Setelah Hujan

Setelah Hujan
Keputusan Bu Maryam


__ADS_3

Waktu terus berlalu. Tanpa terasa, sepuluh bulan sudah, Daniar lalui hidup di perantauan. Suka dan duka dia lalui bersama suaminya. Meskipun hidup pas-pasan, tapi Daniar cukup senang dengan apa yang dia miliki. Semuanya dia terima dengan lapang dada. Yang terpenting, tidak ada lagi kalimat-kalimat sindiran yang harus dia dengar dari pihak keluarga suaminya. Bahkan, setelah sepuluh bulan merantau, tak sekali pun ibu mertuanya datang ke tempat dia. Entahlah, Daniar sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Namun, Daniar selalu menyuruh suaminya agar menengok sang ibu jika ada waktu luang.


Seperti hari Minggu ini. Daniar dan Yandri menyusuri jalan setapak menuju rumah ibunya. Di pertigaan jalan, dia berpapasan dengan salah seorang warga yang sudah lama bekerja di kota. Orang itu bernama Ibu Ningsih, orang yang bekerja di kota sebagai asisten rumah tangga.


"Pak Yandri, tunggu!" panggil Bu Ningsih.


Yandri dan Daniar menghentikan langkahnya. Mereka kemudian menunggu Bu Ningsih yang sedang berjalan mendekat.


"Apa kabar, Pak?" sapa Bu Ningsih.


"Alhamdulillah, kabar saya baik, Bu. Ibu sendiri?" balas Yandri.


"Alhamdulillah, baik. Ini toh istrinya? Cantik ya," puji Bu Ningsih kepada Daniar.


Daniar hanya tersenyum menanggapi pujian Bu Ningsih.


"Berapa tahun usia anaknya, Bu?" Ibu Ningsih kembali bertanya.


"Baru satu tahun, Bu," jawab Daniar.


"Alhamdulillah. Sehat ya?" ucap Bu Ningsih seraya mencubit gemas pipi Bintang yang tembem.


"Alhamdulillah, Bu." Kembali Daniar menjawab.


"Oh ya ngomong-ngomong Pak Yan, apa Pak Yan sudah mengizinkan ibunya untuk bekerja?" tanya Bu Ningsih. "Jika memang sudah, kemungkinan lusa kami akan berangkat lagi ke kota," lanjutnya.


Yandri yang memang tidak tahu apa-apa, hanya bisa menautkan kedua alisnya. Dia tidak mengerti ke mana arah pembicaraan tetangga ibunya itu.


"Maaf, Bu. Memangnya, siapa yang mau bekerja?" tanya Yandri.


"Loh, memangnya Pak Yandri enggak tahu? Bukankah beberapa hari yang lalu bu Maryam bilang akan berdiskusi dengan anak-anaknya terlebih dahulu? Emm, sejauh yang saya tahu sih, anak-anak bu Maryam tidak keberatan jika bu Maryam ikut saya bekerja di kota. Hanya sa–"


"Apa?! Ibu kerja?" pekik Yandri memotong kalimat Bu Ningsih.


Kini, Bu Ningsih yang giliran tidak mengerti dengan reaksi Yandri. Dia pun akhirnya menyadari jika Yandri mungkin belum tahu apa-apa tentang rencana bu Maryam.


"Maaf, Pak. Lupakan saja pertanyaan saya. Kalau begitu, saya permisi dulu. Mari Pak, Bu!" pamit Bu Ningsih dengan terburu-buru.


"Ish, dasar bodoh. Seharusnya aku enggak menghentikan Yandri tadi," gerutu Bu Ningsih sepanjang jalan.


"Ibu tadi siapa sih, Yah?" tanya Daniar saat mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah ibunya Yandri.

__ADS_1


"Tetangga," jawab singkat Yandri.


"Oh." Hanya itu yang keluar dari bibir Daniar.


Sepanjang perjalanan, Yandri dan Daniar hanya membisu. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.


.


.


Tak berapa lama kemudian, mereka tiba di kediaman Bu Maryam.


"Assalamu'alaikum!" sapa Yandri seraya mengetuk pintu rumah ibunya.


Namun, tak ada sahutan dari dalam rumah. Yandri kemudian mengayunkan langkahnya menuju halaman belakang. Sedangkan Daniar, wanita itu mendaratkan bokongnya di teras depan karena merasa lelah menggendong Bintang.


"Assalamu'alaikum, Bu!" Yandri kembali mengucapkan salam.


"Wa'alaikumsalam," terdengar jawaban dari dapur. Hmm, rupanya Bu Maryam sedang berada di dapur. Pantas saja dia tidak menyahuti salam pertama Yandri.


Yandri membuka pintu belakang. Dia melihat ibunya sedang duduk di depan tungku api. Rupanya dia sedang memasak.


Bu Maryam terlihat senang begitu melihat putra yang dirindukannya. Dia kemudian berdiri untuk memeluk Yandri.


"Mereka ada di depan, Bu," jawab Yandri. "Mohon maaf, Bu. Dua minggu terakhir ini, banyak sekali pekerjaan di sekolah. Karena itu Yandri baru bisa mengunjungi ibu sekarang," lanjut Yandri.


"Iya, tidak apa-apa Nak. Ya sudah, cepat buka pintu depan, suruh anak dan istri kamu masuk. Kasihan, mereka pasti kelelahan setelah berjalan jauh," perintah Bu Maryam.


Yandri mengangguk. Sedetik kemudian, dia pergi ke ruang depan untuk membukakan pintu. Sedangkan Bu Maryam buru-buru mengangkat masakannya yang memang sudah matang. Setelah itu, dia memindahkannya ke dalam mangkuk dan membawanya ke depan.


"Halo Bintang, cucu Nenek ... apa kabar, Sayang?" sapa Bu Maryam kepada cucunya.


Bintang yang masih berada di luar, malah mendekati dan memeluk erat ibunya.


"Eh, Bintang salim dulu sama Nenek, sana," ujar Daniar seraya meraih tangan anaknya.


Namun, bocah kecil itu malah menyusupkan wajah ke dalam pinggang ibunya.


"Ya sudah kalau tidak mau salam, tidak apa-apa. Masuk aja, yuk!" ajak Yandri sambil memangku putrinya memasuki rumah.


Namun, saat mereka tiba di ruang tengah, tiba-tiba Bintang menangis histeris. Kedua tangannya meronta mencoba menggapai sang ibu.

__ADS_1


Daniar hanya bisa menghela napas. Dia kemudian mengambil alih Bintang dan kembali membawanya ke luar. Ajaibnya, tiba di teras rumah, tangis Bintang pun reda.


Kamu kenapa sih, dek? Tiap main ke rumah Nenek, pasti enggak mau dibawa masuk rumah, keluh Daniar dalam hatinya. Pada akhirnya, mau tidak mau daniar bermain di luar agar anaknya tidak menangis lagi.


Di dalam rumah. Yandri menyerahkan amplop putih sebagai bukti baktinya kepada sang ibu.


"Apa ini, Nak?" tanya Bu Maryam saat Yandri menyerahkan sebuah amplop kepadanya.


"Ini sisa gaji Yandri, Bu. Buat Ibu," jawab Yandri.


Bu Maryam tersenyum. 'Terima kasih, Nak."


"Oh iya, Bu. Tadi Yandri ketemu sama bu Ningsih. Beliau berbicara tentang pekerjaan di kota. Itu maksudnya apa, ya Bu. Jujur Yandri enggak ngerti."


Bu Maryam menarik napasnya panjang, sedetik kemudian, wanita tua itu mengembuskan napasnya dengan perlahan.


"Iya, Yan. Rencananya Ibu mau ikut Ningsih buat kerja. Kebetulan, majikan Ningsih membutuhkan beberapa orang pekerja lagi untuk putra-putrinya," jawab Bu Maryam.


Jujur, yandri sangat kaget mendengar jawaban ibunya. Di usianya yang sudah renta, bagaimana bisa ibunya memiliki keinginan bekerja di ibu kota seperti itu. Menjadi asisten rumah tangga lagi.


Mohon maaf, Bu. Tapi kenapa Ibu memiliki keinginan untuk bekerja? Ibu ini sudah berumur, sudah sering sakit-sakitan, loh. Menjadi asisten rumah tangga di ibu kota itu, tidak seperti menjadi asisten rumah tangga di sini, Bu? Yandri enggak izinin Ibu kerja, ah. Yandri enggak mau Ibu kecapean," tutur Yandri.


"Terus kalau kamu enggak izinin Ibu kerja, apa kamu sanggup memenuhi kebutuhan Ibu? Enggak usah sok jadi pahlawan, hidupin istri sendiri aja masih pas-pasan, sekarang sok ngelarang Ibu kerja. Memangnya Ibu enggak butuh biaya hidup?" tukas Habibah yang sudah berdiri di ambang pintu dapur.


Yandri hanya bisa melongo mendengar ucapan sang kakak. Dia tidak habis pikir, kenapa bisa-bisanya Habibah berbicara seperti ini? Apa ini artinya, Habibah tidak keberatan dengan rencana bekerja ibunya?


"Yandri akui, Yandri memang enggak pernah bisa memberikan lebih. Tapi jika hanya untuk makan Ibu sehari-hari, Yandri pikir apa yang Yandri kasih, itu sudah cukup," balas Yandri


"Memangnya kamu pikir, kebutuhan Ibu itu hanya makan doang?" hardik Habibah.


"Tapi, Kak. Anak ibu itu bukan hanya Yandri. Sekali-sekali, tolonglah kakak dan saudara yang lainnya, perhatikan kebutuhan Ibu. Yandri yakin, kalau kita bergotong royong, semua kebutuhan Ibu pasti tercukupi." Kali ini, nada bicara Yandri mulai naik. Hingga membuat Daniar menoleh ke dalam rumah.


"Cukup-cukup! Kalian tidak usah berdebat lagi. Apa yang dikatakan kakakmu benar, Yan. Ibu juga masih memiliki banyak kebutuhan. Dan apa yang dikatakan adik kamu juga benar, Bibah. Ibu begitu banyak memiliki anak. Tapi entah kenapa, hanya Yandri yang selalu menyisihkan sebagian rezekinya untuk Ibu. Namun, Ibu tidak akan menyalahkan kalian. Mungkin ini sudah takdir yang harus Ibu jalani. Satu hal yang harus kalian tahu. Keputusan Ibu sudah bulat. Lusa Ibu akan berangkat ke kota. Kalian cukup do'akan saja, agar Ibu selalu sehat di sana. Paham!"


Setelah mengutarakan maksudnya dengan panjang lebar, Bu Maryam pun pergi ke kamar untuk berkemas.


Habibah mendengus kesal. Sejurus kemudian, dia kembali ke rumahnya. Sedangkan Yandri, pria jangkung itu hanya bisa menyandarkan punggung seraya mengusap kasar wajahnya.


Ya Tuhan ... seandainya anak-anak ibu bisa lebih memperhatikan kebutuhan beliau, tentunya semua ini tidak akan terjadi. Ish, apa yang harus aku lakukan? batin Yandri.


"Yah!"

__ADS_1


Panggilan Daniar membuat Yandri terhenyak. Sejurus kemudian, Yandri beranjak dari sofa dan menghampiri istrinya.


"Kita pulang, Bun!"


__ADS_2