
Pukul 4.30 sore, Yandri baru tiba di sekolah. Melihat suaminya pergi cukup lama, Daniar kemudian menegur Yandri.
"Kok lama sekali sih, Yah? Emangnya kalian ngomongin apa?" tanya Daniar.
Yandri mendaratkan bokongnya seraya menjawab pertanyaan sang istri. "Obrolan yang sangat panjang dan pelik, Bun."
Daniar mengernyit. Dia pun ikut duduk di samping Yandri. "Maksudnya?" tanya Daniar.
Yandri merubah posisi duduknya. Dia kemudian menatap Daniar dengan lekat. "Ternyata, ada orang yang tidak menyukai kegiatan yang kita adakan di sini, Bun," jawabnya.
"Ish Ayah, jangan berbelit-belit gitu, dong. Jujur, Bunda makin enggak ngerti nih," ucap Daniar.
"Sayang, kegiatan pengajian yang kita adakan di sini, ternyata membuat Ustadz Harun meradang. Sepertinya beliau tidak suka anak-anak mengaji di sini. Karena itu, beliau melaporkan kegiatan kita kepada kepala desa," tutur Yandri.
"Astaghfirullah! Kok gitu sih? Ngapain harus lapor ke kepala desa segala? Seharusnya, kalau dia enggak setuju, dia bisa langsung negur kita, 'kan? Heran sama Ustadz kamu itu, bukannya bangga dan terima kasih karena muridnya sudah berbuat baik, eh malah dijadiin saingan. Gila!"
Daniar menggerutu kesal setelah mendengar hasil pembicaraan suaminya dengan komite sekolah. Dia tidak habis pikir dengan sifat-sifat yang dimiliki warga di kampung suaminya. Munafik, mungkin kata itulah yang saat ini ada di kepala Daniar.
.
.
Permasalahan tentang Yandri rupanya sudah sampai ke telinga Bu Aisyah. Hingga pada akhirnya, Bu Aisyah meminta Yandri untuk menutup pengajian yang telah berjalan hampir setahun.
"Ibu tahu, apa yang kalian lakukan ini adalah sebuah kebaikan. Tapi kita juga harus ingat bahwa kita hanya pendatang di tempat ini. Jadi Ibu harap, kalian bisa menempatkan diri sebagaimana mestinya," tutur Bu Aisyah.
Yandri dan Daniar hanya bisa diam. Sebenarnya, mereka sangat ingin menyuarakan jika mereka sama sekali tidak bersalah. Namun, mengingat Bu Aisyah selaku Ibu di tempat mereka bekerja, pada akhirnya Yandri dan Daniar mengalah.
"Baik, Bu. Tolong beri saya waktu seminggu untuk memenuhi perintah Ibu. Saya dan istri saya harus memiliki alasan yang tepat jika akan menutup kegiatan ini. Tidak mungkin kami memutuskan kegiatan ini begitu saja. Orang tua anak-anak pasti akan bertanya, dan tentunya saya harus bisa memberikan jawaban yang masuk akal," balas Yandri.
Bu Aisyah hanya bisa menghela napas. Sebenarnya, dia sendiri sangat ingin permasalahan ini segera berakhir. Namun, apa yang dikatakan Yandri memang benar adanya. Orang tua zaman sekarang begitu kritis. Mereka pasti akan bertanya-tanya jika sampai kegiatan pengajian ini diberhentikan begitu saja.
.
__ADS_1
.
Malam hari, selepas mengajar anak-anak pengajian, Yandri tidak langsung kembali ke kamarnya. Dia hanya duduk bersila sambil menatap meja-meja kecil yang masih terpasang. Biasanya, selesai mengaji Yandri selalu meminta anak-anak untuk menyimpan kembali meja tersebut ke tempatnya. Namun, kali ini Yandri justru memerintahkan anak-anak agar segera pulang tanpa membereskan apa pun.
"Alasan apa yang akan aku berikan kepada mereka," gumam Yandri seraya menatap kosong meja-meja tersebut.
Sejenak Yandri memejamkan mata. Bayangan anak-anak yang sedang bershalawat, berdo'a sebelum dimulai pengajian dan anak-anak kecil usia 5 tahun yang berlarian ke sana kemari mengejar Bintang, masih terekam jelas.
Ya Tuhan, haruskah aku memutus keinginan mereka untuk memperdalam kalamMu? Haruskah aku memutus kegembiraan dan semangat mereka dalam menyuarakan ayat-ayatMu? batin Yandri. Tanpa terasa, air mata sudah menggenang di kedua sudut matanya.
"Yah," panggil lirih Daniar seraya menyentuh pelan bahu sang suami.
Mendapatkan sentuhan di bahu, Yandri terhenyak dan sontak membuka mata. Wajah istrinya yang semakin hari terlihat semakin meneduhkan, membuat Yandri tersenyum lebar kepada Daniar.
"Bintang sudah tidur, Bun?" tanya Yandri sambil menutup Al-Qur'an-nya.
Daniar mengangguk. "Kenapa Ayah masih di sini? Ini sudah larut malam, loh. Sebaiknya Ayah segera beristirahat. Udara malam tidak baik untuk Ayah yang sedang tidak enak badan," kata Daniar.
"Ya sudah, biar Bunda bantu membereskan meja-meja ini," jawab Daniar.
"Tidak usah, Bun. Biarkan saja, toh besok hari Minggu. Kelas tidak akan dipakai. Mejanya tidak usah dibereskan, untuk pengajian malam Senin saja," tukas Yandri.
"Ya sudah, ayo kita ke kamar!" ajak Daniar.
Yandri bangkit dan berjalan mengikuti istrinya yang sudah keluar kelas terlebih dahulu. Tiba di kamar, Yandri segera berganti pakaian. Sesaat kemudian, dia merebahkan diri sambil memeluk sang istri.
"Yah, di daerah sini ada kontrakan enggak?" tanya Daniar.
Yandri mengerutkan kening. Entah kenapa tiba-tiba saja istrinya menanyakan hal itu. Meskipun tidak mengerti, tapi Yandri menjawab pertanyaan sang istri sesuai dengan apa yang dia tahu.
"Entahlah, Bun. Di sini tuh kampung, Ayah pikir tidak akan ada rumah-rumah bedeng untuk kontrakan. Terkecuali, rumah yang ditinggalkan pemiliknya bekerja di kota. Itu pun jarang. Memangnya kenapa, Bun?"
"Jujur saja, Bunda sudah merasa tidak nyaman tinggal di sini. Kasihan Bintang, jika sakit, Bunda tidak bisa izin untuk merawatnya. Bunda enggak enak, Yah," jawab Daniar. "Kalau kita pindah dari sini, mungkin kita akan lebih leluasa dalam menjalani kehidupan. Terlebih lagi, kita punya alasan untuk menghentikan kegiatan pengajian," lanjutnya.
__ADS_1
Yandri diam, mencoba mencerna kalimat demi kalimat yang dituturkan istrinya. Apa yang dikatakan Daniar memang benar. Ya, dengan alasan pindah tempat, Yandri bisa menutup pengajian yang telah dia adakan.
"Nanti kita pikirkan lagi, Bun. Sekarang tidurlah!" pungkas Yandri.
.
.
Keesokan harinya, Yandri kembali ke rumah sang ibu. Dia hendak mengutarakan maksudnya agar Raihan menjual kembali barang-barang elektronik itu untuk membayar sebagian uang tabungan anak-anak. Namun, begitu sampai di rumah ibunya, Yandri hanya melongo melihat ruangan yang kosong melompong. Tidak ada lagi barang-barang yang tempo hari dia lihat dibawa kemari.
"Ada apa ini, Bu? Kenapa ruangan ini kosong?" tanya Yandri.
"Adikmu bertengkar dengan kakakmu, Yan. Dan mereka memutuskan untuk pindah dari rumah ini," jawab Bu Maryam.
"Lalu, barang-barangnya?" Yandri kembali bertanya.
"Raihan dan Mia membawa barang-barang itu ke tempat barunya. Sekarang mereka tinggal di rumah ibunya Mia."
Astaghfirullah ... harapan satu-satunya pun kembali menguap. Yandri pasrah. Kini, dia harus berpikir sendirian bagaimana caranya mengganti uang tabungan anak-anak. Dia semakin yakin jika ibunya tidak akan bisa mengembalikan uang tersebut.
Karena sudah tidak ada yang bisa diharapkan lagi, Yandri pun berpamitan pulang. Sepanjang perjalanan, kepalanya semakin terasa berat. Istrinya pasti akan marah besar saat mengetahui hal ini. Namun, menyesal pun tidak ada gunanya. Yandri hanya bisa menyayangkan sikap ibu dan saudaranya yang tidak pernah berubah.
Aku pikir, setelah menikah Raihan akan bisa lebih dewasa. Tapi ternyata, sikapnya masih tetap seperti seorang remaja yang berusia belasan tahun, batin Yandri
.
.
Malam harinya, dengan berlinang air mata, Daniar terpaksa melucuti perhiasan yang dikenakan putrinya yang sedang tidur. Entah untuk yang ke berapa kalinya, gadis kecil ini harus berkorban demi menutupi kesusahan kedua orang tuanya.
Batin Daniar selalu perih saat anak kecil yang tidak tahu apa-apa, tapi selalu menjadi penyelamat bagi orang tuanya. Daniar tidak tahu seberapa besar rasa malu yang akan dia tuai karena tidak bisa mengembalikan uang tabungan anak-anak. Beruntung, dulu sang ibu menyuruh Daniar untuk membeli perhiasan dari uang milik Bintang. Uang yang didapatkan dari orang-orang yang bersukacita menyambut kehadirannya.
"Maafin Bunda, Dek. Sekali lagi, kamu harus berkorban karena keteledoran ayah kamu yang selalu mempercayai janji manis orang-orang yang tidak bertanggung jawab," gumam Daniar seraya membuka anting yang merupakan benda terakhir yang dia copot dari bagian tubuh anaknya.
__ADS_1