
"Assalamu'alaikum, Dek!" sapa Yandri, menerima telepon dari adik iparnya.
"Wa'alaikumsalam. Abang, apa Abang sudah mendengar kabar tentang kak Niar?" tanya Danita di ujung telepon.
"Iya, Dek. Tadi Danisa sudah menelepon Abang. Sekarang Abang sedang dalam perjalanan pulang," jawab Yandri.
"Oh, Danisa sudah menghubungi Abang? Apa Abang tahu, di rumah sakit mana kak Niar dirawat?" tanya Danita lagi.
"Emh ... rumah sakit Al Islam, Dek. Ya, tadi Danisa mengirimkan foto dan bilang jika kak Niar dibawa ke rumah sakit Al Islam," jawab Yandri.
"Oh, iya Bang. Ya sudah, kalau gitu Nita sama ibu pergi ke sana. Abang hati-hati di jalan, ya. Assalamu'alaikum!" pungkas Danita.
"Wa'alaikumsalam."
Yandri memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jaket. Dia kemudian memejamkan mata. Pikiran dan hatinya tidak tenang setelah mengetahui kondisi istrinya.
"Ya Tuhan ... tolong selamatkan istri hamba."
.
.
Danisa berjalan mondar-mandir di depan ruang operasi. Lampu di atas pintu masih berwarna merah. Itu artinya, sudah hampir dua jam Daniar berada di ruangan tersebut.
Sebenarnya, operasi seperti apa yang sedang dijalani kak Niar? Kenapa begitu lama sekali? batin Danisa.
Di saat Danisa masih sibuk dengan pemikirannya. Tiba-tiba, dia mendengar suara seseorang memanggil namanya. Danisa menoleh, tampak ibu dan kakak keduanya tengah berjalan tergopoh-gopoh mendekati.
Danisa mengernyitkan kening. Eh, dari mana mereka tahu kalau aku dan kak Niar berada di sini? Apa Bintang yang sudah menceritakan semuanya? Monolog Danisa dalam hati.
"Gi-gimana keadaan kakak kamu, Dek? A-apa dia sudah siuman?" tanya Bu Salma begitu tiba di hadapan Danita.
"Belum, Bu. Kak Niar masih berada di sana!" Kedua mata Danisa menunjuk ruang operasi. Mengisyaratkan jika Daniar masih menjalani tindakan yang diperlukan.
"Astaghfirullahaladzim! Sudah berapa lama kakak kamu berada di sana, Dek?" tanya Bu Salma lagi.
__ADS_1
"Mungkin sekitar ..." Danisa menatap jam di pergelangan tangan, "dua jam, Bu," jawabnya.
"Ya Allah ... sudah selama itukah, Dek?" tanya Bu Salma lagi.
Danisa hanya menjawab pertanyaan ibunya dengan anggukan.
Kedua kaki Bu Salma mulai terasa lemas ketika mengetahui jika sudah hampir dua jam anaknya sedang berjuang di meja operasi. Hal itu pun membuat keseimbangan tubuh Bu Salma terganggu. Dia sedikit limbung karena kepalanya terasa berputar-putar.
"Sebaiknya kita duduk, Dek," saran Danita. "Kasihan juga Ibu," lanjutnya.
Danisa mengangguk. Kedua kakak beradik itu kemudian memapah Bu Salma untuk duduk di kursi tunggu.
"Bagaimana keadaan Bintang, Bu. Di rumah sama siapa?" tanya Danisa.
"Di rumah ada bik Yanti. Kakak suruh bik Yanti ke rumah untuk menjaga Bintang dan Fayyadh," sahut Danita.
"Oh, gitu ya. Hmm, syukur deh," ucap Danisa.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Dek? Kenapa kak Niar bisa sampai keguguran seperti itu?" lanjut Danita.
"Iya, Dek? Apa kamu tahu penyebabnya?" timpal Bu Salma.
"Berarti, hanya Bintang yang tahu tentang kejadian yang sebenarnya?" tukas Danita.
"Bisa jadi, Kak. Siapa lagi..." timpal Danisa.
Bu Salma menghela napas. "Sayangnya, Bintang tidak mau bicara apa-apa, Dek. Saat Ibu tanyakan pun, dia hanya diam dan berlari ke kamarnya."
"Apa mungkin ada kejadian yang membuat Bintang trauma?" timpal Danita.
Danisa hanya bisa menggedikkan kedua bahunya.
"Ya sudah, kita lupakan hal itu untuk sejenak. Sekarang kita fokus dulu pada Daniar," kata Bu Salma.
"Iya, Bu," sahut Danita dan Danisa berbarengan.
__ADS_1
Sementara itu, di ruang operasi.
Para dokter bedah dan obgyn dibuat cukup sibuk dengan kondisi Daniar. Benturan yang terjadi di sekitar perutnya, telah membuat Daniar pendarahan hebat hingga menyebabkan keguguran.
"Sepertinya, kita harus melakukan histerektomi kepada pasien, Dok?" ucap Bidan Ayunda, salah satu bidan senior di rumah sakit Al Islam.
"Jika dilihat dari hasil USG, sepertinya memang begitu. Pendarahannya tidak mau berhenti. Sepertinya pasien mengalami benturan yang cukup hebat," sahut dokter bedah.
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Dok? Kita tidak bisa bertindak tanpa persetujuan pasien," jawab dokter kandungan.
"Jujur saja, kita tidak punya banyak waktu lagi. Tekanan darah pasien semakin menurun. Sepertinya, pasien juga membutuhkan darah. Jadi kita harus bertindak secepatnya," jujur dokter bedah.
"Ya sudah, kita tindak saja sekalian, Dok. Mengingat kondisi pasien tidak akan mungkin bertahan lebih lama lagi. Bukankah suaminya telah memberikan kuasa kepada adik iparnya untuk menandatangani surat persetujuan? Benar begitu suster Ana?" tanya Bidan Ayunda kepada perawat senior yang bertugas di ruang operasi.
"Benar, Bu Bidan," jawab Suster Ana.
"Ya sudah, kita berikan tindakan saja sekarang, sebelum kondisi pasien semakin kritis," balas dokter kandungan. "Suster Ana, tolong periksa golongan darah yang sesuai dengan pasien di bank darah rumah sakit kita. Sepertinya kita membutuhkan beberapa labu darah untuk menstabilkan keadaan pasien," lanjut dokter kandungan.
"Siap, Dok!"
Tak ingin membuat kesalahan fatal karena mengulur waktu, akhirnya ketiga tim medis yang berada di ruang operasi, segera melakukan tindakan yang mereka anggap tepat untuk sang pasien.
Pendarahan dan luka yang terjadi pada dinding rahim Daniar, telah memaksa tim medis untuk melakukan operasi pengangkatan rahim agar tidak terjadi infeksi dan membahayakan kehidupan Daniar. Mereka semua berpendapat jika tidak segera melakukan histerektomi, maka nyawa Daniar tidak akan tertolong lagi.
Setelah berjalan kurang lebih tiga jam, lampu di atas pintu ruang operasi, akhirnya padam. Jantung Bu Salma dan kedua anaknya berpacu tak beraturan. Mereka sangat khawatir dengan keberhasilan operasi yang dilakukan terhadap Daniar. Terlebih lagi saat Suster Ana mengatakan jika hasilnya fifty-fifty.
Ya Tuhan, semoga Daniar baik-baik saja. Do'a Bu Salma dalam hatinya.
Selamatkan kakakku ya Allah, pinta Danita dalam hati.
"Tolong beri hamba kesempatan untuk bisa berterima kasih dan berbakti kepada kak Niar. Selama ini, hamba selalu membuat kak Niar kesal. Sembuhkan kak Niar ya Allah," ucap Danisa, sambil mengusap wajahnya.
Tak berapa lama, pintu ruang operasi terbuka. Tampak tim medis keluar setelah menunaikan kewajibannya. Bu Salma, Danita dan Danisa segera berdiri dan menghampiri tim medis.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Bu Salma.
__ADS_1
"Alhamdulillah, operasi anak ibu berjalan dengan lancar. Saat ini, anak Ibu akan dibawa ke ruang ICU untuk observasi pascaoperasi. Hanya saja, kami minta maaf ... mengingat keadaannya yang cukup parah, kami pun terpaksa melakukan histerektomi kepada anak Ibu," tutur Dokter Sulaiman –dokter kandungan– senior di rumah sakit ini.
"Apa? Histerektomi?"