
Tubuh Daniar seakan tak bertulang ketika mendengar kabar yang dibawa ibunya. Dia tidak menyangka jika kakak iparnya akan pergi secepat ini. Tanpa terasa, air mata sudah menetes di kedua pipi Daniar.
"Ish, sudah-sudah, Kak ... jangan nangis, kasihan bayi kamu," ucap Bu Salma sambil memeluk putrinya.
Daniar tidak menjawab. Hanya isak tangisnya saja yang terdengar semakin kerap.
"Sudah, Ni. Mungkin inilah yang terbaik bagi Khodijah. Allah itu Maha Tahu. Seandainya Khodijah diberikan umur panjang, kasihan juga harus dilewatinya dalam keadaan sakit seperti itu," lanjut Bu Salma.
Tubuh Daniar semakin berguncang mendengar perkataan ibunya. Mungkin, apa yang dikatakan ibunya memang ada benarnya juga. Ya, mungkin inilah yang terbaik untuk kakak iparnya.
Setelah semua ini, kak Dijah pasti tidak akan merasa kesakitan lagi. Selamat jalan, kak. Semoga Tuhan memberikan tempat yang terbaik untuk kakak, batin Daniar.
"A-apa tadi itu telepon dari kang Yandri, Bu?" tanya Daniar.
"Iya, Nak," jawab Bu Salma.
"Kang Yandri bilang apa, Bu? Apa dia bakalan pulang?" Daniar kembali bertanya di sela-sela isak tangisnya.
"Sepertinya Yandri tidak akan pulang, Ni. Yandri bilang, dia baru saja menjalani relaksasi, jadi tidak mungkin bisa mengajukan cuti lagi," tutur Bu Salma.
"Tapi saudaranya, 'kan ada yang meninggal, Bu," tukas Daniar.
"Sama saja, Ni. Yandri bilang, kalau bukan orang tua, pasangan atau keluarga inti yang dapat musibah, surat izin cuti sulit keluar," papar Bu Salma.
"Uh, tempat kerja macam apa!" gerutu Daniar dengan sangat kesal.
"Sudah, Ni. Kita do'akan saja almarhumah kakak ipar kamu. Dari mana pun tempatnya, do'a yang baik pasti akan sampai," tutur Bu Salma.
"Ya sudah, kalau begitu biar Niar saja yang pergi melayat, Bu."
"Eh, Ni. Kamu mau ke mana?"
.
.
Bu Maryam hanya bisa terpaku saat mendengar kabar tentang meninggalnya Khodijah. Rasanya, dia tidak ingin mempercayai kabar itu. Namun, ketika mengingat kondisi terakhir Khodijah. Lambat laun Bu Maryam mempercayainya.
"Gimana, Nek? Apa Nek Mar mau ikut bareng Agus?" tanya Pak Agus, sesaat setelah menyampaikan berita meninggalnya Khodijah.
"Memangnya, kamu mau melayat sekarang, Gus?" tanya Bu Maryam.
__ADS_1
"Iya, Nek. Rencananya, sekarang juga kami sekeluarga mau berangkat, supaya bisa mengikuti pemakaman bibi Khodijah," jawab Pak Agus.
"Ya sudah, kalau begitu Nenek ikut sama kalian saja. Biar nanti, anak-anak Nenek nyusul," ucap Bu Maryam.
"Baiklah, Nek. Agus mau mengabari Nek Eutik dulu, barangkali beliau juga mau ikut melihat bibi Khodijah untuk yang terakhir kalinya," lanjut Pak Agus.
"Iya, Gus. Tolong kamu kabari dia. Nenek mau ganti baju dulu, sekalian pamit sama kakek Ahmad," balas Bu Maryam.
Pak Agus mengangguk. Tak lama kemudian, dia pun pamit undur diri dan mengayunkan langkah menuju rumah kerabatnya yang lain
.
.
Sementara itu, rumah Aji ramai dikunjungi oleh para tetangga yang melayat. Duka dan kehilangan tergambar jelas di wajah pria yang umurnya hampir mendekati setengah abad.
Aji merasa sangat kehilangan. Wajar saja, usia perkawinannya dengan Khodijah sudah cukup lama. Karena itu Aji sangat sedih saat mengetahui istrinya telah tiada.
"Padahal, baru semalam dia mampu berkomunikasi, meskipun tidak terlalu lancar," ungkap Aji, bercerita kepada para tetangganya yang sedang melayat.
"Benarkah?" tanya seorang tetangga.
"Yang sabar ya Pak Aji, semoga ibu Khodijah husnul khatimah," ucap tetangga Aji.
"Aamiin. Terima kasih, Bu," jawab Aji.
Satu per satu, para pelayat berdatangan. Rumah Aji pun dipenuhi oleh warga yang ingin mengucapkan belasungkawa. Semasa hidupnya, Khodijah memang dikenal sangat ramah kepada para tetangganya. Dia tidak sungkan-sungkan untuk membantu kesulitan tetangga selama dia mampu membantunya. Karena itu, banyak warga yang ingin bertemu dengan Khodijah untuk yang terakhir kali.
.
.
Daniar terus mendesak ibunya supaya mengizinkan dia untuk melayat Khodijah. Namun, dengan tegas Bu Salma menolak keinginan Daniar.
"Enggak, Ni! Ibu enggak mau mengambil risiko, ya. Apalagi, kamu belum tentu bisa mendapatkan izin dari suami kamu."
"Ya makanya, Ibu tolongin Daniar, ya. Tolong bantu Niar untuk ngebujuk kang Yandri, agar kang Yandri mau mengizinkan Niar pergi ke rumah kang Aji untuk menghaturkan belasungkawa," kata Daniar, memohon kepada ibunya.
"Ish, Niar ... udah deh, enggak usah yang aneh-aneh permintaannya. Kamu sendiri tahu kalau kamu harus bedrest selama dua minggu. Ibu yakin, Yandri juga enggak bakalan ngizinin kamu buat pergi," balas Bu Salma.
"Enggak mungkin, Bu. Niar yakin, kalau Ibu yang ngomong dan minta izin buat Niar, kang Yandri pasti bakalan ngizinin," tukas Daniar.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Ni!" pekik Bu Salma, "kamu mau bikin Ibu susah juga," keluhnya.
"Kok susah sih, Bu?"
"Iya, Ni. Ibu akan merasa susah hati karena nanti bakalan mengkhawatirkan keadaan kamu. Udah deh, kamu nurut sama Ibu. Kita tunggu suami kamu pulang dulu. Biar dia yang pergi untuk berbelasungkawa. Lagi pula, baik sekarang ataupun nanti, itu tidak akan merubah keadaan, Nak. Kakak ipar kamu sudah meninggal, dan orang meninggal, tidak akan mungkin bisa hidup lagi!" tegas Bu Salma.
"Ish, Ibu ...."
.
.
Duka menyelimuti keluarga Aji saat pemakaman Khodijah berlangsung. Hana tak henti-hentinya menangis. Sedangkan Haikal, si bungsu itu hanya berdiri terpaku ketika melihat jasad ibunya dimasukkan ke liang lahat.
Aji dan Farhan berada di dalam kubur untuk menerima jasad Khodijah. Perlahan, mereka merebahkan jasad Khodijah dengan posisi miring ke ke kanan dan menghadap kiblat.
Farhan membuka tali pengikat kain kafan, sehingga pipi kanan dan ujung kaki jasad Khodijah menyentuh tanah. Setelah selesai ditutupi oleh papan kayu, Farhan menaburkan tanah sebanyak tiga kali dari arah kepala. Setelah itu, barulah jasad Khodijah ditimbun tanah.
"Ibu! Tidak! Jangan kubur ibuku! Hentikan, Ical mohon, hentikan! Jangan!"
Tiba-tiba Haikal berteriak histeris saat para penggali kubur mulai menimbun jasad Khodijah.
"Ical, Sayang. Tenangkan dirimu, Nak!" kata Aji, merangkul anaknya.
"Tidak Bapak, tolong hentikan mereka. Ibuku tidak boleh dikubur di dalam tanah, kasihan ibu. Dia pasti bakalan kedinginan. Ibu pasti kesepian di sana, Pak," racau Haikal. "Tolong hentikan mereka, Pak. Ical mohon," pintanya, memelas.
Rasanya hati Aji hancur mendengar racauan anak bungsunya.
"Sabar, Dek. Kamu jangan menangis seperti ini. Ibu sudah tenang di sisi Tuhan," timpal Hana di antara isak tangisnya.
"Apa yang dikatakan Kak Hana benar, Dek. Di sisi Tuhan, ibu tidak akan merasakan sakit lagi. Kamu harus ikhlas, supaya ibu bisa tenang dan tersenyum bahagia. Yang harus kita lakukan saat ini, adalah berdo'a untuk ibu. Semoga Tuhan mengampuni segala dosa ibu dan menempatkan ibu di tempat yang terbaik," imbuh Farhan, putra sulung Aji dan Khodijah.
"Apa ibu akan masuk surga?" tanya polos Haikal.
"Insya Allah, Nak. Ibu kalian itu orang yang sangat baik. Beliau selalu bersabar dalam menghadapi ujian dan rasa sakitnya. Surga sangat merindukan orang-orang seperti itu. Karena itulah, ibu kalian pergi untuk menempatinya," jawab Aji.
"Kalau begitu, Ical mau jadi anak baik dan penyabar juga, Pak. Biar nanti Ical bisa ketemu ibu di surga," tutur Haikal.
Aji hanya tersenyum tipis. Syukurlah, sepertinya Haikal sudah mulai bisa menerima jika ini adalah takdir yang tak bisa dihindari, batin Aji, kembali memeluk anaknya.
Hana dan Farhan ikut memeluk Haikal dan Aji. Mereka memang sangat berduka atas kepergian Khodijah. Namun, hidup terus berjalan. Berharap tidak akan berpisah, tapi di balik harapan itu, ada satu hukum alam bahwa ketika ada pertemuan, pasti terdapat perpisahan. Setiap kehidupan, pasti akan bertemu dengan kematian.
__ADS_1