Setelah Hujan

Setelah Hujan
Menagih Janji


__ADS_3

Akhirnya, bus yang dinaiki Daniar berhasil diperbaiki. Bus itu pun kembali melaju dengan cukup kencang hingga Daniar tiba di sekolah tepat waktu. Saat Daniar memasuki gerbang sekolah, dahinya berkerut mendengar teriakan Habibah.


Kak Bibah? Sedang apa dia di sini, batin Daniar seraya mempercepat langkah kakinya agar segera tiba di kamar.


Daniar terkejut mendapatkan tiga orang perempuan yang terlihat sedang bersitegang. Dua di antaranya dia kenal, yaitu kakak ipar dan salah satu teman kampusnya yang tidak begitu dekat dengan Daniar. Namun, siapa yang tengah memegang tangan suaminya? Melihat hal itu, hati Daniar terasa panas.


Baru saja Daniar hendak menegur wanita berhijab yang sedang memegang tangan suaminya. Tiba-tiba dia mendengar omongan tak masuk akal dari sang kakak ipar. Haish, enak saja ... memangnya dia pikir adiknya itu sebuah barang yang bisa dialihkan begitu saja? Monolog Daniar di dalam hatinya.


Daniar kembali meradang. Dia akhirnya mendekati para wanita itu seraya berkata, "Bukan hanya wanita itu yang harus pulang, kalian semua, enyahlah dari sini! Biar saya yang urus suami saya!"


Ketiga wanita itu sangat terkejut melihat Daniar datang. Begitu juga dengan Yandri. Pria itu langsung melepaskan tangan Enna yang sedang memegangnya.


"Bun," panggil lirih Yandri.


Daniar menoleh, cukup terkejut melihat wajah pucat suaminya. Daniar hendak bertanya, tapi teguran Habibah mengurungkan niat Daniar.


"Eh, apa-apaan kamu Niar? Kenapa kamu malah mengusir Kakak?"


Daniar menatap tajam kepada kakak iparnya. "Niar yang seharusnya bertanya seperti itu kepada Kakak. Apa-apaan Kakak membawa wanita lain ke sini? Lancang sekali Kakak bilang jika wanita itu akan mengurus suami Niar. Apa maksud Kakak berbicara seperti itu? Apa Kak Bibah Lupa, kalau adik Kakak itu sudah punya anak istri?" cecar Daniar kepada kakak iparnya.


Habibah tersenyum sinis. "Istri katamu? Huh, istri macam apa yang pergi tanpa izin suami," sindir Habibah. "Enggak usah sok ngerasa benar. Sebagai seorang kakak, aku enggak mau hidup adikku terlantar. Ngapain punya istri, tapi apa-apa ngerjain sendiri. Ya wajar kalau aku membawa mantan pacar Yandri kemari. Bukankah sebagai seorang istri, kamu enggak pernah nurut sama suami? Sudah bagus kamu pergi, ngapain datang lagi, hah?" lanjut Habibah, geram.


"Dengar Kak, apa pun yang terjadi dengan rumah tangga kami, Kakak sama sekali tidak berhak untuk ikut campur. Jadi tolong jaga batasan Kakak. Mengerti!" sahut Daniar dengan tegas.


"Niar, aku ini kakaknya Yandri. Aku ber–"


"Ayo kita masuk, Yah" ajak Daniar memotong ucapan kakak iparnya.


Yandri menuruti ajakan istrinya. Mereka pun memasuki kamar. Sementara itu, Enna dan Siska hanya bisa terpaku saat melihat Daniar membawa masuk pria yang mereka sukai.


Habibah mendengus kesal. Dia hendak mengetuk pintu kamar Yandri, tapi Siska mencekal pergelangan tangan Habibah.


"Kita pulang, Kak!" ajak Siska.


"Tapi Sis, kita belum bicara dengan Yandri," tukas Habibah.


"Tidak usah Kak, aku enggak mau kita jadi pusat perhatian tetangga sekitar. Sebaiknya kita pulang saja."


Kembali Siska mengajak Habibah untuk pulang. Bahkan, kali ini wanita berhijab itu memegang tangan Habibah dan sedikit menariknya agar mau mengikuti dia pulang.


Sementara itu, di dalam kamar. Daniar menatap tajam suaminya. Niatnya untuk memberikan kejutan, justru malah membuat dirinya lebih terkejut lagi. Kejadian tadi membuat Daniar sadar jika di luar sana, ada wanita yang sedang mengincar suaminya.

__ADS_1


Cukup Niar! Setelah semua ini, kamu tidak boleh pergi lagi dari samping suami kamu. Kalau tidak, akan ada wanita lain yang siap menggantikan posisi kamu, kata hati Daniar.


"Yayah ... Yayah ..." ucap Bintang seraya merentangkan kedua tangan mungilnya untuk meminta sang ayah untuk menggendongnya.


Meskipun wajah Yandri terlihat kesu, tapi dia tetap tersenyum melihat putrinya. Yandri sangat merindukan gadis kecilnya itu. Dia menyimpan bungkusan plastik berisi obat di atas meja. Kemudian, Yandri mengambil alih Bintang dari pangkuan Daniar.


"Bintang kangen Ayah, ya. Sama, Nak ... Ayah juga kangen sama putri cantiknya Ayah," ucap Yandri, mencium pipi putrinya.


Daniar melirik bungkusan plastik yang ditaruh Yandri di atas meja. Dia kemudian bertanya kepada suaminya, "Apa itu, Yah?"


"Oh, itu obat Ayah, Bun. Tadi teman-teman Ayah membawa Ayah ke klinik selepas pulang rapat OPS," jawab Yandri.


"Ayah sakit?" tanya Daniar lagi.


"Maag Ayah kambuh, Bun," jawab Yandri.


"Hmm, Ayah pasti enggak teratur makannya, sampai penyakitnya kambuh lagi," tegur Daniar.


"Sebenarnya bukan karena faktor makan yang tidak teratur, Bun. Mungkin karena stress juga. Ayah terlalu banyak pikiran sejak Bunda pergi dari rumah," jawab Yandri, jujur.


"Sekarang, Bunda sudah pulang, jadi Ayah enggak usah banyak pikiran lagi," kata Daniar. "Ngomong-ngomong, apa Ayah sudah makan?" tanya Daniar.


"Tadi sempat makan siang, tapi keluar lagi," jawab Yandri.


"Iya Sayang. Makasih ya, karena sudah mau pulang," pungkas Yandri seraya mencium pucuk kepala sang istri.


.


.


Hari demi hari terus berlalu. Sejak mengetahui jika di luar sana begitu banyak pelakor, Daniar mulai lebih mengontrol dirinya dalam bersikap. Dia tidak ingin sikap kekanak-kanakan dia, dijadikan kesempatan oleh kakaknya untuk mendekatkan yandri dengan gadis lain. Karena itu, Daniar lebih mencoba memahami lagi sifat dan karakter suaminya. Ya, meskipun umur pernikahan mereka sudah melewati tahun kedua, tapi itu belum cukup untuk menggali sifat tersembunyi pasangan.


Tinggal dua hari waktu yang dijanjikan mertuanya untuk mengembalikan uang tabungan anak-anak pengajian. Namun, entah kenapa sepertinya tidak ada tanda-tanda jika mertuanya akan mengembalikan uang tersebut. Daniar sempat bertanya kepada suaminya, tapi Yandri sama sekali tidak pernah memberikan jawaban yang bisa membuat Daniar tenang.


"Kita tunggu dua hari lagi ya, Bun. Mungkin Yoga memang belum mendapatkan pemborong kayu yang akan membeli pohon albasia milik ibu," jawab Yandri saat Daniar kembali menanyakan kenapa ibu mertuanya belum mengembalikan uang anak-anak pengajian.


"Tapi sebentar lagi uang itu akan dipakai,Yah. Kita harus segera membayar uang muka bus. Ayah sendiri tahu, 'kan, jika di hari libur, armada bus pariwisata itu selalu padat," tutur Daniar.


"Iya, Sayang, Ayah tahu. Tapi bukankah ibu meminta waktu dua minggu untuk mengembalikannya? Sekarang baru sepuluh hari, Bun. Ayah janji, jika batas waktunya sudah terlewat, Ayah akan menemui ibu untuk menagihnya," jawab Yandri.


Daniar tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dengan perasaan dongkol, dia keluar kamar untuk mengajak Bintang bermain.

__ADS_1


Pak Agus yang sedang membereskan kelasnya, seketika keluar saat melihat gadis kecil itu berlarian di depan kelas.


"Hallo Bimbim, Sayang!" sapa Pak Agus seraya berjongkok di ambang pintu kelas.


Mendengar sapaan orang yang dikenalinya, sontak Bintang mendekati Pak Agus dan duduk di pangkuannya.


"Om, duduk Om," ucap Bintang terdengar cadel.


Dengan gemas, Pak Agus menciumi pipi gembul milik keponakannya. "Kita ke rumah nenek, yuk! Sekarang rumah nenek sudah terang benderang loh, enggak gelap lagi kayak dulu. Bimbim pasti senang main di rumah nenek nanti," kata Pak Agus.


Daniar cukup terkejut mendengar ucapan kakak sepupu suaminya itu. Apa maksudnya terang benderang? Apa rumah ibu sudah tidak di kelilingi rimbunan dedaunan pohon albasia lagi? Apa itu artinya, pohon albasia milik ibu sudah terjual?


"Memangnya, sudah tidak ada pepohonan lagi di sekitar rumah ibu, Pak?" tanya Daniar penasaran.


"Iya, Ni. Semua pohon albasia milik bik Maryam sudah ditebang," jawab Pak Agus.


"Ditebang?" ulang Daniar, "tapi, Kapan?" lanjut Daniar.


"Kalau tidak salah sih, sepertinya sudah seminggu yang lalu," jawab Pak Agus.


Apa? Sudah seminggu, tapi ibu sama sekali belum datang untuk mengembalikan uang tabungan anak-anak. Apa ibu lupa? Ish, tidak mungkin juga, 'kan kalau dia lupa. Bukankah ibu dan Yoga tahu persis jika uang tersebut milik anak-anak, bukan milik kang Yandri? batin Daniar.


"Pak, Niar titip Bintang dulu ya, sebentar," ucap Daniar kepada Pak Agus.


"Iya, Ni," sahut Pak Agus.


Setelah menitipkan Bintang kepada Pak Agus, Daniar kembali ke kamarnya untuk memberitahukan kabar yang baru saja dia dengar.


"Yah, tadi Ayah bilang, Yoga sama sekali belum menemukan pemborongnya. Apa Ayah percaya dengan omongan Yoga?" tanya Daniar saat sudah tiba di hadapan Yandri.


"Iya, Bun. Kalau Yoga sudah menemukan calon pembelinya, dia pasti segera menghubungi kita," jawab Yandri tanpa menoleh kepada istrinya. Tangan Yandri masih terus lincah menari di atas keyboard. Sedangkan matanya tak berkedip menatap layar komputer.


"Tapi, barusan Pak agus bilang, pohon pohon albasia itu telah terjual lima hari yang lalu," ucap Daniar.


Yandri terkejut. Dia kemudian mengalihkan pandangannya dan menatap Daniar. "Apa Bunda yakin?" tanya Yandri.


"Serius, Yah. Orang barusan Pak Agus yang bilang kalau rumah ibu sudah jauh lebih terang sekarang. Coba nanti sore Ayah cek ke rumah ibu untuk lebih meyakinkan diri. Atau ... apa Ayah akan menunggu waktu sampai jatuh tempo terlebih dahulu?" tanya Daniar.


"Entahlah, Bun," jawab Yandri, bingung.


"Kok entah sih, Yah? Ayah harus bisa bersikap tegas. Bukankah Yoga berjanji jika pohonnya sudah terjual, mereka akan segera mengganti uang anak-anak? Kalau Ayah enggak bisa menagih janji ibu, setidaknya ayah bisa menagih janji Yoga," ucap Daniar.

__ADS_1


"Iya, nanti sore kita main ke rumah ibu, sekalian ngecek kebenarannya juga. Sekarang, tolong biarkan Ayah kerja dulu ya, Bun," pungkas Yandri.


Daniar mengerucutkan bibirnya. "Jika berhubungan dengan ibu, pasti selalu saja seperti ini. Lambat!" keluh Daniar seraya kembali keluar untuk menemani anaknya bermain.


__ADS_2