Setelah Hujan

Setelah Hujan
Menyambut Hari Kemenangan


__ADS_3

Drama dibalik baju lebaran telah berlalu. Malam ini, takbir mulai bergema di seluruh pelosok negeri. Umat muslim dengan sukacita menyambut hari kemenangannya.


Tidak ada kue-kue lebaran yang tersaji di atas meja di kamar Daniar. Bahkan, Daniar tidak memasak apa pun untuk sarapan. Karena rencananya, mereka akan berkumpul di rumah Bu Maryam untuk sungkeman dan makan bersama.


Keesokan harinya, setelah melaksanakan salat Ied, Yandri mengajak anak istri ke rumah ibunya. Tiba di sana, Daniar merasa heran karena rumah mertuanya terlihat sepi.


Ish, ke mana perginya orang-orang? Bukankah ibu memiliki cukup banyak anak? Tapi kenapa tak satu pun terlihat berlalu lalang di rumah ibu? batin Daniar.


"Assalamu'alaikum!" sapa Yandri seraya membuka handle pintu.


"Wa'alaikumsalam,"jawab Bu Maryam yang baru saja keluar dari kamarnya.


Yandri mencium punggung ibunya dan langsung meminta maaf. "Maafkan Yandri, Bu. Selama ini Yandri belum bisa menjadi anak yang baik," ucapnya.


Bu Maryam mengusap pucuk kepala sang anak. "Iya, sama-sama, Nak," balasnya.


Setelah itu, giliran Daniar yang mencium punggung tangan sang mertua seraya berkata, "Maafin Niar, Bu. Niar belum bisa menjadi seorang menantu yang baik."


"Iya, tidak apa-apa, Niar. Semuanya butuh proses," jawab Bu Maryam.


Mereka kemudian duduk di ruang tamu. Sedangkan Bu Maryam kembali ke kamarnya. Suasana lebaran di rumah ibu mertuanya tampak biasa saja. Tidak ada jamuan yang tersedia di atas meja makan. Tidak ada tetangga yang saling berkunjung. Bahkan setelah duduk hampir satu jam, tak satu pun anak-anak Bu Maryam yang datang selain dia dan suaminya.


"Saudara-saudara Ayah enggak pada datang?" bisik Daniar.


"Biasanya mereka datang di hari kedua," jawab Yandri.


"Terus, ngapain kita di sini?" tanya Daniar lagi.


"Kita mau ke makam bapak, Bun," jawab Yandri.


"Masih ada orang yang ditunggu?" Daniar kembali bertanya.


"Paling hanya nunggu ibu yang sedang ganti pakaian," balas Yandri.


"Ya sudah, buruan kita ke makam. Ayah enggak sadar ini udah jam berapa? Kita belum sarapan loh," kata Daniar.


"Sebentar, Bun. Kita tunggu ibu dulu," pinta Yandri.


"Sebenarnya ibu masak enggak sih, Yah? Kemarin, 'kan sudah dikasih uang belanja. Tapi kok enggak ada makanan," kata Daniar lagi yang merasakan perutnya sudah keroncongan.


"Mungkin ibu enggak keburu masak, Bun. Kak Bibah, 'kan enggak lebaran di sini, jadi enggak ada yang bantuin masak," jawab Yandri.


"Ish, tau gini mah, tadi malam Daniar masak dulu di sekolah," gerutu Daniar kesal karena semalam Yandri melarang dia masak dengan alasan bakalan makan ketupat bersama di rumah ibunya.


Tak lama berselang, Bu Maryam keluar dari kamarnya. Namun, dia masih mengenakan baju yang sama. Dia kembali duduk di hadapan anaknya.


"Ibu kok belum ganti pakaian? Kita, 'kan mau ke makam," kata Yandri.


"Kalian saja yang pergi ke makam, Yan. Kepala Ibu rasanya pusing sekali. Ibu mau tiduran saja di rumah," jawab Bu Maryam.


Yandri dan Daniar hanya saling pandang mendengar jawaban Bu Maryam.


Astaghfirullah ...lebaran hari pertama belum usai, tapi sang mertua sudah menguji kesabarannya lagi. Ya Tuhan ... beri hamba kesabaran yang tanpa batas, batin Daniar seraya tersenyum kecut.


.


.

__ADS_1


Berbanding terbalik dengan keluarga Bu Maryam, dengan penuh suka cita keluarga Bu Salma berkumpul untuk merayakan hari kemenangan. Tampak Danita yang sedang menyusun menu makanan di atas meja. Sesekali dia melirik jam dinding, sudah hampir jam 08.00, tapi kakaknya belum datang juga.


"Kak Niar jadi pulang enggak sih, Bu?" tanya Danita kepada ibunya yang tengah menyiapkan jus mangga.


"Katanya sih jadi. Selepas salat Ied, dia mau berkumpul dulu di rumah keluarga besar Yandri, setelah itu baru pulang ke sini," jawab Bu Salma.


"Tapi kok, jam segini belum datang juga. Dia enggak tahu apa, kalau kita udah kelaperan banget," tukas Danisa seraya menyomot mangga yang sedang dikupas ibunya.


"Ish, Dek. Kalau mau makan ya makan saja. Enggak usah celamitan gini, ah. Enggak baik!" jawab Bu Salma seraya menepuk pelan punggung tangan anak bungsunya yang sedang mengambil potongan mangga.


"Ya elah, Ibu ... cuma nyomot mangga doang," gerutu Danisa.


"Tapi itu enggak sopan, Dek. Ibu enggak suka ah," jawab Bu Salma.


"Iya-iya, Bu," jawab Danisa seraya memeluk ibunya dari belakang.


"Ya sudah, sebaiknya kalian makan sekarang saja. Kasihan suami sama anak kamu, Nit. Mereka pasti sudah sangat lapar," ucap Bu Salma.


"Jadi kita enggak usah nunggu kak Niar, Bu?" tanya Danita lagi.


"Enggak usah, Niar pasti ngerti kok. Ya sudah, buruan panggil Roni sama Fayyadh!" lanjut Bu Salma.


Danita mengangguk. Sejurus kemudian, dia pergi ke ruang keluarga untuk memanggil suami dan anaknya.


.


.


Selesai berziarah ke makam ayahnya, Yandri dan Daniar pun memutuskan untuk pulang tanpa singgah lagi ke rumah ibunya. Suasana jalan cukup lengang, tidak banyak kendaraan umum yang berlalu lalang, mungkin karena ini hari pertama lebaran.


Selama berjalan kaki menuju rumah ibunya, para tetangga yang bertemu di jalan, menyapa dan bersalaman dengan Daniar. Bagaimana lazimnya tradisi lebaran, mereka juga saling meminta maaf.


"Assalamu'alaikum!" sapa Daniar begitu tiba di depan rumahnya.


"Wa'alaikumsalam," jawab Danita seraya membuka pintu utama. Danita tersenyum lebar saat melihat siapa yang datang. "Minal aidin wal faizin, Kak Niar," ucapnya seraya memeluk Daniar.


"Minal aidin wal faizin juga, Dek, jawab Daniar, membalas pelukan sang adik.


"Masuk, yuk!" ajak Danita setelah melepaskan pelukannya.


Daniar dan Yandri memasuki rumah Bu Salma. Senyum wanita paruh baya itu semakin melebar melihat kedatangan keluarga kecil anak sulungnya.


"Bintang, cucu Enin Sayang. Sini, Enin gendong Nak. Uuh, Enin kangen banget sama Bintang," ucap Bu Salma seraya meraih Bintang dari pangkuan ayahnya.


Bintang tergelak saat Bu Salma menciumi kedua pipinya, membuat Fayyadh memasang muka cemberut karena cemburu. Anak kecil itu berlari menghampiri sang nenek dan menarik-narik ujung baju Bu Salma.


"Aah, Fayyadh mau digendong juga, ya. Tadi, 'kan sudah digendong sama Enin. Dedek Fayyadh digendong Tata saja, ya," ucap Bu Salma seraya menunjuk anak bungsunya.


"Idih, ogah. Fayyadh, 'kan berat," goda Danisa


Anak kecil itu langsung merengek minta gendong ibunya


"Sini-sini, Fayyadh digendong sama Ayah saja, ya," ucap Yandri seraya meraih Fayyadh dan menggendongnya.


Anak kecil yang usianya hanya terpaut tiga bulan lebih muda dari Bintang, merasa senang saat berada dalam pangkuan Yandri


"Bikin kupat sama opor ayam enggak, Bu? Niar lapar banget nih," ucap Daniar yang memang perutnya sedari tadi sudah terasa perih.

__ADS_1


"Itu mah menu wajib di keluarga kita atuh, Ni. Ya sudah, kalian makan dulu, gih. Abis itu kita sungkeman terus keliling ke rumah sanak saudara. Nanti sore, kita ke makam," tutur Bu Salma.


"Iya, Abang makan saja dulu. Fayyadh biar Roni yang gendong," timpal Roni seraya membawa anaknya dari pangkuan kakak ipar.


Daniar kemudian pergi ke ruang makan untuk menyantap makanan khas lebaran yang selalu disediakan ibunya.


"Ih Kak Niar, hati-hati dong makannya. Rakus amat, kek orang baru nemu makan aja," gurau Danita saat melihat Daniar langsung menyambar makanan dengan lahapnya.


"Kakak emang kelaperan, Dek. Dari pagi belum nemu makanan. Cuma minum air mineral doang di dalam bus," jawab Daniar yang memang selalu bicara blak-blakan.


"Ish, emang sebelum ke sini, Kakak enggak sarapan dulu?" tanya Daniar.


Daniar menggelengkan kepalanya.


"Ih, Kak Niar malas amat sih, masak dong! Kasihan juga ya, bang Yandri ... harus dapetin istri pemalas kek Kak Niar. Tiap hari kelaparan tuh, karena enggak pernah sarapan. Bininya malas masak, sih," ledek Danita.


"Enak aja!" tukas Daniar sambil melemparkan kerupuk ke arah adiknya. "Ini juga gara-gara abang ipar kamu yang nyuruh kakak nggak usah masak. Katanya mau ada acara kumpul keluarga. Eh tahunya, pas datang rumah tetep sepi. Mana kagak ada makanan lagi," tutur Daniar, raut wajahnya kembali kesal mengingat kejadian tadi pagi.


"Loh, kok sepi. 'Kan lebaran, Kak. Memangnya adek kakaknya bang Yandri enggak pada kumpul?" tanya Danita, heran.


Daniar hanya menggedikan kedua bahunya.


"Ih, padahal, 'kan adek kakak bang Yandri banyak," lanjut Danita.


"Iya, Kakak ngerasa kasihan juga ngelihat ibunya kang Yandri. Dia pasti kesepian. Lebaran enggak lebaran, suasana rumahnya sama saja," ucap Daniar.


"Kok gitu sih, Kak? Padahal lebaran cuma setahun sekali. Apa mereka tidak bisa sedikit meluangkan waktu untuk ibunya?" Kembali Danita bertanya.


"Entahlah," jawab Daniar.


"Hmm, ibu kita sangat beruntung ya, Kak. Meskipun kita hanya tiga bersaudara, tapi kita masih bisa meluangkan waktu untuk ibu," kata Danita.


"Iya, dek. Udah ah, enggak usah ngomongin itu lagi. Enggak enak juga kalau kedengeran kang Yandri," pungkas Daniar.


Tanpa mereka sadari, Yandri ternyata sudah berdiri di pintu pembatas ruang keluarga dan ruang makan. Dan dia sudah mendengar semua yang dibicarakan oleh isteri dan adik iparnya.


Yandri tersenyum kecut. Suasana lebaran di rumah mertuanya memang sangat berbeda dengan suasana lebaran yang dia rasakan semenjak ayahnya tiada. Hmm, entah kapan aku merasakan kehangatan keluarga besarku lagi? batinnya


"Abang ngapain berdiri di sini, ngalangin jalan aja," gerutu Danisa yang hendak mengambil jus mangga di ruang makan.


Yandri terhenyak, dia hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sedangkan Daniar dan Danisa hanya bisa saling pandang saat melihat Yandri berdiri di ambang pintu.


"Astaghfirullah, apa bang Yandri mendengar percakapan kita, Kak?" bisik Danisa.


"Sudahlah, tidak apa-apa," jawab Daniar dengan berbisik juga.


Sedetik kemudian, Daniar mengambil piring dan mengisinya dengan kupat dan opor ayam. "Makan sini, Yah!" panggilnya kepada Yandri.


Yandri tersenyum, dia kemudian mendekati istrinya dan menarik kursi makan yang berhadapan dengan Daniar.


"Makasih, Bun," ucap Yandri seraya menyantap makanan yang sudah disediakan Daniar


"Ayah pasti dengar apa yang diobrolin sama Bunda dan Nita. Bunda minta maaf, ya," cicit Daniar.


"Tidak apa-apa, Bun. Itu memang faktanya. Ayah justru bersyukur karena di sini, Ayah bisa mendapatkan suasana lebaran yang begitu hangat. Semoga suara hari nanti, kehangatan seperti ini juga bisa terjadi di keluarga besar Ayah," jawab Yandri panjang lebar.


"Aamiin."

__ADS_1


__ADS_2