
Akhirnya, waktu itu tiba juga. Daniar dan Yandri memulai hidup barunya di sebuah tempat yang disediakan pihak sekolah sebagai rumah dinas untuk guru. Ya, meskipun tidak layak disebut sebuah rumah dinas. Namun, Daniar sudah sangat bersyukur. Tekadnya untuk belajar hidup mandiri dalam membina rumah tangga, membuat Daniar harus bisa ikhlas menerima keadaan. Meskipun sulit, tapi selama masih ada suami dan anaknya, Daniar yakin jika hidup yang dia lewati, pasti baik-baik saja.
"Memangnya siapa yang akan menjaga anak kalian, kalau nanti kalian sedang mengajar?" tanya Bu Maryam saat Daniar diajak Yandri untuk berpamitan ke rumah ibunya.
"Niar, 'kan cuma ngajar bidang, Bu. Nanti Niar bisa titipkan Bintang sama guru yang tidak ada jadwal ngajar. Lagi pula, Niar dan kang Yandri sudah sepakat untuk menjaga Bintang secara bergantian," jawab Daniar.
"Huh, menyusahkan saja!" dengus Bu Maryam terlihat kesal, "memang, apa salahnya kamu menitipkan Bintang di sini? Kamu enggak percaya, kalau Ibu bisa ngasuh anak kamu?" lanjut Bu Maryam.
"Maaf, Bu. Daniar tidak pernah punya pikiran seperti itu. Daniar hanya tidak mau merepotkan Ibu saja," jawab Daniar.
"Apa bedanya merepotkan Ubu, merepotkan suami kamu, sama merepotkan guru-guru di sekolah kamu, Niar. Mbok ya, kalau mau bikin keputusan tuh, dipikirkan dulu. Jangan ngasal seperti itu," tegur Bu Maryam.
Ya Tuhan ... seharusnya dia bersyukur kalau aku tidak ingin merepotkan dia. Tapi kenapa dia malah banyak mengeluh seperti ini? Maksudnya apa, coba? Uuh, setiap yang aku lakukan, pasti selalu salah di matanya. Astaghfirullah ... gumam Daniar dalam hatinya.
"Kang, sepertinya Bintang ngantuk, kita pulang sekarang, yuk!"
Tak ingin terus berdebat dengan mertuanya, Daniar kemudian mengajak suaminya untuk kembali ke sekolah.
"Niar, Ibu cuma ingin yang terbaik untuk anak Ibu. Apa kamu enggak mikirin gimana omongan orang-orang tentang Yandri, nanti? Ibunya masih ada, rumahnya juga masih nyaman untuk ditinggali, tapi kenapa kamu malah milih kamar sepetak itu? Emangnya kamu pikir, bakalan nyaman hidup di satu ruangan yang pengap itu?!" gerutu Bu Maryam.
"Insya Allah nyaman, Bu. Daniar tidak ingin selalu bergantung pada Ibu. Justru Daniar akan merasa malu jika sampai orang-orang membicarakan Daniar seperti benalu di rumah mertuanya. Tidak apa Daniar menjadi gunjingan tetangga karena hidup mandiri, asalkan tidak menjadi gunjingan tetangga karena hidup numpang di rumah mertua," pungkas Daniar. Setelah itu, Daniar mengajak suaminya untuk pulang.
Bu Maryam hanya bisa menatap nanar punggung anak dan menantunya yang mulai menjauh. Helaan napasnya terasa berat. Entah kenapa, ditinggalkan Yandri pergi dari rumahnya, seolah dia tidak memiliki harapan apa pun lagi.
Semoga setelah tinggal jauh dari Ibu, kamu tidak pernah melupakan ibu, Nak, batin Bu Maryam.
.
.
"Ibu kenapa sih, Yah? Kok sepertinya enggak suka kalau kita tinggal di luar? Bukannya bersyukur karena enggak bakal ngerepotin dia lagi," gerutu Daniar dalam perjalanan menuju sekolah.
__ADS_1
"Sudah, abaikan saja .. namanya juga orang tua. Mungkin beliau merasa cemas terhadap putranya. Maklum, sejak kecil, 'kan, Ayah enggak pernah terpisah jauh dari ibu," Jawab Yandri.
Hmm, terus aja belain ibu kamu, Kang... kapan kamu mau belain Daniar, batin Daniar terlihat kesal.
.
.
Hari demi hari terus terlewati. Tanpa terasa, sudah hampir hampir enam bulan Daniar menempati salah satu ruangan di sekolahnya. Ruangan yang hanya berukuran satu kamar itu, justru membuat rumah tangga Daniar terasa hangat.
"Bun, bagaimana kalau kita adakan pengajian di sini. Bunda enggak keberatan, 'kan?" Tiba-tiba saja yandri mengutarakan sebuah pertanyaan yang membuat kening istrinya berkerut.
"Maksud Ayah?" tanya Daniar, heran.
"Sudah hampir setengah tahun kita tinggal di sekolah ini. Ayah lihat-lihat, kok tidak ada anak yang mengaji setelah salat magrib. Berbeda sekali dengan zaman dulu, saat Ayah masih berusia SD. Ayah sama teman-teman berjalan kaki untuk pergi mengaji ke rumah salah satu warga di daerah ini," tutur Yandri, mengenang masa kecilnya.
"Mungkin pengajiannya diadakan di masjid, Yah," ucap Daniar.
"Enggak ada, Bun. Setelah selesai salat berjamaah magrib, Ayah enggak pernah melihat anak-anak datang ke masjid untuk mengaji," jawab Yandri.
"Serius? Bunda enggak keberatan?" Yandri kembali bertanya dengan mata yang berbinar.
"Ish, kenapa juga Bunda harus keberatan. Bukankan mengajari anak-anak mengaji, itu sebuah kebaikan? Pahalanya besar loh, Yah," tukas Daniar.
"Bener, Bun. Ayah benar-benar khawatir dengan perkembangan anak-anak dalam belajar Al-Qur'an. Di kelas Ayah saja, masih banyak anak-anak yang belum fasih membaca ayat Al-Quran. Bahkan mengajinya masih pada tahap Iqra dua dan tiga. Coba Bunda bayangin, sudah kelas 5, tapi ngajinya masih Iqra. Kalau tidak diperhatikan dari sekarang, bagaimana nasib mereka kelak, saat menginjak bangku SMP? Ayah benar-benar khawatir," ungkap Yandri mengemukakan kekhawatirannya terhadap anak didiknya.
"Iya, Yah. Lakukan yang terbaik yang bisa Ayah lakukan. Tidak usah khawatir, Bunda pasti akan mendukung setiap kebaikan yang Ayah perbuat. Kira-kira, kapan Ayah akan mewujudkan niat baik Ayah ini?" tanya Daniar sambil menepuk-nepuk bokong Bintang yang tidurnya mulai terusik oleh pembicaraan mereka.
"Lebih cepat lebih baik, Bun," jawab Yandri.
"Ya sudah, bagaimana kalau besok malam? Tapi, kira-kira anak-anak pada mau enggak, ngaji di sini?" Setitik keraguan mulai terselip di benak Daniar.
__ADS_1
"Insya Allah mereka pasti berdatangan, Bun. Kita awali dari yang terdekat saja. Kita suruh Tian, Sandi, Reska, dan Dino untuk mulai mengaji di sini besok malam. Bagaimana, apa Bunda setuju?" usul Yandri.
"Iya, Bunda setuju, Yah. Semoga niat Ayah ini selalu ada dalam ridho Allah SWT," jawab Daniar.
"Aamiin," pungkas Yandri seraya memeluk anak dan istrinya.
.
.
Keesokan harinya, Yandri mengajak para anak didik yang rumahnya kebetulan berada di sekitar sekolah, untuk datang setiap habis salat magrib ke kamarnya. Keempat murid berbeda kelas tersebut, ternyata sangat antusias sekali dengan ajakan sang guru. Terbukti sore ini, saat menjelang azan magrib, keempat anak itu telah duduk di teras depan kamar Daniar.
"Loh, kalian pada ngapain sore-sore kemari?" tanya Daniar yang hendak mengambil air wudhu di kamar mandi kantor baru.
"Kita mau ngaji sama pak Yandri, Bu," jawab Tian.
"Lah, ngajinya, 'kan nanti, setelah selesai salat magrib. Kok jam segini sudah pada datang?" tanya Daniar lagi.
"Tidak apa-apa, Bu. Nanti kami salat magrib bareng pak Yandri ke masjid," ucap Sandi.
"Ibu mau ke mana?" tanya Dion.
"Ibu mau ambil wudhu di kamar mandi kantor," jawab Daniar.
"Oh, kalau gitu biar Dino yang gendong Bintang, Bu. Kasian kalau Bintang di lajak ke kamar mandi," tukas Dino.
"Seriusan nih, Din? Memangnya kamu bisa gendong anak kecil?" tanya Daniar.
"Yaelah, Ibu. Dino, 'kan punya adik seumuran Bintang. Dino udah biasa kok, gendong anak kecil. Yuk, Dedek Bintang ikut abang Dino dulu ya, bundanya mau wudhu. Kalau Dedek ikut, nanti baju Dedek basah, kena air. Sama Abang dulu ya," bujuk Dino kepada bayi yang dua bulan lagi menginjak usia setahun.
Entah kenapa, Bintang yang biasanya tidak ingin lepas dari pangkuan ibunya, tiba-tiba saja merentangkan kedua tangan mungilnya. Seolah dia mengerti bahasa yang diutarakan Dino. Bocah kelas lima itu pun meraih Bintang dan menggendongnya.
__ADS_1
"Yuk, main dulu sama Abang, ya," ajak Dino membawa Bintang dan duduk di teras. Dino kemudian mulai mengeluarkan buku dan balpoin. Dengan antusias, Bintang mencorat-coret buku Dino.
Sementara itu, Daniar bergegas pergi ke kamar mandi sebelum Bintang menyadari keberadaannya. Tak lama berselang, kumandang azan magrib mulai terdengar dari masjid yang letaknya tidak jauh dari sekolah.