Setelah Hujan

Setelah Hujan
Tekanan Demi Tekanan


__ADS_3

Sudah hampir dua bulan Daniar menempati rumah panggung milik Bik Nining. Dalam sebulan terakhir, entah kenapa Daniar merasa jika keluarga suaminya semakin berani berkunjung. Tidak masalah jika mereka memang hanya sekadar ingin bermain. Namun, selalu saja ada ujung yang tak terduga dari setiap kunjungan mertua dan iparnya. Lama-lama, Daniar mulai mengeluh kepada suaminya.


"Sekali-sekali, Ayah bersikap tegas dong sama kang Bahar. Masak pinjem uang hampir setiap hari sih. Terus, hasil dia ngojeg di ke manain? Kok buat beli bensin aja masih pinjem sama Ayah," keluh Daniar setelah melihat iparnya pergi.


"Sudah Bun, cuma sepuluh ribu ini. Jangan terlalu dipikirkan, nanti Bunda bisa sakit," jawab Yandri.


"Ya ampun ... sepuluh ribu juga kalau pinjemnya sepuluh kali, sudah jadi seratus ribu, Yah. Ish, Ayah ini gimana sih, nyepelein banget," gerutu Daniar, kesal.


"Iya-iya, nanti Ayah coba bicara sama kang Bahar," kata yandri, mencoba menenangkan istrinya.


"Jangan coba, Yah, tapi harus! Biar kang Bahar tuh enggak keenakan," tegas Daniar.


Yandri hanya bisa diam dan selalu menjadi pendengar setia saat istrinya berkeluh kesah.


.


.


Bunyi ayam tetangga mulai berkokok. Samar-samar, Yandri mendengar ketukan halus di depan pintu rumahnya. Yandri mengerjapkan mata dan segera bangun. Sejenak, dia duduk untuk mengumpulkan kesadarannya sekaligus memastikan indera pendengarannya. Tak lama kemudian, ketukan pintu pun kembali terdengar.


"Ish, siapa lagi yang datang subuh-subuh begini? Bukankah tempo hari aku sudah mengingatkan kang Bahar agar tidak bertamu di jam segini? Uuh, benar-benar enggak bisa diberi pengertian tuh orang," dengus Yandri yang merasa kesal karena jam tidurnya terganggu.


"Iya, sebentar!" seru Yandri saat ritme ketukan pintu rumahnya terdengar semakin cepat.


Yandri keluar kamar dan segera menuju ruang depan untuk membuka pintu. Dia sangat terkejut saat mendapati ibunya telah berdiri di depan pintu.


"Ibu?!" pekik Yandri, tertahan.


"Iya, Yan. Maaf Ibu mengganggu kamu subuh-subuh begini," jawab Bu Maryam.


"Iya, enggak apa-apa, Bu. Mari silakan masuk!" ajak Yandri kepada ibunya.


Bu Maryam melepas sandalnya. Dia kemudian memasuki rumah panggung yang ditempati sang anak. Tiba di dalam, Bu Maryam duduk di atas karpet berbulu yang selalu terhampar di ruang tamu.


Yandri mengikuti ibunya. Sesaat kemudian, dia pun ikut duduk di hadapan Bu Maryam. Keningnya sedikit berkerut saat dia melihat raut wajah Bu Maryam yang terlihat kebingungan.


"Ada apa, Bu? Kenapa Ibu datang ke rumah Yandri sepagi ini?" Yandri melirik jam dindingnya, "subuh pun belum, Bu," lanjutnya.


"Maaf Yan, semalaman Ibu enggak bisa tidur. Karena itu, begitu tahrim, Ibu putuskan untuk kemari saja," jawab Bu Maryam.


"Tidak bisa tidur? Tapi kenapa, Bu?" tanya Yandri.


"Kamu tahu, 'kan, kalau sebentar lagi Joni akan segera menikah?" tanya Bu Maryam.


"Iya, kalau tidak salah, dua pekan lagi, 'kan?" jawab Yandri.


Bu Maryam mengangguk.


"Lantas?" tanya Yandri lagi.

__ADS_1


"Ibu pengen nyumbang buat pernikahan Joni, Yan," jawab Bu Maryam.


Yandri tersenyum. "Bu, kenapa harus bilang sama Yandri? Kalau mau nyumbang, ya silakan saja. Bukankah Joni itu cucu Ibu juga?" tutur Yandri.


"Masalahnya, Ibu sama sekali tidak pegang uang, Yan," jawab Bu Maryam.


Yandri terkejut, seketika dia pun bisa menebak maksud kedatangan ibunya.


"Jika memang Ibu tidak memiliki uang, tidak usah memaksakan diri untuk ikut menyumbang. Yandri yakin, kak Sarah pasti memahami kondisi Ibu." Yandri mencoba memberikan saran kepada ibunya.


"Tapi Ibu enggak enak, Yan. Ayahnya Joni sudah meninggal. Jadi, Ibu merasa memiliki kewajiban untuk membiayai pernikahan Joni. Ya, meskipun hanya serupiah dua rupiah," tukas Bu Maryam.


"Yandri paham. Tapi jika kondisi kita tidak memungkinkan, ya kita bisa apa, Bu," balas Yandri.


Daniar yang menguping pembicaraan suami dan ibu mertuanya, seketika beranjak dari tempat tidur. Belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, sikap tegas suaminya akan melunak jika terus didesak oleh iba sang ibu. Akhirnya Daniar ikut bergabung bersama suami dan mertuanya.


"Eh, ada Ibu," sapa Daniar yang pura-pura terkejut dengan kedatangan ibu mertuanya.


"Iya, Bun. Ibu datang untuk membicarakan pernikahan Joni," timpal Yandri.


"Benarkah? Apa Ibu mau ikut mengantar Joni juga?" tanya Daniar pura-pura tidak tahu maksud kedatangan mertuanya.


"Bukan, Bun. Ibu ingin menyumbang untuk biaya pernikahan Joni," lanjut Yandri.


"Oh, begitu. Hmm, wajar sih ... Joni, 'kan cucu Ibu juga," jawab Daniar.


"Tapi masalahnya, Ibu tidak punya uang untuk disumbangkan," tukas Yandri.


Yandri menggedikkan kedua bahunya.


"Jangan bilang kalau Ibu meminta Kang Yandri untuk mencarikan uang tersebut," terka Daniar.


Bu Maryam terkejut mendengar ucapan Daniar. Tidak dia pungkiri jika apa yang Daniar katakan itu benar adanya.


"Iya, Yan. Apa yang Daniar bilang itu benar. Ibu mau minta kamu mencarikan uang untuk sumbangan Joni," timpal Bu Maryam.


Daniar tersenyum kecut. Sudah kuduga, batinnya.


"Sebelumnya Niar minta maaf, Bu. Bukannya Niar hendak ikut campur urusan keluarga Ibu. Namun, Kang Yandri itu suaminya Niar, dan Niar berhak tahu apa pun yang ingin Kang Yandri lakukan. Ibu sendiri, 'kan tahu kalau Kang Yandri itu cuma honorer, berbeda dengan kak Nauval yang seorang pengusaha. Kenapa Ibu tidak meminta kepada kak Nauval saja? Atau setidaknya, anak-anak Ibu, 'kan bukan hanya Kang Yandri. Kenapa Ibu tidak coba meminta putra-putri Ibu untuk patungan, sisanya biar nanti kami yang tambahi," saran Daniar.


"Iya, Bu. Apa yang dikatakan Niar benar. Kita patungan saja, biar semuanya terasa ringan," timpal Yandri.


"Hmm, kamu seperti tidak pernah tahu saja bagaimana saudara-saudara kamu jika berhubungan dengan uang, Yan," keluh Bu Maryam.


"Yandri tahu Bu, tapi Ibu harus mencobanya terlebih dahulu. Jujur saja, kondisi keuangan Yandri tidak sama seperti saat Yandri hidup sendiri, Bu. Ada banyak tanggung jawab yang harus Yandri penuhi. Terlebih lagi, saat ini Yandri sedang mengikuti kuliah S1. Jadi Yandri harus berhemat agar se–"


"Ibu tidak mau tahu, Yan. Pokoknya uang itu harus ada sore ini juga. Lima juta dan tidak boleh kurang. Titik!" jawab Bu Maryam seraya beranjak dari tempat duduknya.


"Bu, Ibu mau ke mana? Tunggu Bu!" teriak Yandri

__ADS_1


Brak!


Bu Maryam hanya membanting pintu tanpa menoleh lagi. Dia pun pergi meninggalkan rumah putranya.


.


.


Menjelang istirahat, Daniar dan anak-anak didiknya sedang bercengkerama di depan kelas. Mereka mengajak main Bintang yang sudah pandai berceloteh.


"Waduh-waduh, Dedek Bintang sudah pintar bercerita ya, sekarang," tegur Bu Ovie.


"Eh, iya Bu. Sekarang dia sudah aktif berceloteh," jawab Daniar.


"Oh iya Bu Niar, dipanggil bu Aisyah di ruangannya. Katanya ada hal penting yang ingin beliau sampaikan," lanjut Bu Ovie.


"Oh, baiklah Bu. Saya cari kang Yandri dulu, mau menitipkan Bintang," sahut Daniar.


"Tidak usah, Bu. Bintang biar saya yang jaga," kata Bu Ovie.


"Waduh, jadi merepotkan Bu," tukas Daniar.


"Enggak kok, Bu. Ya sudah, sebaiknya Ibu segera pergi, sepertinya penting sekali," lanjut Bu Ovie.


Daniar mengangguk. Dia kemudian pergi ke ruang kepala sekolah.


"Assalamu'alaikum!" sapa Daniar seraya mengetuk pintu


"Masuk!" perintah Bu Aisyah. "Duduklah Bu Niar!" lanjutnya sesaat setelah Daniar membuka pintu dan memasuki ruangan Bu Aisyah.


Daniar mengikuti perintah atasannya. Tak lama berselang, Bu Aisyah pun ikut duduk di hadapan Daniar.


"Begini Bu Niar, saya sengaja memanggil Bu Niar kemari untuk membicarakan sesuatu yang bersifat pribadi," ucap Bu Aisyah.


Daniar mengernyit, entah apa yang ingin disampaikan oleh atasannya itu. Namun, Daniar merasa jika apa yang akan disampaikan, itu bukan suatu kabar yang menyenangkan.


"Sebenarnya, ada apa Bu?" Daniar memberanikan diri untuk bertanya.


"Apa Bu Niar masih berniat untuk bekerja di sini?" tanya Bu Aisyah.


Daniar semakin tidak mengerti. "Maksudnya, bagaimana ya, Bu?"


"Begini Bu Niar. Jika Ibu masih berniat untuk bekerja di sini, silakan titipkan Bintang kepada seorang pengasuh. Karena sekolah ini bukan tempat asuhan. Keberadaan Bintang di sini, membuat anak-anak tidak bisa berkonsentrasi dalam belajar. Namun, jika Ibu masih membawa Bintang juga, silakan Ibu kembali ke kampung halaman Ibu!" tegas Bu Aisyah.


Deg!


Jantung Daniar seakan berhenti berdetak mendengar perkataan atasannya. Tidak ada angin tidak ada badai, tiba-tiba saja ucapan Bu Aisyah memporak-porandakan hati Daniar. Ish, tekanan apa lagi ini? batin Daniar


"Apa ini artinya, saya dipecat?" tanya Daniar.

__ADS_1


"Pilihan ada di tangan Ibu. Silakan Ibu pikirkan baik-baik," jawab Bu Aisyah seraya beranjak dari tempat duduk dan kembali menuju kursi kebesarannya.


"Jika tidak ada yang ingin ditanyakan, Ibu bisa keluar dari ruangan saya."


__ADS_2