Setelah Hujan

Setelah Hujan
Ragu


__ADS_3

Keesokan harinya, seperti biasa Daniar melakukan rutinitas membantu Ibu sebelum dia berangkat kerja. Sedangkan Yandri, berhubung rumahnya cukup jauh, selepas shalat subuh dia berpamitan pulang kepada Daniar dan keluarganya.


Pak Fandi dan Bu Salma sudah mencegah kepulangan Yandri. Mereka meminta Yandri untuk sarapan bersama terlebih dahulu. Namun, karena Yandri adalah sosok pekerja yang bertanggung jawab. Dia menolak halus tawaran kedua orang tua Daniar. Pada akhirnya, Pak Fandi dan Bu Salma membiarkan Yandri pulang tanpa sarapan.


"Niar, apa kamu tahu maksud kedatangan nak Yandri kemari tadi malam?" tanya Bu Salma memecah keheningan di dapur.


Daniar yang sedang mencuci piring, sontak menggelengkan kepala. "Enggak tuh, Bu. Memangnya ada apa?"


"Beneran kamu nggak tahu?" ulang Bu Salma, menegaskan.


"Sumpah, Bu. Niar emang nggak tahu. Hanya saja, beberapa hari yang lalu, Yandri memang sempat meminta Niar untuk mengabari dia kalau ayah pulang. Ya sudah, kemarin Niar kabari saja tentang kepulangan ayah padanya," jawab Daniar.


"Sebenarnya, hubungan kamu sama Yandri sudah sejauh mana sih?" tanya Bu Salma. Sepertinya, radar kepo Bu Salma mulai berfungsi.


"Maksud Ibu?" Bukannya menjawab, Daniar malah balik bertanya kepada ibunya.


"Ya maksud Ibu, hubungan kalian. Mm ... sudah berapa lama kalian menjalin hubungan? Kok kamu enggak pernah cerita sama Ibu?"


"Ish, berapa lama apanya? Udah deh, Ibu jangan mulai. Lagi pula, Daniar sama Yandri, tuh cuma temenan saja," jawab Daniar, kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Temenan kok ngelamar," gumam Bu Salma.


Prang!


Daniar terkejut mendengar gumaman ibunya. Tanpa sadar, piring yang sedang dibilasnya terjatuh. Sedetik kemudian, dia menoleh ke arah Bu Salma yang sedang mengaduk masakannya di atas wajan.


"Ngelamar? Si-siapa yang ngelamar? Ini maksud Ibu apa, ya? Daniar enggak paham loh, Bu."


"Lah, emangnya kamu enggak tahu kalau semalam nak Yandri melamar kamu ke ayah?" Bu Salma malah balik bertanya.


Daniar hanya bisa melongo mendengar ucapan ibunya.


Melamar? ulang Daniar dalam hati.


.


.


Jarum jam terus berputar. Namun, entah kenapa putaran jam itu seolah terasa lambat bagi Daniar yang sedang dilanda kebingungan. Jujur saja, perkataan sang ibu tentang lamaran Yandri, membuat kepala Daniar seakan mau pecah.


Awalnya Daniar tidak ingin percaya. Namun, saat sedang sarapan bersama, ayahnya pun membahas tentang lamaran Yandri semalam.


"Ish, kenapa tuh cowok seenak jidatnya saja? Ini, 'kan masalah penting. Kenapa juga dia enggak bicara dulu ke gua? Setidaknya, nanya dulu gitu, gua mau apa kagak dilamar dia," dengus Daniar bermonolog.


"Bu Niar, dipanggil Bu Elly tuh?" ucap Bu Ratna, rekan kerjanya.


Daniar terkejut. Lamunannya tentang sosok Yandri pun, buyar entah ke mana.

__ADS_1


"Iya, kenapa Bu?" tanya Daniar.


"Oalah, Bu Niar sedang ngelamunin apa, sampai enggak fokus begitu?" tegur Bu Ratna.


"Eh, bukan apa-apa kok, Bu. Enggak penting juga. Emh, tadi ngomong apa ya, Bu?" Daniar kembali bertanya.


"Itu, Bu Niar dipanggil sama Bu Elly di ruangannya," ulang Bu Ratna.


"Oh, gitu ya?" sahut Daniar. Sejurus kemudian, Daniar beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke ruang kepala sekolah.


.


.


Sementara itu, di lain tempat. Yandri tampak memperhatikan komputer kesayangannya. Komputer yang selalu menemaninya sejak dia duduk di bangku SMA.


Hmm, tugas akhirku sudah disetujui dosen pembimbing. Sebentar lagi sidang dimulai. Meskipun aku masih membutuhkan benda ini, tapi tidak akan sesering seperti saat sedang kuliah. Sebaiknya, aku jual benda ini untuk biaya nikah nanti, batin Yandri seraya mengusap-usap benda canggih tersebut.


Tok-tok-tok!


Ketukan di pintu kamar Yandri, seketika membuyarkan lamunannya.


"Masuk!" perintah Yandri kepada orang yang mengetuk pintu dari luar.


Daun pintu terbuka lebar. Tampak Habibah berjalan memasuki kamar Yandri.


"Siapa?" tanya Yandri.


"Bang Johan," jawab Habibah.


"Oh iya, Kak."


Yandri kembali menutup komputernya dengan kain putih. Setelah itu, dia keluar kamar untuk menemui Bang Johan, tukang jual beli barang-barang elektronik.


"Siang, Bang!" sapa Yandri mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Bang Johan.


"Siang juga, Yan," balas Bang Johan, "Gimana? Jadi enggak?" lanjut Bang Johan.


"Jadi lah ... tapi, coba Abang cek dulu barangnya," ucap Yandri.


"Sudah, enggak usah lah. Saya percaya sama kamu, kok," jawab Bang Johan.


Setelah berbasa-basi sebentar, Bang Johan mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dan menyerahkannya kepada Yandri.


"Ini uang pembelian komputer kamu. Totalnya dua juta rupiah."


"Enggak bisa lebih nih, Bang?"

__ADS_1


"Maaf, Yan. Itu juga sudah Abang lebihin dikit. Maklum lah, komputer kamu, 'kan pentium lama. Jadi, ya agak susah keluar."


"Oh, ya sudah Bang. Tidak apa-apa,"


Yandri mengambil uang yang diserahkan Bang Johan. Sejurus kemudian, dia menyimpannya di saku celana. Setelah itu, Yandri mengajak Bang Johan ke kamar untuk mengangkut komputer kesayangannya.


Semoga niat yang baik ini, akan menghasilkan sesuatu yang baik juga, batin Yandri, seraya menatap benda kesayangannya yang tengah diangkut Bang Johan menuju mobilnya.


.


.


Daniar berjalan memasuki koridor kelas dengan wajah yang tidak biasanya. Kebingungan terpampang jelas dari raut wajahnya. Saat ini, satu-satunya hal yang ingin dia lakukan adalah bertemu dengan Yandri. Namun, entah kenapa sejak kunjungan Yandri tadi malam, pemuda itu sulit sekali dihubungi. Teleponnya pun tidak aktif.


"Huh, benar-benar menyebalkan!" dengus Daniar seraya menendang benda yang ada di hadapannya.


"Eits, enggak kena!"


Daniar mendongak. Tampak laki-laki yang sedang ada dalam pikirannya, tengah berdiri tak jauh dari hadapan Daniar. Sontak Daniar berlari menghampiri Yandri.


"Kamu itu kebiasaan, deh. Kalau kesal, ya enggak usah tendang-tendang benda yang ada di hadapan ka–"


Belum selesai Yandri bicara, Daniar telah meraih pergelangan tangan Yandri dan menariknya.


"Kita harus bicara!" ucap Daniar, menarik Yandri menuju taman kampus.


"Eh, ini ada apa ya?" tanya Yandri yang begitu terkejut mendapati sikap Daniar.


"Sudah, enggak usah banyak bicara. Ikut saja!"


Daniar terus menyeret pemuda itu hingga taman kampus. Sejurus kemudian, Daniar mengajak Yandri untuk duduk di sebuah bangku taman. Untuk beberapa menit, keheningan terjadi di antara mereka.


Yandri menghela napas. Sebenarnya, dia masih menunggu Daniar untuk berbicara. Namun, hingga lima menit berlalu. Daniar tak kunjung juga bersuara. Akhirnya Yandri memutuskan untuk bertanya kepada Daniar.


"Kamu kenapa sih, Yar? Datang-datang malah ngajak kemari. Dan sekarang, kamu malah diam. Sariawan, ya?" goda Yandri.


"Ish, Yan. Nggak lucu ah!" gerutu Daniar.


"Yeayy, aku, 'kan enggak lagi ngelawak," elak Yandri.


"Udah deh, serius nih. Aku tuh lagi bingung. Lagian, kamu apa-apaan sih, pake acara ngomong ke ayah," rengut Daniar.


"Ngomong apaan?" Yandri semakin menggoda Daniar.


"Eh, jadi kamu nggak ngomong apa-apa sama ayah? Terus, kenapa ayah bilang kalau kamu ngelamar aku? Ish, apa mungkin ayah bohong sama aku?"


Raut wajah Daniar langsung berubah pucat. Dia mulai ragu dengan kabar yang disampaikan ayahnya tadi pagi

__ADS_1


"Ish, kenapa ayah bohongi aku?"


__ADS_2