
Daniar dan Yandri cukup terkejut mendengar saran dokter. Ini artinya, apa yang dialami Daniar, bukanlah hal yang wajar.
"Tapi kenapa harus bedrest, Dok?" tanya Yandri semakin terlihat cemas.
"Itu, karena rahim Ibu terlalu lemah. Ibu tidak boleh terlalu banyak bergerak dan melakukan pekerjaan yang berat-berat. Jika tidak, maka kemungkinan buruk bisa terjadi," papar Dokter Rahma.
"Ke-kemungkinan buruk seperti apa, Dok?" tanya Daniar.
"Ibu bisa mengalami pendarahan dan juga keguguran," tegas Dokter Rahma.
"Astaghfirullahaladzim! Tuh, Bun ... dengar apa kata Dokter. Sebaiknya Bunda ambil cuti saja. Ayah tidak mau Bunda kenapa-napa," timpal Yandri.
Daniar hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan suaminya.
"Baiklah, ini resep untuk obat dan vitamin yang harus diminum teratur. Semoga kandungan Ibu baik-baik saja," kata Dokter Rahma, menyerahkan secarik kertas yang berisi salinan resep.
"Aamiin, Dok. Kalau begitu, kami permisi. Assalamu'alaikum!" balas Yandri setelah mengambil resep obat untuk istrinya.
"Wa'alaikumsalam."
Yandri dan Daniar keluar dari ruangan pemeriksaan. Tiba di luar, Yandri meminta istrinya untuk menunggu di kursi tunggu di depan poli kandungan. Sedangkan dia sendiri pergi ke bagian apotek untuk menebus obat Daniar.
Tiba di apotek, Yandri menyerahkan salinan resep tersebut. Saat dia tengah menunggu, tanpa sengaja dia melihat seseorang yang mirip dengan temannya. Untuk memastikan, Yandri kemudian mendekati orang tersebut.
"Deni," panggil Yandri, perlahan. Yandri takut salah mengenali, karena orang itu sedang duduk membelakanginya.
Orang yang dipanggil Deni seketika menoleh. Dia tersenyum lebar saat menyadari siapa yang memanggilnya.
"Hei, Yandri! Masya Allah ... ini beneran elu, Yan?" pekik Deni.
Yandri pun ikut tersenyum. "Subhanallah ... ternyata beneran kamu, Den. Apa kabar?" tanya Yandri mengulurkan tangannya.
Deni menyambut uluran tangan sahabat lamanya. "Alhamdulillah, kabar gue baik. Lu ngapain di sini? Siapa yang sakit?" tanya Deni.
"Bukan sakit, Den. Tepatnya, cek kandungan. Alhamdulillah, Daniar sedang mengandung anak kedua kami," jawab Yandri.
"Alhamdulillah ... sekarang, mana dia?" tanya Deni sambil mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Daniar.
"Aku suruh dia nunggu di depan poli kandungan. Soalnya dia enggak boleh banyak gerak. Kandungnya sedikit bermasalah," papar yandri. "Kamu sendiri, siapa yang sakit?" Yandri balik bertanya.
"Anak bungsu gue. Dia emang langganan ke tempat ini, Yan. Mungkin karena lahirnya prematur juga," sahut Deni.
__ADS_1
"Ih, kok langganan sih, Den. Amit-amit deh. Yang baik-baik kalau ngomongin anak. Inget, ucapan itu do'a," tukas Yandri.
"Hehehe, becanda Yan ... becanda," balas Deni, terkekeh. "Eh, tukeran nomor dong! Sejak lulus kita nggak pernah ada kontak lagi," lanjut Deni.
"Boleh. Mana ponsel kamu?" tanya Yandri.
Deni menyerahkan ponselnya, begitu juga dengan Yandri. Kedua sahabat itu pun saling bertukar nomor telepon.
"Aulya Ramdani!" panggil perawat yang bertugas di bagian apoteker.
"Eh, Yan. Gue duluan ya. Salam buat bini lu!" kata Deni seraya beranjak menuju tempat pengambilan obat.
"Oke!"
.
.
Kondisi Khodijah dari hari ke hari semakin mengkhawatirkan. Kini, bukan hanya kakinya yang sulit bergerak. Tubuh dan kedua tangannya pun seolah mati rasa. Sama sekali tidak mampu dia gerakkan.
Melihat keadaan istrinya seperti itu, Aji sudah merasa pasrah. Namun, dia masih berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan pengobatan yang terbaik kepada Khodijah.
"Diminum dulu obatnya ya, Dek," ujar Aji seraya meneteskan obat yang sudah dia hancurkan dan dicampur dengan air.
Suster Ana juga rutin memberikan suplemen makanan, karena Khodijah sudah tidak mampu lagi makan nasi ataupun sesuatu yang harus dikunyah terlebih dahulu. Hanya bubur encer yang mampu masuk ke mulutnya. Itu pun sedikit demi sedikit.
Dengan telaten, Aji meneteskan obat cair itu di sudut bibir Khodijah. Sesekali, dia menyeka cairan yang meleleh karena tidak mampu masuk ke mulut. Meskipun dadanya terasa sesak melihat kondisi sang istri, tapi Aji berusaha untuk tetap tegar.
Khodijah menatap Aji. Ada banyak ribuan kata yang ingin dia sampaikan kepada suaminya. Namun, lidah Khodijah terasa kelu. Dia tidak mampu untuk mengungkapkan. Khodijah hanya bisa menatap sendu sang suami yang selalu tulus merawatnya.
.
.
Menjelang dzuhur, Daniar dan Yandri baru sampai di rumah. Mereka disambut oleh berbagai pertanyaan dari Bu Salma. Ya, wanita paruh baya itu merasa penasaran dengan kondisi putri sulungnya.
"Ish, Ibu. Biarkan Kak Niar duduk dulu, napa? Kasihan juga, 'kan baru pulang," tegur Danita yang sedang main ke rumah ibunya.
"Hehehe, iya Nak ... maaf. Abisnya Ibu penasaran Dek, sama kondisi kakak kamu," jawab Bu Salma.
"Tidak apa-apa, Dek," timpal Daniar, tak lama setelah dia duduk di sofa ruang keluarga.
__ADS_1
"Lalu, apa kata dokter, Kak?" tanya Danita.
"Kakak disuruh bedrest untuk satu atau dua minggu, Dek," jawab Daniar.
"Apa? Bedrest? Tapi kenapa, Ni?" pekik Bu Salma.
Bu Salma begitu kaget mendengar perkataan putrinya. Seketika, dia teringat pada masa dia mengandung putri bungsunya. Waktu itu, dia pun terpaksa bedrest akibat flek yang terus menerus datang setiap pagi hari.
"Kandungan Niar lemah, Bu. Karena itu dokter menyarankan supaya Daniar bedrest. Dia tidak boleh banyak bergerak dulu sebelum usia kandungannya melewati trimester pertama," tutur Yandri.
"Oh, begitu ya. Itu artinya, kamu harus cuti, Ni. Ibu nggak mau ngambil risiko kalau kamu masih tetap memaksakan diri untuk bekerja," kata Bu Salma.
"Iya, Bu. Besok Kang Yandri akan pergi ke sekolah Niar buat ngurusin surat izin cutinya," sahut Daniar.
"Ya sudah, sekarang kamu istirahat di kamar, gih. Biar enggak terganggu juga. Maklum, kalau anak kamu sama anak Nita sudah ketemu, ramainya kayak se-RT," gurau Bu Salma.
"Baik, Bu," jawab Daniar sambil tersenyum.
Yandri kembali memapah istrinya untuk beristirahat di kamar. Tiba di kamar, dia membantu Daniar untuk berbaring. Sejenak, Yandri menyusun bantal di bawah kaki Daniar, biar ratu hatinya itu merasa nyaman saat berbaring.
"Bunda istirahat dulu, ya. Ayah mau pergi ke dapur untuk membuat sup ayam. Bunda mau, 'kan sup ayam?" tawar Yandri.
"Boleh, Yah. Tapi agak pedas dikit, ya," pinta Daniar.
Yandri membulatkan kedua matanya saat mendengar permintaan Daniar.
"No!" tolak Yandri dengan tegas. "Tidak ada makanan yang pedas-pedas selama 9 bulan ke depan, oke?" imbuh Yandri.
Daniar hanya bisa mengerucutkan bibirnya mendengar larangan sang suami.
"Oke," jawab lirih Daniar.
"Ya sudah, Ayah ke dapur dulu ya. Misscall Ayah kalau Bunda butuh sesuatu," ujar Yandri, mengecup kening Daniar.
"Tunggu, Yah!" cegah Daniar seraya mencekal pergelangan tangan Yandri.
Yandri menatap Daniar penuh tanya.
Daniar memeluk pinggang suaminya. "Terima kasih, Yah. Terima kasih telah menjadi suami siaga untuk Niar dan dedek bayi," ucap Daniar.
Yandri tersenyum. Dia hanya mengelus punggung Daniar untuk menanggapi rasa terima kasih istrinya.
__ADS_1
"Sama-sama, Bun. Beristirahatlah!"