Setelah Hujan

Setelah Hujan
Ingin Pulang


__ADS_3

Sambil terus menggerutu, Habibah keluar dari kamarnya. Dia mengayunkan langkah menuju rumah ibunya yang hanya berbatas dinding pemisah saja. Tiba di kamar ibunya, Habibah cukup terkejut karena mencium aroma yang cukup menyengat.


"Uuh, bau apa sih ini?" ucap Habibah seraya menutup hidungnya.


Khodijah yang memang sudah bangun, sontak menoleh saat Habibah membuka pintu. Dia tersenyum kecut ketika Habibah menggerutu karena mencium bau pesing di kamarnya. Sudah sedari tadi Khodijah ingin buang air kecil. Namun, karena ibunya tidak menginap di sini, Khodijah pun merasa kesulitan untuk pergi ke kamar mandi.


"Kamu ngompol, Kak?" tanya Habibah, membulatkan kedua bola matanya.


Khodijah hanya mampu diam. Mengalihkan pandangannya karena merasa malu pada Habibah.


"Ih, Kakak. Kenapa enggak ditahan dulu sebentar, Kak? Ya minimal ampe subuh datang lah, tunggu Bibah datang. Kalau kayak gini caranya, semua orang, 'kan jadi repot. Mana musim hujan lagi, susah jemur kasurnya.


Habibah terus menggerutu sambil membuka sarung yang dikenakan Khodijah. Setelah itu, dia pergi ke kamar mandi untuk mengambil air bersih. Beberapa menit kemudian, Habibah kembali ke kamar. Bibirnya tak henti-hentinya mengoceh sambil terus membersihkan bagian tubuh Khodijah yang basah. Dengan susah payah, Habibah menggeser tubuh Khodijah untuk membersihkan sisa cairan pesing di atas kasur.


Mendapat perlakuan yang seolah tida ikhlas dari saudari kandungnya, hati Khodijah seolah teriris sembilu. Perih dan sangat menyakitkan. Khodijah mulai menyesali keputusannya yang ingin pulang dan tetirah di rumah sang ibu. Sungguh, Khodijah tidak pernah menyangka jika keberadaannya di rumah sang ibu, ternyata hanya menjadi beban bagi adiknya. Air mata pun kembali meleleh di kedua pipi Khadijah.


"Ah, akhirnya selesai juga," kata Habibah seraya membenahi sarung kakaknya.


"Te-ri-ma ka-kasih," kata Khodijah terbata.


"Iya, tapi lain kali jangan ngompol lagi ya, kak. Nanti Bibah minta uang sama kang Aji deh, buat beli pampers dewasa," ucap Habibah.


Khodijah hanya tersenyum tipis mendengar ucapan adiknya.


.


.


Azan subuh mulai berkumandang. Bu Maryam kembali ke rumahnya dan segera pergi ke kamar mandi untuk berwudhu. Hari ini, dia akan kembali berjuang untuk mengambil hati suaminya. Memang benar, sudah terlalu lama Bu Maryam melayani Khodijah, hingga dia mengabaikan kewajibannya mengurus suami.


Selesai berwudhu, Bu Maryam pergi ke kamar kosong untuk menunaikan kewajiban shalat. Dia tidak ingin pergerakannya membangunkan sang suami. Karena itu, dia memilih untuk shalat di kamar sebelah.


Selesai shalat, Bu Maryam pergi ke dapur untuk menanak nasi. Dia sengaja tidak membangunkan Kakek Ahmad. Bu Maryam tahu, jika setiap pukul 5 pagi, suaminya selalu bangun tepat waktu untuk menunaikan shalat subuh.

__ADS_1


Beberapa menit telah berlalu, Bu Maryam masih asyik berkutat dengan kegiatan di dapur. Selain menanak nasi dan juga memasak air buat air minum, Bu Maryam juga menyiapkan bahan makanan lainnya yang akan disajikan untuk sarapan nanti bersama suaminya.


Saat dia sedang memotek batang bayam, dia melihat Kakek Ahmad masuk dapur. Mungkin, laki-laki tua itu hendak pergi ke kamar mandi untuk berwudhu.


"Sudah bangun, Pak?" tanya unfaedah Bu Maryam.


Kakek Ahmad hanya melirik ke arah istrinya. Sedetik kemudian, dia terus berjalan. Kakek Ahmad sama sekali tidak mengindahkan pertanyaan istrinya.


Hati kakek Ahmad masih diliputi kekecewaan. Karena itu, dia pun mengabaikan keberadaan istrinya di dapur.


Bu Maryam hanya bisa menghela napas. Ada rasa sakit terselip di relung hatinya saat mendapatkan sikap acuh tak acuh dari suaminya. Bu Maryam sadar, mungkin ini adalah akibat yang harus dia terima saat dia lebih mementingkan anaknya ketimbang sangat suami.


Waktu terus berlalu. Tanpa terasa, matahari telah keluar dari persembunyiannya. Sesaat, Bu Maryam tertegun tatkala memikirkan anaknya yang sedang sakit.


Ya Tuhan ... apa yang harus aku lakukan sekarang? Jika aku meminta izin untuk menemui Khodijah, apa bapak akan mengizinkan aku? batin Bu Maryam.


.


.


Habibah sedang menyiapkan air hangat untuk memandikan Khodijah. Dia kemudian meminta bantuan suaminya untuk menggendong Khodijah dan membawanya ke kamar mandi.


"Ish, Bah. Akang itu bukan muhrimnya. Masa iya disuruh bantu mandiin kakak kamu, sih," tegur Bahar.


"Habisnya, berat Kang. Cuma nyangga doang, 'kan pake sarung juga," kilah Habibah.


"Tetep aja enggak boleh, Bah," jawab Bahar. "Udah deh, diseka aja di kamar, ya. Ayo, Akang bawain embernya ke kamar," lanjut Bahar.


Tanpa mereka sadari, Khodijah mendengar semua percakapan mereka dari dalam kamar. Rasa sakit kian mendera hatinya. Hingga tanpa sadar, Khodijah menjerit memanggil nama suaminya di dalam hati.


Jemput Dijah, Kang. Dijah sudah enggak kuat, Dijah enggak sanggup ... Dijah ingin pulang, ratap Khodijah dalam hatinya.


.

__ADS_1


.


"Bapak, kapan kita akan menjenguk ibu di rumah nenek?" tanya Haikal yang sedang sarapan bersama ayah dan kakaknya.


"Besok, Sayang. Besok, 'kan hari Minggu. Sekolah Haikal sama Kak Hana libur, jadi besok kita bisa jenguk ibu di rumah nenek," jawab Aji.


"Yeayy ... besok kita akan ketemu ibu. Yeayy!"


Haikal bersorak gembira setelah mendengar jawaban ayahnya. Sudah sangat lama dia tidak bersua dengan wanita yang telah melahirkannya. Anak kecil berusia 7 tahun itu, sangat rindu akan hangatnya pelukan seorang ibu.


Aji pun tersenyum melihat tingkah laku anak bungsunya. Bukan hanya kedua anaknya saja yang merindukan ibunya. Aji juga sudah sangat merindukan sang istri. Meskipun dia tahu jika Khodijah sudah tidak mampu lagi melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.


.


.


Malam ini, satu per satu kerabat Bu salma datang untuk memenuhi undangan pengajian. Setelah mendapatkan izin dari menantunya, Bu Salma pun mengadakan tasyakuran atas kehamilan Daniar.


"Alhamdulillah, selamat ya Bi Salma atas kehamilan putri sulungnya," kata keponakan Bu Salma.


"Iya, Terima kasih Jeng. Kamu juga, semoga cepat diberikan momongan, ya," balas Bu Salma.


"Aamiin. Alhamdulillah Bi, sebenarnya Ajeng sudah telat beberapa minggu. Hmm, semoga saja tidak zonk lagi," jawab Ajeng.


"Alhamdulillah, semoga saja, Nak. Ingat, jangan terlalu capek dan melakukan pekerjaan yang berat. Biar enggak seperti yang udah-udah," nasihat Bu Salma.


"Insya Allah, enggak Bi. Minta do'a nya saja," jawab Ajeng.


"Pasti, Nak. Bibi akan selalu mendoakan kamu dan juga kesehatan calon anak kamu," sahut Bu Salma. "Ayo, kita masuk. Sebentar lagi pengajiannya akan dimulai," ajak Bu Salma kepada Ajeng.


Ajeng dan para tamu undangan yang lainnya memasuki rumah. Tak lama kemudian, keponakan Bu Salma yang berprofesi ustadz, memimpin acara pengajian Daniar.


Acara tasyakuran yang diadakan keluarga Bu Salma berjalan dengan sangat khidmat. Banyak do'a dan harapan yang tercurah ke hadirat Illahi pada malam ini.

__ADS_1


"Alhamdulillah ... aamiin allahumma aamiin," pungkas Ustadz Jeni, menutup pengajian malam ini.


__ADS_2