
Khodijah mengerjapkan mata setelah puas tertidur. Sejenak, dia mengedarkan pandangannya. Dinding putih yang sudah berubah warna menjadi putih tulang di sekitarnya, seketika mengingatkan Khodijah akan keberadaan dia saat ini. Khodijah tersenyum tipis saat menyadari dia tengah berada di kamar ibunya. Sudah begitu lama dia tidak pernah berbaring di atas ranjang milik sang ibu.
Khodijah berusaha menggeliatkan tubuhnya. Badan Khodijah terasa pegal. Namun, dia sama sekali tidak mampu menggerakkan sebagian tubuh ke bawah. Tangan kanannya pun terasa kaku. Hanya tangan kiri saja yang mampu dia gerakan untuk meraih air minum di atas nakas, tapi hasilnya ... Khodijah tetap tidak bisa meraih gelas itu. Rasa haus benar-benar mendera, Khodijah hanya bisa menunggu seseorang datang ke kamar ini.
Pergerakan Khodijah yang terbatas, sungguh membuat dirinya menjerit dalam hati. Terlebih lagi, cacing-cacing di dalam perut sudah ribut meminta jatah makan siang. Sesaat, Khodijah melirik jam dinding yang berada di kamar ibunya. Penunjuk waktu berhenti di angka dua, jam makan siang memang sudah terlewat. Pantas saja jika perutnya mulai melilit karena meminta hak.
Ke mana perginya kang Aji? Kenapa jam segini dia belum menyiapkan makan siang aku? Apa dia sudah pulang? Tapi kenapa dia tidak pamit padaku? Perasaan, aku hanya tidur sebentar.
Khodijah bermonolog dalam hatinya. Matanya kembali menatap pintu kamar. Berharap seseorang memasuki ruangan ini agar dia bisa memberi tahu rasa laparnya.
Sudah cukup lama Khodijah menunggu. Dia sudah tidak sanggup lagi dengan rasa laparnya. Khodijah mulai berteriak untuk memanggil orang yang berada di rumah ini. Namun, hanya kata 'umh' yang keluar dari bibirnya. Tak sanggup menahan kepiluan di hatinya, Khodijah hanya bisa meneteskan air mata.
.
.
Setelah tahu Khodijah ada di rumah Bu Maryam. Berbondong-bondong sanak saudara dan juga tetangga dekat menjenguk Khodijah. Sudah lama juga mereka tidak bertemu khodijah. Ketika masih sehat pun, Khodijah jarang sekali pulang. Mungkin dalam setahun, terhitung dua atau tiga kali saja dia pulang kampung.
"Astaghfirullahaladzim! Uwak tidak menyangka keadaan kamu seperti ini, Dijah," seru Wak Eutik saat menemui anak angkatnya di rumah Bu Maryam.
Sejak kecil, Khodijah memang tinggal di rumah Wak Eutik yang tak lain adalah kakaknya Bu Maryam. Wak Eutik tidak memiliki anak perempuan. Karena itu, setelah tahu adiknya melahirkan Habibah, dia pun memutuskan membawa Khodijah yang masih berusia dua tahun.
"Iya, Ceu. Ini juga akibat ulah si Aji. Coba dia bener ngurusin istrinya pas kena serangan stroke yang pertama, penyakit Dijah pasti tidak akan separah ini. Emang dasar suami enggak berguna. Pelit!" Bu Maryam mendengus kesal mengingat usaha Aji yang menurutnya salah.
"Ish, Mar. Tidak baik menjelek-jelekkan menantu sendiri. Bagaimanapun juga, Aji itu suaminya Dijah. Mantu kamu, bapak dari cucu-cucu kamu. Memangnya kamu enggak mikirin perasaan anak kamu? Dijah pasti sedih mendengar suaminya dijelek-jelekan seperti itu," tukas Wak Eutik, menasihati adiknya.
Bu Maryam menggerutu kesal karena tidak bisa memprovokasi sang kakak. Wanita tua itu pun keluar kamar dan membiarkan kakaknya melepaskan kerinduan kepada Khodijah.
Bu Maryam kembali ke ruang tamu dan ikut bergabung bersama Habibah, juga para tamu yang sedang menjenguk Khodijah.
"Memangnya, Aji kenapa Bu? Kok sepertinya Ibu terlihat kesal sekali padanya?" tanya salah satu tetangga Bu Maryam.
Bu Maryam membuang napas dengan kasar. Sungguh, mengingat menantunya itu, selalu saja membuat tensi Bu Maryam naik. Bu Maryam tidak terima anaknya lumpuh karena kecerobohan Aji dulu.
__ADS_1
"Seandainya dulu Khodijah langsung ditangani oleh dokter khusus, mungkin penyakitnya tidak akan separah ini, Wat," ucap Bu Maryam terlihat bersedih.
"Memangnya, apa yang dulu terjadi pada khodijah, Bu?" tanya Bu Wawat yang semakin penasaran.
"Dulu, Khodijah terkena serangan stroke ringan. Bukannya membawa Khodijah ke rumah sakit, suaminya itu malah membawa Khodijah ke puskesmas dan juga tempat pengobatan alternatif. Beberapa bulan kemudian, Khodijah memang sembuh. Namun, ternyata kesembuhannya itu hanya bertahan tiga bulan. Khodijah mengalami stroke lagi karena salah meminum obat dari dokter puskesmas," tutur Habibah.
"Astaghfirullah! Itu tindakan malpraktik, Bah. Apa kalian sudah melaporkan kejadian itu kepada polisi?" ujar Bu Wawat.
Bu Maryam menggeleng pelan. Dia memang tidak mengerti apa-apa tentang dunia medis, apalagi dunia hukum. Dia hanya seorang wanita tua yang tinggal di desa dan tidak pernah mengenyam pendidikan. Sesuai ajaran kedua orang tuanya dulu, Bu Maryam pun berpendapat jika pendidikan tidak begitu penting bagi seorang perempuan. Demikian juga dengan Habibah. Pendidikannya yang hanya sebatas SD, membuat dia tidak mengerti apa-apa dengan kejadian seperti itu.
"Sebaiknya, Ibu laporkan saja puskesmas itu kepada pihak yang berwajib. Supaya mereka bertanggung jawab terhadap Khodijah," saran Bu Wawat.
"Tapi, 'kan ... kejadiannya sudah lama sekali, Wat," ucap Bu Maryam.
"Tidak ada salahnya dicoba dulu, Bu. Lagi pula, Khodijah itu harus ditangani oleh dokter, bukan tabib-tabib kampung. Dengan alasan ini, Ibu bisa menuntut puskesmas itu memberikan pengobatan gratis hingga Khodijah pulih." Kembali Bu Wawat memprovokasi keluarga Khodijah.
"Hmm, bicara memang mudah, Wat. Praktiknya yang susah," tukas Habibah. "Belum lagi, biayanya mau dari mana? Tuntut menuntut itu membutuhkan pengacara, kuasa hukum. Dan seorang pengacara tidak akan mau bekerja gratisan. Memangnya, kang Aji sanggup bayar pengacara? Orang pekerjaan kang Aji saja cuma tukang jahit," lanjut Habibah.
.
.
Cakrawala mulai berubah warna. Daniar menyandarkan punggungnya di tepi kasur setelah selesai salat maghrib. Dia menengadahkan wajah, mengingat kembali masa-masa suram saat suaminya mengalami kecelakaan.
Ada banyak hal yang sudah dia korbankan. Baik secara moril maupun materiil. Dan sekarang, meskipun Yandri telah kembali bekerja, tapi semuanya tidak akan sama seperti dulu. Kecelakaan telah membuat pergerakan Yandri terbatas.
Drrt... Drrt...
Getaran ponsel di atas meja riasnya, membuat Daniar mendongak. Dia kemudian berdiri untuk mengambil ponselnya. Senyumnya terbit saat melihat nama suaminya terpampang jelas di layar ponsel.
"Assalamu'alaikum, Yah!" Daniar mengucap salam sesaat setelah menggeser tombol berwarna hijau.
"Wa'alaikumsalam. Apa kabar, Bun?" tanya Yandri di seberang telepon.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kabar Bunda baik, Yah. Ayah sendiri bagaimana? Sehat?" Daniar balik bertanya.
"Alhamdulillah, Ayah sehat," jawab Yandri.
"Pusing di kepalanya gimana, Yah? Apa masih sering kambuh?"
Daniar kembali bertanya. Sungguh, rasa pusing yang sering menyerang suaminya secara tiba-tiba, membuat Daniar selalu mencemaskan keadaan suaminya.
"Jarang, Bun. Karena Ayah juga sudah membatasi diri dalam bekerja. Ayah udah enggak lembur lagi. Palingan ... selesai membimbing ngaji dan belajar malam, Ayah langsung rehat. Ayah sudah enggak lembur malam-malam lagi. Pokoknya, jam sembilan malam harus sudah beristirahat," tutur Yandri mendeskripsikan pekerjaannya pasca kecelakaan.
"Ah, syukurlah kalau begitu. Bunda khawatir kalau Ayah tiba-tiba sakit lagi," ucap Daniar.
"Insya Allah, enggak Bun. Sekarang Ayah sudah sehat," jawab Yandri, berusaha untuk meyakinkan Daniar.
"Hmm, iya-iya, Bos," gurau Daniar.
Terdengar suara tawa di ujung telepon. Daniar pun tersenyum mendengar gelak tawa suaminya.
"Oh iya, Bun ... apa Bunda tahu kalau kak Dijah sekarang tinggal di rumah ibu?" tanya Yandri, tiba-tiba.
Daniar mengerutkan keningnya. Selama ini, dia tidak mendengar kabar apa-apa tentang kakak iparnya yang tengah sakit.
"Hallo, Bun!"
"Eh, iya Yah. Emh, Bunda enggak tahu tuh kalau kak Dijah sedang berada di rumah ibu. Memangnya, Ayah tahu kabar itu dari mana?" tanya Daniar, penasaran.
"Tadi pagi, Ayah telepon kang Aji untuk mengingatkan dia tentang kontrol kak Dijah hari ini. Ternyata, kang Aji bilang, kak Dijah sudah satu minggu ini tinggal di rumah ibu. Kak Dijah terus memaksa pulang. Mungkin dia ingin tetirah di rumah ibu, Bun," papar Yandri.
"Oh, mungkin kak Dijah butuh suasana baru juga, Yah. Hmm, Mudah-mudahan saja, suasana di rumah ibu bisa segera memulihkan kesehatan kak Dijah," ucap Daniar.
"Iya, semoga saja Bun. Sekali-sekali, jika Bunda punya waktu, tengoklah kak Dijah di sana. Sekalian menjenguk ibu juga," kata Yandri.
Hening
__ADS_1