Setelah Hujan

Setelah Hujan
Masih Seperti Dulu.


__ADS_3

"Apa itu benar, Kak?" tanya Siska, seraya memainkan ujung rambut panjangnya yang hitam legam.


"Beneran, asli Sis! Semalam ibu bilang seperti itu. Katanya, dia bukan tidak menyetujui kamu untuk bersanding dengan Yandri. Hanya saja, ibu ingin melihat sejauh mana kamu berubah dan mencintai Yandri dengan tulus," tutur Habibah di ujung telepon.


"Iya, Kak. Siska paham. Kelakuan Siska dulu emang sangat keterlaluan. Mungkin, karena itu juga ibu belum bisa memaafkan Siska," jawab Siska, lirih.


"Hmm, sudahlah Sis. Yang lalu biarlah berlalu. Lagi pula, kejadian itu sudah sangat lama. Tidak ada gunanya terus disesali, toh semuanya sudah terjadi," jawab Habibah.


Siska tersenyum kecut. Tiba-tiba, dia teringat akan rencana pembukaan kedai bakso di mall, beberapa hari ke depan.


"Eh, Kak. Kalau Siska undang ibu untuk pembukaan cabang kedai bakso di mall, kira-kira ibu mau datang enggak, ya?" tanya Siska.


"Wah, kapan tuh pembukaannya?" Habibah balik bertanya.


"Rencananya sih, hari Minggu sekarang," jawab Siska.


"Wah, kebetulan tuh. Minggu sekarang Yandri juga pulang," tukas Habibah.


"Benarkah?" tanya Siska, kedua bola matanya terlihat bersinar setelah mendengar kabar kepulangan Yandri.


"Hem-eh ... kemarin sih, bilang seperti itu sama ibu. Ya, semoga saja tidak meleset," sahut Habibah.


"Semoga saja, Kak. Supaya Yandri bisa datang juga," timpal Siska.


"Dia pasti datang, Sis. Tenang aja," balas Habibah. "Ya sudah, kalau begitu, nanti Kakak sampaikan undangan kamu. Semoga saja ini menjadi awal yang baik bagi hubungan kamu sama ibu," lanjut Habibah.


"Aamiin."


Siska meletakkan teleponnya di atas meja rias. Dia kembali mengeringkan rambutnya yang masih basah. Kedua sudut bibirnya terangkat membentuk lekukan senyum yang begitu indah. Sepanjang sejarah cintanya, kabar inilah yang telah ditunggu Siska bertahun-tahun.


Semoga apa yang dibilang kak Bibah benar. Persetujuan ibu menjadi awal yang baik bagi kisah aku dengan Yandri. Semoga dia memang takdir jodohku, batin Siska.


.


.


Sabtu malam, Yandri tiba di rumah Bu Maryam. Rumah terlihat sepi, mungkin orang rumah sudah beristirahat. Yandri pun mengayunkan langkah menuju rumah Habibah yang berada tepat di samping rumah Bu Maryam.


Tok-tok-tok!


Yandri mengetuk pelan pintu rumah Habibah. Hingga beberapa menit berlalu, pintu pun terbuka.


"Yandri," gumam Habibah.


"Hehehe, assalamu'alaikum Kak. Maaf mengganggu istirahat Kak Bibah," ujar Yandri, begitu bertemu dengan kakaknya.


"Wa'alaikumsalam, Yan. Enggak ganggu juga, kok. Lagian Kakak belum tidur ini," jawab Habibah. "Masuk, yuk!" ajaknya.


"Hmm, kakak ngelembur?" tanya Yandri sesaat setelah memasuki rumah Habibah.


"Iya, Dek. Ada pakaian yang mau diambil besok," jawab Habibah.


"Oh, gitu ya. Ngomong-ngomong, ibu sudah tidur, Kak?" tanya Yandri.


"Sudah, Yan. Akhir-akhir ini ibu sering mengeluh sakit kepala. Karena itu, selepas shalat isya, dia langsung istirahat," tutur Habibah.


"Ya sudah Kak, kalau begitu Yandri masuk kamar dulu," pamit Yandri.


"Eh, Yan. Tunggu dulu!" cegah Habibah.


Yandri menghentikan langkah. Dia kembali membalikkan badan. "Kenapa, Kak?" tanyanya.


"Itu, anu ... emh, ini tentang mobil yang diminta ibu. Apa benar, kamu akan membelikan mobil untuk ibu?" cicit Habibah.


"Ah, Kakak ... memangnya Yandri sekaya kak Nauval yang bisa bergonta-ganti mobil setiap bulannya," tukas Yandri.


"Lalu, mobil buat ibu?" tanya Habibah, mengernyitkan kening. "Jadi, kamu memberikan harapan palsu, kepada ibu?" tuduhnya.


Yandri tersenyum. "Jika ibu memang menginginkan sebuah mobil, Yandri akan meninggalkan mobil Yandri di sini," jawab Yandri.

__ADS_1


"Terus, kamu mau pakai apa kalau balik kerja?" tanya Habibah.


"Masih ada angkutan umum, Kak. Lagi pula, dulu Yandri dan Daniar membeli mobil itu supaya bisa bermanfaat. Bukan hanya bagi kami sekeluarga, tapi bagi yang membutuhkan. Jika memang ibu lebih membutuhkan kendaraan, ya akan Yandri berikan, Kak," jawab Yandri, tulus.


Habibah hanya terbengong mendengar jawaban Yandri yang tanpa beban.


Ish, baik sekali kamu Dek.


.


.


Pagi hari, Bu Maryam terlihat sumringah ketika melihat sebuah mobil terparkir di halaman depan. Dia pun menemui Habibah yang sedang menyiapkan sarapan di dapur.


"Semalam, Yandri datang jam berapa, Bah?" tanya Bu Maryam.


"Sekitar pukul 11 malam, Bu," jawab Habibah.


"Wah, larut sekali," kata Bu Maryam.


"Perjalanannya, 'kan jauh juga. Apalagi Yandri keluar asrama pukul tiga sore. Wajar lah, kalau dia pulang larut malam," balas Habibah.


"Hmm, bener juga kamu, Bah. Eh, ngomong-ngomong ... jam berapa acaranya Siska dimulai?" tanya Bu Maryam.


"Kenapa? Ibu jadi, menghadiri undangan Siska?" Habibah balik bertanya.


"Hmm, mumpung ada Yandri juga, Bah. Jadi dia bisa antar kita pake mobilnya ke acara itu," jawab Bu Maryam.


"Sebaiknya, Ibu tanya dulu sama Yandri. Takutnya Yandri sudah punya acara juga," saran Habibah.


"Enggak usah ditanya. Dia pasti mau antar kita ke sana. Ya sudah, Bah. Ibu mau ketemu Bu Saidah dulu. Mau ngajakin dia ke undangan Siska sekalian naik mobil Ibu," pungkas Bu Maryam.


"Aih, mau pamer dia," gumam Habibah seraya menggelengkan kepalanya.


Pukul 7 pagi, Yandri sudah terlihat rapi. Hari ini, dia hendak pergi ke mall bersama anaknya. Dia ingin membelikan peralatan sekolah baru untuk Bintang.


Tiba di ruang keluarga, Yandri mengedarkan pandangan mencari keberadaan ibunya. Namun, nihil. Yandri pun pergi ke rumah sang kakak.


"Apa Kakak lihat ibu?" tanya Yandri.


Habibah yang sedang menyetrika, seketika mendongak. Dia menautkan kedua alisnya saat melihat Yandri sudah berpakaian rapi.


"Mau ke mana kamu, Yan?" tanya Habibah.


"Yandri mau ajak Bintang keluar, Kak. Oh ya, ibu mana?" Yandri kembali bertanya.


"Ibu lagi pamerin mobil yang kamu kasih tuh, ke temen ngajinya," sahut Habibah.


"Astaghfirullahaladzim ..." Yandri hanya menggelengkan kepala mendengar kelakuan sang ibu. "Ya sudah, Kak. Yandri berangkat dulu. Tolong pamitkan pada ibu nanti," lanjutnya.


"Tapi Yan, nanti siang ibu mau pakai mobilnya," tukas Habibah.


Yandri menghentikan langkahnya. Cukup terkejut juga mendengar perkataan Habibah.


"Memangnya ibu mau ke mana?" tanya Yandri.


"Ibu mau menghadiri undangan dari teman Kakak, Dek," jawab Habibah.


"Ya sudah, ibu pakai saja mobilnya. Biar Yandri pake umum saja," jawab Yandri.


"Yang nyetirnya siapa, Dek? Emang kamu pikir ibu bisa nyetir?" tanya Habibah lagi.


"Kang Bahar bisa nyetir, 'kan? Suruh kang Bahar saja yang jadi sopirnya," jawab Yandri.


"Ish, ibu mana mau Yan. Kenapa bukan kamu aja yang nganterin ibu?" lanjut Habibah.


"Maaf, Kak. Yandri enggak bisa. Yandri ada urusan. Permisi!"


Tak ingin berdebat lebih lama lagi, Yandri pun memutuskan untuk segera pergi.

__ADS_1


.


.


Ting-tong!


Bel di rumah peninggalan almarhumah Hajjah Minah berbunyi. Bintang berlari untuk membuka pintu.


"Ayah!" pekik Bintang ketika melihat ayahnya sudah berdiri di teras rumah.


"Assalamu'alaikum, Bibin!" sapa Yandri merentangkan kedua tangannya.


Bintang menghambur ke dalam pelukan Yandri. Namun, ketika Yandri hendak menggendongnya, seketika Bintang melepaskan pelukan.


"Jangan digendong, Ayah. Sekarang Bibin sudah berat. Sudah besar juga, jadi malu dilihat orang," bisik Bintang di telinga Yandri.


Yandri hanya tergelak mendengar bisikan putrinya.


"Siapa yang datang, Bin?" teriak Bu Salma dari dalam rumah.


"Ayah, Nin!" jawab Bintang, berteriak pula.


"Ya sudah, diajak masuk dong, ayahnya," lanjut Bu Salma.


"Ayo masuk, Yah!" ajak Bintang seraya menggandeng tangan ayahnya.


Tiba di ruang keluarga, Yandri melihat Bu Salma, Daniar dan Danisa tengah berkumpul di ruang makan. Rupanya, mereka sedang sarapan bersama. Yandri ingat, jika hari Minggu, jadwal sarapan memang selalu mundur.


"Kemarilah, Nak Yandri. Kita sarapan bersama," ucap Bu Salma seraya mengambil piring kosong. "Ayo, Ni. Ambilkan nasi dan lauk untuk Yandri," perintah Bu Salma kepada putri sulungnya.


Meskipun merasa canggung, tapi Daniar menuruti perintah ibunya. Dia mengambil piring yang disodorkan Bu Salma dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk yang disukai Yandri.


"Kok, kentangnya enggak diambilin, Ni?" tanya Bu Salma.


"Kang Yandri enggak suka kentang, Bu," jawab Daniar, masih terus anteng menyendok tahu kecap makanan favorit mantan suaminya.


"Terus, dia makan sama apa? Adanya cuma begini doang," lanjut Bu Salma.


"Tahu kecap sama mendoan juga sudah cukup, Bu. Emangnya Ibu enggak tahu, rakusnya Kang Yandri makan sama tahu kecap, apalagi kalau ada sambil. Bisa dua kali nanak nasi Niar, kalau masak tahu kecap sama mendoan, hehehe," seloroh Daniar.


Yandri yang sudah duduk di samping putrinya, menatap Daniar penuh kerinduan. Senyumnya tak pernah lepas dari bibir Yandri.


Empat tahun sudah berlalu sejak kita berpisah. Namun, kamu masih mengingat baik apa yang aku suka dan tidak aku suka. Ya Tuhan, apa aku bisa kembali meraih hatinya? Aku mencintainya, sangat mencintainya. Izinkan kami untuk membina kembali keluarga yang utuh, pinta Yandri dalam doanya.


"Terima kasih, Bun," ucap Yandri.


"Sama-sama," sahut Daniar.


"Ayo, makan semuanya!" titah Bu Salma.


Yandri merasa beruntung memiliki Bu Salma sebagai mantan mertuanya. Meskipun statusnya telah berubah, tapi Bu Salma masih memperlakukan Yandri seperti dulu. Seperti saat dia masih menjadi suami anaknya.


Setengah jam berlalu. Yandri menghampiri Bu Salma yang tengah duduk di ruang keluarga.


"Terima kasih, Ibu," ucap Yandri duduk di samping Bu Salma.


Bu Salma mengernyit. "Kamu ngomong apa sih, Nak Yan? Terima kasih untuk apa?"


"Untuk semuanya, Bu," jawab Yandri.


"Maksudnya?" Bu Salma kembali bertanya.


"Ikatan Yandri dan Daniar sudah lama berakhir. Namun, Ibu tidak pernah menolak kedatangan Yandri. Bahkan, sikap Ibu kepada Yandri masih tetap sama. Yandri benar-benar beruntung pernah menjadi menantu ibu," jawab Yandri serak.


Bu Salma tersenyum. "Sudah Ibu bilang, kamu bukan hanya menantu Ibu, tapi juga anak laki-laki Ibu. Satu hal yang selalu Ibu minta pada Gusti Allah. Semoga suatu hari nanti, Ibu bisa melihat kalian berkumpul lagi sebagai sebuah keluarga sebelum Ibu pergi untuk selamanya," tutur Bu Salma.


"Ssst, jangan katakan itu, Bu," ucap Yandri.


Bu Salma tersenyum. "Bersiap-siaplah! Sepertinya anak kamu sudah tidak sabar untuk berbelanja!"

__ADS_1


__ADS_2