Setelah Hujan

Setelah Hujan
Rumah Masa Depan


__ADS_3

Bu Salma memasuki rumah, diikuti oleh Yandri dari belakang. Tiba di ruang keluarga, mereka berpisah.


Bu Salma pergi ke kamar depan yang berada di sebelah ruang tamu. Sedangkan Yandri, dia pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Setelah keluar dari kamar mandi, Yandri pergi ke kamar Bintang. Malam ini, dia akan menghabiskan waktu istirahatnya bersama putri semata wayangnya.


Tiba di kamar, Yandri melihat putrinya yang tengah tertidur seraya memeluk boneka beruang kesayangan. Senyum tipis terukir di kedua sudut bibir Yandri saat teringat rengekan Bintang yang ingin membeli boneka tersebut. Yandri pun mendekati ranjang Bintang dan merebahkan tubuhnya.


Pria jangkung itu menatap gadis kecilnya. Membelai lembut rambut panjang milik Bintang sembari mengelus dada karena menahan rasa sesak. Entahlah, mungkin setelah hari esok. Dia tidak akan pernah bisa menemani anaknya tidur lagi.


"Semoga setelah dewasa nanti, kamu tidak akan bpernah membenci Ayah karena telah mengabulkan keinginan bunda kamu," bisik Yandri seraya mencium kening putrinya.


.


.


Keesokan harinya, seperti biasa Daniar melakukan tugasnya sebagai ibu rumah tangga di pagi hari. Selesai shalat subuh, dia kemudian pergi ke dapur untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Pukul 05.00, Daniar pergi ke kamar Bintang untuk membangunkan Bintang shalat subuh.


Saat pintu kamar terbuka, Daniar hanya bisa terpaku di ambang pintu ketika melihat Yandri tengah tertidur pulas sembari memeluk Bintang. Daniar hanya bisa menatapnya penuh rasa haru.


Jadi, semalam kang Yandri pulang ke rumah dan dia tidur di kamarnya Bintang, batin Daniar.


Tiba-tiba saja, jantung Daniar berdetak tak karuan. Terselip rasa bersalah ketika dia mengingat kembali perpisahannya dengan sang suami.


Tak sanggup melihat pemandangan di hadapannya, Daniar pun menutup kembali pintu kamar putrinya.


Daniar menengadahkan wajah begitu tiba di dapur. Cairan bening terasa hangat menggenang di kedua sudut matanya. Rasanya, Daniar tidak akan pernah sanggup untuk menjalani waktu tanpa kehadiran suaminya.


Meski Yandri memang tidak pernah selalu bersamanya, tapi kali ini ... semuanya pasti terasa berbeda. Akan ada status yang melekat pada diri Daniar, yaitu 'janda'.


"Kamu kenapa, Kak?"


Tiba-tiba pertanyaan Bu Salma membuyarkan lamunan Daniar. Wanita yang telah memiliki satu anak itu sangat terkejut mendengar pertanyaan ibunya. Buru-buru Daniar menyeka air matanya.


"I-ibu?!" ucap Daniar.


"Hmm ... kok subuh-subuh sudah berlinang air mata sih, Ni. Kenapa?" tanya Bu Salma yang akhir-akhir ini mulai penasaran dengan kehidupan Daniar.


"Ah, enggak Bu. Niar ... cuma kelilipan aja," sahut Daniar, mencoba berkilah.


"Kelilipan apa, Niar? Ini masih subuh, loh. Mana ada, debu yang beterbangan," tukas Bu Salma.


Daniar hanya tersenyum kecut mendengar perkataan ibunya.


"Ya sudah, Bu. Niar mau bikin nasi goreng dulu," pamit Daniar.


"Yang banyak ya, Ni. Kebetulan Yandri nginep di sini juga," seru Bu Salma.

__ADS_1


Daniar hanya mengangguk menanggapi perintah ibunya. Dia kemudian menyiapkan bahan-bahan untuk diolah menjadi nasi goreng spesial kesukaan Bintang, dan ... tentu saja kesukaan ayahnya Bintang juga.


.


.


Pukul 7 pagi, keluarga Bu Salma sudah berkumpul di ruang makan untuk sarapan pagi bersama. Meskipun semua anggota keluarga sangat sibuk dengan kegiatan dan pekerjaannya masing-masing. Namun, mereka selalu menyempatkan waktu untuk bercengkerama bersama, yaitu saat sarapan dan makan malam.


"Bun, hari ini Bibin ada kelas berenang. Apa nanti setelah selesai kelas, Bunda bisa menjemput Bibin?" tanya Bintang.


"Nanti Bibin dijemput sama Tata saja, ya?" sahut Daniar.


"Kok gue sih, Kak? 'Kan ada Bang Yandri di rumah. Kenapa Bibin enggak dijemput sama ayahnya saja?" tukas Danisa.


"Kakak minta tolong ya, Dek. Sekali saja ... please .... Hari ini Kakak sama Kang Yandri ada urusan di luar," balas Daniar, memohon.


"Sudah, Bun. Biar nanti, Ayah yang jemput Bibin. Enggak pa-pa, 'kan, Sayang?" timpal Yandri.


"Tapi kita harus pergi ke pengadilan agama untuk menandatangani surat perpisahan kita, Kang," sahut Daniar.


"Agendanya, 'kan hanya penandatanganan saja, Bun. Ayah pikir, pasti tidak akan lama," tukas Yandri.


Tiba-tiba ....


"Bibin kenyang. Bibin berangkat sekolah dulu. Assalamu'alaikum, semuanya!" pamit Bintang seraya beranjak dari tempat duduknya dengan wajah ditekuk.


"Kalian ini?! Bisakah kalian tidak egois seperti ini?" bentak Bu Salma, geram.


"Maksud Ibu?" Daniar balik bertanya.


"Jangan sekali-sekali membicarakan tentang perpisahan di hadapan anak kalian. Apa kalian enggak sadar kalau perpisahan kalian telah melukai hati anak kalian? Apa kalian pernah memikirkan bagaimana perasaannya? Setidaknya, jaga perasaan Bintang dengan tidak pernah membahas perpisahan kalian di hadapannya. Ngerti, kalian!" tegas Bu Salma.


"Maaf, Bu," jawab Daniar dan Yandri berbarengan.


Seketika, selera makan Bu Salma hilang setelah melihat Bintang pergi dengan wajah cemberut. Tanpa berkata apa-apa lagi, Bu Salma beranjak dari kursinya. Dia mengambil kotak makanan dari dalam lemari dan mengisinya. Sejurus kemudian, Bu Salma menyusul Bintang ke depan untuk memberikan kotak makanan tersebut.


.


.


Kabar perpisahan Yandri dan Daniar telah sampai ke telinga saudara-saudara Yandri. Termasuk ke telinga Aminah, kakak tertuanya. Hmm, siapa lagi yang telah menyebarkan kabar itu kalau bukan ibunya sendiri. Tidak bisa dipungkiri, Aminah cukup bersedih dengan nasib rumah tangga adik kesayangannya. Namun, Aminah sadar jika dia tidak pernah punya hak untuk mencampuri urusan rumah tangga orang lain.


Berbeda dengan Aminah, Habibah justru merasa sangat senang mendengar kabar berakhirnya rumah tangga sang adik. Senyum Habibah tak pernah lepas dari bibirnya saat terlintas kembali rencana dia menjodohkan Yandri dengan Siska.


Melihat senyum tak biasa itu, Bu Maryam pun mendengus kesal. Dia tahu jika sesuatu yang bertentangan dengannya, sedang bergelayut di otak Habibah.

__ADS_1


"Sudah, Bah ... enggak usah mikirin yang aneh-aneh. Ibu enggak bakalan ngizinin Yandri untuk kawin lagi dalam waktu dekat ini. Ngerti kamu!" tegas Bu Maryam.


"Aih, Ibu ... su'udzon mulu!" dengus Habibah kesal.


.


.


Daniar hanya bisa tertegun di depan sebuah rumah minimalis yang berdinding hiasan dari batu granit. Dia sendiri merasa bingung, entah kenapa Yandri membawanya ke perumahan Firdaus Regency. Sebuah perumahan komersil yang letaknya cukup jauh dari hiruk pikuk perkotaan.


Jika dilihat-lihat, perumahan ini sangat cocok dihuni oleh orang-orang yang ingin menghabiskan waktu pensiun. Letaknya yang cukup jauh dari jalan provinsi, udaranya yang masih segar karena dekat dengan pegunungan, dan suasana lingkungannya yang sangat ramah, membuat para penghuni kawasan perumahan komersil ini, pasti akan sangat kerasan tinggal di sini.


"Masuklah, Bun!" perintah Yandri, sesaat setelah dia membuka kunci pintu rumahnya.


Meskipun tidak mengerti. Namun, Daniar tetap melangkahkan kaki memasuki rumah itu. Rumah sederhana yang hanya memiliki dua kamar, satu ruang tamu, satu ruang keluarga, satu kamar mandi dan satu dapur. Memang tidak seluas rumah peninggalan almarhumah Hajjah Minah. Namun, cukup nyaman untuk ditinggali.


"Kemarilah, Bun!" ajak Yandri seraya membuka pintu kamar belakang.


Seolah terhipnotis oleh pesona daun pintu yang berukuran teratai, Daniar pun mendekat dan mengikuti Yandri memasuki kamar.


"Lihatlah!" kata Yandri sembari membuka tirai jendela.


Kedua bola mata Daniar terbelalak melihat apa yang tersaji di balik jendela kamar. Hamparan sawah yang sangat luas, menyajikan pesona bak karpet raksasa berwarna hijau kekuningan. Tanpa sadar, Daniar tersenyum lebar ketika melihat pemandangan di hadapannya.


Dua ekor burung pipit sedang bertengger pada ujung padi yang menjuntai ke bawah. Tiupan angin pada batang padi, membuat kedua burung pipit itu seolah sedang bermain ayunan.


"Hmm, lucu sekali," gumam Daniar yang masih bisa didengar oleh Yandri.


"Apanya yang lucu, Bun?" tanya Yandri, mengikuti arah mata Daniar yang sedang asyik memandang ke depan.


"Ah, enggak ... bukan apa-apa," jawab Daniar, tersadar dari lamunannya.


"Kedua burung itu?" tebak Yandri yang telah berhasil menangkap objek yang sedang dipantau Daniar.


Daniar mengangguk.


"Kedua burung itu begitu bebas ya, Bun. Mereka terbang ke sana kemari tanpa beban. Seolah panas dan hujan tidak pernah menjadi rintangan," gumam Yandri.


Bingung. Jujur saja Daniar merasa kebingungan untuk memaknai semua ucapan Yandri. Namun, dia sendiri enggan untuk memikirkannya.


"Ngomong-ngomong, ini rumah siapa, Kang?" tanya Daniar, seperti sedang ingin mengalihkan pembicaraan.


"Ini rumah kita, Bun. Rumah yang sengaja Ayah beli untuk hadiah ulang tahun pernikahan kita, tiga bulan yang akan datang. Rencananya, Ayah akan merenovasi ulang rumah ini untuk kita tempati sebagai rumah masa depan kita. Tentunya setelah kita pensiun nanti," tutur Yandri panjang lebar.


Daniar hanya bisa diam mendengar penuturan Yandri. Dadanya semakin terasa sesak karena telah membuat luka pada pria yang mencintainya dengan tulus.

__ADS_1


Maafkan Bunda, Yah.


__ADS_2