Setelah Hujan

Setelah Hujan
Arich Milano


__ADS_3

POV Arich


Kota J, sudah lama aku merindukan kota ini. Kota kelahiran ku, tempatku belajar banyak hal, disini juga masih telihat jelas bagaimana perjuangan kak Marcih membersarkan ku. Hidup susah tanpa orang tua. Aku ditinggalkan oleh kedua orang tuaku di usia 9 tahun, sementara kakakku adalah penyelamat hidupku, ia mengorban masa mudanya demi diriku. Akhh kenapa aku masih memikirkan itu, jelas-jelas kak Marcih melarang dan ingin menguburnya dalam-dalam. Ini sudah 15 tahun berlalu namun rasa getir itu masih sesekali hadir di kepalaku. Ah sudahlah toh sekarang hidup kami baik-baik saja tanpa kekurangan sedikit pun.


Sekarang aku kembali ke kota ini, setelah 2 tahun aku pergi dan kini aku kembali. Ingin rasa berteriak mengucapkan selamat datang pada diriku sendiri “Welcome Back Arich, tolong jangan pergi lagi” ingin rasa berteriak sekecang mungkin mengungkapkan kalimat itu, kalimat sederhana namun bermakna.


Ahh rasanya sudah sangat rindu, rindu, rindu entah apa yang sebenarnya aku rindukan suasana kota ini atau hanya orang tertentu saja. Entahlah yang jelas aku sedang merindu. Rindu yang entah sampai kapan akan hilang. 2 tahun lalu aku harus rela meniggalkan Kak Marcih sendiri di kota ini demi impianku. Aku baru selesai kuliah dan magang di perusahaan game, tapi siapa sangka aku terpilih mewakili perusahaan untuk mengembangkan Game di negeri pamansam. Waktu yang diperkirakan memakan waktu 3 tahun, namun aku mampu menyelesaikan lebih cepat dan alhasil dalam waktu 2 tahun aku sudah diperbolehkan kembali ke perusahaan utama.


Waktu itu aku berpikir 3 tahun hanya sebentar ternyata itu sangat lama jika sedang merindu. Setiap hari ku sibukkan diriku agar rasa rindu itu berkurang. Tapi entah rasa itu semakin hari semakin menyiksa ku. Karena rasa rindu itupun yang mendorongku bekerja keras dan melampaui taget. Entah apa yang harus aku lakukan jika itu benar-benar 3 tahun atau bahkan bisa lebih, ahh entalah. Aku enggan memikirkannya.


5 menit lagi, oke tinggal 5 menit lagi Arich, kau akan melepas rindu pada kota ini. Bahkan 5 menit terasa sangat lama. Berkali-kali aku mendengus kesal mambuang nafas panjang saking tidak sabarnya untuk segera sampai. Bahkan wajah kak Marcih bisa terkalahkan. Hahh aku mungkin sudah gila bagaimana mungkin rasa rinduku terhadap kota lebih besar ini dibandingkan rasa rinduku terhadap kakak kandung yang menjadi tumpuan hidupku selama ini.


Pesawat mendarat dengan sempurna, aku segera keluar pesawat. Cukup lama aku menunggu koperku di bandara. Sekitar 30 menit aku menunggu akhirnya aku bisa meninggalkan bandara. Aku mencari-cari keberadaan Zoey, karena sehari sebelumnya dia menawari untuk menjemputku di bandara. Aku sengaja tidak memberi tahu kak Marcih bahwa aku pulang hari, dia hanya tau bahwa minggu ini aku akan kembali. Biarlah menjadi kejutan untuknya.


“ARICH!!! Teriak seseoarng yang suaranya tidak asing ditelingaku, walaupun kami tidak pernah bertemu selama 2 tahun ini tapi aku ingat persis bagaimana suaranya yang hampir menelponku setiap hari.

__ADS_1


“Zoey”, aku memanggilnya sambil melambaikan tangan kearahnya. Aku merindukan mu Zoey. Entah kenapa rasa rindu selalu menganggu pikiranku. Bahkan orang tidak berhak kurindukan. Hahaha aku menertawakan diriku sendiri, bagaimana mungkin aku mengucapkan kata rindu kepada Zoey. Dia hanya tersenyum tipis ke arahku. Ku tidak bisa membayangkan apa yang dipikirkan Zoey tentang diriku, ahhh gila.


Semoga dia berpikir aku masih jetleg setelah menempuh penerbangan yang cukup lama. Ahhh sudahlah toh aku sudah sampai di kota ini.


“kau mau langsung ke rumahmu?”tanya Zoey membuyarkan lamunan ku.


i.iya, sepertinya aku lelah dan akan beristirahat. Besok saja menemui yang lain di kantor. Ucap ku pada Zoey.


Setelah berendara selama 2 jam akhirnya aku dan Zoey sampai di apartemen yang ku minta sebagai syarat keberangkatanku 2 tahun lalu. Apartment ini masih bersebelahan dengan apartment yang di tempati kakakku. Hanya berbeda beberapa belok saja dari kediamannya. Di seberang jalan juga terdapat apartment yang cukup mewah. Ya aku masih mengingat dengan jelas di depan sana ada rumah sahabat kakak Ku yang tinggal dengan kelurganya. Bagaimana kabar mereka sekarang? Apakah Alfa sudah kembali juga ke sini? Ahh rasanya sudah sangat lama aku tidak bersua dengan mereka.


Huufftttt kembali aku menarik nafas dan membuangnya dengan kasar. Tiba-tiba senyum muncul dibibirku, sambil membayangkan wajahnya. Bagaimana kabarnya sekarang? Apakah dia masih gampang dibodohi oleh pria? Apakah wajahnya masih imut? Apakah tubuhnya masih sangat kecil seperti dulu? Apakah dia masih sering lupa keramas? Apakah sifatnya masih kekanak-kanakan? Apakah dia sudah menikah? mengigat dia sering dipaksa menikah oleh ibunya. Ahh aku bisa gila.


##############


Kantor In Group

__ADS_1


Semua karyawan supervisior sedang melakukan evaluasi yang dilakukan oleh Direktur Zia. Wajah-wajah tegang jelas terihat, tidak terkecuali Yuna. Satu kali dalam 1 bulan direktur Zia akan melakukan evaluasi kepada seluruh karyawan. Evaluasi ini sangat menentukan masa depan mereka diperusahaan ini. Setelah mendengarkan semua laporan karyawan ia terlihat sedikit puas dengan hasil yang diperoleh karyawannya.


“aku sangat puas dengan hasil kerja kalian bulan ini. Semoga kedepannya semakin meningkat” Ucap direktur Zia yang membuat semua karyawan yang menghembuskan nafas kelegaan.


“Bulan depan akan dibuka toko baru dijalan F. Saya akan menunjuk Supervisior yang akan bertanggung jawab terhadap pembukaan toko itu, adakah yang bersedia mengajukan diri?” tanya direktur Zia kepada karyawannya.


Para karyawan tidak ada yang berani mengajukan diri, sebab pembukaan toko baru artinya harus siap2 bekerja di lapangan dan siap bekerja lembur selama sebulan. Pasti sangat merepotkan.


“oke kalau tidak ada yang ingin mengajukan diri saya akan langsung menunjuk timnya. Saya rasa 3 orang cukup untuk melaksannakan proyek ini. Yuna selamat kamu ketua timya” Ucap Direktur Zia yang bersemagat dan memberi tepuk tangan.


“boleh saya tahu kenapa ibu menunjuk saya sebagai ketua timnya? Ucap Yuna refleks dan kaget dengan keputusan Direkturnya.


“saya tidak akan menjawab pertanyaan mu, keputusan ini sudah final dan tidak dapat digangangu gugat, selanjutnya saya akan menunjuk anggota yang bergabung dengan mu. Mariza dan Jen selamat kalian masuk dalam tim proyek baru” Ucap Direktur Zia.


Sontak suasana ruangan rapat riuh dengan tepukan tangan. Memberikan selamat dan semangat pada tim proyek baru. Mau tidak mau semua menerima keputusan direktur. Mereka tidak memiliki hak untuk protes apalagi menolak. Minggu depan tim ini sudah bisa mulai bekerja. Mereka akan jarang terlihat dikantor.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2