Setelah Hujan

Setelah Hujan
Membawa Khodijah Berobat


__ADS_3

"Gimana, Bun?" tanya Yandri begitu istrinya kembali ke mobil.


"Ini memang rumah pak Dana, orang yang suka mengobati stroke, Yah," jawab Daniar.


"Tapi kok sepi?" tukas Yandri.


"Karena sekarang jadwalnya beliau libur, Yah. Jadi enggak terima pasien," tutur Daniar.


"Terus, kapan jadwal prakteknya?" tanya Yandri lagi.


"Senin, Rabu, Kamis, Jum'at sama Minggu. Tapi khusus untuk hari Jum'at, biasanya beliau praktik setelah dzuhur," papar Daniar.


"Oh, ya sudah. Besok saja kita bawa kak Dijah kemari. Bunda enggak sibuk, kan?" kata Yandri.


"Enggak kok, Yah. Ya sudah, nanti setelah tiba di rumah, Ayah hubungi kang Aji saja. Biar besok pas kita jemput, kak Dijah sudah siap," lanjut Daniar.


"Iya, Bun," jawab Yandri.


Setelah mendapatkan kepastian jadwal praktik, Yandri dan Daniar kembali memasuki mobil. Sedetik kemudian, Yandri menyalakan mesin mobilnya. Mobil pun mulai melaju dan meninggalkan tempat pengobatan alternatif milik orang yang bernama pak Dana.


Waktu sudah semakin sore. Perjalanan hari ini benar-benar melelahkan kedua insan itu. Mereka pun pulang untuk mengistirahatkan tubuhnya.


.


.


Tiba di rumah, Daniar segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Yandri, dia menghubungi kakak iparnya untuk memberitahukan jadwal praktik pengobatan alternatif yang ingin Khodijah kunjungi.


"Jadi, jam berapa kamu mau jemput Akang?" tanya Aji di ujung telepon


"Lebih pagi lebih baik, Kang. Soalnya pasien selalu banyak. Jika kita datang lebih pagi, semoga saja mendapatkan nomor awal," jawab Yandri.


"Ya sudah, bagaimana kalau jam 8 saja, Yan?" kata Aji.


"Ide bagus, Kang. Jam 7 pagi, Yandri sudah jalan dari sini. Jadi Akang enggak harus nunggu lama," sahut Yandri.


"Iya, baiklah," jawab Aji.


"Ya sudah, Aji tutup teleponnya Kang. Assalamu'alaikum!" pungkas Yandri.


Setelah mendengar jawaban salam dari Aji, Yandri kemudian menutup teleponnya.


Drrt... Drrt...


Beberapa detik setelah Yandri menyimpan ponsel, benda pintar itu kembali bergetar. Yandri menautkan kedua alisnya saat mendapatkan nama pak Agus di layar ponsel.

__ADS_1


"Hmm, ada apa pak Agus menelpon?" gumam Yandri.


"Diangkat saja, Yah. Siapa tahu penting," ucap Daniar yang sudah berdiri di belakang suaminya.


"Eh, Bunda. Ngagetin aja," celetuk Yandri.


Daniar tersenyum. "Iya, maaf Yah. Ayo, diangkat teleponnya!" lanjut Daniar.


"Iya-iya. Ih, kok tumben Bunda bawel banget hari ini," tukas Yandri, meledek istrinya.


"Ish, enggak usah mulai deh, Yah," sahut Daniar seraya membulatkan kedua bola matanya, "cepetan angkat!" perintahnya lagi.


Yandri sedikit tergelak. Sesaat kemudian, dia menggeser tombol jawab di layar ponselnya.


"Assalamu'alaikum, Pak!" sapa Yandri.


"Wa'alaikumsalam. Yan, ini Ibu," jawab suara seorang wanita di ujung telepon.


Dahi Yandri berkerut. Sudah sejak lama, semenjak dia mengalami kecelakaan, ibunya baru menelepon kembali. Apa mungkin ibu merindukan aku? batin Yandri yang merasa bersalah karena belum mengunjungi ibunya.


"Eh, Ibu! Apa kabar, Bu?" tanya Yandri.


"Alhamdulillah, kabar Ibu baik-baik saja. Yan, Ibu mau minta tolong sama kamu. Bisa, kan?"


Yandri tertegun. Sedikit kecewa terselip di hati kecil yandri. Dia pikir, sang bunda menelepon karena rindu dan ingin mengetahui kabarnya. Namun, nyatanya dia menelepon hanya untuk meminta bantuan. Astagfirullah! gumam Yandri dalam hati.


"Khodijah sakit, Nak. Dia terkena stroke lagi, dan sepertinya kali ini sangat parah. Kamu tolong bawa dia untuk berobat ya, Yan. Ibu benar-benar tidak tega melihat Khodijah tidak berdaya seperti itu," tutur Bu Maryam.


"Iya, Bu. Ini Yandri baru saja berembuk sama kang Aji. Rencananya, besok kami hendak membawa kak Dijah ke tempat pengobatan alternatif yang ditunjuk pak Agus. Semoga saja berjodoh," jawab Yandri, panjang lebar.


"Kok ke tempat alternatif lagi, Yan!" tukas Bu Maryam, sedikit meninggikan nada bicaranya.


"Maksud Ibu?" tanya Yandri, tak mengerti.


"Kakak kamu itu selalu dibawa berobat ke tempat alternatif, tapi mana hasilnya? Bukannya sembuh, penyakitnya malah bertambah parah. Maunya Ibu, kamu bawalah dia ke rumah sakit. Berobat di sana. Konsultasi sama dokter lah, terapi lah ... pokoknya yang menangani kakak kamu itu harus dokter, bukan dokter abal-abal seperti di tempat alternatif itu!" cerocos Bu Maryam berapi-api.


Yandri menghela napas. Kini dia mulai mengerti alasan apa yang membuat ibunya menghubungi.


Yandri paham, Bu. Tapi Ibu juga harus mencoba memahami keadaan kang Aji. Tidak mungkin kang Aji membawa kak Dijah ke dokter tanpa persiapan materi. Ibu, 'kan tahu jika jaminan kesehatan dari pemerintah itu hanya alakadarnya saja. Lagi pula, kang Aji masih memiliki kebutuhan lain selain berobat kak Dijah," tutur Yandri, memberikan pengertian kepada ibunya.


"Alah, si Aji itu memang selalu banyak alasan! Dia bukannya tidak mampu membawa Dijah ke dokter. Dia hanya malas saja mencari uang lebih untuk biaya ke dokter. Kamu, 'kan tahu sendiri kalau si Aji itu orangnya pelit," tukas Bu Maryam semakin terdengar emosi.


"Ish, Ibu. Kang Aji itu sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarganya," ucap Yandri, membela kakak iparnya.


"Yang terbaik apanya? Orang kakak kamu sakit saja cuma dibawa ke dukun kampung!" dengus Bu Maryam kesal.

__ADS_1


"Kang Aji sudah membawa kak Dijah ke dokter, Bu. Ke puskesmas, bahkan pernah juga ke rumah sakit. Tapi untuk penyakit stroke, memang perlu waktu untuk sembuh. Asalkan kak Dijah punya semangat sembuh, Insya Allah dia bisa sembuh. Ibu tolong mengerti dulu kondisi kang Aji. Jangan tambah lagi beban dia dengan tuntutan Ibu," nasihat Yandri kepada ibunya.


"Ya makanya Ibu hubungi kamu, karena Ibu juga mengerti keadaan ipar kamu yang enggak ada gunanya itu. Pokoknya, Ibu enggak mau tahu. Ibu minta, besok kamu bawa kakak kamu ke rumah sakit. Enggak usah ngikutin keinginan si Aji buat ke tempat-tempat gituan lagi. Ngerti kamu!" tekan Bu Maryam.


"Tapi, Bu. Yandri enggak pu–"


Tut-tut-tut!


Yandri hanya bisa menarik napas panjang saat ibunya memutus sambungan telepon tanpa ingin mendengar penjelasan darinya.


.


.


Keesokan hari.


Seperti yang sudah disepakati, pukul 7 pagi Yandri dan Daniar meluncur menuju rumah Khodijah. Tiba di ujung gang, Yandri sudah mendapati Khodijah sedang duduk di beranda rumah tetangganya. Yandri dan Daniar keluar dari mobil.


"Apa sudah siap, Kang?" tanya Yandri begitu tiba di hadapan kakak dan kakak iparnya.


"Sudah, Yan. Apa kita akan berangkat sekarang?" tanya Aji.


"Iya, lebih baik sekarang saja, Kang. Kasihan juga kalau kak Dijah harus menunggu lama," jawab Yandri.


Aji mengangguk. Dia kemudian menggendong Khadijah dan memasukannya ke dalam mobil. Saat semuanya sudah siap, Yandri kemudian melajukan mobilnya.


Setelah melewati 1,5 jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di tempat pengobatan alternatif milik pak Dana, orang yang cukup termasyhur di kampung Yandri karena telah berhasil membantu memulihkan beberapa pasien stroke. Meskipun pada hakikatnya, yang memberikan kesembuhan itu hanyalah Allah SWT.


Sepertinya, keberuntungan ada di pihak Yandri. Begitu tiba di tempat, Khodijah adalah pasien pertama yang berkunjung.


"Assalamu'alaikum!" sapa Yandri.


"Wa'alaikumsalam!" jawab suara seorang laki-laki dari dalam rumah.


Begitu pintu depan terbuka, tampak seorang pria berusia 45 tahunan, berdiri di ambang pintu.


"Maaf, dengan Pak Dana?" tanya Yandri kepada pria tersebut.


"Benar, saya sendiri," jawab pria yang ternyata bernama Pak Dana, "ada yang bisa saya bantu?" lanjut Pak Dana.


"Iya, Pak. Saya hendak berikhtiar untuk kesembuhan kakak saya. Sudah hampir setahun kakak saya mengalami stroke. Dulu sempat sembuh, tapi sekarang terserang kembali," tutur Yandri.


"Ah, ya. Silakan pasiennya dibawa masuk saja dulu," perintah Pak Dana.


Yandri mengangguk. Dia kembali ke mobilnya untuk membantu Aji membawa Khodijah ke dalam rumah. Setelah beberapa menit yang cukup susah, akhirnya mereka memasuki rumah Pak Dana.

__ADS_1


"Baringkan saja di sana!"


__ADS_2