
Keesokan harinya. Notifikasi e-mail di ponsel Yandri berbunyi. Yandri segera membukanya untuk mengetahui isi dari e-mail tersebut. Dan ternyata, apa yang dikatakan Daniar memang benar. Hari ini pengumuman kelulusan sudah sampai via e-mail.
Sujud syukur, Yandri lakukan atas pencapaiannya. Di antara 32 peserta, dia menjadi peserta yang paling tinggi nilai ujiannya. Dan dari ke-32 peserta yang mengikuti tes, hanya 25 orang saja yang mendapatkan kesempatan untuk menjadi tenaga pengajar di sekolah asrama tersebut.
"Tiga hari lagi Ayah harus bekerja di luar kota, Bun," ucap Yandri saat mereka sedang sarapan.
"Ayah sudah pamitan ke sekolah?" tanya Daniar.
"Hari ini rencananya Ayah mau pamitan ke sekolah, sama ke anak-anak juga, Bun. Hhh, rasanya berat banget meninggalkan mereka," jawab Yandri.
Daniar mengusap bahu suaminya. "Sabar, Yah," ucapnya.
Daniar paham betul perasaan suaminya saat ini. Laki-laki itu tentunya sedang bersedih saat harus meninggalkan tempat kerja, rekan kerja dan anak didiknya. Bukan setahun dua tahun Yandri bekerja di sana, tapi 14 tahun. Tentunya akan sangat sulit bagi Yandri untuk melupakan kebersamaan dirinya dengan tempat itu.
.
.
Tiba di sekolah, Yandri mengutarakan maksudnya untuk berpamitan kepada kepala sekolah.
"Jadi, Pak Yandri tega meninggalkan sekolah ini?" tanya Bu Aisyah selaku atasannya.
Sebenarnya, Bu Aisyah pribadi merasa keberatan dengan keputusan yandri. Ya, Yandri itu ibarat jantung di sekolah. Dia seorang operator sekolah. Kinerjanya juga sangat bagus. Namun, meskipun keberatan, Bu Aisyah juga tidak bisa mencegah keputusan Yandri untuk pindah kerja. Bu Aisyah menyadari kekurangan lembaga dalam mensejahterakan personelnya.
"Maaf, Bu. Tidak bisa saya pungkiri jika saya membutuhkan materi lebih untuk mencukupi kebutuhan keluarga saya. Semoga saja, di tempat lain saya bisa mendapatkan apa yang tidak bisa saya dapatkan di sini, Bu," ucap Raihan.
Bu Aisyah menghela napasnya. "Iya, Pak. Saya sendiri menyadari ketidaktanggapan ketua yayasan dalam mensejahterakan para guru di sini. Namun, saya juga tidak bisa berbuat apa-apa. Saya hanya bisa mendoakan semoga Bapak bisa mendapatkan apa yang Bapak cita-citakan di tempat baru," ucap tulus Bu Aisyah.
"Aamiin, Bu."
Setelah berpamitan kepada atasannya, Yandri memasuki ruang guru. Dia berpamitan kepada rekan-rekan kerjanya. Rasa haru menyelimuti ruangan itu. Hubungan Yandri dan sesama guru di sana, tidak hanya sekadar hubungan rekan kerja saja, tapi juga sudah seperti saudara. Karena itu rasa kehilangan sudah bisa mereka rasakan di saat Yandri berpamitan.
Begitu juga dengan suasana di kelasnya. Tangisan anak didiknya terdengar sampai ke kelas lain. Membuat para siswa bertanya-tanya, ada apa gerangan di kelas 5? Para siswa yang merasa penasaran pun berhamburan mengunjungi kelas Yandri. Dan mereka pun ikut menangis saat mengetahui guru yang senang bergurau itu hendak pindah dari sekolah ini.
"Apa nanti kita akan bertemu lagi, Pak?" tanya Sandi.
"Insya Allah, Nak. Jika Tuhan menghendaki, kita pasti akan bertemu kembali," jawab Yandri.
__ADS_1
"Kami akan sangat merindukan Bapak. Apa Bapak juga akan merindukan kami?" tanya Ainun.
"Hmm, tentu saja ... Bapak pasti akan sangat merindukan kalian." Yandri kembali menjawab pertanyaan muridnya.
Satu per satu, anak-anak didik itu memberikan pelukan sebagai salam perpisahan.
.
.
Menjelang asar, Yandri tiba di rumah. Matanya terlihat merah dan suaranya terdengar serak. Daniar tak ingin banyak bertanya tentang acara perpisahan Yandri di sekolah. Dia tidak ingin membebani perasaan suaminya lagi.
"Makan dulu, Yah?" tawar Daniar seraya membuka tudung saji dan menyiapkan nasi untuk suaminya.
Yandri tersenyum, "Iya, Bun. Kebetulan perut Ayah lapar," jawabnya.
Daniar menyendok gulai ikan nila kesukaan suaminya. Lalu menghidangkan di hadapan Yandri yang sudah duduk manis di ruang makan.
"Tumben Bunda masak ikan?" tanya Yandri yang mengetahui jika istrinya anti makan ikan.
"Jangan ngeledek, Yah. Ini Bunda lagi belajar juga masak ikan. Ya mau sampai kapan Bunda menghindari ikan jika suaminya doyan makan ikan," jawab Daniar.
"Hmm, mangkanya kalau sampai Ayah ngeledek ini masakan, itu namanya kebangetan," celetuk Daniar.
Yandri hanya terkekeh mendengar ucapan istrinya.
"Oh iya, Yah. Ngomong-ngomong, apa Ayah sudah bilang sama ibu kalau ayah pindah kerja?"
"Uhuk-uhuk!"
Mendengar pertanyaan Daniar tentang ibunya, seketika Yandri tersedak. Memang sudah lama dia belum mengunjungi sang ibu. Dan Yandri pun belum berniat mengunjungi ibunya dalam waktu dekat ini. Entahlah, masih ada rasa sesak yang tersisa jika dia melihat lahan di depan rumah yang dijual murah kepada tetangganya itu.
"Yah, kok diam? Ibu sudah tahu, 'kan kalau Ayah pindah kerja?" Kembali Daniar bertanya.
"Bun, kita ganti topik pembicaraan, ya? Ayah sedang tidak ingin membahas tentang ibu," pinta Yandri, membuat Daniar mengerutkan keningnya.
Namun, Daniar bisa melihat kekecewaan di raut wajah suaminya. Ah, entah apa lagi yang terjadi di sana. Daniar pun enggan bertanya lagi.
__ADS_1
Malam harinya, Daniar menghampiri Yandri yang tengah asyik duduk di teras depan. Matanya menatap hamparan langit hitam bertabur bintang. Sinar rembulan terlihat redup terhalang awan. Daniar pun duduk di kursi satunya lagi.
"Ada apa, Yah?" tanya Daniar yang mengetahui jika suaminya sedang tidak baik-baik saja.
Yandri menoleh. "Belum tidur, Bun?" Bukannya menjawab pertanyaan Daniar, Yandri malah balik bertanya.
"Enggak bisa tidur, enggak ada guling hidup, hehehe,..." canda Daniar.
Yandri tersenyum lebar. "Bisa aja kamu, Bun.
Mentang-mentang mau ditinggalin, pengennya deket-deket terus, ya." Yandri membalas candaan istrinya.
"Kalau memang ada kesempatan, kenapa tidak?" jawab Daniar manja.
Yandri mulai terkekeh melihat sikap manja sang istri. "Kemarilah!" kata Yandri seraya menepuk pahanya.
Daniar beranjak dari kursi. Dia pun duduk di pangkuan Yandri. "Kenapa? Ayah kangen, ya?" tanya Daniar seraya mengerlingkan mata.
Yandri tidak menjawab. Dia hanya memeluk tubuh istrinya dengan erat. Daniar pun melingkarkan kedua tangannya di leher Yandri.
"Kenapa, Yah? Apa ada yang sedang Ayah pikirkan saat ini? Kenapa saat Bunda bertanya tentang ibu, ayah terlihat kecewa?" tanya beruntun Daniar.
Yandri menghela napas. Dia kemudian menceritakan semua kebenaran tentang keluarganya. Tentang sikap Raihan dan juga ibunya.
"Ayah benar-benar tidak menyangka, Bun. Ternyata Raihan mampu mengkhianati kepercayaan yang Ayah berikan," tutur Yandri.
"Jujur saja, Yah. Bunda sudah bisa menebak sifat Raihan jauh sebelum Ayah mengetahuinya," balas Daniar.
"Kenapa Bunda tidak memberi tahu Ayah?" tanya Yandri.
"Karena Bunda tahu, Ayah tidak akan mempercayai kata-kata Bunda. Lagi pula, tidak ada untungnya Bunda membongkar aib seseorang. Bunda hanya yakin jika suatu hari nanti, kebenaran pasti akan terungkap," jawab Daniar.
"Maafkan Ayah, Bun."
"Sudahlah Yah, semuanya telah berlalu. Bunda bersyukur, pada akhirnya Ayah mengetahui semua kebenaran itu."
"Ayah juga kecewa sama ibu yang selalu memenuhi keinginan Raihan, hingga anak itu tidak bisa bersikap dewasa. Atas permintaan Raihan, ibu bahkan sampai menjual sebidang tanah dengan harga di bawah standar. Padahal, saat Ayah ingin membelinya, ibu sama sekali tidak memberikannya. Ayah benar-benar kecewa, Bun. Karena itu Ayah belum siap untuk menemui ibu," tutur Yandri.
__ADS_1
"Tapi Yah, bagaimanapun juga, restu ibu itu sangat penting dalam setiap langkah Ayah. Sebaiknya, Ayah kikis dulu kekecewaan Ayah dan temui ibu untuk meminta restu. Supaya pekerjaan Ayah dimudahkan." Daniar memberikan saran kepada suaminya.
"Ya sudah, besok kita temui ibu untuk meminta restu."