Setelah Hujan

Setelah Hujan
Ijab Qabul


__ADS_3

Daniar tersenyum saat wanita tua itu menyapanya. Dia kemudian berdiri untuk menyalami wanita tersebut.


"Selamat sore, Nek. Perkenalkan, nama saya Daniar. Emm... saya temannya Yandri," jawab Daniar, sopan.


"Oalah, temannya Iyan, toh," ucap wanita tua tersebut.


"I-iyan?" Daniar mengulang ucapan wanita tua itu seraya mengerutkan keningnya.


"Iya, Yar. Orang-orang di sini memanggil namaku dengan sebutan Iyan."


Tiba-tiba Yandri datang dari arah dapur seraya membawa minuman di atas nampan. Yandri kemudian memindahkan gelas itu ke atas meja. "Silakan diminum," ucap Yandri.


"Eh, terima kasih, Yan," jawab Daniar.


"Maaf ... cuma ada air putih saja," kata Yandri.


"Tidak apa-apa," balas Daniar.


"Teman kamu cantik sekali, Yan. Calonnya, ya," goda wanita tua itu.


Yandri tersenyum. Dia kemudian mendekati wanita tua itu. "Hehehe, insya Allah Wak. Yuk duduk, biar Iyan kenalin."


Yandri mengajak wanita tua itu untuk duduk di samping Daniar. Dia kemudian memperkenalkan wanita itu kepada Daniar.


"Yar, ini Wak Eutik. Kakaknya ibu," kata Yandri.


Daniar menjabat tangan yang sudah keriput itu seraya menciumnya. "Alhamdulillah, senang bisa berjumpa dengan Wak," ucap Daniar.


"Sama-sama," balas wanita tua yang bernama Wak Eutik tersebut.


Perbincangan hangat pun terjadi di antara mereka. Hingga tanpa mereka sadari, ibunya Yandri sudah berdiri di balik pintu dapur untuk mengintip orang-orang yang sedang bercakap-cakap di ruang tengah.


Siapa gadis itu? Apa dia kekasihnya Iyan? batin Bu Maryam, memasang wajah tidak suka.


Prak!


"Astaghfirullah!" pekik Bu Maryam saat mendengar suara kayu jatuh akibat terdorong kucing yang sedang berjalan di atas kayu bakar.


Yandri menoleh, dia tersenyum saat melihat ibunya berdiri di ambang pintu dapur. Sejurus kemudian, Yandri menghampiri Bu Maryam.


"Ah ternyata Ibu sudah pulang," ucap Yandri, "ayo, Bu. Yandri kenalin sama calon menantu Ibu," lanjutnya.


Bu Maryam tersenyum hangat. Meskipun dalam hatinya, dia sedikit menggerutu melihat Yandri membawa seorang gadis ke rumahnya.

__ADS_1


"Nah Niar, ini ibuku. Namanya Bu Maryam." Yandri memperkenalkan ibunya.


Daniar berdiri untuk menghampiri ibunya Yandri. Sama seperti saat dia menjabat tangan Wak Eutik, Daniar pun mencium punggung tangan calon ibu mertuanya.


"Saya Daniar, Bu," kata Daniar.


"Senang berjumpa dengan kamu, Nak Daniar," ucap Bu Maryam.


Setelah Bu Maryam duduk. Mereka kembali bercerita, hingga tanpa terasa waktu azan magrib pun terdengar.


.


.


Tiga hari berlalu. Semua urusan dan persyaratan menikah, sudah masuk ke KUA setempat. Tinggal menunggu hari H-nya saja. Yang kebetulan akan dilaksanakan esok hari.


"Bagaimana, Yan? Apa semuanya sudah siap?" tanya Pak Fandi saat Yandri mengantarkan Daniar pulang kampus.


"Insya Allah, Pak," jawab Yandri.


"Hmm, baguslah. Jadi sesuai rencana awal, ya. Kalian akan menikah di KUA saja?" tanya Pak Fandi lagi.


"Benar, Pak," ucap Yandri membenarkan perkataan calon ayah mertuanya.


"Besok, kira-kira siapa saja yang akan datang?" Kembali Pak Fandi bertanya.


"Tapi Ibu kamu merestui pernikahan kalian, 'kan?" tanya Bu Salma.


Mendengar calon besannya tidak akan datang, tiba-tiba saja Bu Salma merasa cemas. Dia begitu khawatir jika ibunya Yandri tidak menyetujui pernikahan anaknya bersama Daniar.


"Alhamdulillah, Ibu setuju, Bu. Hanya saja, beliau memang tidak terbiasa berkendaraan jauh. Suka mabuk perjalanan," terang Yandri.


Bu Salma tersenyum dan merasa lega dengan keterangan Yandri tentang alasan ketidakhadiran ibunya esok. Huh, hampir saja aku ber su'udzon, batin Bu Salma.


"Ya sudah, tidak apa-apa, Yan. Yang penting, restu ibu kamu sudah dikantongi. Silakan dilanjutkan ngobrol-ngobrolnya. Bapak mau kasih makan ikan dulu."


"Eh, Yandri juga mau pamit, Pak. Mau mempersiapkan untuk acara besok," jawab Yandri.


"Ngomong-ngomong, ijab qabulnya jam berapa?" tanya Pak Fandi.


"Jam 8 harus sudah ada du KUA, Pak. Karena itu Yandri nginep di rumah kakak supaya tidak terlambat."


"Oh ya sudah kalau begitu. Semoga semuanya berjalan lancar," do'a Pak Fandi.

__ADS_1


Aamiin.


.


.


Keesokan harinya. Dengan mengenakan pakaian batik, Yandri diantarkan oleh kakak iparnya menuju KUA, tempat berlangsungnya akad nikah. Tiba di sana, Yandri sudah melihat Daniar dan kedua orang tuanya tengah duduk menunggu giliran. Yandri mendekati mereka.


"Maaf, aku terlambat," ucap Yandri seraya menyalami kedua orang tua yang sebentar lagi akan menjadi mertuanya.


"Tidak apa-apa Nak yandri, kami juga baru tiba kok," jawab Pak Fandi.


"Oh iya, ini kakak ipar saya. Beliau yang akan menjadi saksi dari pihak saya, Pak," ucap Yandri mengenalkan Rahmat kepada calon mertuanya.


Rahmat, Pak Fandi dan Bu Salma pun saling berjabat tangan dan mengenalkan diri masing-masing. Beberapa menit setelah mereka duduk kembali, tiba-tiba salah seorang pegawai KUA memanggil nama Yandri dan Daniar. Sejurus kemudian, pasangan itu berdiri dan melangkahkan kaki menuju ruangan yang biasa dipakai untuk menikah.


Begitu pula dengan kedua orang tua Daniar dan Rahmat. Mereka bertiga mengikuti pasangan yang hendak mengucapkan ijab qabul di ruangan tersebut.


"Silakan duduk," ucap Pak Penghulu.


Yandri dan Daniar duduk di kursi yang telah disediakan. Pun dengan wali Daniar dan juga para saksi. Mereka duduk di bangkunya masing-masing.


"Sebelum kita mulai, saya minta waktunya sebentar untuk memeriksa kelengkapan data dari kedua calon mempelai," ucap Pak Awan, selaku penghulu.


Yandri dan daniar mengangguk. Dengan sabar, mereka menunggu pemeriksaan data selesai.


Hmm, semuanya cukup sempurna. Semua data juga lengkap. Baiklah, sekarang kita mulai ijab qabul-nya.


Pak Awan memberikan arahan kepada Pak Fandi sebagai wali yang akan menikahkan putrinya. Setelah semuanya siap, akad nikah pun dimulai.


Bismillahirrahmanirrahim. Yandri Gunawan, saya nikahkan, dan saya kawinkan engkau kepada putri saya yang bernama Daniar Rahmawati binti Fandi Kurniawan, dengan maskawin seperangkat alat shalat beserta uang sebesar 500 ribu rupiah, dibayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Daniar Rahmawati binti Fandi Kurniawan dengan maskawin seperangkat alat shalat beserta uang 500 ribu rupiah dibayar tunai."


Begitu lantang Yandri mengucapkan ijab kabul sehingga kata sah menggema di ruangan tersebut.


Alhamdulillah... "ucap Pak Awan yang dilanjutkan dengan melantunkan do'a bagi pasangan yang sudah resmi menyandang gelar suami istri itu.


Selesai akad, pasangan pengantin dan keluarganya berpamitan pulang. Mereka kembali ke rumah untuk makan bersama. Sebagai wujud rasa syukurnya, Bu Salma mengundang kerabat dekat untuk berkumpul agar bisa merasakan kebahagiaan atas pernikahan putrinya.


"Selamat ya, Niar. Semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah warohmah."


"Alhamdulillah, akhirnya jadi juga nikah. Samawa ya, Ni!"

__ADS_1


"Semoga cepet diberikan momongan, Kak."


Satu per satu, para kerabat dekat memberikan ucapan selamat kepada Daniar dan Yandri. Meskipun di antara mereka, ada segelintir orang yang membicarakan pernikahan sangat sederhana mereka. Namun, baik Daniar dan keluarganya, mereka tidak mempedulikan hal itu. Yang terpenting, pernikahan ini sah di mata Tuhan, agama dan negara.


__ADS_2