
Yandri tampak panik saat mendengar kata kontraksi. "Astaghfirullahaladzim ... bagaimana ini?" gumam Yandri.
*Aargh! Sakit, Kang!" pekik Daniar seraya memegang tangan suaminya.
"Iya sabar, Sayang. Sebentar, Akang cari bantuan dulu," ucap Yandri seraya hendak beranjak.
"Enggak! Niar enggak mau ditinggal. Aargh, sakit ..." Daniar terus berteriak hingga menjadi pusat perhatian para pengunjung toko.
"Sebaiknya, kita langsung bawa ke rumah sakit terdekat saja, Pak," usul salah seorang pengunjung toko.
"Iya, kita bawa ke rumah sakit Citra Medika saja," timpal pengunjung yang lainnya.
Yandri terkesiap. Bagaimana mungkin dia membawa istrinya ke sana. Itu adalah rumah sakit swasta yang cukup bonafide. Biayanya pun tidak main-main. Karena hanya orang-orang tertentu yang bisa dirawat di sana.
"Kalau tidak, Bapak bawa ke klinik Ibu dan Anak Sayang Bunda saja. Penanganan di sana juga sangat baik. Dulu, anak pertama saya juga lahir di sana," sahut pengunjung yang sedang berbelanja juga.
Yandri hanya bisa bergeming mendengar saran-saran dari para pengunjung. Bukannya apa-apa, kedua rumah sakit yang direkomendasikan mereka, itu termasuk rumah sakit swasta yang cukup elit. Terlebih lagi, untuk saat ini Yandri tidak memegang uang sama sekali. Uang untuk lahiran istrinya, dia titipkan di ibu mertua yang sedang mengunjungi Danita.
Ish, bagaimana ini? batin Yandri seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Sudah Pak, enggak usah kebanyakan mikir. Kita bawa ke Citra Medika saja yang jaraknya dekat dari sini. Keburu bayinya brojol di sini entar," tukas ibu-ibu paruh baya.
Akhirnya, mau tidak mau Yandri meminta bantuan satpam dan pengunjung toko untuk mengangkat Daniar. Dengan menggunakan taksi online, Yandri terpaksa membawa istrinya menuju rumah sakit terdekat. Yaitu rumah sakit kalangan menengah ke atas.
Bismillah saja, Yan. Yakinlah kalau Allah selalu menolong hambanya yang sedang kesusahan, batin Yandri menyemangati dirinya sendiri.
Sepuluh menit kemudian, taksi online itu berbelok dan berhenti tepat di pintu masuk UGD. Yandri buru-buru keluar seraya menggendong Daniar. Sedangkan seorang wanita seumuran Daniar yang tadi ikut, segera menghubungi perawat untuk meminta brankar.
"Baringkan di sini, Pak!" perintah salah seorang perawat saat brankar telah tiba di depan pintu UGD.
Yandri mengangguk. Sejurus kemudian, dia membaringkan istrinya di atas brankar.
"Biar Mbak-nya yang ikut saya. Bapak sebaiknya urus pendaftaran saja." Kembali perawat itu memberikan perintah.
"Baiklah, Sus," jawab Yandri. "Mbak, titip istri saya sebentar," pinta Yandri kepada wanita yang tidak dia kenal sama sekali.
"Iya, Bapak tidak usah khawatir. Saya akan jaga istri Bapak. Sebaiknya, Bapak segera mendaftarkan istri Bapak, supaya cepat ditangani tim medis," jawab wanita itu.
Yandri mengangguk. Setelah membayar ongkos taksinya, dia kemudian berlari menuju tempat pendaftaran pasien. Tiba di sana, Yandri segera mengajukan pendaftaran untuk istrinya.
"Silakan diisi dulu formulirnya, Pak," ucap salah seorang perawat yang bekerja di bagian administrasi.
Yandri mengambil lembaran formulir tersebut dan mengisinya. Setelah selesai, dia mengembalikan kertas itu kepada perawat.
"Tolong diisi jumlah depositnya, Pak," pinta perawat itu seraya mengembalikan formulir yang sudah terisi oleh biodata Daniar.
"Kira-kira, berapa saya harus menyimpan depositnya, Mbak?" tanya Yandri.
"Sekitar lima juta," jawab perawat itu.
Yandri terkejut. Saat ini dia sama sekali tidak memegang uang sebanyak itu. Bahkan, uang yang dia titipkan di ibu mertuanya pun, belum sampai pada nominal lima juta.
Astaghfirullah ... apa yang harus aku lakukan? batin Yandri.
"Maaf, Mbak. Apa depositnya harus sekarang juga?" tanya Yandri yang memang tidak begitu paham dengan prosedur rumah sakit swasta.
"Lebih cepat lebih baik, Pak. Supaya istri Anda bisa segera ditangani," jawab perawat itu.
Yandri kembali bergeming. Tidak ada cara lain selain memberi tahu mertuanya tentang kondisi Daniar. Akhirnya Yandri meminta izin sebentar untuk menghubungi ibunya
__ADS_1
"Permisi Mbak, saya izin menghubungi ibu saya terlebih dahulu, boleh, 'kan?" ucap Yandri.
"Oh iya, silakan pak."
Setelah mendapatkan izin, Yandri kemudian beranjak dari kursi pendaftaran. Dia berjalan ke luar untuk menelepon ibu mertuanya.
Telepon yang Anda tuju, sedang berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi!
"Ish, kok enggak aktif?" gumam Yandri terlihat kesal.
Dalam kebingungan, Yandri teringat akan kak Nauval yang berada di kota Jakarta. Dia kemudian menghubungi Nauval untuk memberi tahu keadaan istrinya
"Iya, Yan ... ada perlu apa kamu menghubungi Kakak?" tanya Nauval.
"Yandri cuma mau minta do'a dari Kakak. Saat ini, Daniar masuk rumah sakit karena hendak melahirkan. Minta do'anya semoga diberi kemudahan dan istri juga anak Yandri bisa selamat," jawab Yandri.
"Astaga Yan! Kamu pikir biaya rumah sakit itu murah? Ngapain lahiran di rumah sakit? Memangnya kamu punya uang untuk membayar biaya rumah sakit? Kenapa tidak dibawa ke bidan desa saja yang lebih murah," tukas Nauval di ujung telepon.
Yandri hanya menghela napas mendengar ucapan kakak kandungnya sendiri.
Astagfirullah ... ternyata begini nasib orang yang tak punya, batin Yandri, perih.
"Insya Allah, jika Allah berkehendak, semua urusan biaya rumah sakit Daniar pasti dimudahkan, Kak. Ya sudah Kak, Yandri tutup dulu teleponnya. Terima kasih atas do'a dan kebaikan Kakak kepada kami. Assalamu'alaikum!"
Tak ingin memperpanjang pembicaraan lagi, Yandri akhirnya memutus sambungan telepon. Dia kembali fokus untuk menghubungi ibu mertua. Namun, jawabannya masih tetap sama hingga akhirnya Yandri menyerah.
Yandri kemudian mengeluarkan dompetnya dan menghitung beberapa lembar uang yang tersisa di dompetnya.
"Hanya satu juta, Ya Tuhan banyak banget kurangnya," gumam Yandri. Sekilas dia melihat ponselnya. "Ish tidak mungkin juga kalo aku jual ponsel jadul ini. Harganya tidak akan mungkin bisa menutupi deposit yang diminta pihak rumah sakit." Kembali Yandri bergumam. Hingga pergerakan Yandri menarik perhatian seorang pria tua yang baru saja turun dari mobil.
Pria itu menghampiri Yandri dan menepuk bahunya. "Nak Yandri?"
"Eh, iya ... Maaf, Pak. Apa kita pernah bertemu? tanya Yandri yang sepertinya sudah lupa kepada pria tua tersebut.
Saya pria tua yang pernah kamu tolong dulu, di jalan bypass. Apa kamu ingat? Bukankah waktu itu kamu memberikan saya uang untuk ongkos pulang?" kata pria tersebut mencoba membuka kembali memori Yandri.
"Astaghfirullahaladzim ... iya, pak. Saya ingat. Maafkan kelemahan ingatan saya, Pak. Saya tidak bermaksud dengan sengaja melupakan Bapak. Mungkin karena pengaruhnya pikiran yang sedang kacau. Sekali lagi saya minta maaf," tutur Yandri.
"Memangnya Nak Yandri sedang memikirkan apa? Ngomong-ngomong, sedang apa Nak Yandri di sini? Apa Nak Yandri sakit?" tanya pria tua itu lagi.
"Hehehe, ini saya sedang memikirkan telepon ibu yang tidak bisa dihubungi. Alhamdulillah saya sehat walafiat, Pak," jawab Yandri.
"Lalu, siapa yang sakit?" Kembali pria tua itu bertanya
"Sebenarnya, istri saya mengalami kontraksi. Karena itu saya membawanya kemari, karena hanya rumah sakit ini yang kebetulan jaraknya dekat dengan tempat berbelanja kami tadi," tutur Yandri.
"Astaghfirullah... apa sudah ditangani?" tanya pria tua lagi.
"Be-belum, Pak. Pihak rumah sakit meminta deposit terlebih dahulu. Sedangkan uang saya belum cukup untuk menyimpan deposit. Tadinya saya hendak menghubungi ibu mertua. Namun, sayangnya telepon ibu tidak aktif," papar Yandri.
"Baiklah, ikut saya!" ucap pria tua itu seraya memasuki rumah sakit.
Meskipun tidak mengerti apa-apa, Yandri mengikuti pria tua itu. Hingga tak berapa lama, mereka tiba di sebuah ruangan yang bertuliskan Kantor Direktur Utama.
Tok-tok-tok!
Pria tua itu mengetuk pintu ruangan tersebut.
"Masuk!"
__ADS_1
Terdengar suara seorang pria dari dalam ruangan. Sejurus kemudian, pria tua itu menekan handle pintu dan mendorongnya hingga terbuka.
"Apa Papa mengganggu pekerjaan kamu, Lex?" tanya pria tua itu.
Mendengar suara yang tidak asing lagi, laki-laki berdasi yang sedang memeriksa beberapa file medis, seketika mendongak
"Eh, Papa ..." ucapnya seraya berdiri untuk menyambut sang ayah yang begitu dihormatinya. "Ada keperluan apa Papa datang kemari?" lanjut dokter yang dilihat dari name tag-nya bernama Alex.
"Apa kamu lupa, jika sekarang jadwal kontrol Papa?" tukas pria tua itu
"Astaghfirullah ... maaf, Pa. Alex lupa," ucap Alex seraya menepuk jidatnya.
"Begitulah dia Yan, kalau sudah kerja, pasti lupa segalanya," keluh pria tua itu memberitahukan kelemahan putranya kepada Yandri.
Yandri hanya tersenyum tipis menanggapi keluhan pria tua yang rupanya ayah dari seorang direktur utama di rumah sakit ini.
"Ah, Papa ... jangan mulai lagi deh! Gimana, udah selesai kontrol- nya?" tanya Dokter Alex.
"Papa belum sempat ke ruangan Dokter Andre. Oh iya, Lex ... apa Papa bisa minta bantuan kamu?" tanya pria tua itu kepada anaknya.
"Bantuan apa, Pa?" Alex kembali bertanya.
"Kamu masih ingat, orang yang Papa ceritakan sebagai malaikat penolong Papa malam itu?" tanya pria tua.
"Oh yang sudah memberikan uangnya untuk ongkos Papa pulang, 'kan? Iya, Alex ingat. Memangnya ada apa, Pa? Apa orang suruhan Papa sudah berhasil melacak keberadaannya? Di mana rumahnya? Alex ingin berkunjung untuk mengucapkan terima kasih," jawab Alex panjang lebar.
"Dia orangnya Lex."
Dokter Alex melihat Yandri. Senyumnya seketika mengembang. Sepersekian detik kemudian, Dokter Alex menghampiri Yandri untuk berjabat tangan dan mengucapkan terima kasih.
"Alhamdulillah, akhirnya bisa bertemu juga. Saya ucapkan terima kasih karena Anda sudah menolong ayah saya waktu itu," ucap Dokter Alex.
"Sama-sama, Dok," balas Yandri.
"Istrinya Yandri hendak melahirkan di rumah sakit ini Lex, tapi sampai detik ini, dia belum ditindak karena Yandri belum bisa menyimpan deposit," tutur bapak tua itu. "kamu bisa bantu dia?"
"Masya Allah ... tentu saja saya bisa bantu. Siapa nama istri Anda?" tanya Dokter Alex.
"Da-daniar, Dok," jawab Yandri
"Dirawat di ruang apa?" Kembali Dokter Alex bertanya.
"Saya tidak tahu, Dok. Tadi, begitu tiba di rumah sakit, salah seorang perawat membawa istri saya ke ruang UGD," jawab Yandri.
"Baiklah, tunggu sebentar!"
Dokter Alex kemudian mendekati meja kerjanya. Dia mengangkat gagang telepon untuk menghubungi seseorang.
"Hallo! Tolong segera ambil tindakan untuk pasien yang bernama Daniar. Seorang ibu yang tengah hamil tua dan hendak melahirkan. Beliau tiba di ruang UGD sekitar ...."
Dokter Alex menjeda pembicaraanya. Dia kemudian bertanya kepada Yandri. "Sudah berapa lama istri Anda masuk ke ruang UGD?
"Sekitar dua puluh menit yang lalu, Dok," jawab Yandri.
"Ah, ya ... tiba di ruang UGD sekitar dua puluh menit yang lalu. Dia istrinya adik saya, tolong tangani sebaik mungkin!" Kembali Dokter Alex memberikan perintah.
Sontak kedua kaki Yandri terasa lemas saat mendengar perkataan Dokter Alex yang mengakui dirinya sebagai adik. Subhanallah ... pertolongan Allah itu sangat nyata adanya. Yandri pun tak henti-hentinya mengucap syukur. Di saat kakak kandungnya sendiri meremehkan dan tidak mau membantu, Tuhan mengirimkan malaikat tanpa sayap berwujud seorang dokter yang justru mengakuinya sebagai adik, meskipun baru pertama kali bertemu.
"Subhanallah.... "
__ADS_1