Setelah Hujan

Setelah Hujan
Pacar Halal


__ADS_3

Selepas dzuhur, acara jamuan telah selesai. Semua kerabat Bu Salma kembali ke rumahnya masing-masing. Begitu juga dengan Rahmat. Setelah memberikan wejangan kepada adik iparnya, Rahmat pun pamit undur diri.


Kini, rumah Daniar kembali sepi. Daniar dan ibunya membereskan piring kotor bekas jamuan. Sedangkan Yandri membereskan ruang tengah yang sudah tak berbentuk akibat kekacauan yang dibuat anak-anak, ponakan dan sepupu Daniar.


"Sudah, pengantin baru istirahat saja di kamar. Biar aku, Kak Nita sama Kak Roni aja yang beresin semuanya," tukas Danisa, "bukankah Kak Yandri butuh tenaga ekstra buat unboxing nanti malam, ya?" Danisa menggoda kakak iparnya.


Semua orang tampak tergelak mendengar gurauan Danisa. Sedangkan Yandri hanya tersenyum mesem menanggapi gurauan adik ipar bungsunya.


"Apaan sih, Dek!" jawab Daniar tersipu malu.


"Apa yang dibilang adik kamu benar, Niar. Sudah sana, kalian istirahatlah!" perintah Pak Fandi.


"Tapi, Yah."


"Sudah-sudah, jangan membantah lagi. Biar kami yang membereskan semuanya," timpal Bu Salma seraya mendorong punggung pengantin baru tersebut untuk memasuki kamar mereka.


"Ih, Ibu. Apa-apaan sih?" protes Daniar.


"Hmm, Niar ... Ibu juga pernah jadi pengantin, ya. Jadi masuklah!" ucap Bu Salma membuka pintu kamar Daniar yang sudah berpindah tempat ke kamar tamu.


Daniar mengerucutkan bibirnya. Sedangkan Yandri, tersenyum kikuk mendapati pengertian dari sang ibu mertua.


Di kamar.


"Kamu istirahatlah dulu, Yar. Aku mau bersih-bersih ke kamar mandi," ucap Yandri.


"Eh, i-iya Yan," jawab Daniar gugup.


Daniar berdiri dan berjalan menuju meja rias. Dia mengambil kapas dan meneteskan cairan pembersih wajah, untuk membersihkan make up di wajahnya. Setelah itu, Daniar berusaha membuka kancing kebaya di bagian punggungnya.


"Ish, kenapa susah sekali," gumam Daniar masih berusaha keras membuka kancing yang berbanjar rapi dari atas ke bawah.


"Biar aku bantu!"


Tiba-tiba Yandri telah berdiri di belakang Daniar. Perlahan, tangannya mulai membuka kancing kebaya Daniar satu per satu. Jantung Yandri berdetak tak karuan saat dia melihat punggung mulus Daniar.


"Ish, Yan." Daniar meringis perlahan saat jari-jemari Yandri mulai nakal menyusuri punggung itu.


"Iya, Sayang," jawab Yandri, masih asyik menyusuri punggung itu. Bahkan, kini tangan nakalnya mulai membuka pengait bra' berwarna putih milik istrinya.

__ADS_1


"I-ini ma-sih si-siang," jawab Daniar terbata.


"Memangnya kenapa kalau masih siang, Yar?" tanya Yandri yang untuk pertama kalinya memiliki hasrat lebih terhadap seorang wanita.


"A-aku ... aku ma-malu, Yan," gumam Daniar memejamkan matanya. Deru napasnya mulai tak beraturan karena sentuhan tangan jahil sang suami.


Yandri membalikkan tubuh Daniar hingga saling berhadapan. Matanya yang mulai berembun karena kabut gairah, menatap sendu ke arah istrinya.


"Jika aku menginginkan hak aku siang ini, apa kamu akan memberikannya?" tanya Yandri yang mulai serak.


Daniar menundukkan kepala. Entah kenapa dia merasa gugup berhadapan dengan sang suami. Dulu, saat pertama kali Daniar menyerahkan dirinya kepada mantan tunangan, dia sama sekali tidak merasakan debaran jantung seperti ini. Mungkin, karena apa yang mereka lakukan saat itu disertai bisikan syaiton.


Sekarang, bukan hanya kegugupan yang melanda Daniar. Rasa takut dan malu bercampur menjadi satu. Daniar sadar jika dia tidak mampu memberikan yang terbaik untuk Yandri. Daniar takut, jika setelah ini, Yandri akan merasa kecewa dan meninggalkannya. Meskipun Yandri pernah berjanji tidak akan terlalu picik memandang Daniar. Namun, rasa takut itu benar nyata adanya.


"Sayang, kok malah melamun. Apa kamu tidak merasa kasihan pada adikku?" tanya Yandri seraya keningnya menyentuh kening sang istri.


"A-adik?" ulang Daniar, tak mengerti.


"Hem-eh, tuh!" Mata Yandri menunjuk sesuatu yang sudah mengeras sehingga membentuk sebuah tonjolan di celana yang dikenakannya.


"Astaghfirullah!" pekik Daniar. "Ish, suamiku ternyata mesum sekali," ujarnya seraya hendak membalikkan badan.


Brugh!


Tangan Yandri yang tanpa sengaja menyentuh buah kembar milik Daniar, seketika menimbulkan hawa panas di sekujur tubuhnya. Tak ayal lagi, si adik semakin menegang. Yandri mulai bergerilya di sekitar dada istrinya. Tak sampai di sana, dengan cepat dia merubah posisi hingga istrinya telentang di atas kasur.


Daniar memejamkan mata saat sentuhan bibir Yandri mengeksplor bagian wajahnya. Hangat embusan napas beraroma mint, membuat jantung Daniar berdegup kencang. Ya Tuhan, sedekat inikah aku dengan lelaki yang aku kagumi? Rasanya masih seperti mimpi, gumam Daniar dalam hati.


"Yan," ucap Daniar saat menyadari Yandri telah menyibakkan kacamata berenda miliknya.


"Kenapa, Sayang?" tanya Yandri, mengangkat wajah dan menatap istrinya.


"A-aku takut," jawab Daniar dengan bibir bergetar.


"Jangan takut, aku janji aku akan melakukannya dengan perlahan agar tidak sakit."


"Bu-bukan itu, Yan."


"Lalu?"

__ADS_1


"Aku takut kamu kecewa karena aku bukanlah gadis yang u— umphh!"


Sebelum Daniar melanjutkan perkataannya, Yandri membungkam bibir Daniar dengan bibirnya. Ciuman penuh kehangatan dia layangkan untuk wanita itu. Ciuman kedua mereka yang kini mereka lakukan dengan hasrat dan saling mendambakan satu sama lain. Pada akhirnya, ciuman itu berujung dengan penyatuan mereka yang penuh dengan gairah.


.


.


Beberapa minggu telah berlalu. Kesibukan masing-masing membuat pasangan pengantin baru itu harus terpisah untuk beberapa hari. Dalam seminggu, Yandri tinggal di kampung halamannya untuk bekerja. Dia sama sekali tidak bisa keluar dari pekerjaannya sebagai tenaga honorer. Begitu juga dengan Daniar. Dia tidak mungkin melepaskan pekerjaannya. Pada akhirnya, mereka harus bersabar sebelum waktu benar-benar berpihak kepada mereka.


Setiap Kamis sore, Yandri menjemput Daniar di kampusnya. Setelah itu, dia pulang ke rumah Daniar dan menghabiskan waktunya hingga hari Minggu. Di Minggu sore, baru Yandri kembali ke kampung halamannya untuk bekerja.


Kegiatan Yandri yang selalu menjemput dan pulang satu angkot bersama Daniar, sontak menimbulkan kecurigaan bagi teman-teman mereka, tak terkecuali dengan Nida. Karena merasa penasaran, Nida kemudian menghampiri Daniar yang sedang membaca buku di depan kelas.


"Eh, Ni. Gue perhatiin beberapa minggu terakhir, kok, elu makin akrab aja ma dia," ucap Nida seraya menunjuk Yandri yang sedang ngobrol dengan Pak Bekti.


Daniar hanya tersenyum menanggapi ucapan sahabatnya.


"Deuh, bukannya dijawab, malah senyam-senyum gitu," gerutu Nida yang merasa kesal melihat ekspresi Daniar.


"Ya terus, gua harus jawab apa?" tanya Daniar.


"Apa aja deh, yang logis di otak gue, gitu," jawab Nida.


"Hmm, apa ya?" gumam Daniar.


"Iih, nanya sama elu mah kagak jelas banget. Mendingan gua nanya langsung ke orangnya deh. Biar rasa kepo gua terobati," dengus Nida seraya berjalan mendekati Yandri yang sepertinya sudah selesai ngobrol dengan pak Bekti.


"Yan, kita bisa ngobrol bentar nggak?" tanya Nida.


Yandri menoleh. Dia kemudian tersenyum melihat sahabat istrinya itu.


"Boleh, tapi kita ngobrol di sana, ya," jawab Yandri seraya menunjuk bangku yang diduduki Daniar bersama Deni, sahabatnya.


Nida mengangguk. Sejurus kemudian, dia mengekori Yandri yang tengah menghampiri Daniar.


"Kuliahnya sudah beres, Yar?" tanya Yandri seraya duduk di samping Daniar.


Deni yang melihat sikap Yandri yang sedikit lancang terhadap perempuan, sontak terkejut. "Eh, ngapain lo deket-deket cewek? Bukan muhrimnya, sono!" seru Deni seraya menonyor bahu Yandri dari arah belakang Daniar.

__ADS_1


"Hmm, suka-suka aku lah, mau duduk di samping pacar halal aku," jawab Yandri seraya merangkul Daniar sambil mencium pucuk kepalanya.


"Pacar halal?"


__ADS_2