
"Sebentar lagi magrib, Bun. Sebaiknya Bunda pergi wudhu dulu, biar Ayah yang jagain Bintang," ucap Yandri.
"Bentar Yah, Bunda siapkan makanan dulu. Biar enggak repot juga kalau pas Ayah pulang dari Masjid," tukas Daniar.
"Oh, ya sudah kalau begitu," balas Yandri seraya menggendong Bintang.
Tak lama kemudian, telepon Yandri yang tersimpan di atas meja kerjanya, berdering.
"Ish, siapa yang menelepon sore-sore begini? Apa mereka enggak pernah tahu jika sebentar lagi waktunya berbuka puasa?" Yandri sedikit menggerutu seraya meraih benda pintar itu. Dahinya berkerut ketika melihat nama yang tertera di layar ponsel.
"Siapa yang telepon, Yah?" tanya Daniar yang juga merasa sedikit terganggu dengan bunyi telepon itu.
"Pak Agus, Bun," jawab Yandri. "Ada apa pak Agus telepon sore-sore begini?" lanjut Yandri.
"Ish, mana Bunda tahu ... diangkat saja, Yah. Siapa tahu, penting," perintah Daniar.
Yandri menggeser tombol berwarna hijau agar panggilan pak Agus tersambung.
"Assalamu'alaikum, Pak!" sapa Yandri.
"Pak Yan, cepatlah kemari!" jawab Pak Agus.
"Kemari? Kemari ke mana maksud Bapak?" Yandri bertanya seraya menautkan kedua alisnya.
"Sesuatu terjadi di rumah Nek Maryam. Aku sendiri tidak begitu mengetahui permasalahan yang sebenarnya. Hanya saja, sekarang Habibah berlari ke semak belantara yang berada di belakang rumah," jawab Pak Agus panjang lebar.
"Apa?!" pekik Yandri. "Ya sudah, Pak. Saya ke sana sekarang," lanjutnya.
Yandri memutus sambungan telepon. "Tolong pegang Bintang, Bun!" kata Yandri seraya menyerahkan putrinya.
__ADS_1
Daniar segera menggendong Bintang. Dahinya berkerut saat melihat kecemasan di raut wajah suaminya.
"Ada apa, Yah?" tanya Daniar.
"Entahlah, Ayah sendiri tidak tahu pasti. Hanya saja, pak Agus bilang jika kak Bibah berlari ke arah semak belantara yang berada di belakang rumah," jawab Yandri seraya mengenakan celana panjangnya.
"Terus Ayah mau ngapain?" tanya Daniar.
"Ayah mau cari kak Bibah," jawab Yandri.
"Tapi bentar lagi magrib, Yah," tukas Daniar.
"Enggak pa-pa Bun, Ayah bisa buka puasa di jalan." Yandri kembali menjawab.
"Ya sudah, hari-hati Yah," pesan Daniar.
Yandri mengangguk. Setelah itu, dia pun pergi ke rumah ibunya.
.
.
Di rumah, Bu Maryam hanya mampu duduk bergeming setelah anak dan menantunya pergi. Tak ingin memancing keributan lebih jauh lagi, Bahar terpaksa pergi. Meskipun dia sangat mencemaskan istrinya yang berlari ke tengah hutan. Namun, matanya yang tak bisa berkompromi dengan kegelapan, memaksa Bahar untuk tidak ikut melakukan pencarian.
"Ada apa ini, Maryam? Kenapa kamu usir menantu kamu? Memangnya apa salah dia kepadamu?" tanya Wak Eutik yang sudah duduk di samping adiknya.
Bu Maryam masih tetap diam. Dia hanya menatap kosong kaca jendela yang tirainya masih belum ditutup. Jika boleh jujur, Bu Maryam sendiri tidak mengerti kenapa dia bisa sampai melakukan perbuatan tidak terpuji seperti itu.
"Yam?" lanjut Wak Eutik seraya menggoyang pelan bahu Bu Maryam.
__ADS_1
"Entahlah, Ceu. Hanya saja, Iyam merasa kesal saat melihat wajah Bahar," jawab Bu Maryam seraya menghela napas.
"Kesal? Tapi kesal kenapa, Yam? Apa dia telah berbuat salah kepadamu? Apa dia telah menyinggung perasaan kamu?" Kembali Wak Eutik mencecar adiknya dengan berbagai macam pertanyaan.
"Iyam hanya kesal saja dengan semua kata-katanya, Ceu. Dia berjanji jika dia akan membahagiakan Habibah dan anak-anaknya. Tapi mana buktinya? Sampai detik ini, dia tidak mampu membelikan apa-apa untuk kedua anak Habibah," tutur Bu Maryam terlihat kesal.
"Ish, Maryam. Yang namanya usaha itu selalu ada pasang surutnya. Bukankah kamu lebih tahu akan hal itu? Kamu sendiri pernah merasakannya, 'kan, saat sedang berada di puncak kejayaan. Tapi roda terus berputar, hingga akhirnya kamu sendiri mengalami kebangkrutan dalam usaha. Begitu juga dengan Bahar. Mungkin, saat ini rezeki Bahar sedang tidak bagus. Karena itu Bahar belum bisa mencukupi semua kebutuhan anak-anak Habibah," papar Wak Eutik, mencoba mengingtkan adiknya tentang roda kehidupan yang terus berputar.
Bu Maryam diam. Apa yang dikatakan sang kakak memang benar adanya. Namun, sekali lagi Bu Maryam mencoba menyangkal kebenaran itu. Dia masih berpendapat, jika Bahar mampu memenuhi kebutuhan anak-anak Habibah, maka kasih sayang anak-anaknya tidak akan pernah terbagi.
Bu Maryam kembali menghela napas. "Nauval datang dan memberikan baju lebaran yang dibelinya untuk Rizal. Tapi dia sama sekali tidak mengingat ibu yang sudah melahirkannya," gumam lirih Bu Maryam.
"Astaghfirullah, Maryam! Jadi, kamu mengusir Bahar hanya karena tidak mendapatkan baju lebaran dari Nauval?" tanya Wak Eutik, tak percaya jika adiknya yang sudah tua itu memiliki rasa cemburu terhadap cucunya sendiri.
"Iyam cuma kesal saja, Ceu. Seandainya Bahar bisa mencukupi semua kebutuhan Ali dan Rizal, mungkin semua pemberian Nauval itu hanya untuk Iyam. Tidak akan terbagi dengan anak-anak Habibah," tukas Bu Maryam.
"Ya Tuhan, Ibu!" seru Yandri yang sudah berdiri di ambang pintu. Sesaat kemudian Yandri mendekati ibunya dan duduk di hadapan Bu Maryam.
"Yandri? Kapan kamu datang?" tanya Bu Maryam, terkejut.
"Jadi, Ibu mengusir kang Bahar hanya karena baju lebaran Rizal yang diberikan oleh kak Nauval? Ibu cemburu sama Rizal, cucu Ibu sendiri? Astaghfirullahaladzim, Bu ... kenapa Ibu memiliki pikiran sepicik itu? Seharusnya Ibu bersyukur karena kak Nauval masih memperhatikan kebutuhan Rizal meskipun sudah memiliki keluarga sendiri. Ish, kenapa Ibu malah tega mengusir orang yang tidak bersalah?" kata Yandri, sedikit menyesalkan perbuatan ibunya.
"Cukup yandri! Jika kamu datang kemari hanya untuk menceramahi Ibu, sebaiknya kamu pulang saja!" sahut Bu Maryam mengusir putranya.
"Ish, Ibu ... Yandri bukannya menceramahi Ibu. Hanya saja, Yandri tidak habis pikir dengan sikap Ibu yang kekanak-kanakan. Coba Ibu bayangkan, bagaimana jika semua ini terjadi pada putra Ibu? Bagaimana jika Yandri diusir Bu Salma tanpa sebab? Bagaimana jika kak Nauval, Yoga ataupun Raihan, diusir oleh mertua mereka? Apa Ibu akan terima keadaan itu?" tanya Yandri mencoba menyadarkan ibunya dengan membalikkan keadaan.
Bu Maryam hanya bisa diam. Sebagai seorang ibu, tentunya dia sendiri tidak akan menerima jika anaknya diperlakukan seperti itu. Diusir tanpa sebab, tentunya Bu Maryam akan merasa tersinggung dan sakit hati. Namun, sekali lagi ego Bu Maryam lebih mendominasi hatinya.
"Jika Ibu memang menginginkan baju lebaran, besok kita pergi ke pasar. Tapi Ibu harus meminta maaf kepada kak Bibah dan kang Bahar. Apa Ibu tidak mencemaskan keadaan kak Bibah yang kabur ke semak belantara di belakang rumah? Bagaimana kalau terjadi sesuatu kepada kak Habibah? Apa Ibu pernah berpikir ke sana? Astaghfirullah, Yandri enggak habis pikir sama ibu."
__ADS_1
Yandri mengusap wajahnya dengan kasar. Teriakan para tetangga yang memanggil nama kakaknya, seketika mengingatkan Yandri akan tujuannya kemari. Sejurus kemudian, Yandri keluar untuk bergabung melakukan pencarian terhadap Habibah.