
Hati Siska meradang melihat Yandri menggandeng wanita lain. Terlebih lagi, dia mengenal wanita tersebut. Rasanya, kedua tangan Siska ingin menjambak rambut wanita itu. Namun, dia masih waras dan tak ingin membuat keributan di tempat umum.
Tak kuasa menahan api cemburu yang sedang membakarnya, Siska segera pergi dari kampus tempat dia mengemban ilmu. Sepanjang jalan, Siska tak mampu membendung air matanya lagi. Rasanya benar-benar menyesakkan. Siska kemudian mengeluarkan ponsel dan melakukan panggilan kepada seseorang.
"To-tolong jem-put a-aku di pertigaan kampus," ucapnya terbata.
Di ujung gang sempit, Siska berjongkok seraya menundukkan kepala. Bahunya mulai berguncang, tak sanggup lagi menahan isak yang kini menjadi tangis. Berulang kali dia menepuk dadanya yang semakin sesak. Perih, tapi tak berdarah. Mungkin inilah yang dinamakan luka hati.
Beberapa menit berlalu. Sebuah motor matic berhenti tepat di ujung gang H. Muchlis. Seorang gadis berhijab menghampiri Siska yang masih setia terisak.
"Sis," ucapnya, menepuk pelan bahu Siska.
Merasakan sentuhan di bahunya, membuat Siska mendongak seketika. Sedetik kemudian, Siska menjatuhkan tubuhnya dalam dekapan sang sahabat.
"A-aku han-cur, Syah ... ha-hatiku hancur ... hiks ... hiks ... ra-rasa-nya sa-sakit se-ka-li. Huhuhu...."
Dengan terbata, Siska mengungkapkan perasaannya saat ini kepada Aisyah. Terdengar sangat pilu dan menyayat hati. Ditambah lagi, isak tangisnya yang semakin kencang, membuat Aisyah kebingungan dan tak tahu harus berbuat apa.
Aisyah hanya bisa mengelus punggung sahabatnya. Berharap jika elusan itu bisa memberikan kekuatan kepada Siska. Walaupun Aisyah tahu, itu mustahil. Aisyah tahu betul jika Siska begitu mencintai Yandri.
"Aku su-dah ka-lah, Syah. Harapanku sudah musnah. Lalu, bagaimana aku bisa menghapus perasaanku? A-aku tidak mungkin mencintai su-suami orang, Syah. Tidak mungkin ..." Kembali Siska mengutarakan isi hatinya. Kepedihannya.
"Sabar, Sis. Aku yakin kamu bisa melewati ujian ini. Bersabarlah!" Hanya itu yang mampu Aisyah ucapkan.
Setelah beberapa saat kemudian, Aisyah mengajak sahabatnya untuk pulang. Hari sudah menjelang sore. Sudah waktunya para mahasiswa dan mahasiswi mengakhiri mata kuliah mereka. Aisyah tidak ingin dirinya dan sahabat menjadi pusat perhatian orang-orang yang akan melintas di depan gang H. Muchlis. Karena itu, Aisyah mengajak Siska untuk pulang.
.
.
Tiga bulan telah berlalu. Yandri merasa senang karena memiliki istri yang begitu pengertian. Pun dengan Daniar. Tak henti-hentinya Daniar mengucap syukur karena Tuhan telah mengirimkan Yandri sebagai imam dalam hidupnya. Meski terkadang mereka merasa heran dengan kebiasaan masing-masing. Namun, itu sama sekali tidak mengganggu hubungan keharmonisan mereka dalam menjalani rumah tangga.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum. Selamat hari jadi pernikahan yang ketiga bulan, Sayang," ucap Daniar di ujung telepon.
Yandri tersenyum. Ya, setiap bulan di tanggal yang sama, Yandri dan Daniar selalu meluangkan waktu untuk merayakan tanggal pernikahan mereka. Hmm, wajar saja ... pengantin baru.
"Eh, Kang ... hari ini jadi pulang, 'kan?" tanya Daniar.
Sejenak Yandri terpaku mendengar pertanyaan istrinya. Dia bingung harus menjawab apa. Bukannya dia tidak ingin pulang dan melewati waktu bersama dengan sang istri. Namun, tanggal pernikahan di bulan ini justru jatuh di hari efektif dia bekerja. Yandri bingung karena dia harus bisa menghemat pengeluaran. Tanggal gajian masih lama, sementara dompetnya mulai menipis karena harus membayar cicilan bekas kakaknya ke bagian bendahara.
"Ya Tuhan ... ada-ada saja," gumam Yandri tanpa sadar jika teleponnya masih tersambung.
"Iya, kenapa Kang?" Kembali Daniar bertanya di ujung telepon.
"Eh, enggak ... nggak pa-pa, Yar," jawab Yandri tergagap.
"Ya sudah, Akang bisa pulang nggak hari ini? Masa Niar lewatin tanggal aniv-nya sendirian." Terdengar rengekan yang selalu membuat Yandri semakin merindukan istrinya.
"Iya, Insya Allah Akang pulang, Yar," jawab Yandri yang mau tidak mau meng-iyakan demi menjaga perasaan istrinya.
"Alhamdulillah, makasih ya Kang. Entar biar Niar masak yang enak nih, buat Akang," ucap Daniar.
"Hehehe, iya Akangnya Niar Sayang. Ya sudah ya, Niar mau lanjutin bikin tugas akhir dulu. Kebetulan angket yang beberapa hari lalu disebar, sudah dikumpulkan kembali sama anak-anak," kata Daniar.
"Semoga lancar tugas akhirnya ya, Sayang. Kalau begitu, akang tutup teleponnya, ya."
Setelah mendapatkan jawaban iya dari istrinya, Yandri kemudian menutup teleponnya. Dia melirik jam dinding yang terpasang di bawah gambar garuda. Waktu istirahat sudah hampir habis. Yandri segera membereskan buku materinya. Sejurus kemudian, dia keluar dari ruang guru dan melangkahkan kakinya menuju kelas.
.
.
Sementara itu, di kediaman Daniar.
__ADS_1
Lepas mengerjakan tugas akhirnya, Daniar pergi ke dapur. Dia mengeluarkan bahan makanan yang tadi pagi dibelinya dari tukang sayur yang sering lewat depan rumah. Menu kali ini adalah tahu kecap. Dan itu adalah menu andalan Daniar. Makanan yang amat sangat disukai sang suami.
"Gorengannya mana, Niar? Masa cuma tahu kecap doang?" tanya Bu Salma sambil melihat menu yang sedang diolah putrinya.
"Enggak perlu, Bu. Makan kang Yandri sudah sangat lahap hanya dengan tahu kecap ini. Dia kan paling doyan dengan menu yang satu ini," jawab Daniar.
"Ish, masa satu macam sih, Ni," tegur Bu Salma, "kasian loh suami kamu, udah capek-capek kerja, pulang-pulang, eh malah disuguhin satu macam masakan. Ngirit banget sih, Ni. Memangnya kamu nggak mau dapat pahala nyenengin suami?" lanjut bu Salma.
Daniar diam. Dia sama sekali tidak berniat untuk menjawab pertanyaan ibunya.
Siapa sih yg nggak mau dapat pahala nyenengin suami? Daniar juga mau, bu. Tapi untuk saat ini, Daniar harus berhemat. Bulan ini kang Yandri hanya memberi uang dapur setengahnya. Daniar enggak mau nyusahin ibu, hanya karena permasalahan yang sedang Daniar hadapi, batin daniar.
"Ni, kok diam?" tanya Bu Salma.
Daniar tergagap. "Enggak, Bu. Enggak pa-pa, ini juga udah cukup, Bu. Insya Allah, kang Yandri pasti senang meski cuma ada satu macam hidangan di meja makan. Yang penting, ada Niar, 'kan yang nemenin makan."
"Halah, kamu ini .. ngeles mulu. Ya sudah, Ibu mau ke rumah wak haji dulu ya."
"Iya. Hati-hati, Bu," ucap Daniar.
"Iya. Sampaikan salam Ibu buat suami kamu. Sepertinya, hari ini Ibu nginep di rumah wak haji," timpal Bu Salma.
"Baik, Bu."
Setelah berpamitan, Bu Salma meninggalkan Daniar di dapur sendirian. Namun, sebelum dia benar-benar pergi, Bu Salma memerintahkan putri bungsunya untuk membeli makanan siap saji.
Kalau sudah dibeli, kamu simpan saja di meja makan. Bilang sama kakak kamu, kalau itu kiriman dari bib Indah. Ngerti, 'kan?" pesan Bu Salma kepada Danisa.
"Siap, Bu!"
Bu Salma kembali melirik Daniar yang sedang mencuci peralatan dapur bekas masaknya. Sebagai seorang ibu, dia sangat memahami perubahan raut wajah putrinya. Bu Salma bisa merasakan jika Daniar sedang mengalami kebingungan. Tak ingin membuat anaknya merasa tak enak hati menerima bantuan yang dia berikan, Bu Salma akhirnya meminta Danisa untuk menyelesaikan permasalahan putri sulungnya.
__ADS_1
Sambil membilas wajan, pikiran Daniar terbang entah ke mana. Sudah tiga bulan dia menikah. Namun, dia sama sekali tidak mengetahui nominal gaji sang suami. Hingga akhirnya, ujian pertama mulai menghampiri rumah tangga mereka.
Ya Tuhan, apa salah jika aku menanyakan nominal gaji kang Yandri padanya?