
"Mobil siapa, Nak?" Tiba-tiba Bu Maryam sudah berdiri di belakang Yandri.
Yandri menoleh. "Entahlah, Bu. Tapi Yandri melihat Mia turun dari mobil itu. Sepertinya, mereka telah membeli perlengkapan rumah," jawab Yandri menatap lurus pada Raihan dan kedua orang pegawai toko yang sedang menurunkan barang.
Bu Maryam hanya bisa menghela napas. Tidak dipungkiri jika Bu Maryam cukup terkejut melihat barang elektronik yang dibeli putra bungsunya. Tadi pagi Raihan pamit hanya untuk membeli TV. Entah kenapa begitu Raihan pulang, Raihan malah membawa beberapa buah barang elektronik yang tidak dia ketahui apa itu.
"Taruh di mana, Bang?" tanya salah seorang pegawai toko.
"Dimasukkan ke rumah saja, Bang," pinta Raihan. "Sayang, tolong buka pintunya!" perintah Raihan kepada istrinya.
Mia membuka pintu. Sejenak, dia terpaku saat melihat kakak ipar dan ibu mertuanya tengah berdiri di dekat jendela.
"Ish, Sayang. Jangan berdiri di sana, ini Abang enggak bisa masuk," tegur Raihan yang melihat istrinya diam di ambang pintu
Mia terhenyak, dia segera bergeser untuk memberikan jalan kepada suaminya.
Saat Raihan memasuki rumah, Raihan pun tak kalah terkejut melihat sang kakak berdiri seraya melipat kedua tangan di dadanya.
"Abang," gumam Raihan.
"Ditaruh di mana Bang, kulkasnya?" Pegawai toko kembali bertanya.
"Eh, di sini saja, Bang," jawab Raihan.
Kedua pegawai toko itu pun meletakan barang-barang elektronik yang telah dibeli Raihan. Setelah mendapatkan tip-nya, para pegawai itu berpamitan pulang.
Mia pergi ke kamar, sedangkan Raihan membenarkan posisi barang-barangnya. Yandri kembali ke dapur diikuti oleh Bu Maryam. Tiba di dapur, Yandri kembali duduk berhadapan dengan ibunya.
"Jadi, bagaimana Bu. Bukannya Yandri lancang dan tidak menghormati Ibu, tapi Ibu sendiri tahu, 'kan perihal uang yang Yandri pinjamkan kepada Ibu. Kalau memang uangnya sudah tersedia, ada baiknya ibu segera mengembalikan uang tersebut," tutur Yandri.
"Ibu paham, Yan. Namun, bukankah Ibu masih punya waktu dua hari lagi untuk membayar utang Ibu?" Bu Maryam mencoba bernegosiasi dengan anaknya.
"Yang namanya utang, cepat atau lambat pasti harus dibayar juga, Bu. Saran Yandri, mumpung Ibu masih pegang uangnya, ada baiknya Ibu segera melunasi utang tersebut," jawab Yandri panjang lebar.
Lagi-lagi, Bu Maryam hanya bisa menghela napas. Sebenarnya, dia bukan tidak ingin melunasi utang-utangnya. Namun, rengekan Rizal yang ingin memiliki televisi, membuat hati Bu Maryam luluh. Dia kemudian menyuruh putra bungsunya untuk mencarikan sebuah TV bekas. Bu Maryam sendiri tidak menyangka jika Raihan akan membeli TV baru, bahkan lengkap dengan kulkas dan mesin cuci
"Bu," panggil Yandri membuyarkan lamunan ibunya.
"I-iya, Yan. Maaf, Ibu belum bisa mengembalikan uang tabungan anak-anak untuk saat ini," jawab pelan Bu Maryam.
__ADS_1
"Kenapa, Bu? Apa Ibu belum menerima pelunasan dari orang yang telah membeli pohon albasia?" tanya Yandri, heran.
Bu Maryam menggelengkan kepalanya.
"Lantas?" Yandri kembali bertanya.
"Uangnya ... itu, Yan ... Raihan membeli TV," jawab Bu Maryam.
Seketika, tubuh Yandri lemas mendengar jawaban ibunya. Jika Raihan membeli TV besar itu dengan uang hasil penjualan albasia itu, tidak menutup kemungkinan barang-barang yang dibelinya tadi, menggunakan uang yang sama juga.
"Kenapa Ibu memberikan uang tersebut kepada Raihan? Kenapa Ibu lebih mementingkan membeli TV ketimbang membayar utang?" tanya yandri sangat menyayangkan sikap ibunya.
"Maafkan Ibu, Yan. Ibu hanya ingin menyenangkan hati Rizal saja. Kasihan anak itu, setiap malam harus pergi ke rumah tetangga hanya untuk menonton televisi. Lagi pula, Ibu hanya menyuruh Raihan untuk membeli sebuah TV bekas saja," jawab Bu Maryam
Harapan Yandri untuk mendapatkan uang anak-anak pengajian saat ini, sirna seketika. Bertanya sisanya pada Raihan pun, percuma saja. Melihat barang-barang mewah yang dibeli adiknya, Yandri sudah bisa memprediksi jika uang hasil penjualan pohon albasia, pasti telah habis oleh Raihan.
Yandri sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Memarahi Raihan? Jelas tidak mungkin. Itu bukan sifat Yandri. Memarahi ibunya pun, lebih tidak mungkin lagi. Akhirnya, dengan pikiran yang kacau balau, Yandri berpamitan pulang kepada ibunya.
.
.
"Apa bang Yandri sudah pulang?" tanya Mia kepada suaminya.
Raihan hanya menggedikkan bahu menjawab pertanyaan Mia.
"Apa dia marah saat mengetahui kita membeli barang-barang elektronik itu?" Mia kembali bertanya.
"Abang enggak tahu, Mi. Abang enggak nemuin bang Yandri," jawab Raihan.
"Ish, bagaimana kalau dia marah dan meminta kita mengembalikan barang-barang itu?" gumam Mia.
"Ya, kita kembalikan saja. Mumpung belum dibuka juga," jawab Raihan.
Mia mengerucutkan bibirnya. "Ih Mia enggak mau ya Bang, kalau barang-barang itu dikembalikan lagi. Abang, 'kan tahu, kalau Mia memerlukan barang-barang itu," rajuk Mia.
"Ya sudah, kalau begitu enggak usah dikembalikan, kok repot amat sih, Mi," tukas Raihan.
"Tapi, bang Yandri? Pinjaman ibu?" tanya Mia.
__ADS_1
"Sudah Mi, enggak usah terlalu dipikirkan. Itu, 'kan utangnya ibu, biarkan saja. Lagi pula, ibu masih memiliki beberapa bidang tanah peninggalan almarhum ayah," jawab Raihan seraya merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Tapi, Bang ...."
"Sudah, ayo kita istirahat!" ajak raihan. "Ish, tolong pijitin Abang dong, Mi. Badan Abang rasanya pegel banget abis ngangkat barang-barang itu," lanjutnya.
Meskipun hatinya masih diliputi kecemasan, tapi Mia menurut. Dia mendekati Raihan seraya duduk di atas kasur. Sejurus kemudian, Mia pun mulai memijat punggung suami.
.
.
"Assalamu'alaikum!" Yandri mengucapkan salam dengan lemas begitu tiba di kamarnya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Daniar membuka pintu kamarnya
"Bagaimana keadaan Bintang, bun?" tanya Yandri seraya memasuki kamarnya.
"Alhamdulillah, sedikit mendingan Yah," jawab Daniar.
Yandri mendaratkan bokongnya di atas sofa. Dia kemudian menyandarkan punggung sambil memejamkan mata. Sejenak, bayangan sang adik saat menurunkan barang-barang elektronik yang dibelinya, berkelebat dalam ingatan Yandri. Kembali dia membuang napasnya dengan kasar.
Melihat suaminya hanya bisa diam. Pikiran buruk pun mulai menggelayut dalam benaknya. Apa mungkin dia tidak berhasil mendapatkan uang itu?
Daniar mendekati suaminya. Dia pun ikut duduk di samping suaminya.
"Ada apa, Yah? Apa Ayah berhasil mendapatkan uang tabungan anak-anak dari ibu?" tanya Daniar.
Yandri membuka mata. Dia kemudian menatap istrinya dengan tatapan sendu. "Maafkan Ayah, Bun, Ayah tidak berhasil membawa uang tersebut."
Daniar mengusap punggung tangan suaminya. "Tidak apa-apa, Yah. Masih ada waktu dua hari lagi. Mungkin ibu memang belum memiliki uang," jawab Daniar menghibur suaminya.
Padahal, dalam hatinya Daniar bertanya-tanya, apa mungkin pak Agus salah lihat?
"Tidak mungkin ibu tidak memiliki uang, Bun. Semua pohon albasia milik ibu sudah laku terjual. Hanya saja, ibu lebih memilih membeli TV daripada membayar utangnya sendiri," ungkap Yandri sedikit geram.
Mendengar pengakuan sang suami, Daniar tentu saja merasa kaget. "Maksud Ayah?" tanyanya.
"Ibu menyuruh Raihan membeli TV untuk Rizal. Namun, Raihan malah membeli barang-barang elektronik yang lainnya. Ayah yakin sekali jika Raihan membeli barang-barang itu dengan hasil penjualan pohon albasia," tutur Yandri.
__ADS_1
Daniar cukup terkejut mendengar pengakuan suaminya. Lagi-lagi Raihan, semuanya selalu tentang Raihan. Ibu tak mampu berkutik jika Raihan sudah meminta. Pada akhirnya, sang suami harus selalu mengalah demi Raihan.