Setelah Hujan

Setelah Hujan
Pejuang Tangguh


__ADS_3

Setelah menunggu selama satu jam, akhirnya pintu ruang radiologi terbuka. Daniar segera berdiri untuk menanyakan keadaan suaminya.


"Bagaimana keadaan suami saya, Sus?" tanya Daniar kepada perawat yang bertugas.


"Sebentar ya, Bu. Saya hendak memberikan hasil Ctscan suami Ibu kepada dokter," jawab perawat tersebut.


Daniar mengangguk. Sejurus kemudian, dia kembali duduk untuk menunggu hasil pemeriksaan suaminya.


"Dengan keluarga bapak yandri?"


Baru saja Daniar mendaratkan bokongnya di atas kursi tunggu, tiba-tiba salah seorang perawat pria memanggil dirinya. Daniar kembali berdiri dan menghampiri perawat yang sedang berdiri di ambang pintu.


"Saya istrinya, Pak," jawab Daniar.


"Maaf, Bu. Apa tidak ada laki-laki yang bisa membantu saya mendorong brankar suami Ibu?" tanya perawat itu.


"Oh, sebentar Pak, saya panggilkan adik ipar saya terlebih dahulu," jawab Daniar.


"Silakan!" lanjut perawat.


Setelah dipersilakan, akhirnya Daniar pergi untuk mencari Roni di lobi rumah sakit. Tiba di lobi, tampak Roni sedang berbincang-bincang dengan pria paruh baya. Mereka kemudian berdiri setelah Daniar mendekatinya.


"Ron, Kakak bisa minta tolong sama kamu?" tanya Daniar.


"Eh, Kak Niar. Kenalkan, ini Pak Ginanjar, orang yang menemukan bang Yandri saat pingsan di tengah jalan semalam," jawab Roni.


"Apa? Jadi suami saya pingsan di tengah jalan, Pak?" pekik Daniar, terkejut.


"Iya, Neng? Jika dilihat dari darah yang sudah mengering di aspal, mungkin suami Neng sudah tidak sadarkan diri selama setengah jam," jawab Pak Ginanjar.


"Setengah jam? Astaghfirullah ..." gumam Daniar.


"Alhamdulillah nak Yandri orang yang sangat kuat, Neng. Bapak yakin jika nak Yandri akan baik-baik saja," lanjut Pak Ginanjar.


"Terima kasih atas pertolongan Bapak kepada suami saya. Bapak ibarat pemberi nyawa kedua bagi suami saya. Sa-saya sendiri tidak tahu harus berterima kasih dengan cara apa," ucap Daniar.


"Sama-sama, Neng. Jangan bicara seperti itu atuh, Neng. Sudah tugas Bapak untuk saling tolong menolong," jawab Pak Ginanjar.


"Oh iya Kak, tadi Kakak mau minta tolong apa?" tanya Yandri.


"Itu, perawat di ruang radiologi butuh bantuan untuk mendorong brankar kang Yandri," jawab Daniar.


"Memangnya, bang Yandri mau dipindahkan ke mana lagi?" tanya Roni lagi.


"Entahlah, Kakak sendiri tidak tahu," sahut Daniar.


"Ya sudah, ayo kita ke sana!" ajak Roni


Daniar mengangguk.


"Tunggu, Neng!" cegah Pak Ginanjar seraya menghampiri Daniar. "Ini barang-barang milik suami Neng. Silakan diperiksa, takut ada yang hilang juga," imbuhnya.

__ADS_1


Daniar membuka ransel hitam milik suaminya. "Tidak ada, Pak. Sama sekali tidak ada barang yang hilang," ucap Daniar.


"Ah, syukurlah kalau begitu," tukas Pak Ginanjar.


"Sekali lagi, saya berterima kasih atas bantuan Bapak," lanjut Daniar.


"Sama-sama. Kalau begitu Bapak pergi dulu, jika butuh bantuan Bapak, Neng telepon saja," pesan Pak Ginanjar.


"Baik, Pak."


Setelah Pak Ginanjar berpamitan, Daniar dan Roni pun melangkahkan kaki menuju ruang radiologi.


.


.


"Sus, tolong segera beri tahu bagian penindakan agar menyiapkan ruang operasi," ucap Dokter Anton setelah melihat hasil radiologi milik Yandri.


"Operasi besar, Dok?" tanya Suster Ima.


"Bisa dibilang begitu, Sus. Sepertinya pasien mengalami benturan yang cukup hebat. Tulang tengkorak tengkorak bagian depan retak. Tulang hidung dan pipinya juga hancur. Kita harus segera mengambil tindakan," papar Dokter Anton.


"Masya Allah ... baiklah, Dok. saya akan segera memberi tahu orang-orang di bagian tindakan," sahut Suster Ima.


"Jangan lupa, tolong beri tahu keluarganya juga," lanjut Dokter Anton.


"Siap, Dok!" balas Suster Ima.


Tiba di ruang radiologi, Suster Ima berpapasan dengan Daniar dan Roni yang hendak memasuki ruang radiologi.


"Tunggu, Bu!" ucap Suster Ima yang mengenali Daniar sebagai keluarga pasien.


Daniar dan Roni menghentikan langkahnya. Mereka kemudian menunggu perawat yang sedang berjalan mendekat.


"Mohon maaf, Bu. Saya hanya ingin mengabarkan jika bapak akan dioperasi sekarang," kata Suster Ima.


"O-operasi, Sus, tapi operasi untuk apa? Memangnya separah apa kondisi suami saya?" cecar Daniar yang semakin penasaran dengan kondisi Yandri.


"Operasi yang cukup besar, Bu. Saat ini, suami Ibu mengalami keretakan di tengkorak bagian depan. Tulang pipi dan hidungnya juga hancur. Takutnya, serpihan tulang pipi yang tidak dibersihkan, bisa menimbulkan infeksi," tutur Suster Ima dengan sopan.


Deg!


Jantung Daniar seakan berhenti berdetak mendengar kondisi suaminya yang cukup parah. Sejenak dia menatap adik iparnya.


"Sabar, Kak," ucap Roni seraya mengelus pundak Daniar.


"Lakukan saja yang terbaik untuk kakak ipar saya, Sus," pinta Roni.


"Baiklah, kalau begitu kami minta tanda tangan Ibu dalam surat pernyataan ini," lanjut perawat seraya menyodorkan selembar kertas yang berisi pernyataan keluarga tentang persetujuan tindakan operasi.


Dengan tangan gemetar, Daniar menerima surat tersebut dan menandatanganinya. Tak lama kemudian, perawat pria tadi meminta Roni masuk untuk membantu mendorong brankar Yandri menuju ruang operasi di lantai dua.

__ADS_1


Tak ingin membuang waktu dengan percuma, tiba di lantai dua, Yandri segera dimasukkan ke ruang operasi untuk diberi tindakan selanjutnya. Daniar berjalan mondar-mandir karena merasa khawatir, sedangkan Roni sibuk mengangkat telepon dari kerabat-kerabat kakak iparnya.


Satu jam telah berlalu, tapi lampu merah itu belum padam. Roni mendekati Daniar yang sedang duduk termenung di kursi pojok.


"Kak Niar, apa Kakak sudah mengabari keluarga bang Yandri?" tanya Roni.


"Sudah, Ron," jawab Daniar.


"Bagaimana tanggapan mereka? Apa salah satu dari saudara bang Yandri ada yang mau datang untuk menemani kakak di sini? Soalnya, pasca operasi, belum tentu juga bang Yandri bisa diizinkan pulang," tutur Roni.


'Tidak ada tanggapan sama sekali, Ron. Mereka cuma bilang minta maaf karena tidak bisa menjenguk kang Yandri di sini. Kata mereka, mungkin jika dirawat di Tasik, mereka bisa menyempatkan diri untuk menjenguk," jawab Daniar.


"Lantas, malam ini siap yang akan menemani Kakak?!Roni sendiri harus pulang karena besok ada pertemuan UMKM dengan dinas," lanjut Roni.


"Iya, Ron. Kamu pulang saja, biar Kakak yang jaga kang Yandri sendirian," balas Daniar.


"Tapi Kak ...."


"Tidak apa-apa, Kakak bisa, kok," jawab Daniar. "Eh, Ron. Lampunya sudah padam, tuh!" Tunjuk dan6iar.


Roni mendongak, memang benar jika lampu merah di atas pintu itu telah padam. Tak lama kemudian, pintu terbuka, dokter yang menangani Yandri keluar. Roni dan Daniar segera menghampirinya.


"Bagaimana kondisi kakak saya, Dok?" tanya Roni.


"Alhamdulillah, operasinya berjalan dengan lancar. Saya pikir, dia lelaki yang sangat tangguh. Saya yakin dia bisa melewati semua ini," jawab Dokter Anton.


"Apa dia sudah sadar?" tanya Daniar.


"Untuk saat ini, suami Ibu masih berada di dalam pengaruh obat bius. Mungkin untuk beberapa jam ke depan, dia akan tidak sadarkan diri. Tapi insya Allah kondisinya baik-baik saja," tutur Dokter Anton


"Baiklah, Dok," jawab Daniar.


"Sekarang pak Yandri akan dipindahkan ke kamar rawat. Ibu bisa menunggunya di depan," lanjut dokter itu.


Tak lama berselang, dua orang perawat mendorong brankar Yandri menuju ruang perawatan. Daniar dan Roni mengikutinya dari belakang. Tiba di kamar rawat, Yandri pun dipindahkan ke atas single bed.


"Kak, operasi bang Yandri telah selesai. Roni mau pulang dulu. Kakak enggak pa-pa kalau jagain abang sendirian?" tanya Roni.


"Iya, Ron. Enggak pa-pa. Lagi pula, masa kritis kang Yandri sudah lewat. Kamu enggak denger apa kata dokter tadi? Kang Yandri itu seorang laki-laki yang sangat tangguh, Kakak yakin dia akan baik-baik saja," papar Daniar.


"Baiklah Kak. Kalau begitu Roni pulang dulu. Hubungi Roni kalo ada apa-apa," tutur Roni.


"Iya-iya. Pergilah!" balas Yandri.


Sepeninggal Roni, Daniar menarik sebuah kursi dan menaruhnya di samping ranjang Yandri. Tangannya mengusap rahang tegas milik sang suami. Mata Daniar kembali berembun melihat kondisi sebagian wajah Yandri yang berbalut perban dari kening, pelipis hingga sampai mata sebelah kanan.


Subhanalloh ... pejuang yang sangat tangguh. Sejak datang sampai saat ini, tak pernah sedikit pun ada keluhan yang terdengar dari bibirnya. Bahkan ucapan aduh pun tidak saya dengar ... beliau sangat bersabar dengan apa yang sedang di hadapinya sekarang. Detik di mana saya tiba pun, beliau malah menyuruh saya untuk menghubungi temannya. Dengan wajah cemas, beliau sungguh mengkhawatirkan kondisi anak didiknya. Masya Alloh, Yah ... darah pun masih menetes, luka pun masih menganga. Namun, bukan rasa sakit yang kamu utarakan, tapi kecemasan tentang anak didikmu yang kamu bisikan lirih d telingaku. Sungguh mulia hatimu. Sungguh besar rasa tanggung jawab profesimu. Semoga Alloh membalas semua kebaikan dan kesabaranmu. Beruntungnya aku memilikimu sbg imamku, gumam Daniar dalam hati.


Daniar merebahkan kepalanya di samping laki-laki itu. Tangan kanannya memeluk erat dada pria tangguh yang akan selalu menjadi pujaan hatinya.


"Cepat sembuh Yah, hari yang indah menanti kita dan anak kita."

__ADS_1


__ADS_2