
"Ananda Daniel Al Hakim bin Malik Al Hakim. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Ananda Danisa Andrea binti Fandi Kurniawan dengan maskawin seperangkat alat shalat beserta perhiasan seberat 20 gram, dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Danisa Andrea binti Fandi Kurniawan dengan maskawin seperangkat alat shalat beserta perhiasan seberat 20 gram dibayar tunai!" ucap Daniel, lantang.
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya penghulu kepada kedua saksi dari kantor urusan agama setempat.
"Sah?" jawab keduanya.
Bu Salma menitikkan air matanya. Seketika, bayangan almarhum suaminya berkelebat dalam benak Bu Salma.
Ada rasa haru menyeruak di dalam hati Bu Salma. Ini adalah pernikahan yang sangat dinantikannya. Pernikahan putri bungsunya yang tomboy.
Bu Salma sangat bahagia dengan pernikahan Danisa. Namun, jauh di lubuk hatinya, Bu Salma juga bersedih tatkala mengingat kegagalan rumah tangga putri sulungnya.
Sejenak, Bu Salma menatap Daniar yang tengah memeluk Danisa. Dia masih berharap, semoga kelak Daniar bisa bertemu dengan kebahagiaannya. Sebagai seorang ibu, tentunya Bu Salma pun menginginkan kebahagiaan ketiga putrinya.
Semoga saja, kelak Daniar pun akan bertemu jodohnya lagi, batin Bu Salma.
Selesai acara pernikahan, Bu Salma beserta rombongan pulang ke rumah kontrakan. Tiba di rumah, ponsel Bu Salma berdering. Tampak nama Danita terpampang di layar ponselnya.
"Kalian masuklah duluan, Ibu terima telepon dulu," kata Bu Salma menyuruh kedua putri dan menantunya masuk.
Sejurus kemudian, Bu Salma menerima panggilan telepon dari Danita yang kini tinggal di luar kota.
Tiba di ruang tamu. Daniar dan Bintang berpamitan untuk masuk kamar. Dengan alasan lelah dan butuh istirahat, Daniar dan Bintang pun meninggalkan pasangan yang baru saja resmi sebagai suami istri.
"Burik, kita ke kamar, yuk!" ajak Daniel yang masih memanggil istrinya dengan nama julukan.
"Idih, ngapain ke kamar siang bolong begini?" tukas Danisa, bergidik geli.
"Lah, emang lu enggak kegerahan pake kebaya kek gitu?" tanya Daniel, heran. "Gue kepanasan nih, dari tadi pake jas item kek gini," lanjutnya.
"Gerah, sih ... ya udah, lu duluan aja yang ganti bajunya, gih!" perintah Danisa seraya mendorong punggung suaminya.
"Berdua aja, yuk!" ajak Daniel.
"Idih, ogah gue!" tolak Danisa.
"Ah Burik ... enggak seru lah," tukas Daniel.
"Ya udah, gue dulu yang ganti baju. Abis gue, giliran lu!" lanjut Danisa.
"Oke!" balas Daniel.
Tanpa menaruh rasa curiga, Danisa memasuki kamarnya. Namun, ketika dia hendak menutup pintu. Tiba-tiba Daniel menyerobot masuk.
"Eh Kudanil! Mo ngapain lu ma ... humph!"
Di teras rumah.
"Ibu kenapa enggak cerita kalau Ibu pindah ke kontrakan?" tanya Danita di ujung telepon.
"Maaf, Dek. Ibu hanya tidak mau merepotkan kamu saja," jawab Bu Salma seraya mendaratkan bokongnya di kursi depan.
"Ish, kok merepotkan sih, Bu. Sudah menjadi kewajiban Nita untuk jagain Ibu dan juga saudara-saudara Nita. Kalau Nita tahu Ibu bakalan pergi dari rumah wak Hajjah Minah, Nita pasti membatalkan kesepakatan kontrak rumah Nita yang di sana," tukas Danita.
"Iya, Dek. Semuanya serba dadakan. Tapi kamu enggak usah khawatir. Ibu sama saudara-saudara kamu baik-baik saja. Apalagi sekarang Danisa sudah menikah. Ibu sudah sedikit tenang. Meskipun Ibu masih mencemaskan masa depan kakak kamu," tutur Bu Salma, bersedih.
__ADS_1
"Iya, alhamdulilah Nisa sudah menikah. Nita minta maaf, Bu. Nita tidak bisa datang ke pernikahan Nisa. Sudah seminggu Nita tinggal di Tanggerang. Perusahaan mas Roni buka cabang di sini, dan mas Roni diberikan kepercayaan sama bosnya untuk menjadi penanggung jawab di perusahaan cabang ini," tutur Danita. "Untuk urusan kak Niar, Ibu tidak usah khawatir. Insya Allah, suatu saat nanti kak Niar pasti menemukan kebahagiaannya sendiri," lanjut Danita.
"Iya, semoga saja Nak. Ibu turut senang mendengar kesuksesan suami kamu. Untuk urusan kamu enggak datang ke pernikahan Nisa, hmm ... Ibu rasa, Nisa pasti mengerti tentang situasi kamu di sana, Dek," balas Bu Salma.
"Iya, terima kasih, Bu. Oh iya, Bu. Nita dengar, katanya bang Yandri akan menikah lagi. Apa itu benar?" tanya Danita. Ada nada kecewa yang terdengar dari suara Danita.
"Hhh ... kabar yang kami dengar memang seperti itu. Seperti yang kamu bilang, tidak usah khawatir karena sepertinya kakak kamu sudah bisa menerima keputusan Yandri. Satu-satunya yang Ibu cemaskan hanyalah Bintang. Anak itu sangat terpukul ketika mendengar kabar ayahnya hendak menikah lagi. Mungkin, karena itu juga Bintang meminta kami untuk segera pindah ke kontrakan. Sepertinya, dia hendak memutus hal-hal yang berkaitan dengan ayahnya," papar Bu Salma.
"Nita paham sikap Bintang, Bu. Semua itu mungkin hanya emosi sesaat Bintang saja. Ibu tidak usah cemas, Nita yakin ... setelah dia dewasa nanti, Bintang pasti bisa memahami keputusan ayahnya," balas Danita.
"Ya ... kamu benar, Nak," timpal Bu Salma.
"Ya sudah, Bu. Nita tutup dulu teleponnya, ya. Nita mau menghubungi Nisa untuk mengucapkan selamat," lanjut Danita.
"Baiklah, Nak. Terima kasih karena sudah mengkhawatirkan kami dan menghubungi kami juga," ucap Bu Salma.
"Sama-sama. Assalamu'alaikum, Bu!" pungkas Danita.
"Wa'alaikumsalam."
Keesokan harinya.
"Hmm, sepertinya ... ada yang sudah kebobolan gawang, nih ..." ledek Daniar begitu melihat adiknya keluar dari kamar mandi.
"Ih, apaan sih, Kak?" sahut Danisa, tersipu malu-malu.
Tak lama kemudian. Daniel keluar dari kamarnya. Setengah berlari, dia pergi ke kamar mandi hingga hampir menabrak ibu mertuanya.
"Ups!" seru Bu Salma, menghentikan langkahnya.
"Kesiangan?" tanya Bu Salma, menyelidik.
Daniel menggaruk kepalanya yang tak gatal seraya berkata sambil terkekeh. "Iya, Bu. Hehehe,...."
"Memangnya, sudah berhasil mencetak gol berapa kali, sampai bangun kesiangan seperti ini?" ledek Bu Salma.
"Aish, Bu. Itu mah rahasia perusahaan atuh," jawab Daniel yang wajahnya sudah memerah seperti buah tomat.
"Buruan bersih-bersih, bentar lagi matahari terbit. Enggak malu apa, sama sinar matahari!" Kembali Bu Salma meledek menantu bungsunya.
"Siap, Bu!"
Daniel memberikan hormat layaknya seorang tentara. Sesaat kemudian, dia kembali berlari menuju kamar mandi.
Daniar mengulum senyum melihat tingkah adik iparnya. Sedangkan Bu Salma, dia hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan menantu bungsunya.
Lain lagi dengan Danisa. Gadis tomboy itu hanya menggerutu kesal melihat sikap nyeleneh suami anehnya.
Tepat pukul 8 pagi, semua anggota keluarga Bu Salma tampak berkumpul di ruang tengah. Mereka hendak sarapan bersama sekaligus merayakan pernikahan Danisa dan Daniel dengan menonton film.
Kebetulan hari ini adalah hari Minggu. Hari yang tepat untuk bersantai dan bercengkerama bersama anggota keluarga.
Saat mereka tengah asyik menonton, tiba-tiba Daniel membuka pembicaraan.
"Minggu depan Daniel ditugaskan ke Kalimantan, Bu, Kak."
"Iya, kami sudah tahu, Nak Daniel," sahut Bu Salma.
__ADS_1
"Wah, hebat ya. Ibu kek cenayang saja, bisa tahu sebelum Daniel ngomong," sorak Daniel.
"Eh, Dodol! Bukannya lu juga yang bilang gitu kemaren ke Ibu?" tukas Danisa sambil melempar popcorn ke arah suaminya.
"Nisa! Yang sopan sama suami kamu! Kakak enggak suka, ah!" tegur Daniar yang tidak menyukai sikap ngelunjak Danisa kepada suaminya sendiri.
"Iya, Nis. Gimanapun juga, Daniel itu suami kamu. Bukan teman futsal kamu lagi. Jadi kamu harus menghormatinya," timpal Bu Salma.
"Tuh, denger Burik," sahut Daniel yang merasa di atas angin karena mendapatkan pembelaan dari ibu mertua dan kakak iparnya.
Danisa hanya mencebik menanggapi ucapan suaminya.
"Terus, apa kamu juga akan mengajak Danisa?" tanya Bu Salma.
"Bukan hanya Danisa saja, Bu. Daniel juga ingin mengajak Ibu," jawab Daniel.
Deg!
Jantung Bu Salma seakan berhenti berdetak mendengar perkataan menantu bungsunya. Bagaimana mungkin dia bisa ikut pindah dan meninggalkan anak cucunya.
Bu Salma menatap Daniar dan Bintang bergantian. Tidak mungkin aku meninggalkan mereka berdua di saat mereka sedang membutuhkan dukungan seseorang, batin Bu Salma.
"Maaf, Nak Daniel. Bukannya Ibu tidak ingin ikut, tapi untuk saat ini Ibu tidak mungkin meninggalkan Daniar dan Bintang," jawab Bu Salma.
Daniar menghampiri ibunya. Sedetik kemudian, dia duduk di samping Bu Salma seraya merangkul kedua bahu ibunya.
"Jangan pikirkan Niar dan Bintang, Bu. Ibu tidak usah cemaskan kami berdua. Kami pasti baik-baik saja. Justru Ibu harus ikut bersama mereka. Ibu, 'kan tahu bagaimana sikap dan sifat Danisa. Memangnya Ibu mau, mantu bungsu Ibu diintimidasi sama istrinya, hehehe ..." gurau Daniar seraya terkekeh.
"Kakak ..." rengek Danisa, mengerucutkan bibirnya.
"Hahaha, maaf Dek," sahut Daniar sambil tertawa.
Perlahan, Daniar menarik kedua bahu ibunya hingga mereka duduk saling berhadapan.
"Ibu selalu bilang jika Niar ini wanita yang kuat, 'kan?"
Bu Salma mengangguk.
"Jadi Daniar bisa pastikan jika Daniar dan Bintang akan baik-baik saja. Lagi pula, Nisa itu anak bungsu. Dia belum terbiasa hidup sendirian meskipun bersama suaminya. Suatu saat nanti, Danisa akan hamil. Memangnya Ibu tega, membiarkan Danisa dengan perut besar, sendirian tinggal di rumah karena Daniel harus bekerja?" Daniar kembali bertanya.
Bu Salma menggelengkan kepalanya.
"Nah, kalau begitu Ibu harus ikut untuk menjaga Danisa dan juga mengajari Danisa bagaimana caranya menjadi seorang istri yang baik."
"Kakak ih, kok jelekin Nisa terus," rengut Danisa.
"Tidak apa-apa, Burik. Walaupun kamu jelek, Abang Daniel tetap cinta," timpal Daniel seraya meraih istrinya ke dalam pelukan.
"Ih, bukan jelek seperti itu, bego!" balas Danisa seraya meraup kasar wajah suaminya.
"Tuh, Ibu lihat kelakuan mereka berdua." Daniar kembali menunjuk pasangan pengantin baru yang bertingkah absurd itu.
"Hmm, kamu benar Ni. Sepertinya Ibu memang harus ikut pindah bareng mereka," ucap Bu Salma. "Tapi bagaimana dengan kalian?" lanjutnya kembali mencemaskan Daniar dan Bintang.
Bintang yang sedari tadi menyimak pembicaraan kedua orang dewasa itu, segera mendekati Bu Salma dan ibunya.
"Tidak usah cemas, Enin. Bibin akan selalu jagain Bunda."
__ADS_1