Setelah Hujan

Setelah Hujan
Ingin Pulang


__ADS_3

Untuk sejenak, Daniar membiarkan Yandri menikmati kopi dan brownies-nya. Sedangkan dia sendiri kembali membantu kedua karyawannya melayani para pembeli.


Yandri sebenarnya ingin ngobrol banyak dengan wanita yang selalu dikaguminya. Namun, dia sadar jika Daniar masih perlu waktu untuk menerima dirinya kembali.


Setelah setengah jam Yandri menikmati sarapannya, Yandri kemudian beranjak dari tempat duduknya. Dia mengayunkan langkah mendekati Daniar yang tengah duduk di meja kasir.


"Kita berangkat sekarang, Bun!" ajak Yandri.


"Ah, iya. Sebentar, Kang," jawab Daniar seraya berdiri dari kursinya.


Daniar meraih tas selempang yang tergantung tak jauh dari meja kasir. Setelah itu, dia mengambil box-box cupcake yang dipesan Yandri.


"Oh iya, Bun. Semuanya jadi berapa?" tanya Yandri yang teringat jika dia belum membayar kue pesanannya.


"Sudah, enggak pa-pa, Kang. Lagian kuenya buat ibu ini. Gratis kok," balas Daniar.


"Enggak boleh gitu, Bun. Ini, 'kan usaha kamu, masak gratis," lanjut Yandri.


"Enggak pa-pa, Kang. Ini, 'kan pertama kalinya Akang nyicip kue buatan Niar. Anggap aja promo, tapi lain kali enggak ada promo lagi, ya!" balas Daniar.


"Siap, Bu Bos!" gurau Yandri yang membuat Daniar tersenyum lebar.


Ratih dan Nia hanya bisa saling pandang melihat interaksi majikannya dengan pria itu.


"Perasaan, aku baru pertama kali melihat pria itu, tapi kenapa Bu Niar terlihat akrab sekali, ya," bisik Ratih kepada rekan kerjanya.


"Hooh, Rat. Bu Niar juga manggil dia akang. Hmm, apa mungkin dia pacarnya Bu Niar?" timpal Nia.


"Bisa jadi," lanjut Ratih.


Daniar mendekati kedua karyawannya.


"Rat, Ni, saya pergi dulu ya. Kalian tolong jaga toko," pesan Daniar kepada kedua karyawannya.


"Loh, Ibu mau ke mana?" tanya Ratih yang radar keponya mulai berfungsi.


"Saya ada urusan sebentar. Kalian bisa, 'kan, meng-handle pelanggan?" balas Daniar.


"Tenang, Bu. Kita bisa jaga tokonya, kok. Ibu, have fun aja, hehehe,..." timpal Nia seraya cengengesan.


Daniar hanya membulatkan kedua bola mata melihat tingkah laku absurd para karyawannya.


Tiba di tempat parkir, Yandri membukakan pintu untuk Daniar. Di dalam mobil, Daniar duduk melamun. Dia tidak menyangka jika dia bisa duduk kembali di kursi depan mobil ini. Mobil yang dulu pernah diberikan Yandri untuknya.


Tidak ada yang berubah dari aroma di dalam mobil ini. Masih tercium parfum maskulin pria jangkung yang tubuhnya semakin bertambah kekar saja.

__ADS_1


"Bunda serius, ingin menjenguk ibu?" tanya Yandri.


"Apa harus Niar ulangi lagi, Kang?" Daniar balik bertanya, "atau ... Akang keberatan?" imbuhnya.


"Enggak, Bun. Ayah sama sekali enggak keberatan. Ayah hanya enggak enak hati saja sama kamu, Bun. Selama ini ... Bunda sendiri tahu, 'kan bagaimana sikap ibu, tapi Bunda mau berbesar hati menjenguk ibu," tutur Yandri.


"Yang lalu, biarlah berlalu. Tidak ada manfaatnya diingat lagi," balas Daniar seraya menatap lurus ke depan.


Yandri tersenyum tipis.


"Kamu memang berjiwa besar, Bun. Tidak salah aku memilih kamu sebagai teman hidupku. Meskipun saat ini sudah tidak ada ikatan pernikahan di antara kita, tapi kamu masih tetap teman hidup bagi Ayah," puji Yandri, sesekali melirik wanita yang terlihat semakin ayu saja.


Daniar tidak menjawab. Dia diam untuk mengatur ritme jantungnya yang berdetak hebat tatkala mendengar pujian Yandri.


Seandainya kamu tahu, Yah. Kamu pun masih tetap menjadi tambatan hatiku. Imam dalam hidupku, batin Daniar yang secara diam-diam mencuri pandang pada lelaki yang kini memelihara jenggot dan jambang tipis.


Tidak ada obrolan lagi di antara mereka. Hingga akhirnya, Yandri membelokkan mobilnya memasuki halaman sebuah panti jompo yang cukup luas.


Daniar turun. Untuk sejenak, dia mengedarkan pandangannya mengamati sekeliling panti.


"Ayo, Bun!" ajak Yandri.


Daniar mengikuti langkah Yandri dari belakang. Hingga dari jarak seratus meter, Daniar mendengar keributan dan jeritan suara orang yang dikenalinya.


"Ibu!" seru Yandri dan Daniar.


"Entahlah. Ayo, Bun!"


Yandri meraih tangan Daniar. Sambil bergandengan, pasangan yang terpisah karena keadaan itu terus mempercepat langkahnya agar segera sampai di tempat.


Suara kegaduhan itu terdengar dari halaman belakang. Yandri bertanya kepada seorang suster yang sedang berlari sambil memegangi kepala. Darah segar terlihat merembes melalui celah jari-jari tangannya.


"Suster Ninda?"


Yandri terkejut ketika melihat perawat yang terluka itu adalah perawat yang menggantikan Suster Idah untuk merawat ibunya.


"Eh, Pa-pak Yandri," balas Ninda seraya meringis.


"Suster kenapa?" tanya Yandri.


"Sa-saya tidak apa-apa," jawab Ninda.


Namun, sebelum Yandri kembali bertanya. Kegaduhan terdengar lagi. Bahkan kali ini teriakan-teriakan histeris saling bersahutan.


"Bapak tolong segera pergi ke halaman belakang. Siapa tahu dengan melihat Bapak, Bu Maryam tidak mengamuk lagi," ujar Ninda yang membuat dahi Yandri berkerut. "Permisi, saya hendak memanggil keamanan dulu," imbuhnya.

__ADS_1


"Ayo kita lihat, Kang!" ajak Daniar.


Yandri mengangguk. Sedetik kemudian, mereka berlari agar segera sampai di tempat keributan.


"Mana anakku? Cepat hubungi anakku! Aku ingin pulang! Aku ingin pulang! Ke mana anak-anakku? Kenapa mereka tidak pernah menjemput aku? Huhuhu ... aku ingin pulang!"


Bu Maryam terus berteriak histeris menyampaikan keinginannya. Dia bahkan bergerak tak tentu arah hingga kursi rodanya terjatuh.


Brugh!


"Ibu!"


Yandri segera menghampiri Bu Maryam yang sudah terbaring di lantai. Tubuhnya tertimpa kursi roda. Namun, kelumpuhan yang diderita Bu Maryam, hanya mampu membuat wanita itu diam sembari menangis histeris.


"Ibu, tenanglah Bu!" ucap Yandri yang berusaha membangunkan ibunya.


Dibantu dua orang penjaga keamanan yang baru saja tiba, Yandri pun mendudukkan kembali ibunya di atas kursi roda.


"Yan ... kamu datang untuk menjemput Ibu pulang, 'kan? Ibu sudah tidak betah tinggal di sini. Semua orang jahat sama Ibu. Mereka hanya bisa membohongi Ibu. Mereka bilang, suatu hari nanti, anak-anak Ibu akan menjemput Ibu pulang, tapi mereka bohong, Yan. Mereka bohong sama Ibu. Huhuhu ...."


Bu Maryam kembali menangis dalam pelukan Yandri. Membuat hati Yandri seakan disayat sembilu. Dan, bukan hanya hati Yandri saja yang merasa pedih, Daniar juga. Wanita itu tidak menyangka jika mantan ibu mertuanya akan mengalami penderitaan sebesar ini. Tak berdaya, dan terbuang dari keluarganya.


Tak lama berselang, tubuh kurus Bu Maryam terkulai lemah. Rupanya, salah seorang perawat telah menyuntikkan obat penenang untuk Bu Maryam. Sedetik kemudian, perawat itu meminta izin Yandri untuk membawa Bu Maryam kembali ke kamarnya. Sedangkan perawat yang lain pun mulai memapah dan mendorong kursi roda para penghuni panti.


"Pak Yandri, bisa kita bicara sebentar?" tanya Bu Hajjah Titing selaku pemilik panti.


"Ah, iya Bu," jawab Yandri.


"Duduklah!" perintah Bu Hajjah Titing mempersilakan Yandri untuk duduk.


Sejenak, Bu Hajjah Titing melihat ke arah Daniar yang terlihat pucat pasi.


Melihat tatapan penuh tanya dari pemilik panti, Yandri pun memperkenalkan Daniar kepada Bu Hajjah Titing.


"Sebenarnya, apa yang terjadi kepada ibu saya, Bu?" yang Yandri.


"Hhh ... mungkin ini kesalahan kami juga, Nak Yan. Untuk menenangkan para pasien yang merajuk ingin pulang, perawat di sini selalu berkata jika kelak, keluarga pasien pasti akan menjemput mereka pulang. Namun, kami tidak menyangka jika hal ini justru malah menjadi bumerang bagi kami. Tingkat kepercayaan pasien terhadap kami, memudar. Dan puncaknya seperti yang tadi Bapak lihat. Pasien memberontak karena merasa terus dibohongi. Kami minta maaf, Pak," tutur Bu Hajjah Titing.


Yandri menarik napasnya panjang. Jujur saja, dia tidak bisa marah dengan sikap yang diambil para perawat itu. Bagaimanapun, tidak mudah untuk membujuk orang renta yang tengah merajuk.


"Tidak, Bu. Justru saya yang seharusnya minta maaf atas keributan yang dibuat oleh ibu saya," balas Yandri, "lalu, apa yang harus saya lakukan sekarang, Bu?" lanjutnya.


"Sebenarnya untuk kasus seperti ini, kami hanya bisa menanganinya dengan memberikan obat penenang. Karena, percuma kami meminta Keluarga untuk menjemput pulang jika pada akhirnya si pasien akan dikembalikan lagi kemari. Dan kami tidak menyarankan hal itu. Terkecuali memang jika keluarga ingin menjemput dan merawatnya sendiri di rumah," papar Bu Hajjah Titing.


Yandri diam. Dia benar-benar bingung dengan keadaan yang sedang dihadapinya saat ini.

__ADS_1


"Apa kami bisa berdiskusi dulu, Bu?"


__ADS_2