Setelah Hujan

Setelah Hujan
Kelahiran Bintang


__ADS_3

Yandri mendekati Dokter Alex setelah melihat sang dokter menyimpan kembali gagang telepon di tempatnya. Seketika, dia menjatuhkan tubuhnya untuk berlutut di hadapan Dokter Alex. Namun, dengan sigap Dokter Alex menahan tubuh Yandri agar tidak sampai menyentuh lantai.


"Hei, apa-apaan kamu, Yan?" ujar Dokter Alex.


"Te-terima kasih, Dok. Terima kasih karena Anda berkenan membantu saya. Padahal, ini pertemuan pertama kita. Namun, Anda sudah mengakui saya sebagai adik Anda. Sa-saya sangat terharu, Dok. Terima kasih," tutur Yandri dengan suara serak karena menahan tangis.


"Sudahlah, Yan. Sudah sepatutnya saya menolong kamu. Bukankah sebagai makhluk sosial, kita harus saling tolong menolong?" jawab Dokter Alex.


"Ya sudah, drama melankolisnya nanti saja disambung lagi. Sekarang, kalian cepat pergi ke UGD untuk melihat Daniar," tukas pria tua itu.


Yandri dan Dokter Alex saling pandang. "Hmm, benar juga apa yang dikatakan Papa. Ayo, Yan ... kita lihat istri kamu," ajak Dokter Alex.


Yandri mengangguk. Dia kemudian mengikuti Dokter Alex dan ayahnya yang sudah berjalan duluan. Tiba di depan UGD, Dokter Alex segera memasuki ruangan tersebut. Sedangkan Yandri dan ayahnya Dokter Alex yang bernama dr. Zainal, menunggu di luar ruangan.


"Tenanglah, istri kamu pasti akan baik-baik saja. Percayakan semuanya kepada Alex. Dia seorang obgyn yang sangat handal. Jadi kamu tidak perlu cemas," ucap dr. Zainal memberikan dukungan.


"Iya, Pak," jawab Yandri, berusaha untuk tegar. Meskipun tidak dipungkiri jika hatinya diliputi kekhawatiran yang mendalam. Pasalnya, ini tentang kelahiran putri pertama mereka. Pengalaman pertama bagi Yandri maupun Daniar.


"Kita duduk di sana," ajak dr. Zainal menunjuk sebuah bangku panjang yang berseberangan dengan pintu ruang UGD.


Yandri mengangguk. Sejurus kemudian, dia mengikuti dr. Zainal untuk duduk. Sesaat setelah dia mendaratkan bokongnya, telepon Yandri berdering. Yandri merogoh saku celana untuk melihat siapa yang telah menghubungi dia.


"Ibu," gumam Yandri yang lantas segera mengangkat sambungan telepon dari ibu mertuanya.


"Assalamu'alaikum, Nak Yandri. Maaf, tadi HP Ibu sedang dicas. Ngomong-ngomong, ada apa kamu nelepon Ibu, Nak? Apa sesuatu terjadi sama Daniar?" tanya Bu Salma.


"Iya, Bu. Sepertinya Daniar akan segera melahirkan," jawab Yandri.


"Apa?" pekik Bu Salma di ujung telepon, "bagaimana bisa? Bukankah HPL-nya masih sekitar satu bulan lagi?" tanya Bu Salma.


"Entahlah, Bu. Sepertinya dulu Daniar salah menghitung hari terakhir datang bulan. Jadi perkiraannya keliru," jawab Yandri.


"Oh, begitu ... ya sudah, sekarang juga Ibu pulang. Lahirannya di bidan Yunita, 'kan? Nanti Ibu langsung ke tempat praktek bidan Yunita saja," ucap Bu Salma.


"Enggak, Bu. Saat ini Daniar sedang ditangani Dokter Alex di rumah sakit Citra Medika," jawab Yandri.


"Loh, kok bisa di rumah sakit, Yan?" tanya Bu Salma, heran.


"Sebenarnya Daniar mengalami kontraksi di pusat perbelanjaan, Bu. Dan rumah sakit ini satu-satunya rumah sakit terdekat dari toko yang sedang kami kunjungi," jawab Yandri.

__ADS_1


"Oalah ... sudah tahu perut dah gede gitu, masih saja mikirin belanja. Istri kamu itu loh, Yan ... astaghfirullah, susah untuk dibilangin. Ya sudah, nanti Ibu minta antar nak Roni ke sana. Semoga persalinan Daniar lancar ya, Nak. Kamu yang tegar," kata Nu Salma.


"Iya, Bu. Aamiin ...."


Setelah sambungan teleponnya terputus, Yandri kembali mengantongi benda pipih itu.


Sementara itu, di dalam ruang UGD. Dokter Alex menghampiri brankar Daniar.


"Bagaimana keadaannya, Sus?" tanya Dokter Alex kepada perawat yang sedang menenangkan Daniar.


"Tekanan darahnya normal, Dok," jawab perawat itu.


Dokter Alex segera menggunakan sarung tangannya. "Maaf ya, Bu," ucap Dokter Alex yang hendak memeriksa pembukaan. "Hmm, baru pembukaan tiga. Sebaiknya segera pindahkan pasien ke ruang persalinan, Sus!" perintah Dokter Alex.


"Siap, Dok!"


Dengan sigap, perawat senior itu memanggil temannya untuk mendorong brankar Daniar menuju ruang persalinan. Sedangkan Dokter Alex kembali keluar untuk mempersiapkan persalinan Daniar.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" Sambut Yandri begitu Dokter Alex keluar ruang UGD.


"Tekanan darahnya cukup stabil. Saat ini, Daniar hendak dipindahkan ke ruang persalinan. Berdoa saja, semoga diberikan kelancaran dalam menjalani persalinannya," jawab Dokter Alex seraya menepuk pundak Yandri.


"Kang,* panggil lirih Daniar.


Yandri berlari menghampiri istrinya. "Tunggu sebentar, Sus," cegah Yandri kepada perawat yang sedang mendorong brankar sang istri.


Yandri mendekati Daniar. Sedetik kemudian, dia menggenggam tangan Daniar.


"Akang percaya kamu pasti kuat, Yar. Sebentar lagi, kita akan menjadi orang tua. Berjuanglah, Bun. Do'a Ayah akan selalu menyertai kalian," ucap Yandri seraya mengecup kening dan perut Daniar.


Mendapatkan perlakuan hangat dan suport dari sang suami, membuat hati Daniar kembali tegar. Ya Daniar harus kuat supaya bisa memberikan kehidupan kepada anak yang dikandungnya. Daniar pun tersenyum seraya menganggukkan kepala. "Insya Allah, Kang. Niar pasti kuat dalam perjuangan ini," jawabnya lirih.


"Ini saatnya kamu menyempurnakan diri sebagai seorang wanita, Nak. Jangan khawatir, semuanya pasti akan baik-baik saja. Do'a kami selalu menyertai kamu dan bayi yang ada dalam kandungan kamu," tukas dr. Zainal seraya mengelus pucuk kepala Daniar.


Meskipun merasa heran dengan keberadaan pria tua yang berada di samping suaminya. Namun, Daniar tersenyum dan menganggukkan kepala sebagai isyarat meng-aamiin-kan do'a beliau.


Tak berapa lama, perawat itu kembali mendorong brankar Daniar diikuti oleh Yandri dan dr Zainal di belakangnya. Hingga tiba di ruang persalinan, mereka berpisah. Daniar dibawa masuk untuk ditindak. Sedangkan Yandri dan dr. Zainal kembali duduk untuk menunggu proses kelahiran sang bayi.


Waktu terus berlalu, sudah hampir dua jam Daniar ditangani. Namun, masih juga belum terdengar tangisan bayi. Yandri pun semakin merasa cemas.

__ADS_1


"Apa mungkin ada kendala dalam proses melahirkannya, Pak?" tanya Yandri dengan bibir bergetar. Gurat kecemasan semakin kentara di raut wajahnya.


"Huss! Jangan berpikir buruk dulu, Nak. Tidak baik," tegur dr. Zainal.


"Astaghfirullahaladzim," gumam Yandri seraya mengusap dadanya.


Yandri kembali berjalan mondar-mandir karena merasa khawatir. Terkadang dia pergi ke kamar mandi karena ingin membuang hajat. Namun, begitu tiba di kamar mandi, rasa mulasnya hilang seketika. Entahlah, Yandri merasa serba salah dengan situasi yang membuat jantungnya berdetak tak karuan.


Karena tak jadi buang hajat, Yandri akhirnya kembali menuju ruang bersalin. Tiba di koridor ruang bersalin, tiba-tiba terdengar teguran ibu mertuanya.


"Bagaimana keadaan Daniar, Nak Yandri?"


Yandri menoleh, "Eh Ibu. Saat ini Daniar sedang ditangani oleh tim dok–"


"Oeek.... Oeeeek.... Oeeek...."


Belum selesai Yandri menjawab pertanyaan ibu mertua, tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruang bersalin.


"Alhamdulillah ..." ucap syukur Yandri, Bu Salma, Roni dan dr. Zainal bersamaan.


Tak lama kemudian, pintu ruang bersalin terbuka. Seorang perawat menghampiri Yandri untuk menyampaikan pesan dokter.


"Silakan masuk ke dalam untuk mengazani putrinya, Pak," ucap perawat itu kepada Yandri.


Sejenak Yandri menatap ibu mertua dan dr. Zainal secara bergantian.


"Pergilah, Nak. Segera azani anak kamu," perintah dr. Zainal.


Yandri mengangguk. Sejurus kemudian, dia masuk ke dalam untuk mengazani putrinya. Tiba di dalam, Yandri begitu terharu melihat bayi mungil yang masih berkulit merah. Dia kemudian meraih putrinya dari tangan perawat. Sejenak, Yandri memeluk bayi mungil itu untuk memberikan kehangatan pertama seorang ayah. Sedetik kemudian, dia mulai melantunkan azan di telinga kanan sang bayi. Diikuti iqamah di telinga kirinya.


"Selamat ya, Yan atas kelahiran putrinya," ucap Dokter Alex.


"Alhamdulillah, terima kasih, Dok," jawab Yandri.


"Ngomong-ngomong, apa kalian sudah menyiapkan nama untuk putri kalian?" Kembali Dokter Alex bertanya.


"Azura! Bintang Azura ... semoga dia akan selalu bersinar seperti bintang dengan masa depan yang cerah seperti langit biru," gumam Yandri.


"Nama yang bagus, Kang."

__ADS_1


__ADS_2