang tidak masuk karena sakit, dia pasti sudah tertinggal banyak materi. Saya takut jika dia tidak mampu mengejarnya," tutur Daniar.


"Nilai try out Bintang menjadi nilai yang terbaik di antara teman-temannya. Saya yakin, Bintang mampu mengejar materi yang tertinggal. Sudah bu, kita ikutkan saja Bintang ujian, mumpung ada kesempatan," lanjut Bu Etty.


"Biar saya tanya Bintang dulu, Bu. Kalau Bintang bersedia, Ibu boleh mendaftarkannya. Masih ada waktu, 'kan?" tanya Daniar.


"Iya, besok hari terakhir data peserta ujian dikirimkan ke kantor. Kabari secepatnya jika sudah ada keputusan ya, Bu," pinta Bu Etty.


"Pasti, Bu!" pungkas Daniar.


.


.


"Sudah tiga tahun Yandri hidup menduda, apa Ibu tidak kasihan padanya?" tanya Habibah membuka pembicaraan di sore hari.


Bu Maryam menautkan kedua alisnya. Dia merasa heran mendengar pertanyaan Habibah. Kasihan? Kasihan untuk apa? Selama ini Bu Maryam tidak pernah mendengar Yandri mengeluhkan kesendiriannya. Bahkan, dia terlihat sangat nyaman menjadi seorang duda.


"Kamu ngomong apa sih, Bah? Ibu enggak ngerti," jawab Bu Maryam.


"Ibu, Yandri pasti sangat kesepian tanpa seorang pendamping di sisinya," lanjut Habibah.

__ADS_1


Deg!


Bu Maryam cukup terkejut mendengar perkataan Habibah. apa ini artinya, Habibah sedang mencoba bernegosiasi dengannya supaya mengizinkan Yandri menikah lagi? pikir Bu Maryam.


"Haish, tahu dari mana kamu?" tukas Bu Maryam mencoba menyangkal sebuah kebenaran. "Ibu lihat, Yandri masih waras-waras aja tuh, tanpa istri," lanjutnya ketus.


"Aih, Ibu ... hati orang, 'kan siapa yang tahu," jawab Habibah.


Bu Maryam menghela napas. Sebenarnya, naluri keibuannya mengakui jika dia merasa kasihan kepada Yandri yang hidup tanpa pendamping. Namun, egonya terlalu mendominasi naluri keibuannya.


Bu Maryam takut cerita lama terulang lagi. Dia takut jika perhatian Yandri akan kembali terbagi jika Yandri menikah lagi.


"Bu, kok diam?" tanya Habibah, heran.


"Ibu hanya takut, Bah," jawab Bu Maryam, lirih.


"Takut apa, Bu?" Habibah kembali bertanya.


"Ibu takut Yandri bakalan lupa lagi sama Ibu kalau dia sudah nikah," jawab Bu Maryam, pelan.


"Sudah! Tidak usah kamu sebutkan nama itu. Muak Ibu dengernya!" tegas Bu Maryam memotong kalimat Habibah.


"Hhh ... maksud Bibah, tidak semua perempuan memiliki karakter yang sama. Jika memang Ibu takut Yandri berubah, kenapa Ibu tidak jodohkan Yandri dengan orang pilihan kita. Lagi pula, Siska masih lajang, Bu. Kita jodohkan saja Siska sama Yandri," usul Habibah.


"Enggak! Ibu enggak setuju!" jawab Bu Maryam, ketus.


Habibah menautkan kedua alisnya. "Kenapa Ibu enggak setuju? Siska itu orang baik loh, Bu," kata Habibah.


"Baik apanya? Jika memang dia baik, dia tidak akan pernah mematahkan hati Yandri dulu. Dia tidak akan pernah menjadikan Yandri sebagai bahan olok-olokan temannya. Pokoknya, Ibu enggak akan pernah setuju kamu menjodohkan Yandri dengan perempuan itu. Titik!" tegas Bu Maryam.


"Lantas, siapa yang pantas untuk menjadi pendamping Yandri? Bukankah Ibu juga tahu jika Yandri tidak memiliki banyak teman perempuan?" lanjut Habibah.


"Ibu akan cari Enna. Hanya Enna yang pantas bersanding dengan Yandri. Dia baik, berhijab dan juga berpendidikan," jawab Bu Maryam.

__ADS_1


"Ih Ibu! Apa Ibu tega menikahkan Yandri sama orang yang udah dua kali jadi janda?" seru Habibah.


"Memangnya kenapa kalau dia seorang janda? Toh Yandri juga seorang duda. Lagi pula, dengan statusnya yang janda, dia enggak bakalan ngelunjak sama Yandri. Beda sama anak perawan yang nantinya banyak maunya," tutur Bu Maryam.


"Enggak, pokoknya Bibah enggak setuju. Bagaimanapun juga, Siska tetap yang terbaik. Dia Sholehah dan ahli ibadah. Bukankah Ibu suka dengan wanita yang selalu mengikuti pengajian? Nah, Siska cocok tuh sama hobi Ibu yang suka ngaji ke sana kemari," keukeuh Habibah.


"Enggak, pokoknya Ibu enggak setuju. Setahu Ibu, Enna sudah menjadi pegawai negeri. Dia punya penghasilan sendiri. Jadi dia enggak bakalan menghambur-hamburkan uang Yandri," bantah Bu Maryam.


"Tapi Siska punya usaha sendiri, Bu. Selain ngajar, dia juga punya usaha kuliner," tukas Habibah.


"Halah, tibang jualan bakso doang," tukas Bu Maryam dengan nada mengejek.


"Ih, Ibu ... yang penting halal, 'kan? Lagi pula, yang jualan bukan dia, tapi karyawannya," bela Habibah untuk Siska.


"Tetep aja penjual bakso. Ibu enggak mau ya, punya mantu enggak punya kerjaan elit," sahut Bu Maryam.


"Ih Ibu, yang penting banyak duitnya," lanjut Habibah kesal.


"Gengsi juga butuh, Bah. Ibu mau punya mantu yang kaya dan berkelas. Punya kendaraan pribadi juga," jawab sengit Bu Maryam.


"Tapi Ibu juga harus sadar kasta kita seperti apa. Jika Ibu ingin mantu yang kaya raya, ya ibu harus jadi orang kaya dulu. Jika Ibu ingin mantu yang punya mobil, ya Ibu juga harus punya mobil terlebih dahulu. Baru tuh Ibu ngarep mantu kayak gitu," ketus Habibah semakin kesal.


"Kamu?!" teriak Bu Maryam kehabisan kata-kata.


Bahar yang menyaksikan perdebatan istri dan mertuanya, hanya bisa geleng-geleng kepala. "Ish, belum tentu juga Yandri suka sama perempuan pilihan kalian!" ucap Bahar sembari berlalu pergi.


Bu Maryam dan Habibah hanya bisa saling tatap mendengar ucapan Bahar. Jika dipikirkan lagi, seratus persen benar apa yang dikatakan Bahar. Di antara keduanya, akan sangat sulit untuk mendapatkan perhatian Yandri. Mengingat keduanya telah mempunyai cela di mata Yandri.


Namun, tidak ada salahnya berusaha terlebih dahulu. Siapa tahu hati Yandri berubah saat ini. Siapa tahu Tuhan telah memberikan Yandri hidayah untuk memaafkan dan menerima salah satu di antara mereka. Bukankah Tuhan maha membolak-balikkan hati manusia? Pikir bu Maryam dan Habibah.


"Baiklah, Bu. Sekarang kita akan bersaing secara sehat. Kita serahkan semuanya pada usaha kedua perempuan itu dalam mendekati Yandri. Bibah dukung Siska, dan Ibu dukung Enna. Kita lihat, siapa di antara mereka yang bisa meluluhkan hati Yandri," tutur Habibah.


"Enggak bisa! Pokoknya Ibu tetap dukung Enna. Titik!" pungkas Bu Maryam seraya pergi ke kamarnya.

__ADS_1


"Hmm, kita lihat saja nanti, Bu," guman Habibah, menyeringai.


__ADS_2