Setelah Hujan

Setelah Hujan
Pindah


__ADS_3

Seminggu lagi, liburan setelah lebaran akan berakhir. Namun, Yandri dan Daniar masih belum juga mendapatkan tempat yang baru.


"Bagaimana ini, Yah? Apa tidak sebaiknya kita berhentikan saja pengajian itu meskipun kita belum mendapatkan rumah kontrakan?" tanya Daniar.


"Entahlah, Bun. Ayah juga bingung," jawab Yandri.


"Kok bingung sih, Yah. Kita katakan saja yang sebenarnya kepada orang tua para murid, jika Ustadz Harun memang meminta kita menghentikan kegiatan itu,"jawab Daniar.


"Jangan Bun, tidak baik. Itu sama saja kita mengumbar keburukan Ustadz Harun. Bagaimanapun juga, menghentikan sebuah kegiatan baik dan bermanfaat, akan tetap buruk penilaiannya di mata masyarakat," balas Yandri.


"Terus, kita harus gimana?" Daniar kembali bertanya.


"Sudahlah, kita pikirkan nanti saja, kalau kita sudah pulang," kata Yandri.


Bu Salma yang tanpa sengaja mendengar obrolan anak dan menantunya itu, seketika mendekati mereka.


"Memangnya ada masalah apa di sana, Nak Yan?" tanya Bu Salma.


"Salah seorang sesepuh masjid di sana merasa keberatan dengan pengajian yang Yandri adakan di sekolah, Bu. Beliau meminta kami untuk menghentikan pengajian tersebut. Sedangkan Yandri belum bisa menemukan alasan yang tepat untuk menghentikan kegiatan itu. Bagaimanapun juga, alasan yang akan Yandri berikan kepada orang tua anak-anak, tentunya harus merupakan alasan yang masuk akal, Bu," tutur Yandri.


"Kamu benar Yan, kita harus hati-hati menghadapi orang tua zaman sekarang. Mereka sudah lebih kritis dalam menghadapi sebuah permasalahan," ungkap Bu Salma.


"Ibu benar, karena itu kami memutuskan untuk pindah dari sekolah agar bisa memberikan alasan yang masuk akal kepada para wali murid itu. Namun, sayangnya sampai detik ini kami belum menemukan rumah kontrakan," timpal Daniar.


"Maaf, Ibu tidak bisa membantu mencari solusinya untuk permasalahan yang sedang kalian hadapi. Ibu hanya bisa berdo'a, semoga kalian bisa segera menemukan jalan keluar yang terbaik," lanjut Bu Salma.


"Aamiin," pungkas Yandri dan Daniar berbarengan.


.


.


Tanpa terasa, liburan setelah lebaran pun berakhir. Yandri dan Daniar kembali ke sekolah untuk menjalankan kewajibannya sebagai tenaga pendidik. Begitu tiba di kamar, telepon Daniar berbunyi. Pertanda ada sebuah pesan masuk di ponselnya.


Daniar merogoh saku tas dan mengeluarkan benda tersebut. Dahinya sedikit berkerut saat dia membaca nama si pengirim pesan.


Ada apa bik Mumun mengirimkan pesan? batin Daniar.

__ADS_1


Daniar kemudian mengusap layar ponselnya untuk membaca pesan dari bik Mumun. Ternyata, bik Mumun mengirimkan kabar jika besok akan diadakan Posyandu di tempatnya. Ya, bik Mumun adalah seorang kader posyandu di desa tempat Daniar tinggal.


Keesokan harinya. Saat jam istirahat, Daniar membawa Bintang ke posyandu setempat. Ketika dia sedang asyik menunggu giliran anaknya ditimbang, tanpa sengaja Daniar mendengar percakapan dua orang ibu-ibu tentang rumah kosong. Merasa tertarik, Daniar akhirnya mendekati mereka.


"Permisi, Bu!" sapa Daniar kepada kedua wanita itu.


"Eh, Bu Niar," jawab salah satu dari mereka yang memang mengenal Daniar sebagai salah seorang guru di sekolah anaknya.


Daniar tersenyum. "Iya, maaf mengganggu. Tadi tanpa sengaja saya mendengar percakapan Ibu tentang rumah kosong. Memangnya itu rumah siapa, ya?" tanya Daniar.


"Oh, itu rumahnya Bik Nining, Bu," jawab ibu-ibu yang mengenakan daster.


"Bik Nining mamanya Gibran?" tanya Daniar lagi.


"Benar, Bu. Memangnya ada apa ya, Bu?" tanya wanita satunya lagi.


"Emh, saya sedang cari rumah kontrakan, Bu. Tapi sepertinya di sini sulit sekali mencari rumah yang hendak di kontrakan," jawab Daniar.


"Hehehe, maklum di sini tuh kampung Bu, tidak seramai di kota. Jadi, enggak mungkin laku kalau bikin rumah kontrakan," gurau wanita berdaster.


"Ah, Ibu bisa saja," balas Daniar.


"Boleh. Nanti, saya akan tunggu di sini setelah anak saya selesai ditimbang," balas Daniar.


Wanita itu mengangguk. Sesaat kemudian, dia masuk ke dalam rumah untuk memberitahukan hal tersebut kepada Bik Nining.


Setengah jam menunggu, akhirnya Daniar mendapatkan giliran juga untuk menimbang Bintang, anaknya. Bintang tampak anteng bergelantungan saat ditimbang oleh bik Mumun. Setelah selesai, Daniar kembali ke tempat di mana tadi dia ngobrol bersama dua orang wanita.


Tiba di tempat itu, Bik Nining tampak duduk seraya memangku seorang anak kecil berusia sekitar 10 bulan. Daniar pun mempercepat langkah untuk mendekati Bik Nining.


"Apa kabar Bik Nining?" sapa Daniar seraya mengulurkan tangan.


"Alhamdulillah, kabar saya baik, Bu," jawab Bik Nining. "Jadi, Ibu yang hendak mengisi rumah saya yang kosong?" tanyanya langsung.


"Eh." Daniar tersenyum tipis. "I-iya, Bu. Itu pun kalau Ibu hendak mengontrakkan rumah tersebut," jawab Daniar.


"Ish, dikontrak bagaimana sih, Bu. Lah wong rumah panggung saja. Kalau memang Ibu berminat, silakan ditempati saja. Tidak usah bayar, Ibu hanya cukup bayar listrik saja," kata Bik Nining.

__ADS_1


"Waduh, kalau begitu, saya sungkan untuk menempatinya," balas Daniar.


"Tidak apa-apa, Bu. Tempati saja, biar ada yang ngurus juga. Sayang juga, kalau kosong, 'kan suka cepat rusak," ucap Bik Nining.


"Oh iya, Bik. Ngomong-ngomong, kenapa rumahnya dibiarkan kosong? Memangnya, sekarang Bik Nining tinggal di mana?" tanya Daniar.


"Ibu mertua saya sudah renta, karena itu saya pindah ke rumah ibu mertua untuk mengurusnya," jawab Bik Nining.


"Oh seperti itu. Baiklah Bu, nanti biar saya bicarakan terlebih dahulu dengan suami saya," kata Daniar


"Iya, Bu. Besok saya titipkan kunci rumahnya pada Gibran. Barangkali Ibu sama pak Yandri mau lihat-lihat dalamnya," pungkas Bik Nining.


Daniar tersenyum. Setelah pembicaraan tentang rumah selesai, Daniar segera pamit undur diri karena harus kembali mengajar.


.


.


Selepas berdiskusi dengan suaminya, Daniar dan Yandri sepakat untuk menempati rumah panggung milik bik Nining. Terlebih lagi, para warga setempat menyambut gembira niat Daniar dan Yandri untuk menempati rumah tersebut.


"Iya, Bu. Tempati saja, biar terasa hangat," kata salah seorang tetangga yang sedang mendampingi Daniar untuk melihat rumah panggung itu.


"Iya, insya Allah, Bu. Mungkin besok akan mulai kami tempati rumahnya," jawab Daniar.


"Kenapa harus menunggu besok, Bu? Kenapa tidak sekarang saja?" timpal Bude yang masih merupakan tetangga samping rumah panggung yang akan ditempati Daniar.


"Suami saya harus memindahkan barang-barang terlebih dahulu, Bu. Rencananya, nanti malam akan kami angkut sebagian dulu," jawab Daniar.


"Kenapa harus sebagian dulu, Bu? Nanti malam, biar suami saya saja yang ikut membantu pak Yandri mengangkut barang dari sekolah. Kebetulan, mobil pickup suami saya sedang tidak dipakai. Jadi pak yandri bisa menggunakannya," tawar Bude.


"Waduh, terima kasih atas tawarannya, Bu. Tidak usah repot-repot," tolak halus Daniar.


"Ish, ini tidak merepotkan sama sekali, Bu. Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih saya karena pak Yandri sudah mendidik putri saya," ucap Bude.


Daniar hanya tersenyum. "Iya Bu, terima kasih banyak." Akhirnya Daniar mengalah dan mau menerima tawaran Bude


Malam harinya, dengan dibantu anak-anak pengajian dan juga warga sekitar sekolah, Yandri memindahkan barang-barang di kamarnya ke dalam mobil pickup milik Pak Nawan.

__ADS_1


Setelah berpamitan kepada tetangga di sekitar sekolahnya, Daniar dan Yandri pun menaiki mobil tersebut. Malam ini, mereka memutuskan untuk pindah dan memulai kehidupan baru di tempat yang baru.


Ah, akhirnya aku bisa juga menjalani rumah tangga normal seperti rumah tangga yang lainnya, batin Daniar tersenyum tipis.


__ADS_2