
Keesokan harinya, dengan berat hati Yandri harus kembali meninggalkan Daniar sendirian di rumah. Awalnya, Yandri berniat untuk mengambil cuti hari ini. Namun, karena kejadian semalam, Yandri terpaksa masuk kerja untuk mencari biaya USG sang istri.
Tiba di sekolah, Yandri menemui Pak Agus, bendahara sekolah. Dia kemudian mengajukan pinjaman kepada Pak Agus. Sayangnya, pinjaman Yandri ditolak dengan alasan Yandri masih memiliki sisa utang yang belum dilunasi.
"Loh, bukannya bulan yang lalu gaji saya sudah dipotong untuk melunasi sisa utang kak Habibah, 'kan, Pak?" kata Yandri.
"Benar Pak Yan, tapi seminggu yang lalu Bik Maryam meminjam uang lagi. Katanya untuk biaya kelulusan Raihan," jawab Pak Agus.
Yandri terkesiap mendengar jawaban Pak Agus. Kenapa ibu berani meminjam tanpa bertanya terlebih dahulu padaku? Dan ... bukankah dua minggu yang lalu aku sudah memberikan uang untuk kelulusan Raihan kepada ibu? Ish, kenapa ibu berbohong? batin Yandri dipenuhi berbagai pertanyaan tentang diri ibunya.
"Ya sudah kalau begitu, Pak. Saya masuk kelas dulu," pamit Pak Agus.
"I-iya, Pak. Silakan," balas Yandri.
Setelah Pak Agus pergi, Yandri menyandarkan punggung seraya menengadahkan wajah. Matanya menatap kosong langit-langit ruang guru. Dia benar-benar bingung harus mencari uang ke mana lagi.
"Kak Aminah? Ya, akan aku coba pinjam uang kepada kak Aminah. Bukankah dulu sisa penjualan motor masih aku titipkan pada kak Aminah?" gumam Yandri.
Seolah mendapat secercah harapan, dengan penuh semangat Yandri pergi ke kelasnya untuk mengajar.
.
.
Daniar masih merebahkan tubuh di atas kasur. Wajahnya semakin terlihat cemas. Sejak semalam, dia sama sekali tidak merasakan pergerakan bayinya. Rasa takut mulai menyergap Daniar. Ya, dia takut jika harus kehilangan bayinya.
Tok-tok-tok!
"Assalamu'alaikum, Kak Niar!"
Terdengar ketukan pintu yang disertai salam dari depan rumah. Daniar yakin jika yang datang itu adalah adiknya. Dia kemudian bangun dan segera beranjak menuju pintu depan.
"Wa'alaikumsalam," jawab Daniar sambil membukakan pintu. Sejurus kemudian, Daniar dan Danita saling berpelukan.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Kak?" tanya Danita setelah melepaskan pelukannya.
"Duduk dulu, Dek," ajak Daniar.
Danita mengangguk. Sedetik kemudian, mereka berdua memasuki rumah dan duduk di sofa ruang tamu.
"Kakak sendiri enggak tahu, Dek. Tiba-tiba saja kak Ilham memukuli kang Yandri tanpa sebab," ucap Daniar menjawab pertanyaan adiknya.
__ADS_1
"Lagian, kakak ngapain tidur di sana? Bukankah kak Niar tahu kondisi kak Ilham tuh seperti apa?" ucap Danita seolah menyalahkan tindakan Daniar yang menurutnya sangat gegabah.
"Sudahlah Dek, enggak usah dibahas lagi. Ini sudah takdir Allah untuk Kakak sama kang Yandri juga," jawab Daniar.
"Ngomong-ngomong, ke mana bang Yandri? Kok rumah kelihatan sepi banget," ujar Danita.
"Kang yandri kerja, Dek. Siapa tahu hari ini ada rezeki buat USG," jawab Daniar.
"USG? Jadi Kak Niar belum USG?" tanya Danita.
Daniar menggelengkan kepalanya.
"Ya Tuhan, Kak. Kenapa?" tanya Danita lagi.
"Kang Yandri belum punya uang, Dek," jawab Daniar.
"Astaghfirullah ... ya sudah, sebaiknya Kakak siap-siap ganti baju. Sekarang juga Nita antar ke rumah sakit buat USG," kata Danita.
"Enggak usah Dek, nanti saja nunggu kang Yandri pulang," tolak Daniar.
"Ish, enggak bisa gitu, Kak. Saat ini, Kakak wajib melakukan USG. Terlebih lagi setelah insiden semalam. Nita enggak mau sesuatu terjadi pada keponakan Nita. Ayo, Nita bantu siap-siap," tukas Danita.
"Ta-tapi, Kakak belum punya uang, Dek," cicit Daniar.
Daniar pun beranjak dari kursinya. Sejurus kemudian, dia memasuki kamar untuk berganti pakaian. Sedangkan Danita, dia pergi ke luar untuk menelepon suaminya.
.
.
Sepulang sekolah, Yandri pergi ke rumah kakaknya. Niatnya, untuk menanyakan uang sisa penjualan motornya dulu. Saat motor itu mengalami kerusakan setelah tabrakan oleh kakak iparnya.
Pukul setengah tiga sore, Yandri tiba di rumah Aminah. Tanpa ingin berbasa-basi, Yandri pun mengutarakan niatnya. Namun, sikap Aminah ternyata jauh di luar dugaan Yandri. Dia sama sekali tidak menerima sisa pembayaran uang motor tersebut, karena si pembeli sudah membayarkannya kepada sang adik.
"Tapi siapa, Kak? Yandri sama sekali tidak menerima sisa pembayaran dari pak Joko," tukas Yandri, kebingungan.
"Loh, bukannya tempo hari Yoga datang untuk mengambil sisa uangnya? Katanya dia disuruh kamu untuk mengambil uang tersebut," jawab Rahmat.
Yandri bergeming. Ya, dulu Yoga pernah datang untuk meminjam uang. Namun, karena dia tidak punya uang, dia hanya bilang jika dia sedang menunggu sisa pembayaran motor dari Pak joko. Siapa sangka jika Yoga ternyata menemui pak Joko untuk mengambil sisa uang tersebut.
"Memangnya, untuk apa kamu pinjam uang sebanyak itu, Yan?" tanya Aminah.
__ADS_1
"Daniar terkena musibah, Kak. Kami hendak melihat perkembangan si kecil di perut Daniar. Takut jika kandungan Daniar mengalami sesuatu," jawab Yandri.
"Memangnya Daniar jatuh?" timpal Rahmat.
Yandri yang tidak ingin mengumbar aib kerabat istrinya, hanya bisa mengatakan iya, menjawab pertanyaan kakak iparnya.
"Sudah, tidak usah di USG segala. Kamu bawa aja istri kamu ke dukun beranak, biar dibenerin sekalian posisi bayinya," usul Rahmat.
Yandri hanya bisa menghela napas saat mendengar saran dari kakak iparnya.
'Kalau begitu, bolehkah Yandri pinjam motor sebentar, Kang?" tanya Yandri, berharap
"Memangnya kamu mau ke mana?" tanya Aminah.
"Yandri mau coba cari pinjaman ke bu Aisyah, Kak."
"Maaf, Yan. Sita melarang Akang untuk meminjamkan motor itu kepada siapa pun. Akang minta maaf karena tidak bisa membantu kamu, pungkas Rahmat seraya berlalu pergi memasuki kamarnya.
Astaghfirullahaladzim! batin Yandri.
.
.
Dengan diantarkan mobil dari kantor Roni, akhirnya Danita mengajak Daniar ke rumah sakit. Setelah mengantre cukup lama, nama Daniar pun akhirnya dipanggil.
Danita memapah daniar memasuki ruang pemeriksaan. Setelah ditanyai beberapa hal, Daniar disuruh berbaring. Sesaat kemudian, dokter mulai memeriksa kandungan Daniar.
"Ada sedikit memar di dinding rahim Ibu," kata dokter itu seraya menunjuk layar komputer yang menampilkan bagian dalam perut Daniar.
"Lalu, bagaimana kondisi janinnya, Dok. Kakak saya bilang jika sejak semalam dia tidak merasakan pergerakan sang baby. Apa baby-nya baik-baik saja?" tanya Danita yang begitu cemas mendengar kondisi sang kakak.
"Bayinya baik-baik saja. Kondisi di mana sang ibu tidak merasakan pergerakan bayi, mungkin karena dipengaruhi stress saja. Karena telah mengalami kejadian buruk, sugesti Ibu pun negatif. Karena itu Ibu berpikiran yang tidak-tidak. Saran saya, apa yang sudah menimpa Ibu, jangan dijadikan pikiran. Ibu harus memiliki pikiran yang baik, supaya bisa menjadi energi positif bagi perkembangan janin Ibu," ucap Dokter Yunita.
"Tuh, denger itu, Kak. Enggak usah banyak pikiran, biar Kakak sama anak Kakak sehat." ucap Danita. "Lalu, luka memar di dinding rahimnya, apa berbahaya, Dok?" tanya Danita lagi kepada Dokter Yuni.
"Tidak apa-apa, nanti juga sembuh sendiri. Sering-sering saja dikompres di bagian perut yang tertendang dengan menggunakan air hangat. Nanti juga hilang," jawab dokter Yuni.
"Oh, begitu ya, Dok."
Dokter Yuni kemudian membersihkan bekas gel bening di perut Daniar. sesaat setelah selesai, dia kembali ke meja kerjanya.
__ADS_1
"Ini saya beri resep vitamin untuk ibu hamil. Ibu bisa menebusnya di apotek rumah sakit. Semoga lekas sembuh ya, Bu," kata Dokter Yuni seraya menyerahkan secarik kertas kepada danita.
Baik, Dok. Terima kasih. Kalau begitu saya permisi dulu."