
"Kalau boleh tahu, Kakak kenapa belum menikah sampai saat ini?" tanya Mia, saat kakak tirinya berkunjung untuk melihat bayinya yang baru lahir.
"Hmm, mungkin belum ketemu jodohnya saja, Dek," jawab Siska.
"Belum ketemu jodoh, apa belum bisa lupain bang Yandri?" goda Mia.
Blush!
Seketika wajah Siska terlihat merona. Kedua pipinya bersemu merah. Menahan rasa malu bercampur senang karena mendengar seseorang memanggil nama laki-laki yang hingga saat ini belum bisa dia lupakan.
"Apaan sih, Dek," kata Siska mencoba menutupi perasaannya.
"Hmm, cinta pertama memang sulit untuk dilupakan, Kak. Meskipun telah bertahun-tahun lamanya," jawab Mia.
"Sok tahu kamu, Dek. Memangnya kamu tahu, siapa cinta pertama Kakak?" tanya Siska.
"Ya bang Yandri, 'kan?" tebak Mia.
"Idih, sok tahu!" tukas Siska seraya mendorong pelan bahu adik tirinya.
"Udah deh, Kak. Enggak usah ngeles lagi. Mia tahu, kok, kalau Kak Siska sama bang Yandri itu pernah pacaran waktu SMA. Ya meskipun hanya sekitar sebulanan. Bener, 'kan?" tutur Mia.
Jantung Siska berdegup kencang mendengar penuturan adik tirinya. Dahinya mengernyit, dia merasa heran. Entah dari mana adik tirinya itu tahu tentang kisah asmara dia dengan Yandri yang tak lain kakak iparnya.
"Jangan cengo gitu, Kak. Jelek ah! Mia tahu kalau Kakak penasaran, 'kan, kenapa Mia tahu hubungan lama Kakak sama bang Yandri?" Mia semakin menggoda kakak tirinya.
"Hmm, sudah pasti kamu tahu dari suami kamu. Iya, 'kan?" tebak Siska.
"Tetew! Salah!" jawab Mia yang seolah sedang bermain tebak-tebakan.
"Lantas?" tanya Siska mulai penasaran.
"Mia tahu dari buku harian Kakak," jawab Mia, tanpa merasa bersalah.
"Apa?!" pekik Siska seraya berdiri. "Ish, lancang sekali kamu menyentuh barang-barang pribadiku," ucapnya geram.
"Maafkan Mia, Kakak. Mia tidak sengaja. Waktu itu, Mia ha–"
Siska memotong kalimat Mia dengan tegas. "Apa pun alasannya, itu tidak benar, Mia!"
Sesaat kemudian, Siska berbalik hendak keluar dari kamar adik tirinya. Dia benar-benar marah karena adik tirinya sudah lancang memasuki kamarnya tanpa izin.
"Bang Yandri sudah menjadi duda sekarang!" teriak Mia.
__ADS_1
Seketika teriakan Mia menghentikan langkah Siska di ambang pintu kamar.
"Bang Yandri sudah lama bercerai, Kak. Dan sekarang, dia sedang mencari istri baru. Apa Kakak tidak ingin menemuinya dan melanjutkan kembali hubungan kalian seperti dulu lagi?" tanya Mia.
Untuk sejenak, Siska diam. Namun, sepertinya dia membutuhkan waktu untuk menyendiri. Siska pun kembali mengayunkan langkahnya.
"Ayolah Kakak, jangan terlalu pesimis! Aku yakin kalian pernah saling mencintai. Tidak akan butuh waktu lama untuk menumbuhkan kembali benih-benih cinta itu!" teriak Mia lagi.
Siska kembali menghentikan langkahnya. Namun, semakin dia diam, debaran jantungnya semakin kencang. Siska pun mengayunkan langkahnya kembali.
"Jangan sampai Kakak terlambat dan menyesal nantinya. Karena setahu Mia, ibunya bang Yandri juga hendak menjodohkan bang Yandri sama mantan kekasihnya setelah Kakak, yaitu Enna!"
Duarrr!
Belum habis rasa terkejutnya akan status Yandri saat ini, Siska pun dibuat semakin terkejut tentang rencana perjodohan pria yang dicintainya dengan si janda kembang.
Bukan hanya debaran jantung semakin berirama tak beraturan. Namun, dadanya kini bergemuruh hebat. Tiba-tiba saja, hatinya terasa panas karena terbakar api cemburu.
Siska mengepalkan kedua tangannya. Tanpa berbicara sepatah kata pun, dia berlalu dari kamar adik tirinya.
.
.
Bu Maryam meraih ponsel baru yang bulan lalu dikirim Yandri. Setelah diajari Ali, cucunya. Bu Maryam kemudian memijit nomor telepon Yandri.
Di lain tempat, di waktu yang sama.
Yandri menghentikan materinya setelah dering telepon berbunyi. Sejenak dia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Hanya tinggal lima menit menuju jam pulang. Akhirnya, Yandri mengakhiri materi dan segera menyuruh peserta didiknya untuk berdo'a.
Selesai berdo'a, bel pulang sekolah pun berbunyi. Yandri kemudian mempersilakan peserta didiknya untuk kembali ke asrama.
Telepon Yandri masih terus berdering. Rupanya, si penelepon masih anteng menghubunginya. Yandri pun mengeluarkan ponselnya dari saku jas.
"Assalamu'alaikum, Bu!" sapa Yandri.
"Wa'alaikumsalam. Kamu lagi ngapain, sih? Kok lama banget angkat telepon dari Ibu?" tanya Bu Maryam, terdengar kesal di ujung telepon.
"Maaf, Bu. Tadi kelas Yandri belum berakhir, jadi Yandri enggak bisa angkat telepon dari Ibu," jawab Yandri, sopan.
"Huh, ternyata kamu lebih mementingkan pekerjaan kamu dibandingkan telepon dari Ibu," rengut Bu Maryam.
Yandri tersenyum tipis. "Tidak begitu juga, Bu. Ngomong-ngomong, ada apa Ibu menelepon? Apa Ibu membutuhkan uang lagi?" tebak Yandri.
__ADS_1
"Tidak-tidak, Nak. Ibu tidak butuh uang," tukas Bu Maryam.
Yandri menghela napas. Hmm, syukurlah ... kebetulan aku sudah tidak pegang uang lagi, batin Yandri.
"Ibu tidak butuh uang, Nak, tapi Ibu butuh mobil," lanjut Bu Maryam.
"Apa?!" Yandri memekik keras, "tapi untuk apa?" lanjutnya.
"Ibu perlu mobil untuk pergi mengaji, Nak," jawab Bu Maryam.
"Apa? Bhuahahaha...."
Setelah mendengar alasan ibunya yang membutuhkan mobil hanya untuk mengaji, Yandri tidak sanggup lagi menahan gelak tawanya. Tanpa sadar Yandri tertawa terbahak-bahak.
"Ish, Yandri!" seru Bu Maryam, "kok kamu malah mentertawakan Ibu," rengutnya.
"Hahaha, iya ... maaf, Bu. Maaf ... lagian Ibu lucu banget, masak tibang ngaji doang harus memakai mobil. Masjid, 'kan deket. Jalan kaki seperempat jam juga, sampai," tukas Yandri.
"Tapi pengajian Ibu bukan hanya di masjid kampung kita saja, Nak. Kadang-kadang Ibu suka ngaji ke kampung-kampung tetangga. Bahkan ke Suryalaya juga, tempat kamu mondok dulu. Ayolah, Yan ... Ibu panas kalau harus dianterin Bahar pake motor terus. Emangnya kamu enggak takut Ibu masuk angin sampai sakit? Enggak, kan?" Bu Maryam mulai merengek seperti anak kecil yang meminta mainan kepada ayahnya.
"Kalau enggak mau sakit, ya Ibu enggak usah ngaji jauh-jauh. Ngaji di sekitar rumah juga sudah cukup, Bu," timpal Yandri.
"Tapi ngaji, 'kan ibadah, Nak," sahut Bu Maryam.
"Tapi enggak harus memaksakan diri juga, Bu. Lagi pula, Yandri sudah tidak pegang uang lagi. Uangnya sudah habis buat kuliah Yandri, Bu," kata Yandri.
"Lagian, ngapain sih kamu kuliah lagi? Habis, 'kan uang kamu," dengus Bu Maryam kesal.
"Tolong, Bu ... jangan mulai lagi. Yandri tidak ingin berdebat lagi dengan Ibu soal pendidikan. Yandri tahu apa yang harus Yandri lakukan, Bu," jawab Yandri cukup tegas.
"Ya sudah kalau begitu, kamu kirimkan saja mobil kamu untuk Ibu. Ngapain juga kamu simpan di tempat kerja kamu. Bukankah kamu tidak pernah pergi ke mana-mana? Lagi pula, kamu jarang pulang. Sayang juga kalau mobilnya dibiarkan ngejugrug gitu aja," cerocos Bu Maryam.
"Itu, 'kan kendaraan Yandri, Bu. Kaki Yandri. Kalau mobilnya dikasih Ibu, Yandri pulang pakai apa?" ucap Yandri, lirih.
"Kamu bisa pakai kendaraan umum, 'kan, Yan? Lagi pula, kamu jarang pulang. Mending mobilnya Ibu manfaatin buat ngaji, ibadah. Kamu dapat pahala juga nantinya, karena mobil kamu digunakan dalam kebaikan." Sepertinya Bu Maryam masih mencoba membujuk Yandri.
"Ya sudah, nanti biar Yandri pikirkan. Sekarang Yandri tutup teleponnya, ya. Yandri belum shalat dzuhur. Assalamu'alaikum," pungkas Yandri.
Tanpa menunggu jawaban dari ibunya, Yandri kemudian mengakhiri pembicaraan.
"Huh, ada-ada saja."
Yandri menggerutu kesal. Dia kemudian pergi ke kamar mandi untuk berwudhu. berharap setelah shalat nanti, Yandri bisa menemukan kedamaian hatinya setelah mendengar permintaan konyol ibunya.
__ADS_1