
Meskipun merasa kesal, tapi Siska tidak punya pilihan lain. Dibantu ayahnya, Siska pun membawa Bu Maryam ke rumahnya. Tiba di rumah, Siska memanggil orang yang bekerja paruh waktu di rumahnya.
"Tolong rawat wanita ini, Ya Teh. Saya mau pergi ke kedai," pinta Siska pada pembantunya.
"Ish, Neng. Saya dibayar bapak, 'kan bukan untuk merawat orang jompo, tapi untuk ngurusin rumah bapak," celetuk Nenah.
"Iya-iya, nanti saya tambahin bayarannya," jawab Siska.
Nenah tidak menjawab. Dia sendiri tidak tahu apa harus merasa senang ataupun tidak meski sang anak majikan menjanjikan uang tambahan sebagai gajinya. Pasalnya, mengurus orang yang sedang terkena stroke, bukanlah hal yang mudah. Pasien stroke rata-rata emosinya labil. Mereka mudah marah dan cepat tersinggung. Karena itu, Nenah pun enggan. Tapi majikan adalah raja, dan Nenah tidak bisa melawannya.
.
.
"Assalamu'alaikum, Bu!" sapa Daniar.
"Wa'alaikumsalam, Niar. Syukur alhamdulilah, Ni ... keponakan kamu sudah lahir," pekik Bu Salma di ujung telepon.
"Alhamdulillah, Bu. Selamat menjadi enin lagi, Niar ikut senang mendengarnya." Daniar merasa sangat terharu dan senang setelah mendengar kabar kelahiran anak Danisa dan Daniel.
"Iya, Ni. Alhamdulillah ..." jawab Bu Salma.
"Ngomong-ngomong, laki-laki atau perempuan anaknya, Bu?" tanya Daniar.
"Laki-laki, Ni. Sekarang masih dibersihkan sama bidannya. Nanti Ibu kirim fotonya setelah selesai, Ni," balas Bu Salma.
"Iya, Bu. Hmm, Niar jadi penasaran, Bu. Dia mirip siapa, ya?"
"Entahlah, Ni. Ibu sendiri enggak tahu. Tadi Ibu cuma sekilas lihatnya," jawab Bu Salma. "Ya sudah, Ni. Ibu tutup dulu teleponnya. Sampaikan salam Ibu untuk Bintang," imbuhnya.
"Iya, Bu. Nanti Niar sampaikan kalau Bintang sudah pulang sekolah," balas Daniar.
"Iya, assalamu'alaikum Niar!"
"Wa'alaikumsalam."
Daniar meletakkan kembali gagang telepon pada tempatnya. Ah, seandainya Danisa dan Daniel berada di sini, tentu suasana akan semakin ramai. Sudah lama Daniar merindukan tangis dan juga tawa seorang anak kecil.
"Bunda merindukan kamu, Nak. Maafkan Bunda karena tidak bisa mempertahankan dan melahirkan kamu, Dek" gumam Daniar untuk anak yang tidak sempat dia lahirkan ke dunia ini.
Bintang yang tanpa sengaja mendengar keluh kesah Daniar dari belakang, sontak memeluk Daniar. Dia tidak ingin ibunya bersedih lagi karena telah kehilangan adiknya.
__ADS_1
"Sabar, Bun," kata Bintang, memeluk hangat tubuh ibunya dari arah belakang.
"Astaghfirullah, Bin! Kamu ngagetin aja," tukas Daniar seraya menepuk tangan anaknya yang sedang melingkar di leher sang ibu.
"Hehehe, maaf Bun."
.
.
Waktu terus berlalu. Penelitian yang dilakukan Yandri atas perintah yayasan, bisa rampung sebelum waktu yang ditentukan. Yandri bersama tim pulang dengan mendulang hasil yang cukup mengejutkan.
"Jujur, kami sangat bangga memiliki generasi seperti Anda," puji ketua yayasan.
Yandri hanya tersenyum. Dia pun bangga pada kemampuan diri dan timnya. Namun, dia tidak ingin terlalu terlena dengan kebanggaan tersebut.
"Terima kasih, Ustadz!" jawab Yandri.
"Sama-sama. Oh iya Ustadz Yandri, rencananya kami akan mengadakan proyek galangan kapal di Batam. Saya berniat mengirimkan beberapa Ustadz yang membina PAI untuk memperkuat akidah para karyawan. Apa Ustadz Yandri berminat untuk menjadi kepala tim?" tawar ketua yayasan.
"Untuk berapa lama, Ustadz?" tanya Yandri.
"Sekitar satu tahun," jawab ketua yayasan. "Tapi Ustadz tidak usah khawatir, ada jadwal cuti per semester," imbuhnya.
Uuh, penelitian yang aku ambil terjadi sebelum ibu jatuh sakit, karena itu mau tidak mau aku harus melaksanakannya. Namun, proyek binaan awak kapal baru saja ditawarkan. Tidak etis rasanya jika aku menerima tawaran ini sedangkan aku tahu kondisi ibu, batin Yandri.
"Maaf Ustadz, apa waktunya mendesak?" tanya Yandri.
"Ah, tidak juga Ustadz Yan. Anda bisa memikirkannya terlebih dahulu," jawab ketua yayasan.
"Baiklah Ustadz, saya akan berdiskusi dulu dengan keluarga saya. Bagaimanapun, proyek ini memakan waktu yang cukup lama, dan saya tidak ingin jika harus pergi tanpa kerelaan keluarga," papar Yandri.
"Baiklah, Ustadz. Silakan diskusi terlebih dahulu dengan keluarga," pungkas ketua yayasan.
"Terima kasih, Ustadz. Kalau begitu saya permisi. Assalamu'alaikum!" pamit Yandri.
.
.
Izin relaksasi sudah keluar. Yandri melajukan mobilnya keluar dari gerbang sekolah yang berdiri sangat kokoh. Senyumnya tak pernah lepas dari wajah Yandri. Esok, Yandri akan membawa ibunya untuk menemui dokter ahli terbaik yang berada di kota Bandung.
__ADS_1
Di lain tempat.
Siska tampak cemas melihat tubuh Bu Maryam bergetar hebat. Kedua bola matanya terlihat bergerak ke sana kemari dengan cepat. Entah apa yang terjadi dengan wanita tua itu.
"Sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit, Neng," saran Nenah.
"Ya udah, ayo cepat bantu!"
Nenah dan Siska menggotong tubuh kurus Bu Maryam dan membaringkannya di kursi belakang. Setelah itu, Siska memutari bagian depan mobil untuk duduk di kursi kemudi.
"Tolong hubungi bapak dan suruh nyusul ke rumah sakit Soekardjo ya, Teh!" pinta Siska.
"Iya, Neng. Hati-hati di jalan!"
Siska melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Dia tidak ingin terlambat tiba di rumah sakit. Ada rasa takut di hatinya jika Bu Maryam tidak bisa tertolong.
"Dokter, tolong!" teriak Siska begitu tiba di lobi rumah sakit.
.
.
Setelah melewati perjalanan selama 6 jam, akhirnya Yandri tiba di rumah ibunya. Habibah sangat terkejut melihat kedatangan Yandri. Dia pun sudah tidak bisa mengelak dari interogasi Yandri tentang ibunya.
"Ma-maaf, Yan," kata Habibah seraya menundukkan kepalanya.
"Maaf katamu, Kak. Astaghfirullah ... Kakak telah menyerahkan ibu kita begitu saja kepada orang asing. Apa Kakak sadar jika itu adalah salah?" sahut Yandri.
"Dia bukan orang asing, Yan. Dia calon istri kamu," balas Habibah.
"Calon istri, Kakak! Baru sebatas calon istri, dan kita tidak punya hak untuk membebani dia!" tegas Yandri.
"Maaf, Yan."
"Maaf saja tidak menyelesaikan masalah, Kakak. Kenapa Kakak tidak pernah bilang kejadian yang sebenarnya. Jika suster itu memang bermasalah, Kakak bisa bicara sama Yandri, biar nanti Yandri cari gantinya. Tapi kenapa Kakak malah bertindak gegabah," sesal Yandri.
Habibah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Untuk sejenak, keheningan pun terjadi di antara mereka.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan Yan?" tanya Habibah memecah keheningan.
"Apalagi, Kak. Kita harus menjemput ibu. Yandri tidak ingin berhutang budi sama perempuan itu," jawab Yandri.
__ADS_1
Habibah hanya bisa menghela napas. Untuk saat ini, dia hanya bisa pasrah dan menerima keputusan Yandri. Menjemput ibunya pulang, itu artinya dia kembali yang harus merawat sang ibu. Namun, Habibah tidak punya pilihan lain.
"Ya sudah, ayo kita pergi!"